NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Vania tengah merapihkan cemilannya di dapur. Cemilan yang ia beli tadi hampir seluruhnya memenuhi kulkas dan salah satu rak di sana. Sudah menjadi kebiasaannya jika sedang stress atau lelah dengan hidupnya, ia akan menjadikan makanan ringan sebagai pelarian. Karena sakit hati cukup menguras energi sehingga mudah lapar.

Vania mengambil sekaleng soda dan setoples  popcorn manis, kemudian ia bawa ke ruang keluarga. Dinyalakannya televisi di sana, menonton film favorit ditemani cemilan dan minuman bersoda cukup membuat stresnya mereda. Tak lama matanya mengangkat sosok ibunya yang hendak menghampirinya. Vania tetap berads di posisi nya juga tetap menikmati cemilan yang ada di pangkuannya. Matanya sontak tertuju pada undangan yang di pegang mamahnya.

"Undangan dari siapa itu, Ma?" tanya Vania dengan nada penasaran yang teramat. Sambil mendekatkan diri, Ibu Vania duduk bersebelahan dengannya lalu berbisik, "Itu undangan dari sahabat papahmu, om Bimo."

Mata Vania membelalak penuh keheranan. "Loh, Om Bimo mau menikah lagi? Bukankah istrinya masih ada?"

"Hus, jangan asal bicara," Ibu Vania memperingatkan dengan jari di depan bibir. "Bukan om Bimo yang menikah, tapi anaknya."

"Oh, anaknya toh," gumam Vania, wajahnya mencerahkan. "Kenapa tidak bilang sejak awal, Ma?"

"Mamah baru mau ngasih tau kamu," jawab Ibunya, sambil mengeluarkan senyum misterius. "Karena itu, mamah dan papah mau mengajak kamu ke rumah Om Bimo di luar kota untuk menghadiri pesta pernikahan anaknya." Rasa ingin tahu Vania kian berkobar, membayangkan perjalanan dan perayaan yang akan terjadi, seolah menyentuh sebuah misteri dalam lipatan undangan tua.

"Mamah dan papah benar-benar harus hadir di sana?" Vania bertanya dengan nada khawatir.

"Iya dong, Om Bimo adalah sahabat lama papah. Ada masalah apa, Nak?" balas ibunya dengan lembut. Vania menggeleng, matanya berkaca-kaca. "Gak apa-apa, Mah. Hanya saja, Vania merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Vania takut mamah dan papah terjebak dalam situasi yang sulit. Dan Vania tidak bisa menemani kalian karena besok aku memiliki tugas yang tidak bisa ditunda."

Ibunya menarik napas dalam-dalam, memegang tangan Vania dengan erat. "Kamu tidak perlu khawatir tentang kami, sayang. Kami akan dikelilingi pengawalan sepanjang waktu di sana. Jika kita tidak hadir di pernikahan Om Bimo, justru itu akan menimbulkan spekulasi dan gosip yang lebih buruk."

Namun, rasa cemas di hati Vania semakin menjadi-jadi. "Tapi, Mah... Papahnya Deo dan Om Bimo pasti saling kenal, bukan? Aku hanya... aku hanya merasa tidak enak, Mah." Ibunya memeluknya, mencoba menenangkan. "Mamah mengerti kekhawatiranmu, Nak. Tapi percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Kita harus hadir dan menunjukkan bahwa kita tidak terpengaruh oleh desas-desus. Semuanya akan kita hadapi bersama-sama."

Sang ibu lantas mendekat ke arah Vania dan memeluk erat putri satu-satunya itu. Ia membelai rambut panjang Vania, memberi pertanda kalau semuanya akan baik-baik saja. Di sisi lain, sorot mata Vania seolah memohon supaya mamahnya tidak pergi ke luar kota.

"Doain mamah dan papah ya agar Tuhan melindungi kami selama di sana. Papa ke sana untuk silaturahmi dan mendobrak stigma dari orang-orang. Papa juga sudah memikirkan ini secara matang, lagi pulang kami ke sana naik pesawat dan dijemput oleh staff papah yang ada di sana."jelas ibunya.

Vania menghela napasnya." Pasti ada Deo juga ya di sana? Vania gak ikut, gak apa-apa kan,mah?"

