NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dark Romance / Angst
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.

Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.

Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.

Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.

Kini, nasib Jessica berada di tangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Adrian membuat panggilan, jarinya menekan layar ponsel dengan tenang namun penuh fokus.

"Hallo!" sahut Adrian, suaranya datar tapi penuh kewaspadaan.

Di seberang sana terdengar suara seorang pria yang tegas namun cepat:

"Hakim Li, laporan medis mengenai JJ Zhou telah saya kirim!"

"Baik, terima kasih!" ucap Adrian.

Ia membuka pesan laporan itu dan membaca dengan seksama, setiap kata membuat alisnya sedikit berkerut.

"JJ Zhou mengalami benturan keras pada kepalanya dan mengakibatkan dia mengalami koma seumur hidup. Pasien yang mengalami benturan cukup parah dinyatakan tidak memiliki kesempatan untuk sadar kembali," kata Adrian sambil menatap layar.

"Jeff Zhou menjadi orang yang paling dicurigai, karena biaya putranya telah menguras seluruh asetnya secara perlahan!" ucap Jaksa Wu.

Setelah selesai membaca, Adrian meletakkan ponselnya di atas meja dengan gerakan tenang. Sekilas, Jaksa Wu menatap ke arah ponsel itu—dan matanya secara tak sengaja menangkap sebuah foto seorang gadis di layar, yang terbuka saat ponsel diletakkan.

Adrian, tanpa menyadari bahwa Jaksa Wu telah melihat fotonya, mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya menempel di meja, menatap Jaksa Wu dengan sorot mata tajam:

"Hubungi Detektif Max, sampaikan padanya untuk ikuti Jeff Zhou. Kita harus tahu apa saja aktivitasnya selama ini—baik saat bekerja maupun saat ke rumah sakit!" perintah Adrian.

"Baik, Hakim Li!" jawab Jaksa Wu cepat, menyesuaikan ritme perintah, sambil matanya masih diam-diam menoleh ke foto itu.

Adrian menambahkan:

"Dan periksa rekeningnya. Ada berapa rekeningnya, dan uang dia terima dari mana sumbernya!"

Setelah meninggalkan kantor Adrian, Jaksa Wu bergumam pelan sambil melangkah di koridor.

"Sepertinya itu foto Holdie Fu… dulu mereka sering digosipkan sebagai pasangan. Apakah benar…? Selama ini wanita itu sudah lama berada di luar negeri. Jadi, Hakim Li selama ini belum menikah karena dia… Aku tidak menyangka. Ternyata, Hakim Li bukan cuma mencintai negaranya, tapi juga mencintai satu wanita… selama sepuluh tahun."

***

Rumah Sakit

Jeff Zhou berdiri di ujung ranjang pasien yang adalah putranya, Jj Zhou, yang dalam kondisi tidak sadar, dengan kepala dililit perban dan oksigen yang terpasang.

"Jj, cepatlah sadar. Semua orang menganggap bahwa kau tidak akan bisa sadar. Tapi papa tetap percaya padamu. Kau tidak akan pergi meninggalkan papa begitu saja. Salah papa karena tidak bisa memberimu keluarga yang sempurna dan harus menyembunyikanmu dari semua orang. Cepat sadar, dan kita akan berkumpul kembali," ucap Jeff dengan raut wajah sedih.

Ia menundukkan kepala sejenak, menatap putranya yang tak bergerak, mencoba menyalurkan semua harapan dan rasa bersalahnya melalui kata-kata.

"Apakah kau tahu Jessica akan dijatuhi hukuman mati? Prosesnya akan segera dilakukan. Anak ini anak yang baik, tapi sayang nasibnya tidak baik. Nico dan Catty juga mengabaikannya. Kini nasibnya ditentukan oleh Hakim Chen!" tambah Jeff, suaranya bergetar menahan emosi yang menguasai dirinya.

Malam Hari – Kantor Adrian

Adrian masih berada di kantornya bersama Max dan Jaksa Wu. Ruangan yang gelap hanya diterangi lampu meja yang hangat, sementara tumpukan berkas dan layar laptop berserakan di sekeliling mereka. Adrian menatap foto-foto yang diberikan Max, matanya fokus dan serius.

