Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Spasi yang Menyesakkan
Pintu kubikel gue tertutup dengan suara debum pelan yang seolah mengisolasi gue dari seluruh dunia. Tapi, tembok setinggi bahu ini nggak cukup buat nutupin rasa panas yang masih menjalar di pipi. Rasanya semua mata di kantor Aksara Muda lagi tertuju ke punggung gue, nembus sampai ke tulang rusuk. Gue tahu apa yang mereka pikirin. Adegan tadi di mana gue dan Pak Genta saling tatap dengan intensitas yang sanggup ngebakar kertas pastinya sudah jadi bahan gosip paling panas di grup WhatsApp kantor.
Gue meremas ujung kemeja, mencoba menenangkan detak jantung yang masih berdegup kencang. Sialan. Gue tahu gue memang berniat balas dendam dengan ngebunuh karakter Kastara, tapi gue nggak pernah nyangka efeknya bakal se-brutal itu buat Genta. Ekspresi pria itu pas dia bilang "Kenapa kamu bunuh karakter itu?" masih nempel di otak gue. Matanya yang biasa sedingin es, tadi sempat kelihatan hancur. Bukan cuma marah, tapi kayak ada harapan yang baru saja gue injak-injak di depan mukanya.
Selama sisa jam kantor, suasana di ruangan ini berubah jadi mencekam. Rasanya kayak gue lagi duduk di dalam ruang hampa udara. Nggak ada suara langkah pantofel yang biasanya mondar-mandir nanyain efisiensi kerja. Nggak ada bau parfum bapak-bapak aroma kayu jati yang biasanya bikin hidung gue gatal sekaligus waspada. Yang paling aneh, nggak ada perintah kopi Americano tanpa gula yang biasanya jadi ritual wajib pembuka hari.
Gue melirik ke arah ruangan Genta yang tertutup rapat. Pintunya seolah-olah ngasih jarak sejauh ribuan kilometer di antara kami. Rasanya dia benar-benar lagi berkabung. Gue jadi mikir, apa dia sebegitu sayangnya sama tokoh Kastara itu? Atau dia sadar kalau yang baru saja gue "eksekusi" itu sebenarnya adalah dirinya sendiri?
Bukannya fokus ke naskah antologi yang tenggat waktunya makin mepet, jemari gue malah narik ponsel secara refleks. Gue buka aplikasi NovelToon, dan bener aja, ada satu notifikasi yang bikin perut gue mendadak mulas.
Kaka’s: Kenapa harus sekejam itu? Kastara itu cuma butuh satu alasan buat jujur, tapi lo malah kasih dia truk. Lo nggak cuma bunuh tokohnya, Senja. Lo bunuh harapannya.
Napas gue tercekat di tenggorokan. Gue benci banget sama situasi ini. Gue benci gimana cara Kaka’s, entah dia itu Genta atau setan penunggu kantor ini, selalu bisa masuk ke sela-sela pertahanan yang sudah gue bangun susah payah. Kata-katanya selalu tepat sasaran, seolah dia punya akses langsung ke dalam kepala gue.
Gue ngerasain emosi gue naik lagi. Rasa bersalah yang tadi sempat muncul langsung ketutup sama rasa kesal yang berapi-api. Gue langsung ngetik balasan, jari gue bergerak lebih cepat dari logika yang harusnya nahan gue buat nggak nyari gara-gara lagi.
Senja_Sastra: Harapan itu mahal buat orang yang cuma bisa hidup di balik tembok kaku, Kaka's. Kalau lo merasa terluka, mungkin karena lo sama pengecutnya kayak dia.
Detik setelah tombol send gue tekan, gue dengar suara pintu ruangan Genta terbuka. Gue reflek nundukin kepala, pura-pura fokus banget ke layar laptop yang sebenarnya cuma nampilin kursor yang kedap-kedip. Dari sudut mata, gue lihat Genta keluar. Dia sudah pakai jaketnya, tas kerjanya tersampir lesu di bahu. Jalannya nggak lagi tegap dan angkuh. Bahunya merosot, langkahnya nggak berirama.