"Iya, gak apa-apa sayang. Mamah ngerti kok. Yasudah kalau begitu kamu baik-baik di rumah ya. Mamah mau packing dulu." Ibunya lantas mencium pucuk kepala Vania sayang." Mama dan papah cuma sehari kok di sana, kalau udah sampai sana pasti mamah kabarin kamu. Nanti kunci kamar mamah titip ke kamu. Jangan lupa minta tolong bibi buat bersihin kamar mama," setelah mengatakan itu ibunya pun pergi meninggalkan Vania.

Vania menatap ponselnya di meja, hanya ada notifikasi sosial medianya. Vania hanya menatapnya tanpa berniat menyentuh atau membuka notifikasi itu.

Tidak ada satupun pesan dari Deo yang masuk untuk meminta maaf dan menyadari kesalahannya. Ia menduga jika Deo seakan sudah lepas tangan dengan pertunangan ini. Terlihat jelas setelah Vania mengetahui kedekatan Deo bersama Andra, tidak ada lagi perjuangan untuk memperbaiki hubungan mereka.

Vania termenung. " Padahal Deo terlihat sayang dan royal, memperlakukan aku dengan baik, tapi di balik itu ternyata dia belum selesai dengan masa lalunya. Kenapa dulu aku bisa terlena sama dia? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Saat itu aku sangat mencintai Deo, tapi dia malah menjadikan aku hanya sebagai pengganti saja, sungguh miris," gumamnya.

"Mbak Vania harusnya bersyukur sebelum melangkah ke jenjang selanjutnya, mbak ditunjukkan bagaimana buruknya mas Deo. Coba mbak bayangin kalau kalian sampai nikah dan baru tau ini semua, malah makin sakit kan mbak?" Laras yang beeu datang langsung duduk di samping Vania dan ikut memakan popcorn yang ada di pangkuannya."Hehe, minta ya mba popcorn nya, aku lapar soalnya."

Vania yang semula terkejut dengan kehadiran Laras yang tiba-tiba, mendengus kesal. Laras hanya menunjukkan deretan giginya, lantas mengambil dan memakan satu persatu popcorn milik Vania.

"Berat ya mbak rasanya diuji kayak gini. Mbak Vania itu gak boleh nyerah dan harus terus semangat, tunjukin ke semua terutama mas Deo kalau mbak bisa baik-baik aja tanpa dia. Sekarang mbak fokus aja sama karir mbak. Umur mbak kan masih muda dan hidup terus berjalan, jadi nikmati aja masa muda mbak. Jangan menikah karena terpatok pada umur. Tenang aja masih ada orang tua mba, aku, mbak Rika dan juga fans yang sayang sama mbak."

"Iya Ras, aku gak mau menikah hanya Karena umur, lagipula aku masih cukup trauma dengan masalah ini, jadi aku mau menikmati waktu sendiri dulu."

Laras mengangguk." Mbak Vania itu cantik, gak pantes kalau nangisin laki-laki yang sama sekali gak mencintai mbak. Mba lebih baik memperbaiki diri, supaya nanti yang jadi suami mbak juga gak sembarang orang. Sebentar mbak aku mau ambil minum, seret."

Ketika Vania akan mengambil popcorn di pangkuannya, ternyata hanya tinggal toplesnya saja yang tersisa. Ekspresinya menjadi datar, lantas menggelengkan kepalanya karena camilannya dihabiskan oleh asistennya itu. Ia tidak heran jika asistennya itu memiliki tubuh yang berisi karena memang sangat jago soal menyemil.

"Wow, Mbak, kamu belanja cemilan sebanyak itu?" tanya Laras, matanya terbelalak saat ia kembali dari dapur.

"Hei, itu cemilan yang aku beli khusus buat aku sendiri. Jangan sampai kamu habiskan semua. Kalau tergoda, mending beli sendiri," balas Vania dengan nada tajam, mata menyipit memandang asistennya itu.

Laras terbahak, "Sepertinya ada yang berencana menggemukkan dirinya bersama-sama nih," ujarnya sembari tertawa kencang. Sadar tatapan Vania tajam padanya, Laras buru-buru menghentikan tawanya dan mengacungkan dua jarinya tanda perdamaian. "Hehe, aku cuma bercanda, Mbak."

Melihat itu, Vania akhirnya tergelak. "Ya ampun, Ras, ekspresimu itu loh. Tak apa-apa kok aku menjadi gemuk, toh lebih baik gemuk karena menikmati makanan daripada kurus kering karena terlalu banyak memikirkan masalah hati seperti pria bernama Deo itu."

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!