Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 6 - Datang Tanpa Rencana
Steven sesekali membenarkan posisi kacamata hitam yang di pakainya sembari menaburkan bunga yang dibawanya ke makam yang—dia sendiri tidak tahu makam siapa itu.
Ya, karena Steven hanya sedang memantau Alexa yang masih duduk di depan makam ibunya, menopangkan kepalanya di gundukan makam itu.
Awalnya Steven datang ke rumah Alexa, menyamar dan mengaku sebagai teman Alexa yang datang untuk melayat. Tapi beberapa orang bilang kalau Alexa belum pulang ke rumah sejak ibunya di makamkan.
Itu berarti sudah semalaman Alexa ada di makam.
"Ya ampun... aku sendiri yang bilang kalau aku nggak akan peduli lagi. Tapi nggak tau kenapa, kakiku melangkah balik ke sini," gumamnya pelan menepuk jidatnya sendiri.
"Maaf, anda siapa, ya?" Tiba - tiba seseorang berdiri di hadapan Steven.
Steven mendongak dan mendapati tiga orang dengan pakaian serba hitam, membawa bunga masing - masing di tangan mereka—memandang Steven dengan mata curiga.
"Saya? Anu..."
"Ini makam nenek saya. Anda siapa?" Salah satu dari mereka kembali mengajukan pertanyaan.
"Oh... saya salah makam, maaf," ungkap Steven langsung bangkit dengan wajah memerah karena malu.
Steven kemudian pindah ke makam lain yang masih tidak dia ketahui makam milik siapa itu. Dia hanya mencoba untuk terlihat kalau dia benar - benar salah menziarahi makam.
Masalahnya, bunga yang dia bawa sudah habis untuk makam lain, padahal niat awal dia mau menaburkannya di makam ibunya Alexa. Namun ketika melihat Alexa benar - benar tidak bangkit dari sana, keberaniannya menciut.
Dia tidak ingin mengganggu karena Alexa terlihat lebih tenang dan nyaman.
"Sampai kapan dia akan seperti itu?" gumam Steven yang terus memperhatikan Alexa.
Tubuhnya melompat kaget ketika pahanya bergetar dan bunyi dering ponselnya memecah keheningan pemakaman. Perhatian orang - orang langsung tertuju padanya.
"Maaf," ungkap Steven berbisik sambil membungkukkan tubuhnya dan mengambil ponselnya.
Dia berjalan ke pinggiran makam tepat di bawah pohon untuk menerima telepon yang sama sekali tidak bisa ditolaknya itu.
"Halo?" sapa Steven.
"STEVEN SIALAN! DI MANA KAMU?!" teriak seseorang dari ujung sana membuat Steven menjauhkan ponselnya dari telinganya.
Itu suara manajernya.
"Aku 'kan sudah bilang, aku ada urusan sebentar." Steven menanggapi dengan santai.
Steven mendengar keributan di sana. Itu terdengar jelas suara ke empat temannya yang berusaha merebut ponsel milik manajernya untuk mengatakan sesuatu pada Steven.
"Lo gila, Stev?! Konser kita sebentar lagi!" omel salah seorang.
"Sadar nggak sih kalau lo itu vokal?!" Yang lain turut menambahkan.
Steven sampai mengorek telinganya yang terasa sakit karena keributan yang terjadi.
Dia sadar dia salah karena pergi tiba - tiba saat konser band - nya akan berlangsung. Tapi, Steven juga tidak akan fokus kalau tidak segera melihat kondisi Alexa. Dia bahkan tidak bisa tidur nyenyak.
"Masih tiga puluh menit, kan?" cetus Steven terdengar sepele.
"Lo pikir nggak perlu persiapan?!"
"Iya, gue balik sekarang. Teriak mulu perasaan!"
"Lima belas menit harus sudah sampai sini."
"Eh, jangan ngatur, ya! Gue nggak suka!"
"WOI! Lo—"
Tak mau mendengarkan ocehan teman - temannya lagi, Steven langsung memutus sambungan telepon dan mengelola nafasnya panjang.
Dalam dirinya, Steven mengaku salah karena meninggalkan teman - temannya begitu saja hanya untuk urusan pribadi. Tapi, Steven juga tidak mau penampilannya nanti buruk hanya karena tidak fokus.
Beberapa kali Steven mencoba untuk tidak memikirkan kejadian yang dilihatnya itu dan mengacuhkannya. Tapi selalu berakhir ingin tahu keadaan Alexa.
"Sudahlah... aku harus balik." Dia menyimpan kembali ponselnya.
"ASTAGA!" pekik Steven ketika mendapati Alexa sudah berdiri di hadapannya ketika dia berbalik. Dia sampai hampir jatuh ke tanah.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Alexa dingin.
