NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paper

Pagi di rumah Mercer selalu terasa terlalu sunyi untuk orang yang baru saja mengubah hidup seseorang di dalam lift.

Rick Nolan berdiri di dekat meja makan, masih mengenakan kaus sederhana, rambut belum sepenuhnya rapi, seolah tubuhnya mencoba kembali jadi manusia normal. Di ruang tamu, Mercer duduk dengan koran terbuka lebar, kopi hitam di tangan, wajah datar seperti biasa, seolah dunia tidak pernah berubah.

Rick menatap koran itu dari jauh, lalu melangkah mendekat.

Judulnya tidak besar, tapi cukup untuk membuat napas Rick tertahan.

“PENYALUR NARKOBA TEWAS DI LIFT HOTEL.”

Di bawahnya, tulisan kecil yang menambah rasa mual sekaligus rasa lega yang kotor:

“Diduga dibunuh oleh pembeli yang juga kekasihnya.”

“CCTV menunjukkan korban tersenyum pada pelaku.”

Rick membaca cepat, jari-jarinya menekan tepi koran.

Mereka membuat cerita.

Mereka menempelkan motif.

Mereka menutup lubang.

Mereka membungkus kematian dengan narasi yang nyaman agar orang lain bisa lanjut hidup tanpa harus bertanya terlalu dalam.

Rick merasakan sesuatu meledak di dadanya, bukan sedih, bukan marah, melainkan… lega yang aneh.

Karena itu berarti satu hal: ia tidak tertangkap.

Tidak ada “pria misterius”.

Tidak ada “kurir”.

Tidak ada “pembunuhan profesional.”

Hanya drama remaja dan narkoba, hal yang bisa diterima publik tanpa mengguncang hotel.

Rick menatap Mercer dengan mata berbinar—dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, suaranya naik seperti anak kecil yang baru dapat nilai sempurna.

“Aku berhasil!” Rick hampir berteriak. “Mereka percaya!”

Mercer tidak tersenyum. Mercer hanya menyesap kopi, lalu berkata pelan, seolah mengoreksi euforia:

“Bagus. Sekarang kamu hidup satu hari lagi.”

Rick menelan ludah, euforianya sedikit turun, tapi api di dadanya tetap menyala.

Mercer melipat koran perlahan. “Pergi ke kafe.”

Rick menatapnya. “Hari ini?”

Mercer mengangguk. “Hari ini. Kamu harus tampil. Kalau kamu menghilang setelah ‘tugas’, kamu akan terlihat seperti orang yang takut.”

Rick menarik napas panjang.

Ia naik ke kamar, merapikan penampilan seperti yang Mercer ajarkan: jas yang pas, rambut rapi, kacamata hitam, rokok—semuanya kembali jadi bagian dari kulit barunya. Dan kali ini, Rick merasa berbeda.

Dulu ia masuk kafe dengan ketakutan dan pura-pura percaya diri.

Sekarang ia masuk dengan percaya diri sungguhan, atau setidaknya, versi yang cukup mendekati.

Didalam kereta kadang Rick tertawa sendiri, lalu menyadari kalau berada di tempat ramai. Yang ditertawakan adalah kebodohannya sendiri yang terlalu ketakutan. Gelisah. Mencari Ketenangan. Padahal semua yang di takutkan tidak terjadi.

Lalu tertawa lagi sendiri. Kini yang di tertawakan kalau dirinya telah berubah menjadi magnet bagi lawan jenis. Wanita di dalam lift dan teman kampusnya yang sudah tidak mengenalinya lagi. Bahkan memberikan nomor telepon.

Rick menyadari kebodohannya. Dia merubah sikapnya lagi. Menjadi tenang. Menjadi berkharisma.

Dari stasiun ke kafe menjadi kebiasaan yang menyenangkan.

Bel pintu kafe Mercer berbunyi.

Hangat kopi dan normalitas palsu menyambutnya lagi. Rick berjalan ke bar, memesan minuman, menyelipkan uang, lalu berjalan menuju meja yang sama dekat kaca, meja “kurir.”

Ia duduk seperti orang yang sudah punya tempat.

Tidak lama, pintu belakang terbuka.

Wanita cantik itu keluar.

Hari ini senyumnya… lebih manis.

Bukan senyum ramah layanan pelanggan. Ini senyum yang mengandung pengakuan: kamu lulus ujian pertama.

Ia duduk di depan Rick, menyilangkan kaki, menaruh sesuatu di meja dengan gerakan halus.

Sebuah map.

