Kisah cinta Xavier dan Aruna yang harus melewati banyak hal dalam rumah tangga mereka. Xavier adalah tipe suami posesif. sedangkan Aruna adalah istri cuek. sehingga beda sifat mereka kadang membuat mereka berselisih dan berseteru.
Namun hal itu tak membuat cinta keduanya luntur dan menghilang begitu saja. Malah hal itu membuat mereka menjadi semakin saling mencintai.
namun di balik kebahagiaan mereka ternyata ada orang yang ingin memisahkan keduanya. mampukan mereka melewati badai besar dalam rumah tangganya? dan siapakah orang itu....ikuti terus kisah cinta mereka berdua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xavier-Aruna 8
"Kamu dari mana saja, Rexa? Dari tadi Renata memanggil nama kamu terus. Lihat badannya sampai demam karena katanya kamu tidak bisa dihubungi dari kemarin? Ada apa dengan kamu Rexa? Apa kamu mau mem-bu-nuh anakku?" tanya Pak Rano, ayah dari Renata.
"Maaf Om, saya kemarin mengerjakan banyak pekerjaan di kantor sehingga lupa menambah daya ponsel saya," jawab Rexa.
"Lalu apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu babak belur seperti itu?", tanya Pak Rano.
"Tadi saya hampir di jambret saat Renata terus menghubungi saya. sehingga saya pada akhirnya harus berkelahi dulu dengan mereka sebelum tiba sini. Itulah sebabnya saya terlambat datang," bohong Rexa.
"Ya sudah temui dulu Renata, jangan sampai anakku kenapa-napa! setelahnya baru kamu boleh obati lu-kamu itu!" jawab Pak Rano pergi dari sana menuju ke kantor kembali.
Rexa hanya menghela nafas panjang, dia sudah muak berada di bawah kekanan dan tekanan dari keluarga Rano dan Renata yang sangat manja. Dia kira wanita yang menjadi sahabatnya tak seperti ini. Namun mereka sangat Posesif bahkan terkesan mengekang Rexa. Sehingga dia tak bebas bergerak dan melakukan semua yang dia inginkan. Termasuk mendekati Aruna, wanita yang dari dulu Rexa suka.
"Sayang ..." panggil Renata saat melihat Rexa datang. Dia sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Kamu sakit apa?" tanya Rexa basa basi duduk di tepi ranjang.
Dia masih tahu batasan karena mereka bukan suami istri. Apalagi mereka berada di dalam kamar seperti ini berduaan.
"Aku sakit karena kangen sama kamu, Sayang! Karena kamu dari kemarin tidak bisa dihubungi, Ini akhirnya membuat kepala aku sakit dan sedikit demam semalaman. Memangnya kamu kemana saja semalam?" jawab Renata duduk dan mulai mendekat ke arah Rexa.
"Aku kerja, dan lupa charger ponsel," jawab Rexa.
Renata selalu memanggil dia sayang padahal mereka tak memiliki hubungan apapun selain teman. Tapi Renata sepertinya menyalah artikan kedekatan mereka. Dan menganggap jika mereka adalah pasangan kekasih.
"Kenapa dengan wajah kamu, sayang?" tanya Renata tangannya sudah terulur untuk menyentuh wajah Rexa yang sudah babak belur di hajar Xavier.
"aku tak apa-apa, tadi sebelum kesini aku hampir kecopetan," jawab Rexa menahan tangan Renata.
"Kalau begitu aku ambil obat dulu," Renata bangkit tapi di tahan Rexa.
"Tidak usah, aku bisa mengobatinya sendiri. Bukannya kamu sedang demam dan pusing?" jawab Rexa.
Hal itu membuat Renata kembali terduduk dan pura-pura lemas memegang kepalanya. Rexa sudah tak aneh lagi dengan akting dari Renata yang seperti ini hanya untuk menarik perhatiannya.
"Iya sayang, ini aku juga sangat sakit, tapi aku juga tak bisa melihat kamu dalam keadaan terluka seperti itu. Aku tak mau kalau sampai terjadi apa-apa kepada kamu. Apa kamu sudah lapor ke polisi?" jawab Renata.
"Aku tak apa-apa jangan terlalu khawatir ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh sendiri. Kalau begitu kamu istirahat ya, aku juga harus kembali ke kantor karena dia meeting," jawab Rexa.
