"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI DUKE BEKU ITU MULAI CEMBURU
Malam menjelang di mansion Elsworth. Langit senja berwarna jingga kemerahan, memberikan nuansa romantis yang kontras dengan suasana hati Catharina yang sedang penuh perhitungan bisnis. Di ruang kerjanya yang mewah, ia duduk dengan fokus penuh di depan meja kayu mahoni, dikelilingi tumpukan buku tentang ekonomi, perdagangan, dan peta wilayah kerajaan.
Sejak pertemuan dengan Lucian siang tadi, otaknya tidak berhenti bekerja. Ia sudah membuat daftar rencana investasi, menghitung estimasi keuntungan, dan bahkan merancang strategi untuk memasuki dunia bisnis yang didominasi laki-laki.
"Kalau di dunia lama aku cuma bisa jadi karyawan yang diomelin bos, sekarang aku bisa jadi bos sendiri," gumamnya sambil menulis angka-angka di kertas perkamen.
Tok tok tok.
Ketukan di pintu membuyarkan konsentrasinya.
"Masuk."
Martha membuka pintu dengan wajah yang terlihat... tegang?
"Yang Mulia, Duke Raphael ada di ruang tamu. Beliau meminta untuk bertemu dengan Anda."
Catharina menghela napas panjang. Tentu saja. Duke pasti sudah dengar tentang kunjungan Lucian tadi siang. Gosip memang menyebar cepat di kalangan bangsawan.
"Bilang padanya aku sibuk."
"Tapi Yang Mulia, saat ini Duke terlihat... berbeda. Beliau terlihat marah."
"Marah?" Catharina mengangkat alis. "Wah, akhirnya patung es itu punya emosi juga."
Martha terlihat khawatir. "Yang Mulia, bagaimana kalau..."
"Baiklah, baiklah. Aku akan turun." Catharina berdiri dan merapikan gaunnya. "Tapi kalau dia mulai ceramah, aku akan langsung pergi."
***
Sementara itu, Duke Raphael berdiri di tengah ruang tamu dengan postur yang tegang. Tangannya terkepal di samping tubuh, rahangnya mengeras, dan mata abu-abunya yang biasanya dingin kali ini menyala dengan emosi yang sulit diartikan.
Begitu Catharina masuk, pria itu langsung menoleh dengan tatapan tajam.
"Catharina."
"Duke Raphael." Catharina duduk di sofa dengan santai, seolah tidak terganggu dengan aura mengintimidasi yang dipancarkan Duke. "Ada perlu apa anda datang malam-malam begini?"
"Apa benar Marquess Lucian datang ke sini siang tadi?"
Langsung to the point. Tidak ada basa-basi. Catharina nyaris tersenyum. Jadi ini yang namanya Duke yang cemburu? Ah, tidak- tidak. Lebih tepatnya Duke yang egonya terluka.
Catharina benar bukan? Si Duke gilla ini kan hanya mencintai Elise.
"Benar. Kenapa?"
Wajah Duke semakin mengeras. "Untuk apa dia datang?"
"Membicarakan bisnis. Kami berencana bekerja sama dalam beberapa investasi."
"Bisnis?" Duke melangkah lebih dekat. "Sejak kapan kamu tertarik dengan bisnis? Dan kenapa harus dengan Lucian Ashford?"
Catharina berdiri, menatap laki-laki itu dengan tatapan menantang. "Pertama, aku tertarik bisnis sejak aku sadar kalau aku butuh kekuatan sendiri, bukan bergantung pada laki-laki. Kedua, aku pilih Lucian karena dia punya pengalaman, koneksi, dan yang paling penting, dia menghargaiku sebagai partner setara. Bukan sebagai boneka cantik yang hanya bisa diam dan menunggu."
Skakmat!
Duke tersentak. Sepertinya kalimat terakhir itu menusuk tepat di hatinya.
"Aku tidak pernah menganggapmu boneka."