Dan sebuah kotak kecil, hitam, rapi, ukuran telapak tangan.

Rick menatap kotak itu, lalu menatap wanita itu. Untuk map dapat diduga bahwa itu tugas baru, tapi untuk kotak....

“Paket baru?” tanya Rick, ragu. Ada sesuatu di bentuk kotak itu yang membuat tenggorokannya kering.

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum dan berkata dengan nada ringan, hampir seperti bercanda:

“Kami akan menghubungimu lagi.”

Lalu ia berdiri.

Tanpa memberi kesempatan Rick bertanya.

Tanpa memberi penjelasan.

Menghubungi?

Bagaimana?

Wanita itu berjalan pergi begitu saja, kembali ke pintu belakang, menghilang.

Ada satu yang kurang...

Penjelasan.

Rick duduk diam beberapa detik, menatap map dan kotak itu seperti menatap dua benda yang bisa meledak.

Ia menunggu sepuluh menit, seolah ada yang salah, seolah akan ada orang lain datang menepuk bahunya dan berkata ini cuma tes kedua.

Tidak ada.

Kafe terus berjalan normal. Barista tertawa. Orang memesan kopi. Musik pelan mengalun.

Rick akhirnya membuka map.

Di dalamnya ada satu lembar catatan, dan… lima lembar KTP.

Lima identitas berbeda.

Rick membeku.

Tangannya membuka catatan itu pelan, membaca.

Selamat. Anda telah tergabung dalam Lingkaran Mercer.

Ini 5 KTP untuk mendaftar di 5 bank agar transaksi lebih mudah dan terpisah.

Ini sebuah HP satelit agar mudah dihubungi.

HP hanya akan berbunyi pada jam 17:00 jika ada panggilan. Jadi selalu stand by.

Jika dalam tugas, jangan membawa HP.

Code name Anda saat ini: PAPER.

Rick merasakan udara di paru-parunya berhenti.

Lingkaran Mercer.

HP satelit.

Code name.

Tangannya beralih ke kotak kecil. Ia membukanya.

Di dalamnya, memang sebuah telepon satelit, kecil, kokoh, seperti benda yang tidak peduli jatuh atau hujan. Ada baterai cadangan dan kartu kecil dengan instruksi singkat.

Rick menutup kotak itu pelan.

Ia duduk diam, menatap pantulan dirinya di kaca jendela kafe. Jas rapi. Kacamata hitam. Wajah yang tampak tenang.

Namun di dalam dadanya, ada dua perasaan bertabrakan:

Bangga—karena ia berhasil masuk.

Dan takut, karena “masuk” berarti ia tidak bisa lagi berpura-pura keluar.

Ia mengulang satu kata dalam kepala:

Paper.

Mulai sekarang, bukan “Rick Nolan” yang mereka panggil.

Bukan “Fred Tucker.”

Mereka akan memanggilnya… Paper.

Nama itu terdengar ringan. Tidak mengerikan. Tidak seperti “pembunuh.”

Dan justru karena itu, nama itu terasa seperti jebakan paling rapi.

Rick menelan ludah, menyimpan lima KTP ke dalam map, memasukkan HP satelit ke kotak, lalu menutupnya rapat.

Ia berdiri dan melangkah keluar dari kafe tanpa terburu-buru, mempertahankan ritme orang yang “tenang.”

Di luar, udara London dingin. Langit kelabu. Orang-orang berjalan.

Rick menatap jam.

Masih pagi.

Tapi di catatan itu tertulis jelas:

HP hanya akan berbunyi pada jam 17:00.

Dan Rick tahu satu hal: mulai hari ini, hidupnya akan terbagi menjadi dua waktu.

Sebelum jam lima.

Dan sesudah jam lima.

Karena pada jam lima, telepon itu bisa berbunyi.

Dan ketika itu berbunyi, “Paper” harus menjawab, atau “Paper” akan dihapus seperti kertas yang salah dicetak.

Rick menghela napas panjang, memasukkan tangan ke saku, dan berjalan pulang dengan langkah yang terlihat biasa.

Sementara di dalam tasnya, sebuah telepon satelit diam seperti bom yang menunggu jam.

Paper.

Tanpa Rick ketahui, nama Paper dan Rangkingnya sudah tersebar di kalangan hitam. Petugas Mercer telah menyebar informasi ke jaringannya bahwa Paper dapat menjadi 'kurir' dan juga merupakan salah satu aset Mercer.

Ini seperti sebuah aturan yang tidak tertulis. Seperti agen bintang film yang sedang mempromosikan artisnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!