Steven diam beberapa saat mengatur detak jantungnya sembari memperhatikan Alexa,
Kedua matanya sembab, wajahnya pias, baju, tangan dan kakinya sangat kotor. Tanpa mengatakan apa pun, Alexa sedang menunjukkan pada Steven betapa hancurnya dia.
"A - aku... aku cuman lewat. Jadi mampir," timpal Steven gugup—merapikan bajunya.
"Memangnya ada yang menjamu kamu seperti tamu di sini?" Alexa sedikit meledek sembari berbalik hendak kembali ke makam ibunya.
"Kamu tidak pulang?" tanya Steven refleks mengubah topik pembicaraan.
Alexa menoleh sejenak memandang Steven yang melepas kacamata hitamnya.
"Aku bertanya ke kamu. Bukan penghuni di sini," kata Steven kesal karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
Alexa melambaikan tangannya memanggil Steven. Meski sempat ragu, Steven mendekat dan akhirnya berada di depan makam Claire yang masih basah itu. Seketika, bayangan kejadian itu terputar lagi di benaknya.
"Sebelumnya, aku pulang ke bangunan itu karena rumahku ada di sana. Sekarang, rumahku di sini. Jadi di sinilah tempat aku pulang." Alexa menjelaskan—duduk bersila di tanah.
"Jangan begitu, Alexa. Ibumu juga tidak akan tenang kalau kamu bersikap seperti ini."
"Kalau begitu, kamu bisa susul ibuku dan tanyakan padanya apakah dia senang jika aku pergi? Lalu kamu bisa kembali untuk menyampaikan pesannya padaku."
Steven menyatukan giginya merasa sedikit kesal dengan cara Alexa menanggapi ucapan seriusnya.
Ya, Steven sadar dia bukan siapa - siapa yang perlu Alexa dengar kata - katanya. Tapi karena Alexa sempat menyalahkannya atas tindakan Steven tanpa meminta persetujuan Alexa kemarin, dia jadi merasa sedikit perlu tanggung jawab.
"Dasar menyebalkan!" tutuk Steven pelan.
Alexa langsung mendongak menusuk Steven dengan tatapan tajamnya seolah berkata, "Kamu ngomong apa? Ulangi lagi biar aku pukul."
Namun Steven langsung memalingkan wajahnya menatap langit yang cerah siang itu sembari berdehem—menyangkal ucapannya sendiri sebelum di serang Alexa.
"Kamu bisa pergi, Steven." Alexa kembali memandang makam ibunya.
"Ayo," balas Steven.
"Kenapa ayo? Aku minta kamu pergi."
"Tapi aku bakal pergi kalau kamu pergi."
Alexa memutar bola matanya kesal dan berucap, "aku nggak mau pergi sama orang yang bikin aku sendirian."
Steven sempat terdiam beberapa saat mendengar ucapan Alexa yang terlihat masih marah padanya. Jujur, Steven tidak setuju dengan alasan Alexa marah padanya tapi—Alexa tidak salah.
Mau berpikir seberapa jauh pun, Steven mengerti kalau Alexa hanya mencoba menerima ayahnya bahkan dengan keburukannya, karena dia tidak mau sendirian.
Dengan menarik nafas panjang, Steven berjalan menuju ke makam pertama yang dia taburi bunga, mengambil beberapa kelopak bunga miliknya.
"Maaf, aku akan mengambil lima kelopak bunga saja. Selebihnya, untuk nenek kalian," katanya pada orang - orang yang masih duduk mendoakan nenek mereka.
Dia kembali ke makam Claire dan menaburkan lima kelopak yang diambilnya tadi di atas makan Claire.
"Baiklah aku akan pergi. Anggap saja, kelopak itu aku kasih ke kamu buat makan," sinis Steven.
Tentu saja Alexa melotot tersinggung pada laki - laki itu. Dia merasa diejek dan direndahkan oleh kata - kata Steven.
"Apa maksud kamu?!" bentak Alexa.
"Alexa, rumah itu bukan sekedar tempat untuk kamu pulang. Rumah nggak akan membuat kamu mati secara perlahan."
Steven mengakhiri kalimatnya dan berjalan pergi. Dia sadar beberapa orang mulai mengalihkan perhatian mereka ke arahnya sambil menunjuk dan langsung mempercepat langkahnya pergi dari area pemakaman—dengan kembali memakai kacamata hitamnya.
Namun sebelum benar - benar pergi, dia sempat menoleh kembali ke arah Alexa yang juga sedang memandang ke arahnya.
Steven menganga ketika melihat Alexa tampak memakan kelopak bunga yang Steven taburkan tadi sembari memicingkan matanya seolah menantang Steven. [ ]
*Sama - sama nyebelin ya, Guys😭*