"Benarkah?" Catharina tertawa sinis. "Lalu kenapa selama ini kamu tidak pernah bertanya apa yang aku inginkan? Apa yang aku suka? Apa mimpi-mimpiku? Kamu hanya datang sebulan sekali, duduk dengan kaku, bicara tentang cuaca atau politik, lalu pergi. Itu namanya apa kalau bukan memperlakukan aku seperti kewajiban?"
Duke membuka mulut, tapi naas tidak ada kata-kata yang keluar. Wajahnya terlihat seperti orang yang baru saja ditampar berkali-kali.
"Dan sekarang," lanjut Catharina sambil melipat tangan, "kenapa kamu tiba-tiba peduli kalau Lucian datang? Kenapa kamu tiba-tiba cemburu? Bukankah kamu sudah punya Elise yang manis dan lugu itu?"
"Aku tidak... aku tidak ada apa-apa dengan Elise!" Elaknya.
"Oh please, Raphael. Aku sudah pernah bilang sebelum nya, bisa dilihat dari cara kamu menatapnya. Mata kamu berbinar. Sesuatu yang tidak pernah ada saat kamu menatapku."
Hening.
Suasana menjadi sangat tegang. Duke terlihat frustasi, tangannya mengacak rambutnya sendiri, sesuatu yang sangat tidak biasa untuk pria yang selalu rapi dan terkontrol.
"Kamu... kamu benar-benar berubah, Catharina. Aku tidak mengenalimu lagi."
"Bagus. Karena Catharina yang lama itu menyedihkan. Dia mencintai laki-laki yang bahkan tidak bisa menghargainya. Dan aku tidak mau jadi seperti dia lagi."
Duke menatap Catharina dengan tatapan yang penuh... apa itu? Penyesalan? Kebingungan? Atau mungkin... kehilangan?
"Apa kamu benar-benar mau membatalkan pertunangan kita?"
"Ya. Aku sudah bilang berkali-kali."
"Tapi... keluarga kita..."
"Keluarga kita akan mengerti. Atau setidaknya, mereka harus mengerti." Catharina melangkah lebih dekat ke arah Duke. "Dengar, Raphael. Aku tidak marah padamu. Aku bahkan tidak benci. Aku hanya... lelah. Lelah dengan hubungan yang tidak ada maknanya. Kamu pantas mendapat seseorang yang kamu cintai. Dan aku juga."
Duke terdiam lama. Sangat lama. Sampai napasnya terdengar berat, seolah ia sedang berjuang dengan sesuatu di dalam dirinya.
"Dan... Lucian Ashford adalah orang yang kamu cintai?"
Catharina tersenyum tipis. "Aku baru bertemu dia hari ini dengan kesadaran penuh. Aku tidak tahu apa aku mencintainya atau tidak. Tapi yang jelas, dia memperlakuaku dengan hormat. Dia mendengarkanku. Dia menghargai pendapatku. Dan itu sudah lebih dari yang pernah kamu lakukan selama bertahun-tahun."
Kalimat itu seperti pukulan telak. Duke mundur selangkah, wajahnya pucat.
"Aku... aku tidak tahu kalau kamu merasa seperti itu."
"Tentu saja kamu tidak tahu. Karena kamu tidak pernah bertanya."
Raphael menatap lantai. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu percaya diri dan berkuasa ini terlihat... kalah. Hancur.
"Maafkan aku, Catharina. Aku... aku tidak tahu harus berkata apa."
Catharina menghela napas. Ia tidak bermaksud menghancurkan mental pria itu. Tapi ini perlu dilakukan. Untuk kebaikan mereka berdua.
"Kamu tidak perlu minta maaf, Raphael. Kita berdua salah. Aku salah karena terlalu bergantung padamu. Kamu salah karena terlalu mengabaikan aku. Tapi sekarang, kita punya kesempatan untuk memperbaikinya. Dengan berpisah dan mencari kebahagiaan masing-masing."