"Hari ini aku mengikuti Jeff Zhou. Dia hanya pergi ke perusahaan dan rumah sakit. Setelah itu dia pulang dan tidak keluar lagi. Aku juga menyelidiki bahwa dia setiap hari mendatangi rumah sakit," kata Max sambil menyerahkan beberapa foto Jeff kepada Adrian.

Adrian mengambil foto itu, memeriksanya dengan seksama. Ia membayangkan rutinitas Jeff, gerak-gerik kecil yang mungkin bisa mengungkapkan motif atau kebiasaan tersembunyi.

"Mengenai rekeningnya, aku sudah mencari tahu. Selama ini dia mendapatkan uang dari keuntungan bisnisnya. Walau keuntungannya tidak sedikit, tetap tidak cukup menutupi biaya rumah sakit. Selain itu, Jeff ternyata juga mendapat bantuan dana dari Tommy Zhou setiap bulan untuk sebagian biaya rumah sakit. Selain Tommy Zhou, Jessica Zhou juga melakukan hal yang sama. Gadis itu mentransfer tabungannya untuk pamannya. Bisa dikatakan tabungan Jessica adalah hasil kerja kerasnya di perusahaan ayahnya, dan semua tabungannya dia berikan kepada pamannya," lanjut Jaksa Wu sambil menekankan poin penting dari laporan keuangan yang mereka periksa.

"Kalau memang seperti itu, bukankah Jeff keterlaluan kalau memang dia pelakunya? Tommy Zhou adalah kakak kandungnya sendiri, apakah mungkin dia membunuh kakaknya sendiri dan menjebak putri kakaknya?" tanya Max, matanya menatap Adrian, mencari pendapatnya.

“Jaksa Wu, dengar baik-baik,” kata Adrian, suaranya tegas. “Jessica sudah terbukti tidak bersalah atas pembunuhan itu, tapi pelaku asli masih bebas. Kita tidak boleh mengambil risiko sedikit pun.”

Jaksa Wu mengangguk cepat. “Betul, Hakim Li. Semua bukti medis sudah diperiksa. Tapi sampai pelaku ditemukan, Jessica harus tetap aman.”

Adrian menatap dokumen di meja. “Sampaikan pada Hakim Chen segera. Jessica harus dipindahkan ke penjara kota S. Di sana dia bisa diawasi dengan lebih baik, dan risiko ancaman dari pihak luar bisa diminimalkan.”

Jaksa Wu menulis cepat di catatannya. “Baik, Hakim Li. Aku akan segera mengurus surat perintah pemindahan.”

Adrian menatap Max, detektif mereka. “Max, kau juga harus memastikan transportasi aman. Jangan sampai ada celah. Kendaraan yang membawa Jessica harus diawasi dari awal sampai akhir.”

Max mengangguk mantap. “Siap, Hakim Li. Aku akan menyiapkan tim dan memastikan tidak ada gangguan selama pemindahan."

"Kalau pelakunya adalah orang terdekat, maka dia pasti akan segera beraksi. Jessica adalah sasarannya untuk dijadikan kambing hitam. Keluar dari penjara adalah tanggung jawab Tim pihak kepolisian. Jadi harus diawasi dengan ketat!" ucap Adrian.

1
Raine
nah sesuai dugaan sebelumnya, kalau jj dalangnya dan cuman pura pura koma
erviana erastus
ya jj itu pura2 koma 🤭🤭🤭
Nadila Fathania Alfi
makin seru 😍😍
Melinda Cen
seruu lanjutkan lg
Nadila Fathania Alfi
min bikin cerita jangan pendek", panjang panjang aja 😄😄
erviana erastus
apakah dalangx JJ pura² koma🤔🤔🤔
Anonymous
Seru2…. Up yg bnyk Thor 💪💪💪
Melinda Cen
lanjut bykkan eps nya
Dian Fitriana
update
Melinda Cen
perbyk dong eps nya kk lg seru nih
Dian Fitriana
update
erviana erastus
selamat hakim chen kamu bakalan habis sama Adrian Li 🤭
Maria Mariati
kapokkk hadapin tuh hakin neraka ,main2 sama nyawa orang,siap2 hadapin hakim neraka
Dian Fitriana
update
erviana erastus
habis hidup mu chen ckckck keluar kadang harimau masuk ke kandang macan 🤣
Melinda Cen
lanjut kan kk, perbyk eps nya biar ga penasaran😄
Dian Fitriana
update
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
seru kayaknya
Melinda Cen
perbyk dong eps nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!