Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14: Proteksi Obsesif
Pagi setelah ancaman Darren, Aluna terbangun dengan rasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang berbeda di mansion suasana yang lebih tegang, lebih mencekam.
Ia bangkit dari tempat tidur dan menyadari Arsen tidak ada di sampingnya. Biasanya pria itu selalu memeluknya hingga Aluna bangun terlebih dahulu. Ke mana dia?
Aluna berjalan keluar kamar dan mendengar suara Arsen dari ruang kerja pribadinya di lantai atas suaranya keras, marah, sedang berbicara di telepon.
"Aku tidak peduli berapa biayanya!" bentak Arsen. "Aku ingin sistem keamanan terbaik dipasang di seluruh mansion hari ini juga! CCTV di setiap sudut, sensor gerak di semua pintu dan jendela, dan bodyguard berlipat ganda!"
Jeda sejenak.
"Dan cari tahu semua yang kamu bisa tentang Darren Wijaya. Aku ingin tahu setiap langkahnya, setiap transaksinya, setiap kelemahan yang bisa ku gunakan untuk menghancurkannya!"
Aluna berdiri di depan pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, mendengar dengan jantung yang tidak nyaman. Arsen terdengar... berbeda. Lebih gelap. Lebih berbahaya.
"Baik. Laporkan padaku setiap jam. Dan pastikan tim keamanan sudah siap sore ini. Aku tidak mau ada celah sedikit pun."
Arsen menutup teleponnya dengan keras, lalu menghela napas panjang. Tangannya mengacak rambutnya dengan frustasi.
Aluna mengetuk pintu pelan.
"Arsen?"
Arsen langsung menoleh, ekspresinya yang keras langsung melembut melihat Aluna.
"Sayang, maaf membangunkan mu," ucapnya sambil berjalan mendekat, tangannya langsung meraih tangan Aluna. "Aku hanya... mengatur beberapa hal untuk keamananmu."
"Saya dengar," bisik Aluna. "Anda memasang CCTV di mana-mana?"
Arsen mengangguk tanpa rasa bersalah.
"Di setiap sudut mansion. Di taman, di garasi, di koridor. Bahkan di..." ia berhenti sejenak, "...di kamar kita. Kecuali kamar mandi, tentu saja. Aku masih memberikan sedikit privasi."
Aluna menarik napas dalam. Ini mulai berlebihan.
"Arsen, apa ini tidak terlalu..."
"Tidak," potong Arsen tegas. Tangannya bergerak ke pipi Aluna, memaksa Aluna menatapnya. "Ini tidak terlalu apa pun. Darren sudah mengancam mu, Aluna. Aku tidak akan mengambil risiko sekecil apa pun."
"Tapi CCTV di kamar kita?"
"Agar aku bisa memonitor dari kantor," jawab Arsen. "Agar aku bisa melihatmu aman bahkan saat aku tidak di rumah. Ini... ini satu-satunya cara aku bisa tetap waras saat bekerja, mengetahui bahwa aku bisa melihatmu setiap saat."
Aluna merasakan dadanya sesak. Ini kembali lagi sifat possessive dan kontroling Arsen yang sudah mulai membaik, sekarang kembali dengan intensitas yang lebih kuat karena ancaman Darren.
"Arsen, saya mengerti Anda khawatir. Tapi ini..."
"Belum selesai," potong Arsen sambil tangannya turun ke bahu Aluna, meremas lembut. "Aku juga sudah menyewa empat bodyguard tambahan. Mereka akan bertugas secara shift, dua orang mengikuti mu kemana pun kamu pergi, dua orang lagi berjaga di mansion."
"Empat bodyguard?!" Aluna terbelalak. "Arsen, itu berlebihan! Saya bahkan tidak bisa bernapas dengan..."
"Kamu bisa bernapas," potong Arsen lagi, suaranya menjadi lebih keras. "Yang tidak bisa adalah aku. Aku tidak bisa bernapas setiap kali memikirkan Darren bisa mendekatimu. Setiap kali membayangkan dia menyentuhmu, atau lebih buruk..."
Suaranya terputus, tubuhnya gemetar.
Aluna merasakan kemarahannya mulai mereda, digantikan oleh simpati. Ia menyentuh dada Arsen dengan lembut.
"Arsen, tidak akan terjadi apa-apa pada saya," bisiknya. "Anda sudah melindungi saya dengan baik."
"Belum cukup," desis Arsen sambil menarik Aluna ke dalam pelukannya yang erat. "Tidak akan pernah cukup sampai Darren tidak lagi menjadi ancaman."
Ia menenggelamkan wajahnya di leher Aluna, menghirup aroma tubuh Aluna dalam-dalam seolah mencoba menenangkan diri.