Duke mengangkat wajahnya. Mata abu-abunya menatap Catharina dengan tatapan yang penuh emosi yang tidak pernah Catharina lihat sebelumnya.
"Apa... apa masih ada kesempatan untuk kita?"
Catharina tersenyum sedih. "Tidak, Raphael. Kesempatan kita sudah habis sejak lama. Kamu hanya tidak menyadarinya karena kamu menganggap aku akan selalu ada. Tapi sekarang, aku memilih untuk pergi."
Pria itu terlihat seperti ingin berkata sesuatu, tapi kemudian ia hanya mengangguk pelan. Lalu berbalik dan berjalan menuju pintu dengan langkah gontai.
Tapi sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh.
"Aku harap... kamu bahagia, Catharina. Dengan Lucian atau siapapun. Kamu pantas bahagia."
Dan dengan itu, Duke Raphael keluar dari ruangan, meninggalkan Catharina sendirian.
Begitu pintu tertutup, Catharina menghela napas panjang dan jatuh duduk di sofa. Tangannya gemetar sedikit. Bukan karena takut atau sedih, tapi karena adrenalin yang berpacu di dadanya.
"Sial. Itu lebih berat dari yang kukira," gumamnya sambil mengusap wajah.
Martha masuk dengan secangkir teh hangat. "Yang Mulia, apakah Anda baik-baik saja?"
"Aku baik, Martha. Mungkin... hanya lelah."
Martha duduk di sebelah Catharina dan menyerahkan cangkir teh. "Hamba bangga pada Anda, Yang Mulia. Anda sangat berani."
Catharina tersenyum sambil menyesap tehnya. "Aku harus berani, Martha. Kalau tidak, aku akan terjebak dalam kehidupan yang tidak kuinginkan selamanya."
"Tapi... apakah Yang Mulia tidak sedih? Meski bagaimanapun, Duke Raphael adalah tunangan Anda selama bertahun-tahun."
Catharina terdiam sejenak, menatap api di perapian yang berkobar pelan.
"Jujur? Aku tidak sedih. Catharina yang lama mungkin akan menangis dan meratap. Tapi aku... aku lega. Akhirnya beban itu hilang dari pundakku."
Martha tersenyum hangat. "Kalau begitu, hamba ikut senang."
Mereka duduk dalam diam yang nyaman, ditemani suara api yang mendesis pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Catharina terbangun dengan semangat baru. Ia punya banyak hal yang harus dilakukan. Pertama, ia harus mengirim surat ke ayahnya tentang pembatalan pertunangan. Kedua, ia harus bertemu Lucian untuk membahas detail investasi mereka.
Tapi sebelum itu semua, ia harus sarapan dulu.
Di ruang makan, Catharina terkejut menemukan sebab seseorang yang tidak terduga.
"Ayah?"
Seorang pria paruh baya dengan rambut pirang keperakan dan mata biru yang tajam duduk di ujung meja. Duke Henry von Elsworth, ayah Catharina. Pria yang jarang sekali pulang karena sibuk dengan urusan duchy di wilayah timur.
"Catharina," sapa Duke Henry dengan suara tegas. "Duduk. Kita perlu bicara."
Oh sial. Catharina tahu kemana arah pembicaraan ini.
Ia duduk dengan tenang, meski di dalam hatinya sedikit gugup. Ayah Catharina yang asli adalah pria yang keras dan konservatif. Ia yang mengatur pertunangan Catharina dengan Duke Raphael untuk kepentingan aliansi keluarga.
"Aku dengar kamu mau membatalkan pertunangan dengan Duke Raphael."
Jleb! langsung ke inti. Tidak ada basa-basi. Pantas saja Catharina jadi wanita yang lugas dan blak- blak-blakan.
"Ya, ayah. Itu keputusanku."
Duke Henry meletakkan garpunya dengan keras. "Apa kamu sadar apa artinya ini? Ini bukan hanya tentang kamu dan Raphael. Ini tentang aliansi antara keluarga Elsworth dan Nightshade!"
