Huang Xuan dengan kekuatannya mengguncang dunia memimpin pemberontakan kepada Dewa. Disaat menuju kemenangannya, hal aneh terjadi hingga membuatnya kalah yang kemudian terjatuh kembali ke alam manusia. Disaat kejatuhannya, alam manusia telah memiliki peradaban maju yang ditandai dengan berdirinya dinasti Xia yang merupakan mandat dari alam Dewa untuk manusia. Setiap pemimpinnya memiliki garis darah Dewa membuatnya menjadi penguasa sejati alam manusia. Huang Xuan yang membenci para Dewa memulai perjalanannya dengan menggulingkan Dinasti Xia sebelum dirinya kembali memberontak ke alam Dewa.
"Dengan pedang sebagai pena dan darah sebagai tinta, aku Huang Xuan menulis sejarah dengan cara berdarah-darah. Tidak takut kepada Dewa, Setan dan Iblis karena aku lah penguasa sesungguhnya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Tahu Rahasia
Huang Xuan yang berada di kediamannya merenung merasakan aura aneh yang menyelimuti seluruh kota Hanjing membuat pikirannya dilanda rasa ingin tahu.
"Ular kecil!"panggilnya menaikkan nada bicaranya.
Canghai datang memiringkan kepalanya menanyakan maksud dari Tuan nya memanggilnya.
"Apa yang kau latih hingga membuat 7 emosi mu menghilang?"tanya Huang Xuan penasaran.
Canghai mengeluarkan sebuah kitab memberikannya kepada Huang Xuan yang berjudul "Sepuluh Gelombang Laut Tanpa Hati". Huang Xuan membukanya melihat dengan sekilas kemudian menutupnya kembali menghela nafas panjang menatap Canghai sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau mempelajari jurus dari Dewa Emosi membuatmu kehilangan 7 emosi milikmu. Jurus ini memang kuat akan tetapi mematikan dan kau masuk perangkap jebakan itu,"ucapnya menjelaskan kepad Canghai.
"Apakah aku akan mati?"tanya Canghai.
"Tidak. Kau bisa memanfaatkannya dengan pengecualian bahwa kau tak boleh lagi terikat oleh emosi atau kau akan mati,"jawab Huang Xuan.
Canghai menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.
"Ikut denganku untuk menjelajahi kota ini karena aku merasa ada rahasia tersembunyi yang tidak aku ketahui,"ucap Huang Xuan melesat menghilang diikuti oleh Canghai.
Mereka berjalan-jalan di jalanan kota yang sepi, Huang Xuan mengeluarkan persepsi spiritualnya memerika seluruh keadaan kota dengan cermat mengunci titik-titik yang membuatnya tertarik.
"Kita pergi ke tembok kota,"ucap Huang Xuan.
Ia muncul tanpa tanpa diketahui oleh para prajurit yang berjaga dan tengah melakukan persiapan disepanjang benteng pegunungan yang mengelilingi kota. Mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi dan senyap tanpa adanya interaksi sesama. Huang Xuan mengerutkan keningnya ketika merasakan aura aneh yang ada di sekitarnya. Ia berjalan mengikuti kemana arah perginya aura itu hingga menemukan sebuah goa tersembunyi dimana para prujurit tengah berkumpul mengalirkan tenaga kepada seseorang yang tengah bermeditasi.
"Siapa dia?" ucap Canghai.
"Dari pakaiannya adalah seorang Jendral yang kemungkinan mengalami tragedi hingga membuatnya membeku dalam meditasi. Aku lebih penasaran mengapa para prajurit ini mencoba melelehkan es yang menutupi orang itu,"balas Huang Xuan.
"Tuan tidak bisa melihat masa lalu atau masa depan?"ucap Canghai yang seketika membuat Huang Xuan terdiam.
"Tidak. Aku tidak memiliki keistimewaan itu. Di dunia manusia yang aku tahu hanya klan Shen dari garis keturunan utama lah yang bisa memiliki kemampuan itu entah kabar mereka sekarang,"balas Huang Xuan jujur.
Pandangan mereka teralihkan ketika Adipati Agung datang mengunjungi yang langsung masuk melihat keadaan goa mendengarkan laporan bawahannya dengan seksama kemudian pergi. Huang Xuan mengikuti nya dari belakang begitu juga dirinya yang menghilang dan muncul kembali di wilayah garis dalam lingkaran istana dimana Adipati Agung memandang tujuh patung es tersebut yang merupakan wujud dari wanita dengan posisi seakan-akan menari. Ledakan spirituall menyebar membuat patung es tersebut memiliki retakan kecil yang kemudian menyebar bersiap untuk pecah kapan saja.
Adipati Agung menghilang kembali diikuti oleh Huang Xuan yang kemudian muncul di tempat bawah tanah kota Hanjing. Mereka berdiri di atas altar dengan jurang disekitarnya hanya pilar es yang menopangnya. Di bawah kakinya terdapat segel kuno yang mengeluarkan hawa dingin mematikan.
