Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Titik Balik
Tiga bulan setelah kepulanganku dari Utara, hidup terasa seperti mimpi.
Setiap pagi, aku bangun dengan Hyerin di sampingku. Setiap siang, aku ke bengkel mengawasi produksi mesiu dan pengembangan senjata baru. Setiap sore, aku berjalan-jalan di taman bersamanya. Setiap malam, kami berbincang tentang segala hal—masa lalu, masa depan, mimpi-mimpi kecil.
Aku tidak pernah menyangka bisa sebahagia ini.
Tapi di balik kebahagiaan, ada bayangan yang terus mengintai. Surat dari Utara datang rutin setiap bulan. Laporan produksi, permintaan pasokan, dan kadang-kadang pesan pribadi dari Kang Dae-ho.
"Bagaimana kabar saudaraku? Semoga sehat selalu. Di sini salju mulai turun. Aku sedang mempelajari catatan-catatan kuno yang kau rekomendasikan. Menarik. Sangat menarik."
Catatan kuno. Maksudnya buku-buku sains dasar yang kusarankan. Dia benar-benar mempelajarinya.
Aku tidak tahu apakah ini pertanda baik atau buruk.
---
Suatu sore, Gong Jinsung datang dengan wajah serius.
"Ada kabar dari perbatasan timur."
Aku mengerutkan kening. "Apa?"
"Klan Timur mulai bergerak. Mereka dengar tentang mesiu. Mereka ingin bertemu denganmu."
Klan Timur. Satu lagi dari Empat Klan Besar. Setara dengan Klan Utara, tapi berbeda—mereka lebih terkenal dengan kekuatan lautnya. Armada kapal perang mereka menguasai seluruh perairan timur.
"Apa yang mereka inginkan?"
"Sama seperti Utara. Ingin kerja sama." Dia menjeda. "Tapi ada yang berbeda. Mereka tidak mengirim utusan resmi. Mereka mengirim... seseorang."
"Siapa?"
"Seorang wanita. Katanya utusan pribadi Panglima Tertinggi Klan Timur."
---
Aku menemui wanita itu di ruang tamu paviliunku.
Dia muda—mungkin seumuran Hyerin. Berpakaian sederhana, tidak seperti utusan klan besar biasanya. Tapi matanya... matanya tajam, penuh perhitungan. Ini bukan orang biasa.
"Jin Tae-kyung," sapanya. "Aku Kim Yoo-jung, utusan Panglima."
Aku duduk di hadapannya. Hyerin di sampingku, waspada.
"Apa keperluanmu?"
Dia tersenyum tipis. "Langsung. Aku suka." Dia mengeluarkan gulungan kertas. "Panglima ingin mengundangmu ke Timur. Untuk diskusi tentang... kerja sama."
"Kerja sama apa?"
"Klan Timur punya masalah. Dengan bajak laut di perairan selatan. Mereka terlalu cepat, terlalu licin. Kapal perang kami tidak bisa mengejar." Dia menatapku. "Tapi kami dengar kau punya senjata yang bisa meledak dari jarak jauh. Mungkin itu solusinya."
Aku diam, memikirkan.
"Aku sudah terikat kerja sama dengan Klan Utara."
"Kami tahu. Dan kami tidak meminta eksklusivitas. Hanya... bantuan teknis. Kami akan bayar."
---
Diskusi berlangsung berjam-jam.
Kim Yoo-jung ternyata negosiator ulung. Dia tahu persis apa yang kutawarkan dan apa yang kubutuhkan. Di akhir pertemuan, kami mencapai kesepakatan sementara.
Aku akan mengirim dua orang ahlinya ke Timur—untuk mengajari mereka dasar-dasar meriam kapal. Sebagai imbalannya, Klan Timur akan melindungi jalur perdagangan Klan Gong di perairan timur.
Setelah dia pergi, Hyerin bertanya.
"Oppa, kau yakin? Ini bisa picu konflik dengan Utara."
"Aku sudah pikirkan itu. Tapi kalau kita hanya bergantung pada satu klan, kita jadi rentan. Dengan dua klan, kita punya posisi tawar lebih baik."
"Tapi kalau mereka tahu..."
"Mereka akan tahu. Tapi itu bagian dari permainan." Aku meraih tangannya. "Di dunia ini, yang tidak bergerak akan mati. Kita harus terus maju."
---
Minggu-minggu berikutnya menjadi yang tersibuk.
Aku memilih dua anak buah terbaik—Baek Dongsu dan seorang pandai besi muda bernama Jin Sung-ho—untuk dikirim ke Timur. Mereka akan belajar selama tiga bulan, lalu kembali dengan laporan lengkap.
Sementara itu, produksi mesiu ditingkatkan. Klan Utara meminta pasokan dua kali lipat. Klan Timur juga mulai memesan. Aku harus kerja siang malam untuk memenuhi permintaan.
Tapi bukan hanya mesiu. Aku juga mulai mengembangkan sesuatu yang baru.
---
Suatu malam, di bengkel rahasiaku, aku menunjukkan prototipe pertama pada Hyerin.
Sebuah tabung besi panjang, dengan gagang kayu, dan mekanisme pemicu sederhana.