"Aku tahu, ayah. Tapi aku tidak bisa mengorbankan kebahagiaanku untuk aliansi politik."
"Kebahagiaan?" Duke Henry tertawa sarkastik. "Kamu pikir pernikahan bangsawan itu tentang kebahagiaan? Ini tentang kekuasaan, Catharina! Tentang mempertahankan posisi keluarga kita!"
Catharina menarik napas dalam-dalam. Ia harus tetap tenang.
"Ayah, aku mengerti pentingnya aliansi. Tapi aku juga percaya bahwa aliansi tidak akan kuat kalau dibangun di atas hubungan yang tidak bahagia. Duke Raphael dan aku tidak cocok. Kami berdua tahu itu."
"Lalu apa? Kamu mau menikah dengan Marquess Lucian? Aku dengar dia datang kemari kemarin."
Catharina tidak terkejut. Tentu saja ayahnya sudah tahu. Mata-matanya ada di mana-mana di dunia bangsawan ini.
"Lucian adalah partner bisnisku. Kami belum membicarakan soal pernikahan."
"Partner bisnis?" Duke Henry mengerutkan kening. "Sejak kapan kamu tertarik bisnis?"
"Sejak aku sadar bahwa aku tidak bisa selamanya bergantung pada keluarga atau suami. Aku perlu kekuatanku sendiri,ayah."
Duke Henry menatap putrinya dengan tatapan yang sulit dibaca. Untuk beberapa saat, ruangan menjadi hening.
Lalu, tiba-tiba, pria itu tersenyum. Senyum kecil yang jarang sekali muncul di wajahnya.
"Kamu tahu, Catharina... kamu mengingatkanku pada ibumu."
Catharina terdiam. Dari ingatan Catharina yang asli, ibunya meninggal saat ia masih kecil. Tapi wanita itu digambarkan sebagai sosok yang kuat dan mandiri.
"Ibumu juga sepertimu. Keras kepala, pintar, dan tidak mau kalah." Duke Henry bersandar di kursinya. "Aku menikah dengannya bukan karena dijodohkan. Tapi karena aku jatuh cinta pada kekuatannya."
Catharina tidak menyangka ayahnya akan bercerita seperti ini.
"Jadi... ayah setuju aku membatalkan pertunangan?"
Duke Henry menghela napas. "Aku tidak setuju. Tapi aku juga tidak akan memaksamu. Kalau kamu yakin ini keputusan yang benar, lakukan. Tapi ingat, kamu harus siap dengan konsekuensinya. Masyarakat akan membicarakanmu. Mereka akan bilang kamu wanita yang sombong, tidak tahu diri, dan berbagai hal buruk lainnya."
"Aku siap, ayah."
Duke Henry menatap putrinya dengan tatapan yang penuh... kebanggaan?
"Baiklah. Aku akan bicara dengan Duke Nightshade tentang pembatalan pertunangan resmi. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Buktikan padaku bahwa kamu bisa sukses. Buktikan bahwa keputusanmu ini bukan hanya emosi sesaat. Buktikan bahwa kamu layak jadi pewaris keluarga Elsworth."
Catharina tersenyum lebar. "Itu akan aku lakukan, ayah. Aku janji."
Duke Henry mengangguk, lalu kembali fokus pada sarapannya.
Tapi sebelum Catharina keluar dari ruang makan, ayahnya berkata lagi.
"Dan Catharina... kalau Marquess Lucian itu serius padamu, suruh dia datang menemuiku. Aku mau bicara dengannya."
Catharina tertawa. "Baik, ayah."
Ia keluar dari ruang makan dengan hati yang ringan dan senyum lebar di wajah.
Langkah pertama sudah selesai. Ayahnya setuju.
Sekarang, saatnya fokus ke bisnis dan membuktikan bahwa ia bukan lagi Catharina yang lemah.
Ia adalah Catharina von Elsworth yang baru.
Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
***
BERSAMBUNG