"Aura ini kuno terasa mengerikan bahkan membuat sesuatu yang ada di dalam lautan kesadaranku itu beresonansi,"batin Huang Xuan bingung bertanya-tanya apa yang tersembunyi dibalik ini semua.
Adipati Agung membuat segel tangan mengaktifkan altar membuat semuanya bergetar. Suhu turun drastis disertai kemunculan kepingan bunga salju. Sesuatu muncul secara tiba-tiba melayang di udara mewujudkan sosok agung dengan rambut putih tergerai bermata biru dan disetiap langkahnya disertai kepingan bunga salju.
"Kaisar Es!"ucap Huang Xuan terkejut.
Sosok yang disebutkan oleh Huang Xuan menatap ke arahnya sekilas sebelum mendarat di altar. Adipati Agung memberikan salam setelahnya.
"Perihal apa kau memanggil ku?"ucap Kaisar Es.
"Meminta bantuan kepada Anda untuk mempertahankan kota Hanjing dan seluruh Beiyue demi melindungi keturunan terakhir klan Shen. Karena Jendral Besar Tang Weiran dari Klan Tang menggunakan kekuatan militer menyerbu Yinluo menaklukkan atas nama Xia. Klan Tang adalah salah satu dari pewaris darah Dewa dari roh penjaga Xuanwu,"jawab Adipati Agung.
"Baiklah, aku akan membantumu,"balas Kaisar Es tanpa berbasa-basi.
Adipati Agung menundukkan kepalanya memberikan penghormatan tinggi sebagai balasan. Suara raungan terdengar menggema dari dasar jurang membuat tempat itu bergetar hebat.
"Aku akan ikut menjaga keturunan klan Shen,"ucap suara berat terdengar dari dasar jurang diikuti oleh getaran hebat dan kemunculan naga putih yang tengah meliuk-liuk kan tubuhnya.
Seketika aura kuno menyebar dipenuhi tekanan hebat membuat siapapun sesak begitu ada di sana.
"Junior berterima kasih kepada para senior yang telah bersedia membantu,"ucap Adipati Agung kemudian menghilang kembali ke istana.
Huang Xuan hendak pergi akan tetapi ruang semuanya terkunci tak ada celah untuk kabur.
"Mengapa kau pergi? Wahai Pendekar Pemberontak?"ucap Kaisar Es tersenyum tipis.
"Karena aku ingin pergi. Tidak ada yang bisa memerintahku termasuk kau ataupun Bai Long,"balas Huang Xuan meledakkan auranya mengepalkan tangannya erat kemudian menghancurkan ruang hampa kemudian pergi dari ruang bawah tanah.
"Di hidup kembali bahkan setelah ranah nya jatuh memiliki kekuatan seperti itu. Aura yang dimilikinya berbeda dengan dahulu,"ucap Bai Long.
"Dia tidak mengolah qi langit dan bumi,"balas Kaisar Es.
"Maksudmu dia menempuh jalan pemurnian tubuh? "
Kaisar Es menganggukkan kepalanya sedikit ragu.
"Bagus-bagus"ucap Bai Long.
Huang Xuan kembali muncul di kediamannya bersama dengan Canghai. Ia masih terdiam begitu melihat Kaisar Es dan Bai Long hingga membuat Canghai mengerutkan keningnya.
"Tuan?"panggilnya menyadarkan Huang Xuan dari lamunannya.
Tersadar bahwa dirinya tengah melamun, Huang Xuan menghela nafas panjang duduk di salah satu kursi taman memandang langit mengingat sesuatu di masa lalu.
"Ingatanku seperti disegel oleh sesuatu. Aku hanya mengingat nama namun tidak dengan kejadian runtut dimasa lalu. Hanya ketika aku memberontak melawan Kaisar Dewa dan kejatuhanku setelahnya, semua hal kejadian sebelumnya aku tak mengingatnya sama sekali kecuali nama-nama yang pernah aku temui. Hanya sekilas samar aku mengingatnya,"ucap Huang Xuan dengan raut wajah gusar.
"Apakah Tuan lupa bahwa Tuan sendiri yang memberikan kitab itu kepadaku?"ucap Canghai yang seketika membuat Huang Xuan terkejut.
"Kau yakin aku yang memberikannya kepadamu? Disaat aku mengalahkanmu, di dalam lautan kesadaranmu terdapat benih iblis yang begitu murni. Aku merasa ilusi iblis yang membuatmu mengatakan itu,"ucap Huang Xuan sebagai pembelaan.
Canghai menggelengkan kepalanya dengan yakin mengatakan.
"Aku hanya ingat bahwa Tuan memberikan kitab itu tidak ada yang lain,"
Huang Xuan merasa janggal setelah menyadari sesuatu yang menurutnya aneh.