Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 4 PENGANTIN YANG TIDAK DIRAYAKAN
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan gerbang rumah besar berarsitektur megah.
Dengan pagar besi yang berat dan tinggi. Dinding dengan ukiran-ukiran serta batu alam.
Lampu-lampu kuning keemasan.
Rumah yang bahkan pagar depannya saja lebih mahal dari hidup seseorang.
Gadis itu turun perlahan.
Gaun sederhana berwarna krem membungkus tubuhnya—bukan gaun pengantin mewah, bukan pula pakaian tamu.
Lebih mirip… pakaian yang tidak ingin dilihat.
Ia berdiri di samping mobil, menunggu.
Tidak ada yang menyambut.
Pintu rumah terbuka dari dalam.
Seorang perempuan paruh baya muncul, rambutnya disanggul rapi, kalung mutiara melingkar di lehernya. Tatapannya menyapu dari ujung kepala sampai kaki gadis itu tanpa sedikit pun senyum.
“Oh.”
Hanya itu.
Nada datar.
Hampa.
“Kamu… ya?”
“Iya, Bu.”
Perempuan itu mengangguk pelan.
“Masuk.”
Tidak ada ucapan selamat datang.
Di dalam rumah megah, ruang tamu luas itu sudah dipenuhi orang.
Wajah-wajah asing.
Mata-mata yang menilai.
Gadis itu melangkah pelan, langkahnya kecil, seolah takut lantai marmer itu retak karena keberadaannya.
Bisik-bisik mulai terdengar.
“Oh ini toh gadis itu?”
“Yang dikontrak itu?”
“Kelihatannya biasa banget. Masak kakek memilih model yang ginian”, ”Gimana si kakek ini, masak gadis seperti masuk kedalam kelaurga ini. Mau ditaruh dimana?”
Tidak ada yang berusaha mengecilkan suara.
Seorang wanita muda bersedekap, menyeringai.
“Kirain bakal dapat yang minimal selevel kita. Ini mah…”
Ia berhenti, lalu tertawa kecil.
“Pembantu juga kelihatan lebih hidup.”
Beberapa tertawa.
Yang lain hanya menonton.
Gadis itu berdiri di tengah ruangan, sendirian.
Ibunya—yang tadi pagi mengantarnya—tidak ikut masuk.
Mungkin memang tidak diundang.
Perempuan paruh baya tadi mendekat lagi.
“Duduk.”
Gadis itu duduk di ujung sofa.
“Dengar baik-baik,” kata perempuan itu, suaranya dingin tapi jelas.
“Ini rumah keluarga besar. Ada aturan. Ada tata krama.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan ada batas.”
Gadis itu mengangguk.
“Iya, Bu.”
Wanita itu melirik sebentar.
“Jangan terlalu sering mengangguk. Bukan anak kecil.”
“Iya.”
“Lihat? Itu tadi contoh yang tidak perlu.”
Bisik-bisik kecil kembali terdengar.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh berdiri dari kursinya.
“Jadi ini perempuan yang dipilih Kakek?”
Nada suaranya penuh keheranan.
“Dipilih?” sahut wanita muda tadi. “Lebih tepatnya… dipakai kali.”
Tawa kecil kembali pecah.
Pria itu mendekat, menatap gadis itu lama.
“Kamu tahu kenapa kamu ada di sini?”
Gadis itu menunduk.
“Untuk menikah.”
“Bukan,” jawab pria itu cepat.
“Kamu ada di sini untuk menjaga warisan tetap aman.”
Ia tersenyum tipis.
“Jangan sampai kamu lupa.”
Wanita paruh baya itu menambahkan,
“Kamu tidak perlu berharap apa-apa. Tidak ada pesta. Tidak ada perayaan.”
“Pernikahan ini,” katanya sambil mengibaskan tangan, “urusan internal.”
Wanita muda itu mendengus.
“Kalau diumumkan keluar, malah bikin malu.”
Kalimat itu jatuh tanpa ragu.
Gadis itu tetap diam.
Tangannya terlipat di pangkuan.
Seorang nenek muncul dari arah tangga, tongkatnya diketukkan pelan ke lantai.