"Aku sudah kehilangan Anjani," bisiknya dengan suara serak. "Aku tidak aku tidak bisa kehilanganmu juga, Aluna. Aku akan gila. Aku akan "
"Ssshh," Aluna mengelus punggung Arsen dengan lembut. "Saya di sini. Saya aman. Saya tidak akan kemana-mana."
Tetapi bahkan saat ia mengucapkan kata-kata itu, Aluna merasakan kebebasannya perlahan tercekik lagi.
Sore hari, tim keamanan tiba dengan truk besar penuh peralatan. Mansion yang tadinya terasa seperti rumah sekarang berubah menjadi benteng CCTV dipasang di setiap sudut, sensor gerak di semua akses masuk, bahkan pagar mansion ditinggikan dan diberi kawat berduri di bagian atas.
Aluna berdiri di jendela kamarnya, menatap perubahan itu dengan perasaan sesak. Mansion ini semakin terasa seperti penjara mewah.
Ketukan di pintu membuat ia menoleh. Arsen masuk dengan empat pria berbadan besar bodyguard tambahan yang ia sewa.
"Aluna, ini Tim, Anton, Bima, dan Joko," perkenalkan Arsen sambil menunjuk satu per satu. "Mereka akan menjagamu mulai sekarang. Tim dan Anton akan shift pagi hingga sore, Bima dan Joko shift sore hingga malam."
Keempat pria itu membungkuk sopan.
"Selamat sore, Nona Aluna," ucap mereka serempak.
Aluna memaksa senyum, meski dadanya terasa berat.
"Selamat sore."
Arsen memberi instruksi pada mereka dengan detail yang mengerikan jarak aman yang harus dijaga dari Aluna (tidak lebih dari lima meter), protokol jika ada orang asing mendekati, dan bahkan apa yang harus dilakukan jika Aluna mencoba "kabur" lagi.
Kata terakhir itu membuat Aluna menatap Arsen dengan tatapan terluka.
Arsen menyadari tatapan itu. Setelah bodyguard-bodyguard itu keluar, ia mendekat pada Aluna dengan ekspresi bersalah.
"Maaf," ucapnya pelan. "Aku tidak bermaksud menyiratkan kamu akan kabur. Aku hanya... berjaga-jaga."
"Berjaga-jaga dari apa? Dari saya?" tanya Aluna dengan suara bergetar. "Saya sudah bilang saya tidak akan pergi. Kenapa Anda masih tidak percaya?"
"Bukan soal percaya atau tidak," jawab Arsen sambil tangannya memegang bahu Aluna. "Ini tentang Darren. Dia... dia licik, Aluna. Dia bisa saja mencoba menculik mu, atau memanipulasi mu untuk kabur, atau..."
"Jadi Anda memasang bodyguard untuk melindungi saya dari Darren atau untuk memastikan saya tidak bisa kabur dari Anda?" potong Aluna, suaranya mulai meninggi.
Arsen terdiam. Ekspresinya berubah campuran rasa bersalah dan defensif.
"Keduanya," jawabnya jujur. "Aku tidak akan minta maaf untuk itu. Keselamatanmu dan... kepemilikan ku atas dirimu... sama pentingnya bagiku."
Aluna menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang.
"Ini mulai seperti dulu lagi," bisiknya. "Saat Anda mengurung saya. Mengontrol setiap langkah saya. Saya pikir kita sudah melewati fase itu."
"Kita sudah," ucap Arsen cepat sambil menarik Aluna ke dalam pelukannya. "Tetapi Darren mengubah segalanya. Aku harus melindungi mu, bahkan jika itu berarti kembali ke cara lama."
"Berapa lama?" tanya Aluna di dada Arsen. "Berapa lama saya harus hidup seperti ini?"
"Sampai Darren tidak lagi menjadi ancaman," jawab Arsen sambil tangannya mengelus rambut Aluna. "Sampai aku bisa memastikan kamu aman."
"Dan kapan itu akan terjadi?"
Arsen tidak menjawab. Karena ia sendiri tidak tahu.
Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk bagi Aluna.
Kemana pun ia pergi bahkan hanya ke taman belakang dua bodyguard mengikuti dengan jarak lima meter. Saat ia membaca buku di perpustakaan pribadi, ada CCTV yang merekam setiap gerakannya. Saat ia mandi, ia tahu bodyguard berjaga tepat di luar pintu kamar mandi.
Privasi yang sudah mulai ia dapatkan kembali, sekarang hilang total.
Yang lebih buruk, Arsen menjadi lebih possessive. Ia menelepon setiap jam untuk memastikan Aluna baik-baik saja. Ia memonitor CCTV dari laptopnya di kantor. Bahkan saat meeting penting, ia sesekali melirik layar ponselnya yang menampilkan live feed dari kamera di kamar mereka.
Malam itu, Aluna berbaring di tempat tidur dengan Arsen memeluknya dari belakang seperti biasa. Tetapi pelukan itu terasa lebih ketat, lebih... desperate.
