Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik temu
Keramaian kota masih sama seperti sebelumnya. Roda kereta berderit di atas batu jalanan. Pedagang memanggil pelanggan dengan suara lantang. Anak-anak berlari di antara kaki orang dewasa tanpa memedulikan siapa pun. Aroma roti hangat bercampur dengan bau keringat dan debu musim panas.
Namun, bagi Alberto, semua suara itu terdengar jauh. Seolah ia berjalan di dalam ruang tertutup, sementara dunia bergerak tanpa makna di sekelilingnya. Ia melangkah cepat di sisi Kael.
Ekspresinya tegang, alisnya berkerut, napasnya sedikit lebih berat dari biasanya. Ia tidak lagi terlihat seperti putra bangsawan yang santai dan mudah tersenyum.
Sementara itu, Kael berjalan dengan langkah terukur. Tidak tergesa, tetapi juga tidak lambat. Sorot matanya bergerak dari satu sudut ke sudut lain, membaca jalanan seperti membaca peta yang tak terlihat.
“Kita berpisah atau tetap bersama?” tanya Alberto pelan, menahan desakan untuk berlari.
Kael tidak langsung menjawab. Ia mengamati keramaian di persimpangan, memperhatikan siapa yang melihat mereka dan siapa yang pura-pura tidak peduli.
“Bersama,” jawabnya akhirnya. “Jika ini bukan sekadar tersesat, lebih baik kita tidak terpisah.”
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang bahkan untuk situasi saat itu.
Mereka berhenti di depan salah satu pedangan yang menjual makanan
“Maaf,” katanya kepada penjaga toko yang sedang membungkus roti, “apakah tadi ada gadis berambut perak membeli kue di sini?”
Penjaga toko mengerjap, mencoba mengingat. “Hari ini ramai, Tuan. Banyak pembeli.”
“Rambut perak,” ulang Alberto, menahan kegelisahan. “Ia membawa mantel biru"
Kael berdiri di belakangnya, matanya mengamati lantai, meja, bahkan tong sampah kecil di sudut.
“Gadis seperti itu cukup mencolok,” katanya datar.
Penjaga toko menggeleng pelan. “Maaf. Saya benar-benar tidak memperhatikan.”
Alberto menghela napas, berusaha menahan frustrasi. Mereka keluar kembali ke jalan.
Beberapa pedagang ditanya. Jawabannya hampir sama: tidak tahu, tidak melihat, terlalu sibuk.
Semakin banyak jawaban kosong, semakin jelas ada sesuatu yang tidak wajar.
“Dia tidak mungkin menghilang begitu saja,” gumam Alberto.
Kael tidak menjawab. Ia memandang arah matahari, posisi bayangan, jalur-jalur sempit di antara bangunan. Ia melihat bukan hanya orang-orang, tetapi celah.
Lalu, seorang wanita tua penjual kain memanggil mereka pelan saat mereka hampir melewatinya.
“Rambut perak?” tanyanya sambil menyipitkan mata. “Aku melihat gadis seperti itu.”
Alberto langsung berbalik. “Ke mana?”
Wanita itu menunjuk lorong sempit di antara dua bangunan batu. “Ia berjalan ke sana waktu itu, aku cukup memperhatikannya karena rambutnya yang langka itu"
“Terima kasih,” kata Alberto cepat.
Mereka memasuki lorong itu, suasana berubah drastis.
Suara pasar meredup, hanya tersisa gema samar. Dinding batu tinggi menjulang, membuat cahaya matahari terpotong menjadi garis-garis panjang di lantai. Udara lebih dingin, lebih lembap.
Langkah mereka bergema.
“Elenna!” panggil Alberto.
Tidak ada jawaban.
Beberapa langkah lebih jauh, Kael tiba-tiba berhenti.
Alberto hampir menabraknya. “Kenapa—”
Kael berjongkok tanpa bicara.
Di lantai batu, di antara batu-batu kecil tersebut, terdapat beberapa robekan kain
Terlihat seperti robekan kain bewarna biru
Alberto membeku.
Ia mengenalinya, mantel biru Elenna.
Alberto mengambilnya dengan tangan sedikit gemetar. “Itu milik Elenna.”
Kael berdiri perlahan. Tatapannya menyapu lorong.
Beberapa langkah dari sana, tersangkut di sudut batu dinding, potongan kain kecil berkibar tertiup angin. Alberto mendekat dan menyentuhnya. Kain polos berwarna pucat.
“Ini bagian dari gaunnya.”
Sunyi.
Tidak ada lagi keraguan, ini bukan tersesat. Elenna menghilang bukan karena keinginannya.
Kael berdiri tegak. Wajahnya yang biasanya datar kini mengeras. Tatapannya tidak lagi datar.
