Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 1 - TATAPAN YANG SULIT DI ARTIKAN
Kalau ada satu hal yang paling dibenci Tiara Alexsandra dari menjadi Tiara Alexsandra, itu adalah cara orang-orang menatapnya.
Bukan tatapan jahat. Bukan tatapan iri, meskipun beberapa di antaranya memang iri. Melainkan tatapan yang semacam... mengagumi. Seperti kau menatap patung di museum, tahu itu indah, tapi tidak pernah benar-benar bertanya isi kepalanya.
"Ara, kamu dengar nggak?" Mike menyenggol bahunya pelan.
"Hm? Oh. Iya." Ara berkedip, tersadar. "Kamu ngomong apa tadi?"
Mike tertawa kecil, satu suara yang sudah sangat akrab di telinga Ara sejak kelas satu. "Makanya kalau jalan itu liat ke depan, bukan ke langit."
"Aku nggak liat ke langit."
"Terus kamu liat ke mana?"
Ara tidak menjawab. Karena jawabannya adalah ke mana saja asal bukan ke kerumunan orang yang sedang memandangi mereka berdua seolah-olah mereka berjalan di atas panggung.
Lorong Eldria International High School selalu begini di jam istirahat. Ramai, bising, dan penuh dengan orang-orang yang punya terlalu banyak waktu untuk mengamati urusan orang lain. Ara sudah hafal dengan suara-suara itu, bisikan yang mengalir mengikuti langkahnya seperti bayangan yang tidak diundang.
"Duh, mereka berdua lagi bareng..."
"Tampan banget sih Mike hari ini ya?"
"Ara cantiknya natural banget, enggak adil."
"Kapan ya mereka jadian?"
Ara menarik napas pelan. Senyumnya tetap terpasang, ringan, seperti yang sudah sering ia latih di depan cermin tanpa pernah benar-benar menyadarinya. Senyum yang tepat. Tidak terlalu besar supaya tidak terkesan berlebihan. Tidak terlalu kecil supaya tidak dikira sombong.
Senyum Tiara si Sempurna.
"Ih, Mike! Ara!" Suara itu datang dari arah kanan, tajam dan tidak ada filter-nya sama sekali.
Ara berbalik. Via Liana sudah berdiri di sana, rambut hitam pendeknya sedikit berantakan karena baru dari lapangan, seragam lengkap tapi tampak seperti habis dipakai lari maraton. Meski begitu, ia berdiri dengan gaya yang sama sekali tidak peduli dengan keadaan dirinya sendiri.
"Via." Mike mengangguk, senyumnya ramah seperti biasa. "Dari lapangan?"
"Iya, olahraga bebas jadi aku lari-larian sendiri biar keliatan ada kerjaan." Via berderap mendekat dan langsung menyelip di antara mereka berdua, merangkul bahu Ara dengan satu tangan. "Eh, Ara. Kamu lapar? Aku laperrr banget. Kantin yuk."
"Mau makan siang?" Mike ikut mengangkat alis.
"Kamu diundang juga kalau mau ikut." Via melirik Mike sebentar, lalu segera membuang pandangan ke arah lain dengan ekspresi yang susah dibaca.
Mike tersenyum. "Makasih, tapi aku ada urusan OSIS dulu. Ara, nanti aku kabarin lagi ya."
Ara mengangguk. "Oke."
Dan Mike pun berbalik, berjalan ke arah ruang OSIS dengan langkah yang selalu kelihatan punya tujuan jelas. Beberapa cewek di koridor sana langsung berbisik-bisik begitu Mike lewat. Ara menyaksikannya dari belakang dengan perasaan yang susah ia definisikan sendiri.
Via menarik lengannya. "Yok, sebelum kantin penuh."
---
Tetapi mereka terlambat.
Kantin Eldria International sudah penuh ketika mereka sampai. Penuh yang sesungguhnya, penuh yang membuat Ara hampir mau balik badan dan pulang ke kelas saja dengan perut kosong.
"Ya ampun," Via bergumam, berdiri di ambang pintu sambil menatap lautan kepala manusia di depan mereka. "Ini orang-orang pada nggak ada kerjaan apa, kok makan siang pada kompak banget?"
"Kita juga kan mau makan siang."
"Iya tapi kita emang butuh makan. Mereka?" Via menyipitkan mata, seolah sedang menganalisis kerumunan itu dengan serius. "Meragukan."
Ara menahan tawa. "Via, ayo. Kalau kita nunggu di sini nanti keburu habis."
"Oke oke. Strategi: kamu duluan, aku di belakang. Kamu kan cantik, pasti orang-orang pada minggir sendiri."
"Via!"
"Aku serius! Ini bukan candaan, ini observasi ilmiah."
Ara mendorong Via masuk duluan sambil mencoba tidak tertawa terlalu keras, karena tertawa keras di tempat umum itu tidak sesuai dengan "image"-nya. Atau setidaknya, itulah yang selalu ia pikirkan setiap kali ingin tertawa sungguhan.