"Sayang, aku sudah bilang kepada papa kalau aku ingin menikah dengan kamu. Sepetinya aku tak bisa jauh dari kamu. Kamu juga pasti ingin menikah dengan aku kan? Kedua orang tua kita juga pasti akan senang, begitupun dengan kedua orang tuamu pasti akan mendukung keputusan kita untuk menikah. Tak ada alasan lagi untuk kita tetap seperti ini. umur kita semakin tua dan aku sangat mencintai kamu, sayang!" ucapan Renata membaut Rexa berbalik badan.
"Menikah? Renata, apa ini tak berlebihan? Aku belum ingin menikah dengan siapapun. Dan kamu tahu kalau kita ini hanya sebatas sahabat dan aku tetap di sini karena memiliki tanggung jawab. Balas Budi kepada keluarga kamu yang sudah membantu keluargaku!" jawab Rexa jujur.
",Apa kamu selalu mengira kedekatan kita adalah hanya sebatas persahabatan, Rexa? Tapi aku sangat mencintai kamu, aku tak bisa jauh dari kamu, Rexa! Dan kamu tahu akan hal itu! Atau mungkin kamu memiliki wanita lain? Siapa dia? Katakan padaku Rexa?" Renata mulai histeris.
Seperti itu kalau sesuatu yang dia inginkan tak bisa di dapatkan. Dia akan histeris sendiri dan kemudian akan mencoba menyakiti dirinya sendiri. Pada akhirnya malah membuat Rexa kembali mengalah kepada dia.
"Tidak ada Renata, aku tak dekat dengan wanita manapun. Lagi pula mana ada yang mau denganku, karena kamu selalu bersama denganku. Aku hanya merasa belum siap saja untuk menikah. Apalagi aku belum mapan, sehingga aku takut malah membuat istri dan anak-anakku nanti kesusahan," jawab Rexa.
"Kamu tenang saja! Uang dan kekayaan yang dimiliki Papaku sangat banyak. dan kamu juga tidak perlu takut kita kekurangan termasuk anak-anak kita nantinya. Yang penting kamu mau menikah denganku. Aku capek kehidupan kita akan baik-baik saja. Jangan memikirkan hal seperti itu, ada papa yang akan menopang kita sepenuhnya! Percayalah, papa sangat menyayangi aku. Apapun yang aku minta pasti akan papa berikan. Apalagi aku adalah anak perempuan kesayangannya," jawab Renata penuh percaya diri dan tak peduli dengan apapun alasan dari Rexa.
"Aku akan fikirkan dulu, kalau begitu aku pergi kerja dulu ya! Jangan sampai orang-orang di kantor papamu mengira aku hanya memanfaatkan kedekatan kita saja sehingga aku abai dengan tugasku di kantor," pamit Rexa dan benar-benar pergi dari sana.
Di dalam mobil, Rexa terdiam sejenak. Dia merasa marah kepada dirinya sendiri yang tak bisa tegas kepada Renata. Tak bisa mengatakan Tidak dengan jelas kepada Renata. Dia selalu tunduk dengan semua keinginan Renata dan keluarganya. Rasanya dadanya sesak sekali, dia ingin melawan tapi dia tak memiliki kekuatan saat ini. Apalagi Pak Rano seolah membuat penjara untuk dirinya dan keluarganya. Dia benar-benar sudah muak dengan semua ini.
Dia menyesal saat menolak tawaran dari Papi Devan. Andai saja dulu dia menerima tawaran itu dan kuliah bersama dengan Xavier. Mungkin hal itu tak pernah dia rasakan. Tak akan pernah ada dalam penjara yang di buat oleh mereka. Dia menyesal, namun semuanya terlanjur sudah terjadi. Dia tak bisa lagi mengulang waktu saat membuat keputusan yang salah. Dia yakin setelah ini, Renata akan meminta kedua orang tuanya mempersiapkan pesta pernikahan tanpa kesepakatan dari keluarga Rexa. Semua itu terjadi karena mereka memiliki segalanya, dan keluarganya harus tunduk dengan semua pilihan keluarga Renata.
rexa kau jd kekesed na Renata ternyata
awas az s danar berulah n mulai culas n tamak harta
ini mah harus baca ulang dari awal
thanks teh 💪