NovelToon NovelToon
Dead As A Human, Reborn As The Heir

Dead As A Human, Reborn As The Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Summon / Dunia Lain / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: ANWAR MUTAQIN

aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Volume I — The Day the World Fell Chapter 7 — Learning to Breathe Again

Daniel terbangun sebelum fajar.

Bukan karena mimpi buruk—melainkan karena tubuhnya berhenti bergerak.

Ia terbaring di ranjang logam ruang karantina, menatap langit-langit yang kusam. Napasnya teratur, terlalu teratur. Detak jantungnya stabil, dingin, nyaris mekanis.

Ia menggerakkan jari.

Berhasil.

Namun gerakan itu terasa… terlambat. Seolah tubuhnya menunggu perintah yang berbeda. Bukan dari otak—melainkan dari sesuatu di dadanya.

Segel Pertama.

Daniel menghela napas panjang, lalu perlahan duduk. Rasa sakit masih ada, namun tidak lagi liar. Ia mulai mengenal batasnya—dan menyadari sesuatu yang mengerikan.

Segel itu tidak mengambil alih.

Ia menunggu izin.

“Kalau begitu…” gumam Daniel pelan, “…aku harus belajar memberi perintah.”

Ruang karantina berada di bagian bawah kompleks evakuasi—jauh dari aula utama. Di sinilah mereka menempatkan orang-orang yang “tidak biasa”. Mereka yang selamat dari luka fatal. Mereka yang tubuhnya bereaksi terlalu cepat. Terlalu tepat.

Seperti Daniel.

Seorang instruktur masuk saat matahari mulai menyelinap di balik reruntuhan jendela beton. Pria itu bertubuh kekar, rambutnya dipotong pendek, wajahnya datar seperti batu yang terlalu lama diterpa badai.

“Aku tidak peduli dari mana kekuatanmu berasal,” katanya tanpa basa-basi. “Yang penting: kau bisa menghentikannya.”

Daniel berdiri di tengah ruangan kosong.

Tidak ada senjata.

Tidak ada pelindung.

Hanya lantai beton dan garis-garis retak.

“Ulangi gerakan kemarin,” perintah instruktur itu. “Langkah menghindar.”

Daniel menelan ludah.

Ia mengingat sensasinya—bahaya mendekat, tubuh bergerak sendiri. Namun kali ini, ruangan tenang. Tidak ada ancaman.

Ia melangkah.

Tidak terjadi apa-apa.

Instruktur itu mendengus. “Lagi.”

Daniel menutup mata.

Ia tidak mencari bahaya. Ia mencari napas.

Tarik.

Tahan.

Hembuskan.

Di dalam dadanya, Segel Pertama berdenyut—pelan, sabar. Daniel merasakan batas antara dirinya dan respon tubuhnya. Ia tidak mendorong. Ia tidak menahan.

Ia mengizinkan.

Langkahnya bergerak.

Pendek.

Stabil.

Tepat.

Emergency Step—namun tanpa rasa panik.

Instruktur itu berhenti.

“…Bagus,” katanya pelan. “Sekarang ulangi. Sepuluh kali.”

Kesepuluh langkah itu terasa berbeda. Tidak ada rasa robek di otot. Tidak ada getaran liar. Tubuh Daniel berkeringat, namun tetap miliknya.

Ia terengah, tapi tersenyum tipis.

“Aku bisa… menghentikannya,” katanya.

Instruktur itu menatapnya tajam. “Salah. Kau bisa menunda. Itu lebih penting.”

Latihan berlanjut.

Postur.

Napas.

Fokus.

Daniel belajar sesuatu yang tidak pernah ia sadari sebelumnya—bahwa Segel Pertama bereaksi pada niat bertahan, bukan rasa takut. Saat ia panik, tubuhnya mengambil alih. Saat ia tenang, segel itu mengikuti.

Ia jatuh berkali-kali.

Ia gagal lebih banyak lagi.

Namun setiap kali, tubuhnya tidak memaksa berdiri. Ia diberi waktu. Detik-detik kecil untuk memilih.

Di situlah kontrol mulai tumbuh.

Malam hari, Daniel duduk sendirian di tepi atap kompleks. Kota di bawahnya gelap, hanya disinari api dan lampu darurat. Dunia yang ia kenal benar-benar hancur.

Namun ia masih bernapas.

Ia mengangkat tangan, mengepalkannya perlahan. Otot menegang—lalu rileks. Tidak ada lonjakan paksa. Tidak ada gerakan liar.

“Segel Pertama,” bisiknya. “Aku tidak ingin hidup selamanya.”

Denyut di dadanya tetap ada. Tenang. Netral.

“Kalau aku harus bertahan,” lanjut Daniel, “aku ingin tahu kenapa.”

Untuk pertama kalinya sejak kebangkitannya, ia merasa bukan sekadar wadah hukum—melainkan manusia yang memegang kendali atas pilihan kecil.

Ia tahu ini baru permulaan.

Segel lain menunggu.

Dunia lebih kejam menanti.

Namun malam itu, di atas reruntuhan kota, Daniel belajar satu hal sederhana—

Bertahan bukan berarti kehilangan diri.

Kadang, itu berarti belajar bernapas lagi.

Arah Selanjutnya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!