"Apa ini?" tanyanya.
"Ini... senapan."
"Senapan?"
"Meriam genggam versi lebih canggih. Bisa menembak satu orang dalam satu waktu. Tapi lebih akurat dari panah."
Aku menguji coba di halaman belakang. Menyulut sumbu, membidik target kayu sejauh lima puluh meter.
DOR!
Proyektil besi melesat, menghancurkan target.
Hyerin terbeliak. "Ini... ini luar biasa, Oppa!"
"Masih prototipe. Butuh penyempurnaan." Aku memeriksa senapan itu. "Tapi kalau berhasil, ini bisa mengubah cara berperang selamanya."
---
Tapi kemajuan tidak pernah datang tanpa harga.
Tiga minggu kemudian, kabar buruk datang dari Timur. Kapal yang membawa Baek Dongsu dan Jin Sung-ho diserang bajak laut. Jin Sung-ho tewas. Baek Dongsu luka parah, tapi selamat.
Aku membaca laporan itu dengan tangan gemetar.
Jin Sung-ho. Pemuda dua puluh tahun, baru menikah enam bulan. Istrinya sedang hamil.
"Oppa..." Hyerin memelukku dari belakang. "Ini bukan salahmu."
"Aku yang mengirim mereka."
"Kau tidak tahu ini akan terjadi."
"Tapi seharusnya aku tahu. Laut timur berbahaya. Aku seharusnya kirim pengawal."
Dia diam. Tidak bisa membantah.
---
Malam itu, aku menulis surat panjang untuk istri Jin Sung-ho. Meminta maaf. Berjanji akan menanggung hidupnya dan anaknya.
Tapi maaf tidak bisa menghidupkan orang mati.
---
Pemakaman Jin Sung-ho dilakukan tiga hari kemudian.
Di desa kecil dekat markas, tempat keluarganya tinggal. Hanya beberapa orang—keluarga, teman, dan aku. Istrinya menangis di samping pusara, memegang perutnya yang mulai membesar.
Aku berdiri di kejauhan, tidak berani mendekat.
Hyerin di sampingku, tangannya meraih tanganku.
"Oppa, kau harus kuat."
"Aku lelah, Hyerin-ah. Lelah melihat orang mati karena perintahku."
"Kau tidak memerintahkan mereka mati. Kau memberi mereka tujuan. Jin Sung-ho bangga bisa dipilih."
"Aku tetap merasa bersalah."
"Itu tandanya kau manusia." Dia menatapku. "Tapi jangan biarkan rasa bersalah menghentikanmu. Masih banyak yang butuh pertolonganmu."
---
Setelah pemakaman, aku mengambil keputusan besar.
Aku akan membangun pasukan sendiri. Bukan pasukan pendekar, tapi pasukan khusus—terlatih menggunakan senjata modern. Mereka akan jadi pelindung desa, pengawal pengiriman, dan kalau perlu, pasukan elite.
Patriark Gong setuju. Dia memberiku wewenang merekrut dari pendekar-pendekar muda Klan Gong yang berminat.
Dalam sebulan, tiga puluh orang mendaftar. Dalam dua bulan, lima puluh.
Aku melatih mereka sendiri. Bukan hanya soal senjata, tapi juga disiplin, strategi, dan kerja sama tim. Mereka jadi pasukan pertama di Murim yang terlatih secara militer modern.
Hyerin membantu—melatih mereka pertarungan jarak dekat. Dengan kemampuan pendekar level tingginya, dia bisa mengajari teknik-teknik yang tidak bisa kuajarkan.
---
Bulan kelima, kabar dari Utara.
Kang Dae-ho menjadi Patriark baru. Ayahnya meninggal karena sakit tua. Dalam suratnya, dia mengundangku ke upacara penobatan.
"Saudaraku,
Ayah telah pergi. Sekarang aku memimpin. Aku ingin kau datang. Bukan sebagai utusan, tapi sebagai saudara. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.
Dae-ho"
Aku menunjukkan surat itu pada Hyerin.
"Apa ini?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus pergi."
"Oppa..."
"Ini undangan pribadi. Kalau tidak datang, aku bisa dianggap musuh."
Dia menghela napas. "Aku ikut."
"Tidak. Ini terlalu berbahaya."
"Justru karena berbahaya, aku harus ikut." Matanya tegas. "Kita berjanji hadapi bersama. Ingat?"
Aku tidak bisa membantah.
---
Kami berangkat ke Utara seminggu kemudian.
Dengan pengawal dua puluh orang—pasukan baruku yang terlatih. Perjalanan lebih cepat karena musim panas, tidak ada salju.
Di pos perbatasan, sambutannya berbeda. Mereka langsung mengenaliku. Mungkin sudah ada perintah.
"Jin Tae-kyung? Putra Mahkota—maaf, Patriark—sudah menunggu."
---
Di istana Gunung Es, Kang Dae-ho menyambutku dengan pelukan.
"SAUDARAKU!" Suaranya menggema di aula. "Akhirnya kau datang!"
Dia menatap Hyerin. "Dan ini pasti istrimu. Gong Hyerin. Cantik, seperti kabarnya."
