seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.
penasaran sama ceritanya? sini dibacaa
jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
⦿ - ☆ - □ -
happy reading
Hujan turun tipis sore itu ketika Afan kembali menginjakkan kaki di kediaman keluarga Clarissa.
Tapi Bukan sebagai menantu.
Tapi sebagai seseorang yang hendak mengakhiri segalanya.
Pintu dibuka oleh Shara. wajahnya langsung berubah saat melihat Afan datang sendirian.
"Afan? ada apa?"
"aku mau bicara"
Nada suaranya tenang.
Di ruang tamu, Bagas sudah duduk dengan ekspresi khasnya yang dingin.
"kamu datang untuk apa lagi?" tanya nya tanpa basa-basi.
Afan berdiri tegak di hadapan mereka.
"Saya datang untuk menyampaikan keputusan saya."
Shara langsung menatap nya tajam.
"Saya akan mengajukan perceraian resmi dengan putri kalian."
Hening.
Beberapa detik serasa berhenti.
"Apa?" suara Shara meninggi.
Bagas langsung berdiri. "kamu sadar apa yang kamu katakan?"
"sadar, om"
Shara tertawa kecil, tapi terdengar penuh amarah.
"Clarissa sekarang sedang di penjara. dan kamu datang untuk menceraikannya? di saat seperti ini?"
"justru karena ini" jawab Afan tegas. "Clarissa di penjara karena kesalahannya sendiri."
Bagas menatapnya tajam.
"kamu pikir kamu bisa seenaknya cerai begitu saja?"
Afan terdiam sesaat.
"Keputusan saya sudah bulat. dan saya tidak cinta dengan putri kalian."
"Tapi putri kami mencintaimu!" bentak Bagas.
"kalau mencintai saya berarti tidak menghancurkan orang lain."
Hening kembali.
Bagas melangkah mendekat.
"Kalau kamu menceraikan Clarissa, keluarga baskara bisa saja membatalkan kerjasama perusahaan. dan perusahaan kami akan hancur"
"itu bukan tanggung jawab saya" jawab Afan dingin. "saya tidak pernah menyetujui pernikahan ini."
Shara mengepalkan tangannya.
"Kamu berani menghancurkan keluarga kami?"
"saya tidak menghancurkan siapa pun. saya hanya ingin cerai dengan putri anda."
Wajah Bagas memerah.
Menahan emosi.
"kamu pikir keluargamu akan diam saja? Ibumu mendukung pernikahan ini!"
Afan menatap lurus.
"aku tidak perduli. dan perceraian tetap berjalan."
Shara tertawa getir.
"jadi apakah itu karna perempuan itu? Devi?"
Afan Tidak langsung menjawab.
"karena saya tidak pernah mencintai Clarissa. dan saya tidak akan pernah Sudi mempunyai istri selicik dia."
Kalimat itu seperti tamparan terakhir.
Shara terduduk kembali. Bagas memalingkan wajahnya, frustasi.
Afan berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti.
"Dari awal saya sudah tau, jika keluarga kalian hanya mengincar kekayaan keluarga baskara."
Pintu tertutup.
Di dalam rumah itu, keheningan berubah menjadi kemarahan.
"semua hancur...." bisik Shara.
Bagas mengepalkan tangan.
"belum. kalau keluarga baskara membatalkan akuisisi..kita akan cari cara lain."
"tapi Afan sudah tau rencana kita."
"kita pakai rencana kita yang lain."
"dengan apa?"
"cari seseorang yang mirip Rara, adek voke."
Shara terdiam sesaat.
Lalu perlahan, senyum miring terukir di wajahnya.
Di luar hujan masih turun.
Afan mungkin mengira semua ini sudah selesai.
Padahal—
Permainan yang sebenarnya baru saja di mulai.
Malam itu, hujan belum juga reda.
Afan duduk di dalam mobilnya cukup lama, setelah meninggalkan rumah keluarga Clarissa tadi sore. tangan nya masih menggenggam setir dengan kuat. bukan karena ragu.
Tapi karena ia tahu—
Keputusan barusan bukan akhir dari masalah.
Itu baru permulaan.
Di dalam rumah mewah itu, Shara berjalan mondar-mandir.
"kita nggak bisa biarin Afan seenaknya menceraikan Clarissa." ucapnya pelan, namun penuh tekanan.
Bagas menatap layar ponselnya.
Beberapa kontak lama mulai di hubungi kembali.
"Keluarga baskara itu lemah di satu sisi." gumamnya. "perasaan."
Shara tersenyum tipis. "maksud kamu?"
"voke."
Nama itu menggantung di udara.
"Afan sangat protektif pada voke dan gadis itu." Bagas menyipitkan mata. "Devi."
Shara mengangguk perlahan. "kalau kita nggak bisa pegang Afan lewat Clarissa, kita pegang Afan lewat orang yang dia lindungi."
Hening sejenak.
"tapi kenapa harus yang mirip Rara?" tanya shara.
Bagas tersenyum tipis. "Karena luka masalalu lebih kuat dari ancaman."
sementara itu, di rumah sakit, Devi berdiri di depan jendela ruang rawatnya. Hujan turun pelan, membasahi kaca.
Entah kenapa, dadanya terasa tidak tenang.
Seolah olah sesuatu sedang di rencanakan.
Sesuatu yang melibatkan dirinya.
Lagi dan lagi.
Ia memeluk dirinya sendiri.
"Afan..." bisiknya pelan.
Tanpa ia tahu, namanya baru saja disebut sebagai bagian dari permainan yang jauh lebih besar.
Dan kali ini—
Bukan hanya soal cinta.
Tapi tentang dendam lama yang belum selesai