Pria itu nggak melirik gue sama sekali pas ngelewatin kubikel gue. Dia cuma jalan lurus ke arah lift tanpa kata-kata. Punggung yang biasanya gue anggap tembok raksasa yang nggak bisa ditembus itu, sekarang kelihatan... patah. Kayak ada beban berat yang tiba-tiba jatuh ke pundaknya.
Rasanya ada yang mengganjal di dada gue. Kepuasan yang gue cari tadi pagi mendadak terasa hambar. Gue pengen manggil dia, pengen nanya apa dia baik-baik saja, tapi lidah gue kelu. Lift tertutup, dan suasana kantor makin terasa sunyi sekaligus menyesakkan.
Malam harinya, apartemen gue terasa lebih dingin dari biasanya. Gue sudah ganti baju pakai piyama paling nyaman, sudah makan seblak yang pedasnya maksimal buat ngilangin stres, tapi tetep saja gue nggak bisa tidur. Mata gue terus tertuju ke meja rias, di mana undangan Malam Penganugerahan Valentine NovelToon tergeletak dengan angkuhnya.
Undangan dengan logo hati itu seolah-olah lagi ngetawain keraguan gue.
"Harus datang nggak, ya?" gumam gue pelan sambil meraih sisa satu stiker kucing gemuk yang masih ada di bungkusnya. Stiker yang pernah gue pake buat 'jebakan' itu sekarang malah bikin gue sedih.
Gue teringat lagi tatapan Genta di kantor tadi. Luka itu nyata banget. Gue mulai sadar kalau permainan ini sudah kejauhan. Ini bukan lagi soal typo yang harus direvisi. Bukan lagi soal naskah kura-kura atau kopi pahit. Ini soal dua manusia yang saling kenal banget lewat kata-kata di dunia maya, tapi malah jadi orang asing yang saling melukai saat berhadapan muka.
Gue ngerasa bodoh. Gue selalu bangga dengan diksi-diksi gue yang katanya puitis dan dalam, tapi buat ngomong jujur ke orang di depan mata saja gue gagal total. Gue lebih milih ngebunuh karakter daripada ngobrol baik-baik.
Gue raih ponsel yang gue lempar ke kasur tadi. Gue buka draf bab terbaru yang harusnya berisi adegan pemakaman Kastara. Jemari gue sudah siap ngetik deskripsi peti mati dan tanah yang basah, tapi gue berhenti. Gue nggak bisa nerusin ini.
Gue hapus semua deskripsi kematian itu. Gue hapus semua kalimat yang penuh kemarahan. Gue ganti dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang nggak butuh ribuan kata puitis buat dimengerti. Gue cuma ngetik satu paragraf pendek yang mungkin cuma bakal dipahami oleh satu orang di dunia ini.
“Kastara mungkin sudah pergi, tapi dia ninggalin sebuah kotak rahasia yang kuncinya ada di tangan penulisnya sendiri. Mau dibuka atau dibuang, itu urusan lusa malam.”
Gue narik napas panjang, lalu menekan tombol publish dengan tangan sedikit gemetar. Gue tahu, ini adalah undangan resmi gue buat dia. Bukan undangan formal dari kantor atau aplikasi, tapi undangan dari hati gue yang sudah capek main petak umpet.
Malam penganugerahan lusa bukan cuma soal siapa yang bawa pulang piala perunggu. Itu adalah titik terakhir dari semua tanda tanya yang selama ini bikin gue sesak. Besok lusa, nggak boleh ada lagi spasi yang terlalu jauh di antara kami. Nggak akan ada lagi rahasia yang disembunyiin di balik akun anonim.
Gue memejamkan mata, mencoba membayangkan apa yang bakal terjadi di malam itu. Apakah Genta bakal datang sebagai bos gue yang menyebalkan, atau sebagai Kaka's yang selama ini gue kagumi?
Satu yang pasti, gue nggak mau lagi nulis tentang kematian. Gue mau mulai nulis tentang kesempatan kedua.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