Hyerin menunduk sopan. "Terima kasih, Patriark."
"Panggil saja Dae-ho. Kita keluarga di sini."
---
Upacara penobatan berlangsung tiga hari.
Tiga hari pesta, ritual, dan pertemuan dengan para penguasa bawahan. Aku diperlakukan seperti tamu kehormatan—duduk di samping Dae-ho, diperkenalkan sebagai "saudara dari selatan".
Banyak yang memandangku dengan rasa ingin tahu. Juga iri. Tapi aku tidak peduli.
Malam terakhir, Dae-ho mengajakku bicara pribadi.
Di ruang kerjanya, ditemani Hyerin, dia membuka topik serius.
"Ada yang harus kau tahu, Tae-kyung."
"Apa?"
"Faksi konservatif di klanku tidak setuju dengan kerja sama kita. Mereka anggap kau ancaman. Mereka ingin... menyingkirkanmu."
Aku diam. Ini sudah kuduga.
"Mereka sudah coba pengaruhi para tetua. Tapi aku bisa tahan. Untuk sekarang." Dia menatapku serius. "Tapi aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Kau harus buat mereka takut. Atau kagum. Tunjukkan kekuatanmu. Senjata barumu. Kalau mereka lihat sendiri potensimu, mereka mungkin berhenti."
---
Keesokan harinya, aku mengadakan demonstrasi di halaman istana.
Dua ratus tetua dan jenderal berkumpul. Pasukanku bersiap dengan senapan dan bom. Aku juga bawa meriam portabel—yang baru saja selesai.
Target: batu-batu besar, patung-patung latihan, dan benteng mini dari kayu.
Demonstrasi dimulai.
Senapan: DOR! DOR! DOR! Target jarak jauh hancur.
Bom: LEDAK! LEDAK! Area pertahanan luluh lantak.
Meriam: DUAR! Benteng kayu runtuh dalam satu tembakan.
Keheningan menguasai halaman.
Para tetua diam, wajah pucat. Para jenderal bergumam takjub.
Dae-ho berdiri, bertepuk tangan.
"Ini, Tuan-tuan, adalah masa depan. Dan Jin Tae-kyung adalah kuncinya."
---
Setelah demonstrasi, perlawanan terhadapku lenyap.
Para tetua yang tadinya menentang kini bergantian mengundangku makan malam. Para jenderal meminta pelatihan untuk pasukan mereka. Aku jadi bintang.
Tapi aku tidak bodoh. Ini hanya karena takut. Kalau suatu hari mereka tidak takut lagi, mereka akan kembali menyerang.
Aku dan Hyerin tinggal dua minggu lagi di Utara. Melatih instruktur, menyiapkan produksi, dan membangun hubungan lebih erat dengan Dae-ho.
Sebelum pergi, Dae-ho memberiku hadiah perpisahan.
Sebuah dokumen rahasia. Daftar nama-nama agen Klan Utara yang ditempatkan di klan-klan lain di selatan.
"Gunakan dengan bijak," katanya. "Ini tanda kepercayaanku."
Aku menerimanya dengan berat. Ini bisa jadi senjata. Atau bom waktu.
---
Perjalanan pulang terasa ringan.
Hyerin di sampingku, pasukan di belakang, dan dokumen berharga di dadaku.
Untuk pertama kalinya, aku merasa punya pijakan. Bukan sekadar bertahan hidup, tapi benar-benar membangun sesuatu.
Tapi di kejauhan, saat markas Klan Gong mulai terlihat, aku melihat keanehan.
Asap.
Bukan asap biasa—asap hitam tebal membumbung dari arah markas.
Jantungku berhenti.
"CEPAT!" teriakku pada pasukan. "MARKAS DISERANG!"
Kami memacu kuda secepat mungkin.
---
Saat tiba, pemandangan mengerikan terbentang di depan mata.
Gerbang perak hancur. Tembok-tembok berlubang. Mayat berserakan di mana-mana. Dan di kejauhan, Aula Utama terbakar.
Hyerin menjerit, melompat dari kuda, berlari ke dalam.
Aku mengikutinya, pasukan di belakang.
Di halaman depan, kami menemukan Gong Jinsung. Terluka parah, bersandar di pilar.
"Paman!" Hyerin berlutut di sampingnya.
"Kau... selamat..." bisiknya lemah. "Syukurlah..."
"Apa yang terjadi? SIAPA YANG MELAKUKAN INI?"
Dia tersenyum getir. "Tetua Jang... dia mengkhianati kita... membuka gerbang untuk... Klan Selatan..."
Klan Selatan. Satu lagi Empat Klan Besar. Mereka datang.
"Patriark... di mana ayahku?"
Gong Jinsung menunjuk ke Aula Utama yang terbakar. "Dia... masih di dalam... mengunci diri... bersama para penyerang..."
Hyerin berdiri, siap berlari. Aku menahannya.
"TIDAK! API ITU TERLALU BESAR!"
"AYAHKU DI SANA!"
Dia melepaskan tanganku, berlari ke arah api.
Aku mengejarnya.
---
[Bersambung ke Bab 20]