Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Pagi di Boston yang seharusnya menjadi awal kebebasan Rose justru berubah menjadi neraka jurnalisme yang paling menjijikkan. Saat Rose baru saja menyesap kopi hitamnya di meja dapur, ponselnya meledak dengan notifikasi. Layar televisinya, yang ia nyalakan untuk melihat berita cuaca, justru menampilkan wajah yang sangat ia kenali: Arthur dan Eleanor Hudson.
Tanpa sepengetahuan Rose, keluarga Hudson telah menyewa ruang konferensi pers di salah satu hotel berbintang. Mereka berdiri di sana, tampak seperti martir yang sedang membersihkan noda di kain putih.
"Keluarga kami telah menanggung beban ini terlalu lama," Eleanor berbicara dengan suara terisak palsu di depan puluhan mikrofon media nasional. "Putra kami, Asher, adalah pria yang terlalu baik. Dia menikahi wanita yang tidak memiliki asal-usul, dan dengan kasih sayang yang tulus, dia menerima kenyataan bahwa wanita itu sudah tidak suci saat mereka menikah."
Rose membeku. Gelas kopinya hampir terlepas.
Lalu, Asher muncul di layar. Wajahnya tampak kuyu, sebuah akting yang luar biasa. "Aku mencintai Rose Moore. Aku menerimanya apa adanya, meskipun aku tahu dia membawa noda dari masa lalunya di Texas. Aku mencoba membangun rumah tangga yang suci dengannya," Asher menghela napas berat, menatap kamera dengan pandangan memelas. "Tapi setahun yang lalu, aku memergokinya berselingkuh dengan salah satu mitra bisnisnya. Hatiku hancur. Itulah sebabnya, dengan restu orang tuaku, aku menikahi Mia Ruller. Aku butuh ketenangan, aku butuh kesetiaan yang tidak bisa diberikan Rose."
Rose meludah tepat di layar ponselnya yang menampilkan cuplikan berita itu. "Berselingkuh? Hahaha... dasar bajingan!" Rose tertawa histeris, tawa yang dipenuhi racun.
Tuduhan itu adalah kebohongan paling kotor yang pernah ia dengar. Asher memutarbalikkan fakta—menggunakan rahasia masa lalunya untuk membangun narasi bahwa Rose adalah wanita yang bur, sementara dia adalah suami suci yang terpaksa berpaling karena dikhianati. Dan yang paling ironis, Asher sama sekali tidak menyebut nama Nikolai karena dia memang tidak tahu siapa mantan kekasih Rose. Tanpa sadar, kebodohan Asher justru menyelamatkan reputasi Nikolai Volkov dari skandal ini.
Rose membatalkan panggilannya kepada pengacara Marcus. "Tunda perceraiannya," desis Rose pada ruang kosong.
"Jika kau ingin bermain kotor dengan menyebutku berselingkuh, maka berselingkuh saat masih menjadi istrimu akan jauh lebih menantang daripada harus bercerai sekarang. Aku akan menghancurkan mu sampai ke akarnya."
Sore harinya, Rose pulang ke apartemen Back Bay dengan langkah yang sangat tenang—ketenangan seorang pemangsa. Begitu ia masuk, ia menemukan Asher duduk sendirian di sofa. Tidak ada Mia di sana.
Asher langsung berdiri saat melihat Rose. Ia tampak gelisah. "Rose... soal konferensi pers tadi..."
"Luar biasa, Asher. Benar-benar akting kelas Oscar," Rose melempar tas tangannya ke atas meja dengan dentuman keras. "Kau membongkar aib masa laluku dan memfitnahku berselingkuh di depan seluruh Amerika? Kau pikir kau siapa?"
Asher melangkah mendekat, wajahnya penuh kecemasan. "Rose, aku minta maaf. Aku harus melakukan itu. Citra keluarga Hudson sedang dipertaruhkan setelah berita pernikahan siriku mulai bocor ke beberapa jurnalis. Aku harus membuatmu terlihat sebagai pihak yang bersalah agar posisi Mia aman."
"Agar posisi Mia aman?" Rose mengulangi kata-kata itu dengan nada menghina.