"Arsen," panggil Aluna pelan. "Anda belum tidur?"
"Belum," jawab Arsen sambil wajahnya terkubur di leher Aluna. "Aku... tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, aku melihat Darren menyakitimu."
Tangannya di pinggang Aluna mengerat.
"Aku terus membayangkan skenario terburuk. Apa yang akan terjadi jika bodyguard lengah? Apa yang akan terjadi jika sistem keamanan gagal? Apa yang..."
"Arsen, hentikan," potong Aluna sambil berbalik menghadap Arsen di dalam pelukannya. "Anda akan membuat diri Anda gila dengan pikiran seperti itu."
Mata kelam Arsen menatap Aluna dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan ketakutan yang sangat nyata, sangat dalam.
"Aku sudah gila," bisiknya. "Sejak aku bertemu denganmu. Sejak aku jatuh cinta padamu. Aku gila karena cinta, gila karena ketakutan kehilangan, gila karena... obsesi."
Tangannya bergerak ke wajah Aluna, ibu jarinya mengusap pipi Aluna dengan lembut.
"Dan sekarang dengan Darren mengancam... kegilaanku semakin parah."
Aluna merasakan dadanya sesak. Ia melihat pria di hadapannya ini pria yang begitu kuat, begitu berkuasa sekarang hancur oleh ketakutannya sendiri.
"Arsen," bisiknya sambil tangannya menyentuh wajah Arsen. "Saya tidak akan kemana-mana. Saya janji. Tapi Anda harus percaya pada saya. Anda harus..."
"Aku percaya padamu," potong Arsen. "Yang tidak aku percaya adalah dunia di luar sana. Orang-orang yang ingin menyakitimu untuk menyakitiku. Orang-orang seperti Darren."
Ia menarik Aluna lebih dekat, hingga tidak ada jarak sama sekali di antara mereka.
"Maafkan aku," bisiknya dengan suara pecah. "Maafkan aku karena mengurung mu lagi. Maafkan aku karena mengambil privasi-mu. Maafkan aku karena mencintaimu dengan cara yang salah. Tetapi aku... aku tidak bisa berhenti. Aku tidak bisa mengubah siapa aku."
Air mata mengalir di pipi Arsen untuk kedua kalinya sejak Aluna mengenalnya.
Aluna merasakan hatinya hancur melihat pria yang begitu kuat ini menangis. Tanpa berpikir, ia mencium Arsen ciuman yang lembut, yang menenangkan, yang mengatakan "aku di sini, aku tidak akan pergi."
Arsen membalas ciuman itu dengan putus asa, tangannya menarik Aluna lebih erat, seolah takut Aluna akan menghilang jika ia melepaskan.
Saat mereka terpisah, Arsen menenggelamkan wajahnya di leher Aluna.
"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih karena tetap di sini. Terima kasih karena mencintai monster seperti aku."
"Anda bukan monster," bisik Aluna sambil mengelus rambut Arsen. "Anda hanya... pria yang terlalu mencintai."
"Terlalu mencintai hingga menyakiti," koreksi Arsen pahit.
Aluna tidak bisa membantah itu. Karena itu benar.
Mereka berbaring dalam pelukan erat, dua jiwa yang saling mencintai namun juga saling melukai dengan cara mereka sendiri.
Pagi berikutnya, saat Aluna bangun, ia menemukan Arsen sudah tidak ada di tempat tidur tetapi ada catatan kecil di bantal:
"Sayang,
Aku harus ke kantor lebih pagi untuk mengurus beberapa hal terkait Darren. Tim dan Anton akan menjagamu hari ini. Jangan keluar rumah untuk apa pun. Aku sudah meminta Bu Sinta menyiapkan semua yang kamu butuhkan.
Aku akan pulang untuk makan siang. Jangan lewatkan makan pagi dan jangan lupa minum vitamin.
Aku mencintaimu. Lebih dari apa pun.
- Arsen
P.S. Aku akan terus memonitor CCTV. Jadi tersenyumlah sesekali agar aku tahu kamu baik-baik saja."
Aluna menatap catatan itu dengan perasaan campur aduk. Ada kehangatan dari perhatian Arsen, tetapi juga sesak karena pengawasan yang tidak pernah berhenti.
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke jendela, menatap taman yang indah di luar. Bodyguard sudah berpatroli di sana. CCTV berputar mengikuti gerakannya.
Dan di suatu tempat, di kantor jauh dari sini, Arsen sedang menatap layar laptop menatap Aluna melalui kamera, memastikan ia aman, memastikan ia tidak pergi.
Aluna menyentuh kalung di lehernya kalung dengan inisial "A" yang selalu mengingatkannya siapa yang memilikinya.
Ia mencintai Arsen. Benar-benar mencintai.
Tetapi cinta ini... cinta ini mencekiknya perlahan.
Dan ia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan sebelum benar-benar kehabisan napas.