"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
♦♦
"Aku siap, Gal!"
Khaira kembali menegaskan hal itu, dengan posisinya yang kini sama-sama berdiri.
Mereka berdiri dan saling berhadapan dalam diam.
Tinggi Galvin yang tidak semampai dengannya, membuat dia harus sedikit mengangkat wajahnya selama berbicara dengan Galvin.
"In sya Allah, aku siap!"
Khaira mengatakan itu dengan tegas dan penuh keberanian, meskipun jantungnya berdetak tidak karuan.
Galvin masih diam, belum membuka suara. Dia menatap kedua manik-manik indah itu dengan tatapan yang begitu dalam dan tajam.
Nekat! batinnya.
Dia melangkah maju mendekati Khaira, semantara Khaira malah melangkah mundur. Hingga masih tersisa jarak di antara mereka.
Walupun Khaira tidak melangkah mundur, Galvin tidak mungkin mengikis jarak mereka hingga habis, karena dia sadar, baik dirinya atau pun Khaira, keduanya sudah memiliki wudhu.
"Gue ga lagi becanda terkait hal ini, Khaira. Jadi pikirin dulu ucapan lo sebelum lo bicara," ucap Galvin dengan tenang, tetapi terkesan tegas.
Setiap ucapan harus dipertanggungjawabkan. Dia tidak ingin Khaira mempertanggung jawabkan sesuatu yang sama sekali terjadi bukan atas dasar kesiapan dirinya sendiri.
"Aku udah pikirkan ini, Gal. Apa yang aku katakan juga bukan sebuah candaan," ucap Khaira, dengan yakin.
Pikirannya memang berani mengatakan hal itu, tetapi tidak dengan hatinya. Hatinya sama sekali belum siap untuk melakukan itu.
Galvin jelas mengetahui ketidak siapan Khaira akan hal itu, karena dia melihat raut wajah Khaira yang begitu gugup saat berbicara.
Dia bisa menebak, jika Khaira tidak bisa menyadari perasannya sendiri. Dan malah dia yang menyadari itu.
"Dari mana keberanian lo tiba-tiba muncul, hm?" tanya Galvin, tanpa sedikit pun melepaskan tatapannya dari manik-manik indah itu.
Dia tidak akan membiarkan Khaira mengambil keputusan tanpa memikirkan keputusan itu dengan baik.
"Dari Allah. Allah sudah membukakan pintu hatiku, sehingga aku siap untuk melakukan sesuatu yang memang sebaiknya aku lakukan."
Khaira membalas tatapan Galvin dengan sendu. Entah mengapa tatapannya seperti itu. Dia juga tidak menyadarinya.
Allah sudah membuka pikiran lo, tapi tidak dengan hati lo, ucap Galvin dengan tegas.
Dia menegaskan itu, supaya Khaira bisa membedakan keputusan mana yang diambil karena egonya, dan keputusan mana yang diambil karena bersumber dari hatinya.
Khaira diam. Dia mencoba mencerna apa yang Galvin katakan padanya.
Perlahan, pikiran dan hatinya mulai menyetujui dan memahami maksud apa yang Galvin sampaikan padanya.
"Gue ga mau liat lo nyesel setelah ngelakuin ini," tegas Galvin kembali.
Dia memang ingin melihat bagaimana rupa wajah Khaira, tetapi dia ingin Khaira menunjukan wajah di balik cadar itu dengan perasaan ikhlas untuknya. Bukan karena paksaan ataupun tekanan.
"In sya Allah aku ga bakal nyesel. Justru sebaliknya, aku akan merasa lega, karena aku sudah melakukan hal yang harus aku lakukan."
Khaira tetap pada keputusan awalnya. Dia juga meyakinkan Galvin bahwa itu sama sekali bukan karena paksaan.
Namun, tidak bagi Galvin.
Melihat dari respon yang Khaira katakan, Galvin bisa menyadari bahwa Khaira belum benar-benar siap.
Khaira ingin melakukan itu karena rasa tanggung jawabnya sebagai istri, yaitu untuk memberikan hak kepada suami.
Salah satunya dengan menampakkan wajahnya yang selama ini dia jaga dari orang-orang yang tidak berhak melihatnya.
"Oke, kalau itu emang kemauan lo. Tapi gue ingetin lagi sama lo. Pikir ini baik-baik," pinta Galvin, untuk yang terakhir kali dia mengingatkan itu.
Ucapan yang Galvin katakan saat ini berhasil membuat Khaira diam dan merenungkan kembali keputusannya.
"Kalau kamu terus minta aku buat berpikir, bisa-bisa pikiran aku benaran berubah, Galvin."