Ternyata Via tidak sepenuhnya salah. Ketika Ara masuk, beberapa orang memang refleks memberi ruang. Bukan karena mereka disuruh, tapi karena semacam ada aura tak tertulis yang bilang 'jangan halangi jalan Princess Eldria.'
Ara kadang muak dengan aura itu. Tapi hari ini ia diam dan menerimanya karena perutnya lapar.
Antrean kasir panjang luar biasa. Via sudah mengeluh tiga kali sebelum mereka bahkan sampai ke etalase makanan. Setelah perjuangan yang menurut Via setara dengan "bertahan hidup di hutan belantara", mereka akhirnya berhasil mendapatkan makan siang. Ara memilih nasi dengan ayam opor dan tahu. Via mengambil yang sama dengan Ara, namun porsi lebih banyak.
"Via, kamu bisa makan segitu?"
"Kalau nggak habis, kamu bantu." Via sudah jalan duluan, menenteng nampan dengan semangat yang tidak sepadan dengan kondisi kantin yang penuh sesak itu.
Ara mengikuti, satu tangan memegang nampan, satu tangan memegang tumbler minumnya. Mereka meliuk di antara meja dan kursi, mencari tempat duduk yang kosong di sudut mana pun.
"Sana, Via. Ada bangku kosong di pojok."
"Oke, jalan."
Dan di situlah masalahnya dimulai.
Karena di antara proses meliuk itu, di antara suara bising kantin dan langkah Ara yang sedikit tergesa, tali sepatunya yang memang sudah longgar dari tadi pagi akhirnya memutuskan untuk menyerah pada gravitasi.
Kaki kirinya tersangkut tali sepatu kaki kanannya sendiri.
Ara mencoba menyeimbangkan diri. Tumbler di tangan kanannya bergoyang. Nampan di tangan kirinya miring. Dan untuk sepersekian detik, ia masih berpikir bahwa ia bisa menyelamatkan semuanya.
Namun Ia tidak bisa.
Nampan itu terbang ke depan dengan cara yang kalau direkam dan diputar ulang pasti terlihat seperti adegan film slow motion yang tragis. Ayam opor, tahu, nasi, semuanya meluncur keluar dengan bebas dan mendarat dengan tepat di atas seseorang yang sedang duduk diam di meja pojok itu, sedang menikmati makan siangnya sendiri.
Suara di sekitar itu mendadak turun beberapa desibel.
Ara berdiri tegak, kaki masih sedikit gemetar karena hampir jatuh, menatap pemandangan di depannya dengan rasa tidak percaya yang utuh.
Seorang cowok. Rambut hitam, seragam yang tadi mungkin masih bersih, sekarang dihiasi nasi dan kuah ayam di bahunya. Ia menunduk, menatap seragamnya. Lalu perlahan mengangkat kepala.
Matanya dingin. Bukan marah yang meledak. Bukan. Hanya dingin, seperti orang yang sedang mengkalkulasi situasi di depannya dengan sangat tenang.
Ara membuka mulutnya. "A... aku minta maaf! Aku benar-benar nggak sengaja, tali sepatuku—"
Cowok itu tidak menjawab.
Ia hanya menatap Ara beberapa detik, dengan ekspresi yang sama sekali tidak berubah. Dingin. Datar. Seperti menatap sesuatu yang tidak terlalu penting.
Lalu ia berdiri, dan berjalan pergi dari meja itu tanpa mengucapkan satu kata pun.
Tidak marah. Tidak protes. Tidak bahkan memberi Ara kesempatan untuk minta maaf dengan benar.
Ia pergi begitu saja.
Ara berdiri di tempat yang sama, nampan kosong masih di tangannya, dikelilingi oleh sisa-sisa makan siangnya yang berserakan di lantai. Di belakangnya, Via sudah berdiri dengan ekspresi antara kasihan dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa.
"Ara," Via akhirnya bersuara, pelan. "Kamu... baik-baik aja?"
Ara tidak langsung menjawab. Ia masih menatap ke arah pintu kantin tempat cowok berambut hitam itu menghilang.
"Ara?"
"Itu siapa?" Ara akhirnya bertanya.
Via mengikuti arah pandangannya. "Hm? Oh. Yang tadi itu?" Via mengernyit, mencoba mengingat. "Kayaknya Gian William. Dia cukup terkenal, tapi kayanya terkenal dalam artian buruk. Orangnya emang gitu, pendiem. Agak aneh katanya."
"Dia nggak ngomong apa-apa."
"Iya, emang gitu orangnya."
Ara menatap pintu itu sekali lagi.
Seumur hidupnya di Eldria International, tidak pernah ada satu pun orang yang pergi begitu saja ketika Tiara Alexsandra sedang berbicara.
Tidak pernah.
Dan entah mengapa, itu terasa mengganggu lebih dari yang seharusnya.