"Rose, kumohon mengertilah... Aku melakukannya demi bayi yang sedang dikandung Mia."
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Rose. Ia menatap Asher dengan mata yang membelalak. "Apa kau bilang? Mia... hamil?"
Asher menunduk, ada rona bangga sekaligus takut di wajahnya. "Iya. Dia hamil empat minggu. Itulah sebabnya dia sangat lelah belakangan ini. Orang tuaku sangat bahagia, Rose. Ini adalah pewaris yang mereka tunggu-tunggu. Aku terpaksa menjelekkan namamu di media agar anak ini tidak disebut sebagai anak haram di masa depan. Jika publik mengira aku menikahinya karena kau berselingkuh, mereka akan bersimpati padaku dan anak itu."
Rose merasakan mual yang luar biasa. Bukan mual karena hamil, tapi mual karena betapa busuknya pria di depannya ini. Selama dua tahun, Rose diperiksa dan dinyatakan sehat, namun mereka tidak pernah dikaruniai anak karena Asher yang selalu menolaknya. Sekarang, dalam waktu tiga bulan, wanita "darah murni" itu sudah mengandung.
"Jadi, kau mengorbankan kehormatanku demi anak dari wanita itu?" suara Rose merendah, sangat dingin.
"Aku akan memberimu uang, Rose. Berapa pun yang kau mau setelah ini mereda. Tapi tolong, jangan bantah berita itu di media untuk saat ini," pinta Asher dengan tidak tahu malu.
Rose menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit di hatinya kini telah mengkristal menjadi tekad untuk memusnahkan. Kehamilan Mia adalah lonceng perang yang paling nyata.
"Keluar dari hadapanku, Asher," ucap Rose pelan.
"Rose, kau memaafkanku?"
"Kubilang keluar!" teriak Rose, membuat Asher tersentak dan segera lari menuju kamar Mia.
Begitu Asher menghilang, Rose mengambil ponselnya. Ia tidak menghubungi pengacaranya. Kali ini, ia menghubungi nomor pribadi yang ia hafal luar kepala.
"Nikolai?"
"Rosemary? Kau baik-baik saja? Aku baru melihat berita bajingan itu—"
"Aku butuh kau, Nik," potong Rose. "Asher baru saja mengumumkan perang paling kotor. Dia memfitnahku berselingkuh untuk menutupi kehamilan madunya. Dia ingin aku menjadi penjahat di mata dunia."
Di seberang telepon, terdengar suara geraman rendah Nikolai. "Apa yang kau ingin aku lakukan, Rose? Aku bisa menghancurkan saham mereka dalam satu jam."
Rose tersenyum miring, menatap pantulan dirinya di jendela yang mulai dibasahi hujan Boston. "Jangan hancurkan dulu. Jika dia ingin aku menjadi istri yang berselingkuh, maka aku akan menjadi selingkuhan yang paling nyata bagi mereka. Aku akan tetap di rumah ini, aku akan menunda perceraian, dan aku akan membuat hidup mereka seperti neraka setiap harinya."
"Aku akan menjemputmu malam ini. Kita butuh rencana," ucap Nikolai tegas.
Rose menutup telepon. Ia menatap ke arah pintu kamar Asher dan Mia. Kehamilan Mia mungkin adalah kemenangan kecil bagi keluarga Hudson, tapi bagi Rose, itu adalah tiket untuk menghancurkan mereka dengan cara yang paling menyakitkan.
Ia akan membiarkan mereka merasa menang di atas kebohongan. Namun, Rose Moore bukan lagi wanita yang bisa diinjak. Jika masa lalunya dianggap noda, maka ia akan memastikan masa depan keluarga Hudson akan tertutup oleh kegelapan yang ia ciptakan sendiri.
Malam itu, di tengah kemelut media yang menghujatnya, Rose justru merasa sangat hidup. Ia akan membalas setiap kata fitnah Asher dengan kehancuran yang tak terbayangkan. Dan dengan Nikolai di sisinya, Rose tahu bahwa singgasana keluarga Hudson akan segera runtuh, tepat saat mereka merasa berada di puncak kebahagiaan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