Khaira menundukkan pandangannya dengan lesu.
Sesuatu yang sudah dia putuskan dengan yakin, tiba-tiba saja membuat dirinya ragu.
"Justru karena itu, gue mau lo pilih keputusan yang ga akan lo sesali," timpal Galvin.
Dia benar-benar ingin melihat wajah Khaira saat Khaira ikhlas melakukan itu, bukan karena rasa bersalahnya atau rasa tanggung jawabannya sebagai istri untuk memberikan hak kepada suami.
Lagi pula dia sudah mengatakan sejak awal, untuk tidak saling menuntut hak dan kewajiban, sebagaimana pasangan lain yang sudah halal.
"Gimana? Masih mau bukan cadar?" tanya Galvin, di tengah-tengah pikiran Khaira yang sedang dibingung oleh keputusan yang sudah dia buat sejak awal.
Kali ini, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Galvin. Dia masih bungkam, karena dia tidak ingin mengatakan sesuatu yang memang tidak benar-benar keluar dari hatinya, seperti yang Galvin peringatan padanya.
"Sekarang sadar, kalau lo belum siap sepenuhnya?" tanya Galvin kembali.
Khaira yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya, kini mulai berani mengangkat kembali pandangannya.
Secara perlahan, manik-manik matanya kembali terarahkan kepada Galvin yang sejak awal tidak pernah mengedarkan sedikit pun pandangannya, selain tertuju kepada Khaira.
"Aku memang masih merasakan adanya sedikit keraguan untuk memperlihatkan wajah aku di hadapan kamu," ucap Khaira pelan dan hati-hati.
"Hm. Jadi?" tanya Galvin, sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Aku tetap mau lepas cadar aku saat shalat sama kamu," jawabnya, seraya mengulum bibirnya di balik cadar.
Sorot matanya mengisyaratkan seolah ada hal lain yang ingin dia sampaikan.
"Aku mau lepas cadar saat shalat, tapi kamu jangan dulu lihat. Aku belum siap," sambungnya kembali, dengan lirih.
"Gimana caranya?" Salah satu alis Galvin terangkat kembali.
Mereka akan melaksanakan shalat berjamaah. Dan Khaira akan membuka cadarnya, lalu bagaimana bisa Galvin tidak melihat wajah Khaira, sedang mereka akan melaksanakan shalat bersama?
"Setelah salam akhir, kamu jangan langsung berbalik menghadap aku. Kamu harus memberi aku waktu untuk aku memakai kembali cadar ini," jelas Khaira.
"Bagaimana?" tanyanya, dengan tatapan yang seolah mengisyaratkan bahwa dia berharap Galvin menyetujuinya.
Sesuai dengan harapannya, Galvin langsung mengangguk dan bergumam pelan.
Dengan pembahasan mereka yang cukup panjang, akhirnya mereka melaksanakan shalat magrib berjamaah, dengan Khaira yang melepas cadarnya, tanpa Galvin melihatnya.
"Makasih, Gal. Kamu udah jadi imam aku dan makasih udah ngasih ilmu baru yang belum aku tau," ucap Khaira, dengan penuh syukur.
Walaupun pernikahan mereka memang atas dasar perjodohan, tetapi Khaira ingin jika pernikahan mereka dijalankan tanpa paksaan. Mau mereka berjodoh ataupun tidak untuk kedepannya, setidaknya mereka tidak mempermainkan pernikahan yang sudah sah di mata agama dan juga negara.
"Mmm.. apa kedepannya kita bisa shalat berjamaah lagi?" tanyanya dengan hati-hati.
"Tergantung," jawab Galvin, sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Setelah mereka selesai melaksanakan shalat dan berdoa, Khaira memutuskan kembali untuk menggunakan cadarnya, sebelum Galvin berbalik melihatnya.
Hingga saat ini, mereka berdua sudah beralih duduk di sofa dan saling berbicara.
"Tergantung? Tergantung apa?" tanya Khaira, atas jawaban Galvin sebelumnya.
Dia menatap Galvin dengan tatapan bingung.
Galvin memang selalu berbicara dengan menggunakan kata-kata singkat seperti itu. Sehingga hal itu membuat Khaira harus menggunakan tenaga ekstra saat berbicara bersamanya, karena Khaira dituntut untuk selalu memahami kata-katanya.
Kata-kata yang Galvin ucapkan memanglah sedikit, tetapi maknanya tidak sedikit itu.
Sama seperti saat ini, Khaira sama sekali belum memahami maksud yang Galvin sampaikan.
