Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang yang Kembali
Kehidupan di kantor terasa sangat berbeda setelah gencatan senjata di antara mereka. Isaac benar-benar menepati janjinya; meski ia tetap tegas dalam hal pekerjaan, ia tak lagi menggunakan kata-kata tajam untuk menjatuhkan Luna. Sebaliknya, ia sering terlihat memberikan ruang bagi Luna untuk bereksperimen dengan desainnya, sesekali memberikan masukan yang benar-benar konstruktif.
Sore itu, Luna baru saja menyelesaikan revisi maket lobi hotel saat ia melihat sesosok wanita berdiri di lobi kantor Waren Group. Wanita itu tampak sangat mencolok dengan setelan merah menyala dan rambut pirang platinum yang tertata sempurna. Ia tidak tampak seperti klien biasa.
"Maaf, apakah kau melihat Isaac?" tanya wanita itu saat Luna melintas. Suaranya terdengar sangat akrab, seolah ia sudah biasa berada di gedung itu.
Luna menghentikan langkahnya, menatap wanita di hadapannya dengan kening berkerut. "Pak Isaac sedang ada rapat di dalam. Apa kau sudah punya janji?"
Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang entah mengapa membuat Luna merasa tidak nyaman. "Aku tidak butuh janji untuk bertemu dengannya. Katakan saja padanya, Clara sudah kembali."
Hati Luna mencelos. Nama itu tidak asing. Dalam beberapa lembar foto lama yang pernah ia temukan di laci meja kerja Isaac bertahun-tahun lalu, nama Clara adalah sosok yang dikabarkan menjadi alasan utama keluarga Isaac mendesaknya untuk pindah ke luar negeri.
Tepat saat itu, pintu ruang rapat terbuka. Isaac keluar bersama beberapa klien, namun langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap sosok wanita berbaju merah itu. Ekspresi Isaac yang tadinya tenang berubah menjadi tegang, wajahnya mengeras dalam hitungan detik.
"Clara? Apa yang kau lakukan di sini?" suara Isaac terdengar rendah, namun ada nada kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.
Clara melangkah mendekati Isaac dan tanpa ragu menyentuh lengan pria itu. "Aku merindukanmu, Isaac. Apa kau tidak merindukanku setelah semua yang kita lalui di London?"
Luna berdiri mematung beberapa meter dari mereka. Ia merasakan dadanya kembali sesak. Baru saja ia membuka hatinya untuk Isaac, kini masa lalu pria itu yang lain muncul dengan begitu tiba-tiba. Ia melirik Isaac, berharap pria itu akan menepis tangan Clara, namun Isaac tampak terlalu terkejut untuk bereaksi.
"Luna, aku bisa jelaskan..." gumam Isaac pelan saat ia menyadari tatapan Luna yang mulai berkaca-kaca.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Pak Isaac," jawab Luna dengan suara yang diusahakan tetap datar, meski tangannya gemetar. "Aku harus kembali bekerja. Permisi."
Luna berbalik dan berjalan cepat menuju ruangannya, tidak peduli pada panggilan Isaac yang menggema di koridor.
Luna menutup pintu ruang kerjanya dengan napas tersengal. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu, mencoba menahan air mata yang mendesak ingin keluar. "Bodoh," maki Luna pada dirinya sendiri. "Harusnya kau tahu bahwa hatinya tidak pernah benar-benar kosong."
Hanya berselang beberapa menit, pintu ruangannya diketuk dengan keras sebelum akhirnya terbuka. Isaac masuk dengan wajah yang tampak kacau. Ia segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam, seolah tidak ingin ada gangguan dari luar, termasuk dari wanita bernama Clara itu.
"Luna, dengarkan aku," ujar Isaac cepat, langkahnya mendekat namun Luna segera berpindah ke balik meja kerjanya, menciptakan jarak.
"Untuk apa kau ke sini? Bukankah ada tamu istimewa yang menunggumu di lobi?" sindir Luna. Suaranya bergetar, namun ia berusaha tetap terlihat tegak. "Kau tidak perlu merasa bersalah, Isaac. Kita baru saja mulai 'mencoba', kan? Aku mengerti jika kau punya prioritas lain."
"Jangan mulai lagi dengan asumsimu, Luna!" bentak Isaac frustrasi, namun ia segera menurunkan nada suaranya saat melihat Luna tersentak. "Clara adalah bagian dari masa lalu yang buruk di London. Dia adalah alasan mengapa ayahku menekanku habis-habisan. Kehadirannya di sini sama sekali bukan keinginanku."
"Dia tampak sangat nyaman menyentuh lenganmu, Isaac. Dan kau... kau hanya diam," balas Luna, matanya kini menatap Isaac dengan tajam. "Kau bilang kau meninggalkan aku untuk melindungiku dari kekacauan keluargamu. Apakah Clara adalah bagian dari kekacauan itu?"
Isaac terdiam, rahangnya mengeras. Ia melangkah maju, kali ini Luna tidak bisa menghindar karena ia sudah terdesak ke arah jendela besar di belakang mejanya. Isaac mencengkeram tepian meja, mengurung Luna.
"Ya," aku Isaac dengan suara parau. "Keluarganya adalah rekan bisnis ayahku yang paling licik. Mereka menjodohkanku dengannya secara sepihak saat aku di London. Itu sebabnya aku tidak bisa menghubungimu, Luna. Aku terjebak dalam permainan mereka. Tapi aku bersumpah, tidak pernah ada perasaan apa pun untuknya. Hanya kau."
"Lalu kenapa dia di sini sekarang?" tanya Luna lirih.
"Aku tidak tahu, tapi aku akan menyelesaikannya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan apa yang baru saja kita perbaiki," tegas Isaac. Ia meraih tangan Luna, menggenggamnya erat seolah takut wanita itu akan pergi lagi. "Percayalah padaku kali ini, Luna. Kau istriku, dan aku tidak akan membiarkan wanita itu mengganggumu."
Luna menatap mata Isaac, mencari kejujuran di sana. Di tengah keraguan yang menyelimuti, ia melihat ketakutan yang nyata di mata pria itu—ketakutan akan kehilangan Luna untuk kedua kalinya.
"Jika kau berbohong lagi..." ancam Luna dengan suara serak.
"Maka kau boleh membenciku selamanya," potong Isaac serius.
Namun, di luar sana, Clara masih berdiri dengan senyum kemenangan. Ia tahu kehadirannya telah berhasil menciptakan retakan kecil dalam hubungan Isaac dan Luna. Dan bagi Clara, retakan kecil sudah cukup untuk memulai kehancuran yang besar.