seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.
penasaran sama ceritanya? sini dibacaa
jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
happy reading all
Malam itu kamar rumah sakit terasa
sunyi dari biasanya.
Lampu diredupkan. mesin infus berbunyi
pelan.
Devi tertidur, tapi tidurnya tidak tenang.
Alisnya berkerut. Napasnya mulai tidak
teratur.
Dalam mimpinya, ia kembali berada di
ruangan gelap itu. dingin. sepi. suara
langkah kaki bergema. pintu tertutup
keras.
"jangan...." bisiknya dalam tidur.
Tiba tiba tubuhnya menegang.
"Jangan!"
Devi terbangun dengan napas
terengah-engah. keringat dingin
membasahi pelipisnya.
Salma yang tertidur d kursi langsung
terbangun.
"dev? sayang ada apa?" tanya Salma
khawatir.
Devi memandang sekitar dengan mata
panik, seolah memastikan ia tidak lagi
berada di tempat itu.
Tangan nya gemetar.
"bun...." lirihnya.
"iya dev..bunda disini.." jawabnya
lembut, Salma langsung berhambur
memeluk putrinya.
Devi menunduk, bahunya bergetar.
"aku masih terbayang-bayang kejadian itu
bun.. tiap aku tutup mata..."
salma mengusap punggungnya perlahan.
"itu cuman mimpi, dev."
"Tapi rasanya nyata..."
Tak lama, Fathir yang berjaga di luar ikut
masuk karena mendengar suara Devi.
Melihat putrinya menangis, hatinya
terasa ikut diremas.
Dokter yang datang memeriksa kondisi
Devi berkata pelan,
"Ini reaksi trauma. wajar setelah kejadian
seperti itu. Dia butuh pendampingan
dan mungkin tetapi supaya tidak terus
dihantui bayang bayang itu."
Devi menatap kosong kedepan.
"aku takut sendirian..." ucapnya lirih.
Afan yang baru datang membeku di
ambang pintu mendengar itu.
ia melangkah masuk pelan.
"dev Lo gak sendirian...Lo ada kita"
katanya tenang.
Devi menoleh. untuk beberapa detik,
tatapannya masih penuh ketakutan.
Namun kalo ini, ruangan itu terang. ada
ayahnya. bundanya. Afan.
bukan ruang gelap itu lagi.
perlahan, nafasnya mulai stabil.
Salma tetap menggenggam tangannya.
"Trauma itu gak bilang dalam semalam"
ujar dokter. "tapi dengan dukungan dan
waktu, dia bisa pulih."
Devi memejanjkan matanya lagi. bukan
untuk tidur.
Hanya untuk mencoba percaya.
Bahwa mimpi buruk itu tak lagi nyata.
Palu hakim di ketuk untuk terakhir
kalinya.
"Menjatuhkan hukuman penjara sesuai
pada yang berlaku."
Suara itu menggema di ruang sidang.
Clarissa berdiri kaku. wajahnya kosong,
seperti belum sepenuhnya menerima
kenyataaan ini. tangan nya kembali di
borgol oleh petugas.
Di kursi pengunjung, orang tuanya
mengepalkan tangan nya perlahan. Shara
menatap kepergian Clarissa.
Saat digiring keluar ruang sidang,
langkahnya terasa berat.
Untuk pertama kalinya, tak ada lagi
pembelaan. Tak ada lagi alasan.
Di luar gedung pengadilan, mobil tahanan
sudah menunggu.
Pintu besi dibuka.
Clarissa berhenti sesaat sebelum masuk.
matanya mencari sesuatu di kerumunan.
Dan ia menemukan nya.
Afan.
Namun Afan menatap Clarissa dengan
tatapan yang tajam.
Clarissa menunduk.
Pintu mobil tahanan ditutup.
Suara dentingan besi itu terdengar seperti
akhir dari segalanya.
Mobil perlahan bergerak meninggalkan
halaman pengadilan.
Di sisi lain.
Fathir berdiri memandang ke arah jalan
yang semakin kosong.
"sudah selesai" ucap Lian pelan.
"belum" jawab Fathir. "selesai kalau
devi sudah benar benar pulih dari masa
trauma nya."
Di rumah sakit, Devi duduk di ranjang
dengan selimut menutupi tubuhnya.
Salma bagi saja memberitahunya bahwa
sidang telah usai.
"Clarissa masuk penjara?" tanya devi
pelan.
Salma mengangguk.
Devi terdiam cukup lama.
Tak ada rasa puas. dan tak ada rasa
senang.
Hanya lega dan lelah.
"Walaupun dia jahat ke aku, tapi aku gak
bakal benci dia." gumamnya pelan.
Salma menggenggam tangannya.
"itu bagus sayang. jangan biarkan benci
menguasai diri kamu."
Devi menunduk
Di luar kamar, Afan berdiri menatap
langit sore.
Satu bab sudah berakhir.
Clarissa kini menghadapi konsekuensi
nya.
Rencana Afan setelah ini akan
menceraikan Clarissa.
Dan soal voke?
Lian sudah mengurusnya.