"Tergantung apa, Gal? Coba kalau berbicara itu yang jelas," protes Khaira, dengan nada bicaranya yang masih terdengar tenang.
"Tergantung makmumnya," jawab Galvin, dengan pandangannya yang dia pusatkan kepada manik-manik Khaira.
"Tergantung makum ... artinya tergantung aku? Masa tergantung aku? Seharusnya tergantung kamu, kamu kan imamnya," ucap Khaira, meminta penjelasan atas perkataan yang Galvin sampaikan sebelumnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Khaira, Galvin malah beranjak dari sana. Meninggalkan Khaira yang masih menatapnya.
"Aku tidak sengaja dengar obrolan kamu sama Dafa di sekolah tadi. Aku juga dengar kalau kamu akan datang ke rumah sakit malam hari," jelas Khaira.
Dia memilih untuk menjelaskan lebih dulu, sebelum Galvin meminta penjelasan tentang itu.
Galvin tidak memberikan respon apa pun. Dia hanya diam, dan tatapannya yang sejak awal hanya tertuju kepada Khaira.
Dia tidak membenarkan atau pun menolak ucapan Khaira. Hal itu membuat Khaira ingin bertanya lebih lagi.
"Kalau aku boleh tahu, siapa yang sakit? Apa temen kamu?" tanya Khaira, penasaran sekaligus khawatir.
"Hm. Temen gue."
"Sakit apa?" tanya Khaira, entah sudah yang ke berapa kali dia bertanya.
Bukannya menjawab dengan ucapan, Galvin malah menjawab pertanyaannya dengan sebuah tatapan dingin.
Mendapat tatapan seperti itu dari Galvin, membuat Khaira langsung membuang pandangannya. Dia tidak berani membalas tatapan itu.
"Maaf, Gal. Aku ga bakal nanya lagi," lirihnya pelan, dengan kepalanya yang menunduk lesu.
Lagi-lagi Galvin meresponnya hanya dengan sebuah gumaman saja.
"Apa pun sakitnya, semoga temen kamu segera diberikan kesembuhan," ucap Khaira kembali kembali.
Suaranya tidak terdengar jelas, karena posisinya yang masih menunduk. Sungguh, dia masih tidak berani mengangkat pandangannya yang akan membuat tatapannya bertemu dengan tatapan Galvin.
Aamiin, batin Galvin, merespon doa yang Khaira panjatkan untuk kesehatan temanya. Lebih tepatnya, sahabatnya.
Melihat Khaira yang terus menunduk seperti itu, membuat Galvin sadar bahwa sikapnya sudah membuat Khaira tidak nyaman.
Tiba-tiba rasa bersalah muncul di hatinya, karena Khaira tidak kunjungan menatapnya.
Entah mendapat dorongan dari mana, tiba-tiba saja salah satu tangan kekarnya terangkat.
Dan yang lebih mengejutkan, telapak tangan itu mendarat sempurna, tepat mengenai ubun-ubun Khaira. Dia mengelus rambut Khaira dibalik hijab putihnya.
Elusan itu terasa begitu lembut. Hingga membuat Khaira tertegun karena perlakuannya.
"Gue pergi dulu," ucapnya, sambil menurunkan kembali tangannya dari sana.
Deg!
Hal itu tentu saja semakin mengejutkan Khaira. Pertama kalinya Galvin mengelus kepalanya seperti itu.
Bahkan sebelumnya, setelah mereka melaksanakan akad pernikahan, Galvin tidak melakukan hal itu padanya.
"Gue bilang, gue pergi!" bisik Galvin, dengan jarak yang begitu dekat, hingga bisikan itu terasa begitu jelas di telinga Khaira.
Sebuah senyuman tipis, terbit begitu saja di wajah Galvin, tatakala dia melihat Khaira meremas jari jemarinya sendiri, setelah dia berbisik seperti itu.
Jangan salahkan dirinya yang sudah membisikkan sesuatu dengan jarak mereka yang cukup dekat. Tetapi salahkan Khaira, karena Khaira tidak kunjungan merespon ucapannya.
Bukannya merespon, Khaira malah semakin menundukkan kepalanya, hingga wajah itu tidak terlihat lagi oleh Galvin.
"Iya, Gal. Hati-hati, ya," cicit Khaira, begitu pelan. Bahkan nyaris tidak terdengar.
Mau bagaimanapun keadaan nya, dia tidak akan mengangkat pandangannya, sebelum Galvin pergi meninggalkannya.
"Jangan nunggu gue pulang," bisik Galvin kembali, kemudian meninggalkan Khaira sendirian di kamarnya, dengan perasaan Khaira yang sangat tidak karuan.