NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Dua Sisi Langit

Hana berdiri mematung di sudut halaman rumah duka. Ia mengenakan hijab hitam polos, matanya sembap, dan tangannya terus meremas ujung kain kainnya. Ia ingin masuk, ingin membacakan Yasin untuk terakhir kalinya di samping jenazah Bu Inggit, namun barikade manusia di pintu depan membuatnya gentar.

Siska berdiri di sana, dikelilingi kerabat dari pihak keluarga Inggit. Setiap kali Hana mencoba melangkah maju, tatapan mereka berubah menjadi belati yang siap menguliti harga diri Hana.

"Masih punya muka untuk datang ke sini?" sindir salah satu sepupu Inggit dengan suara cukup keras agar didengar pelayat lain.

"Harusnya kamu sujud syukur di rumah, kan mimpimu jadi nyonya di rumah ini sebentar lagi terwujud."

Hana menunduk, air matanya jatuh tanpa permisi. "Saya hanya ingin mendoakan Mbak Inggit..."

"Doamu tidak akan sampai! Mbak Inggit pergi karena tekanan batin melihat kelakuanmu!" Siska menyela tajam. "Pergi kamu dari sini sebelum aku permalukan lebih jauh!"

Hana nyaris berbalik untuk lari, sampai sebuah tangan hangat mendarat di bahunya.

"Hana, masuklah. Bibi sudah menunggumu di dalam."

Hana menoleh. Itu adalah Bu Ratna, ibu kandung Pak Arlan, mertua almarhumah Bu Inggit. Di belakangnya stands ayah Pak Arlan dan beberapa saudaranya. Berbeda dengan keluarga Inggit, wajah-wajah ini menatap Hana dengan teduh, bahkan penuh rasa iba.

"Tapi, Bu... mereka..." Hana melirik ke arah Siska yang kini berkacak pinggang menantang Bu Ratna.

"Hana ini tamu kami, Siska," suara Bu Ratna tenang namun tegas, sanggup membungkam keributan sesaat. "Kami tahu siapa Hana. Dia anak baik yang sudah menemani Inggit selama sakit. Jangan biarkan duka membuatmu kehilangan akal sehat dan memfitnah anak tanpa dosa."

"Bibi membela dia?!" Siska memekik tak percaya. "Dia calon perusak nama baik keluarga kita, Bi! Dia mengincar Mas Arlan!"

"Cukup, Siska. Ini rumah duka, bukan pasar," potong ayah Pak Arlan dengan suara baritonnya yang berwibawa. Beliau memberi isyarat agar Hana masuk lewat pintu samping. "Hana, masuklah. Doakan kakakmu."

Di dalam, Hana duduk di pojok ruangan, terlindung oleh barisan keluarga Pak Arlan. Namun, meski secara fisik ia aman, telinganya tetap panas. Dari kejauhan, ia bisa melihat keluarga Inggit berbisik-bisik sembari menunjuk-nunjuknya. Gosip itu menyebar cepat seperti api di padang ilalang.

Hana menatap Pak Arlan yang duduk di dekat keranda. Laki-laki itu sempat meliriknya sekilas, sebuah tatapan yang penuh permintaan maaf namun juga penuh beban. Pak Arlan terjepit di antara pembelaan keluarganya dan kebencian keluarga istrinya.

Hana menyadari satu hal pahit yaitu dukungan keluarga Arlan adalah berkah, sekaligus kutukan. Karena bagi keluarga Inggit, pembelaan itu adalah bukti bahwa Hana memang sudah "mengambil hati" keluarga Arlan jauh sebelum Inggit tiada.

***

Prosesi pemakaman telah usai. Tanah makam Bu Inggit masih basah dan dipenuhi taburan bunga mawar yang harumnya terasa menyesakkan bagi Hana. Saat Hana hendak melangkah meninggalkan area pemakaman bersama Mamanya, langkahnya kembali dihadang.

Siska belum selesai. Wanita itu berdiri dengan napas memburu, siap menyemburkan makian lagi di depan gerbang makam.

Namun, sebelum mulutnya terbuka, seorang pemuda jangkung melangkah maju dan menyentuh lengan Siska.

"Sudah, Kak. Biar aku yang bicara dengannya," ucap pemuda itu dingin.

Itu Romi, adik bungsu almarhumah Inggit. Siska mendengus kasar, namun akhirnya mundur beberapa langkah, memberikan panggung bagi adiknya. Romi menatap Hana. Tidak ada amarah yang meledak-ledak di sana, yang ada hanyalah tatapan kecewa yang sangat dalam, yang justru jauh lebih menyakitkan bagi Hana.

"Jadi ini alasan kamu menolak aku waktu itu, Han?" tanya Romi lirih. Nada suaranya bergetar karena luka yang ia simpan sendiri.

"Karena kamu ada main dengan abang iparku?"

Hana tersentak. Kepalanya menggeleng cepat, "Bukan seperti itu, Rom. Kamu salah paham..."

Hana teringat beberapa bulan lalu, saat Romi menyatakan perasaan padanya. Hana menolaknya dengan halus, bukan karena ada pria lain, apalagi Pak Arlan. Ia menolak karena Romi jauh dari sosok pria muslim yang ia dambakan, sikapnya yang temperamental dan kebiasaan buruknya yang tidak mencerminkan ketaatan. Hana sudah pernah memberinya kesempatan untuk berubah, namun Romi justru jalan di tempat.

"Tidak seperti itu, Rom. Kamu jelas tahu alasanku menolakmu dulu. Tapi demi Allah, bukan karena hal yang kamu tuduhkan sekarang," tegas Hana dengan suara bergetar.

"Munafik kamu, Han!" potong Romi cepat, bibirnya menyunggingkan senyum getir yang penuh ejekan.

"Apa karena Mas Arlan punya segalanya yang tidak aku miliki? Dia lebih dewasa, lebih pintar, dan ya... secara finansial dia jauh lebih jaya dariku. Itu kan yang kamu cari?" ucapnya pedas, setiap kata seperti sembilu yang menyayat harga diri Hana.

Hana hendak membela diri, namun Romi kembali menyambar, tak memberi celah.

"Aku lihat sendiri betapa akrabnya kamu dengan keluarga Mas Arlan tadi. Seolah kalian sudah menjadi satu keluarga besar sejak lama. Jadi, benar tuduhan Kak Siska? Kalian sudah main di belakang Mbak Inggit sejak lama?"

"Romi, jaga bicaramu!" Mama Hana mencoba menengahi, namun Romi hanya melirik sekilas dengan tatapan merendah.

"Kamu adalah perempuan paling sok suci yang pernah aku temui, Hana," desis Romi tepat di depan wajah Hana.

"Sok menjaga kehormatan, sok tidak mau pacaran karena alasan agama, tapi ternyata diam-diam merebut suami orang lain. Parahnya... yang kamu rebut adalah suami dari wanita yang sudah menganggapmu adik sendiri. Menjijikkan."

Hana terpaku. Lidahnya kelu. Fitnah Siska terasa seperti badai, tapi kata-kata Romi terasa seperti racun yang meresap ke dalam nadinya. Di bawah langit pemakaman yang mulai mendung, Hana menyadari bahwa mulai hari ini, tidak akan ada lagi tempat baginya untuk menjelaskan kebenaran. Bagi mereka, Hana Syafina adalah iblis yang mengenakan kerudung malaikat.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!