Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerakan Catur Sang Maestro
Berita tentang kehadiran Lord Maximillian di istana kemarin menyebar seperti api di padang rumput kering. Seluruh surat kabar bangsawan tidak lagi membahas tentang Putri Isabella, melainkan tentang "Kembalinya Sang Pemilik Takhta Sebenarnya". Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, Shaneen tetap berada di paviliunnya, duduk di depan tiga layar monitor besar yang menampilkan grafik data dari agensi musiknya dan pergerakan saham kerajaan.
"Lady, Raja Valerius baru saja mengeluarkan surat perintah pemeriksaan audit untuk seluruh bisnis keluarga Asturia," lapor Sarah dengan nada cemas. "Beliau juga memanggil Duke Falkenhayn ke pengadilan militer pagi ini dengan tuduhan pembangkangan terhadap perintah atasan."
Shaneen menyesap teh melatinya, matanya tidak beralih dari layar. "Audit? Dia benar-benar ingin bermain kotor dengan cara yang sangat membosankan. Sarah, hubungi divisi legal agensi. Katakan pada mereka untuk merilis laporan tahunan kita ke publik secara anonim. Biarkan rakyat tahu bahwa ekonomi kerajaan ini ditopang oleh pajak dari bisnis 'gadis biasa' ini."
"Dan soal Duke, Lady?" tanya Sarah lagi.
Shaneen terhenti sejenak. Jemarinya yang ramping mengetuk meja dengan irama yang tenang. "Dia sudah dewasa. Dia Jenderal. Dia tahu cara menembak, tapi dia tidak tahu cara menjatuhkan lawan tanpa peluru. Biarkan dia menghadapi pengadilan itu. Aku yang akan membereskan 'panggungnya' dari sini."
Di markas besar militer, Matthias berdiri tegak di tengah ruangan yang dipenuhi jenderal-jenderal tua yang setia pada Raja Valerius. Mereka mencoba menekan Matthias agar menarik kembali kata-katanya dan bersedia menikahi Putri Isabella sebagai bentuk penebusan dosa.
"Duke Falkenhayn, kau telah mempermalukan simbol negara!" bentak salah satu Jenderal senior. "Pilihannya hanya dua: kau menikahi Putri, atau kami mencopot jabatanmu dan menyita seluruh aset Falkenhayn!"
Matthias hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat tenang. "Silakan. Tapi sebelum kalian melakukannya, mungkin kalian harus memeriksa ponsel kalian masing-masing."
Tiba-tiba, ruangan itu gaduh. Notifikasi masuk secara serentak ke seluruh perangkat di sana. Sebuah berita utama dari agensi berita terbesar di bawah naungan "Nin" (Shaneen) baru saja rilis: "Skandal Korupsi Pengadaan Senjata Istana: Mengapa Raja Valerius Membeli Barang Bekas dengan Harga Emas?"
Data yang ditampilkan sangat presisi, lengkap dengan tanda tangan menteri-menteri yang hadir di ruangan itu. Ini adalah serangan The Maestro yang sesungguhnya. Shaneen tidak perlu memegang senjata untuk membunuh karier seseorang; dia hanya perlu menyusun melodi data yang tepat.
Para jenderal itu pucat pasi. Mereka sadar, jika mereka menyentuh Matthias, "Nin" akan merilis sisa data yang bisa menjebloskan mereka semua ke penjara seumur hidup.
Sore harinya, Matthias kembali ke paviliun Shaneen. Kali ini dia tidak membawa debu, dia hanya membawa sebuah kotak kecil berwarna biru navy yang sangat simetris. Dia menemukan Shaneen sedang berada di taman belakang, sedang mengamati bunga mawar yang baru mekar.
"Kau berlebihan, Ninin," ujar Matthias sambil berjalan mendekat. "Kau tidak perlu menghancurkan setengah dari jajaran jenderal hanya untuk membebaskanku dari pengadilan itu."
Shaneen berbalik, menatap Matthias dengan mata tajamnya yang dingin namun kali ini ada sedikit binar kepuasan. "Aku tidak melakukannya untukmu. Aku melakukannya karena mereka merusak simetri kepatuhan hukum di negara ini. Itu sangat mengganggu mataku."
Matthias tertawa kecil. Dia tahu itu adalah cara Shaneen mengatakan bahwa dia peduli. Matthias menyerahkan kotak kecil itu. "Sebagai tanda terima kasih karena telah membereskan 'keributan' itu. Aku tahu kau punya segalanya, tapi kau belum punya ini."
Shaneen membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah pin kecil berbentuk bulu elang yang terbuat dari berlian hitam langka. Sangat sederhana, sangat elegan, dan sangat... Shaneen.
"Ini adalah simbol kesetiaan tertinggi keluarga Falkenhayn. Hanya diberikan kepada mereka yang memegang kunci kehidupan sang Duke," bisik Matthias.
Shaneen terdiam sejenak, lalu ia menyematkan pin itu di kerah jubah sutranya sendiri. "Lumayan. Letaknya pas di sini."
Namun, kedamaian itu terganggu saat sebuah mobil kerajaan dengan bendera hitam—simbol titah tertinggi—berhenti di gerbang depan. Seorang utusan turun dengan wajah tegang.
"Lady Shaneen von Asturia, Anda dipanggil secara pribadi oleh Lord Maximillian... dan Raja Valerius untuk menghadiri 'Sidang Takhta' malam ini. Kali ini, tidak ada penolakan."
Shaneen melirik Matthias. Matthias langsung menggenggam tangan Shaneen, pertama kalinya dia melakukannya dengan begitu protektif. "Aku ikut."
"Tidak perlu," sahut Shaneen sambil melepaskan genggaman itu dengan tenang namun tegas. "Ini adalah panggung yang aku susun. Kau cukup menonton dari barisan depan, Jenderal. Mari kita lihat, apakah 'pelayan' itu sanggup menatap mata pemilik rumah yang sebenarnya."