“Bekas gesekan di lantai,” katanya pelan. “Dan jejak sepatu berat.”
Alberto menoleh. “Berapa orang?”
“Empat. Mungkin lebih.”
Nada itu tidak panik. Tidak marah. Justru terlalu terkontrol.
“Kita harus kembali dan memberi tahu Ayahku,” kata Alberto.
“Tidak.”
Jawaban Kael cepat dan tegas.
“Jika ini terjadi tadi." lanjutnya, “maka pasti mereka belum jauh.”
Ia berjalan ke ujung lorong yang bercabang, dan saat itulah suara samar terdengar dari tikungan berikutnya.
Tawa kasar.
Langkah berat.
“Gadis tadi lumayan juga,” kata suara pria.
“Bayarannya lebih lumayan,” sahut yang lain menanggapi sembari terkekeh
“Beliau benar-benar tidak main-main kali ini.”
Alberto dan Kael saling pandang.
Kael mengangkat tangan, memberi isyarat diam.
Mereka bergerak perlahan mendekati tikungan.
Lima pria berdiri di lorong lebih lebar di belakang, tampak santai. Salah satu dari mereka memegang kantung koin, menimbang-nimbangnya dengan puas.
“Kapan beliau datang lagi?” tanya salah satu.
“Katanya setelah memastikan tempatnya aman.”
“Ah, yang penting kita sudah dapat bayaran. Gadis itu cantik juga. Sayang kalau cuma—”
Kalimatnya terputus.
Karena Alberto sudah lebih dulu menghantam wajahnya.
Suara tulang beradu terdengar jelas. Pria itu terjatuh ke lantai batu dengan darah mengalir dari hidungnya.
Tiga pria lain terkejut.
“Siapa kau—”
Kael bergerak sebelum mereka sempat menyelesaikan kalimat.
Gerakannya cepat, tepat, tanpa emosi. Ia menangkap pergelangan salah satu pria dan memutarnya keras hingga terdengar bunyi retakan. Pria itu berteriak kesakitan.
Alberto memukul pria lain tepat di rahang.
Lorong sempit itu berubah menjadi medan perkelahian singkat namun brutal.
Salah satu pria mencoba kabur.
Kael menendangnya dari belakang hingga tersungkur.
Dalam hitungan detik, kelima pria itu sudah terkapar atau berlutut dengan wajah pucat.
Kael mencengkeram kerah salah satu dari mereka dan mengangkatnya sedikit dari tanah.
“Gadis itu,” katanya pelan. “Di mana?”
Pria itu gemetar. “A-Aku tidak tahu—”
Kael menghantamnya ke dinding batu.
“Aku tidak bertanya dua kali.”
Alberto berdiri di sampingnya, napasnya berat, tangan masih mengepal.
“Kalian membicarakan gadis berambut perak.”
Pria itu menelan ludah. “Kami hanya… hanya menjalankan perintah.”
“Siapa yang memberi perintah?” tanya Alberto.
Mereka saling pandang, ragu.
Kael menekan pergelangan tangan pria yang retak tadi. Jeritan memenuhi lorong.
“Katakan.”
“Count!” teriak salah satu akhirnya. “Count yang menyuruh kami!”
Sunyi.
Nama itu menggantung berat di udara.
“Di mana dia membawa gadis itu?” suara Kael tetap rendah.
“S-Sebuah gudang lama di pinggir kota… dekat pelabuhan tua… Kami hanya disuruh menjaga jalan.”
Alberto menegang. “Jika kau berbohong—”
“Kami tidak berbohong! Demi Tuhan!”
Kael melepaskan pria itu hingga terjatuh ke tanah.
Ia berdiri diam beberapa detik.
Wajahnya tidak menunjukkan amarah.
Justru itu yang membuatnya lebih mengerikan.
“Kita ke pelabuhan,” katanya singkat.
Alberto mengangguk, masih memegang kalung Elenna erat di tangannya.
Sebelum pergi, Kael menatap keempat pria itu sekali lagi.
“Jika satu kata pun dari kejadian ini sampai ke orang yang salah,” katanya tenang, “aku akan kembali.”
Tidak perlu ancaman tambahan. Tatapan itu saja sudah cukup. Kemudian mereka meninggalkan lorong dan keramaian kota kembali menyambut mereka. Namun, kini langkah mereka berbeda.
Lebih cepat. Lebih tajam.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu-
Kael tidak lagi terlihat seperti bangsawan yang dingin.
Ia terlihat seperti seseorang yang siap menghancurkan apa pun yang menghalanginya.
Dan di tangannya, sisa mantel Elenna berkilau samar, menjadi satu-satunya bukti bahwa Elenna masih menunggu untuk ditemukan.