Semua langsung berdiri.
“Ini?” tanya nenek itu singkat.
“Iya, Bu,” jawab perempuan paruh baya.
Nenek itu mendekat, menatap gadis itu tanpa ekspresi.
“Kamu dari keluarga mana?”
“Saya… dari keluarga kecil, Nek.”
Nenek itu mengangguk.
“Kecil memang kelihatan.”
Ia menoleh ke yang lain.
“Setidaknya dia tahu diri.”
Kata itu lagi.
Tahu diri.
“Kamu duduk,” kata nenek itu.
“Kamu tidak perlu bicara kalau tidak ditanya.”
“Iya, Nek.”
Wanita muda itu tersenyum puas.
“Lihat? Sudah paham aturan sejak awal.”
Tiba-tiba pintu lain terbuka.
Pemuda itu masuk.
Jas hitam rapi.
Wajah dingin.
Tatapan datar.
Semua mata beralih padanya.
“Ah, pengantin prianya datang,” kata seseorang ringan.
Pemuda itu berhenti di dekat gadis itu.
Ia tidak menatapnya.
Tidak menyapa.
“Sudah dijelaskan?” tanyanya ke neneknya.
“Sudah,” jawab sang nenek. “Dia anak baik. Nurut.”
Pemuda itu mengangguk.
“Itu cukup.”
Wanita muda tertawa kecil.
“Enak ya, dapat istri yang tidak banyak maunya.”
Pemuda itu akhirnya melirik gadis itu.
Sekilas.
Cepat.
Tatapan itu tidak hangat.
Tapi juga tidak kejam.
Hanya… kosong.
“Kamu berdiri,” kata nenek itu pada gadis itu.
Gadis itu berdiri.
“Ucapkan terima kasih.”
Gadis itu terdiam sesaat.
Lalu, dengan suara pelan,
“Terima kasih… sudah menerima saya.”
Beberapa orang tertawa.
“Menerima?”
“Lucu.”
“Kita belum tentu mau melihatmu lama-lama.”
Wanita paruh baya mendekat, membetulkan kerah gaun gadis itu dengan kasar.
“Mulai sekarang, jaga sikap. Jangan membuat suamimu dipermalukan.”
“Kalau kamu sedih,” lanjutnya sambil tersenyum tipis,
“tahan. Menangis tidak akan membuatmu lebih berharga.”
Gadis itu mengangguk.
Pemuda itu berdiri di sampingnya.
Jarak mereka sejengkal.
Tidak bersentuhan.
“Besok,” katanya datar, “kamu pindah ke rumah utama.”
Wanita muda menyahut,
“Kamar tamu. Jangan salah tempat.”
Pemuda itu tidak membantah.
Nenek itu mengetukkan tongkatnya.
“Cukup. Pernikahan ini selesai.”
Selesai.
Tanpa doa.
Tanpa pelukan.
Tanpa senyum.
Satu per satu orang mulai meninggalkan ruangan, seolah tidak pernah ada peristiwa penting barusan.
Gadis itu tetap berdiri.
Pemuda itu berbalik.
“Mobil menunggu.”
Ia berjalan duluan.
Gadis itu mengikuti dari belakang.
Di dalam mobil, hening.
Lampu kota berkelebat di jendela.
Tangannya terlipat, kukunya menekan kulit.
Ia tidak menangis.
Bukan karena kuat.
Tapi karena terlalu lelah.
Pemuda itu menatap ke depan.
Tiba-tiba berkata,
“Kalau mereka bicara kasar—”
Ia berhenti.
Gadis itu menoleh sedikit.
“Anggap saja angin,” lanjutnya dingin.
“Jangan dibawa ke hati.”
Gadis itu mengangguk.
“Iya.”
Pemuda itu meliriknya sekilas.
“Kamu tidak keberatan?”
Gadis itu tersenyum kecil.
“Saya… sudah terbiasa.”
Mobil melaju lebih cepat.
Pemuda itu menoleh ke jendela.
Rahangnya mengeras.
Untuk pertama kalinya sejak kontrak itu dibuat—
ada sesuatu yang terasa tidak sesuai rencana.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid