Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.
Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?
Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13: Sang Mawar, Dengan Janji Yang Tertinggal
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah tirai sutra, namun suasananya terasa berat setelah malam yang panjang dan penuh ketegangan itu. Rubellite terbangun dengan pikiran yang masih berkabut; bayang-bayang percakapannya dengan Valerius semalam masih terngiang jelas di benaknya. Dengan gerakan gontai, ia bersiap seadanya, mencoba mengumpulkan kesadaran untuk memenuhi janji minum teh bersama Kaisar.
Ia melangkah keluar kamar, menyusuri lorong istana yang panjang dan sunyi. Suara ketukan sepatunya pada lantai marmer seolah menjadi satu-satunya bunyi yang menemani perjalanannya. Namun, langkah itu mendadak terhenti total saat matanya menangkap pemandangan di depan gerbang melalui jendela besar di lorong. Di sana, kereta kuda megah dengan lambang keluarga Duke sudah bersiap di pelataran, dengan para pengawal yang telah bersiaga di sisi-sisinya.
"Bukan... kah... itu kereta kuda Duke Vermilion?" gumamnya, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan.
Seketika, Rubellite tersentak. Ia teringat ucapan Valerius semalam—ucapan yang tadinya ia kira hanya angin lalu, ternyata adalah sebuah pamitan nyata. Tanpa menoleh lagi ke arah ruang teh Kaisar, Rubellite langsung memutar arah dan berlari dengan kencang. Para pelayan yang berpapasan dengannya hanya bisa mematung karena terperangah, menyaksikan sang nona berlari tanpa memedulikan martabatnya.
Setelah sampai di depan gerbang dengan napas tersengal dan dada yang naik-turun, ia melihat Valerius yang sudah mengenakan jubah perjalanannya, bersiap berangkat menuju perbatasan.
"Valerius! Kau... kau benar-benar akan pergi?"
Mendengar seruan itu, Valerius menghentikan gerakannya. Ia berbalik, menatap Rubellite yang berdiri dengan napas terengah-engah dan wajah yang memucat. Perlahan, ia melangkah menghampiri gadis itu. Suara langkah sepatunya yang tegas terdengar di pelataran yang sunyi.
Valerius berhenti tepat di hadapan Rubellite. Ia menatap mata gadis itu dengan sorot yang jauh lebih dewasa dari usianya, seolah sedang merekam wajah Rubellite ke dalam ingatannya.
"Aku tidak akan bisa menemanimu untuk waktu yang lama, Rubellite," ucapnya dengan nada yang tenang namun sungguh-sungguh. Ia merapikan sedikit kerah pakaian bepergiannya yang formal. "Ada tugas keluarga di perbatasan yang harus aku selesaikan."
Rubellite hanya bisa terdiam, tenggorokannya terasa tercekat melihat sosok di depannya yang tampak begitu siap untuk pergi jauh. Namun, sebelum suasana menjadi semakin berat, Valerius melangkah satu langkah lebih dekat.
"Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada di sini," katanya, suaranya melembut namun tetap penuh penekanan. Ia menatap Rubellite tepat di mata, memberikan sebuah janji yang tulus. "Aku pasti akan kembali lagi. Jadi, tunggu aku."
Tanpa menunggu jawaban yang mungkin akan membuatnya ragu, Valerius berbalik dan segera naik ke dalam kereta kuda. Pintu kereta tertutup dengan bunyi berdentang yang pelan, dan perlahan kereta itu mulai bergerak meninggalkan gerbang istana, menyisakan Rubellite yang masih berdiri mematung menatap kepergiannya.
Setelah kereta kuda itu menghilang dari pandangan dan debu di jalanan mulai mereda, kekuatan di kaki Rubellite seolah lenyap. Ia masih berdiri mematung di sana, menatap jalanan kosong yang baru saja dilewati Valerius. Tanpa disadari, setetes air mata jatuh membasahi pipinya, disusul tetesan lain yang tak lagi bisa ia bendung.
Di saat itulah, Anna, pelayan setianya yang sedari tadi panik mencari sang nona karena tak kunjung sampai ke tempat Kaisar, akhirnya menemukan Rubellite di depan gerbang. Anna tertegun melihat pemandangan di depannya—nona kecilnya yang biasanya ceria kini tampak begitu rapuh.
Anna segera berlari mendekat dan tanpa ragu langsung merengkuh tubuh kecil Rubellite ke dalam pelukannya.
"Tenang saja, Nona..." bisik Anna lembut sembari mengusap punggung Rubellite yang bergetar karena isak tangis. "Tuan Muda Valerius pasti akan kembali. Beliau adalah orang yang selalu menepati janjinya, bukan?"
Rubellite hanya bisa menyembunyikan wajahnya di bahu Anna, membiarkan tangisnya pecah sejenak di sana. Pelukan hangat Anna sedikit banyak memberikan rasa nyaman di tengah rasa kehilangan yang tiba-tiba menghimpit dadanya.
Rubellite terisak sejenak dalam pelukan Anna, namun ia segera teringat akan kewajibannya. Dengan gerakan perlahan, ia menarik diri dari dekapan hangat pelayannya itu. Ia menarik napas panjang, mencoba menguasai kembali emosi yang sempat tumpah.
Rubellite kemudian mengusap sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, berusaha menghilangkan jejak kesedihan di wajahnya. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di hadapan orang-orang istana yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya.
"Kau benar, Anna," ucap Rubellite dengan suara yang masih sedikit serak, namun kini terdengar lebih tegar. "Dia sudah berjanji, dan aku harus memercayainya."
Ia merapikan gaunnya yang sedikit berantakan karena berlari tadi, lalu menatap ke arah lorong menuju ruang teh Kaisar. Meskipun hatinya masih terasa berat, ia tahu hidup terus berjalan.
"Ayo kembali, Anna. Kaisar tidak suka menunggu terlalu lama," lanjutnya sambil memberikan senyum tipis yang dipaksakan, mencoba kembali ke perannya sebagai seorang bangsawan muda yang anggun.
Dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tetap terlihat tenang, Rubellite memasuki ruang teh. Aroma melati yang menenangkan menyambutnya, namun hatinya tetap terasa hampa. Di sana, sang Kaisar sudah duduk dengan anggun, menyesap tehnya sambil menatap taman melalui jendela besar.
"Kau terlambat, Rubellite," ucap Kaisar tanpa mengalihkan pandangan. Namun, kemudian ia menoleh dan menatap mata putrinya yang sedikit kemerahan. "Apa kau sudah berpamitan dengan putra Duke itu?"
Rubellite terdiam sejenak. Bayangan Valerius yang pergi menjauh kembali melintas. Ia menelan ludah, mencoba menekan rasa sesak yang kembali naik.
"Sudah, Ayahanda," jawab Rubellite pendek. Ia memaksakan sebuah senyum tipis di bibirnya, meski binar di matanya tak bisa berbohong.
Sang Kaisar tidak langsung membalas. Ia hanya terdiam, memperhatikan wajah putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian, ia memberi isyarat pada pelayan untuk meletakkan sebuah kotak kecil yang terbungkus rapi di atas meja.
"Putra Duke tadi sempat menghadapku untuk berpamitan secara resmi sebelum berangkat," ucap Kaisar dengan nada datar. "Dia menitipkan ini melalui kepala pelayan. Katanya, ini untukmu sebagai tanda perpisahan."
Kaisar mendorong kotak itu pelan ke arah Rubellite. "Sepertinya bocah itu cukup tahu tata krama sebelum pergi ke tempat sejauh itu."
Rubellite menatap kotak kecil di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar. Di bawah tatapan kaisar yang diam memperhatikan, ia perlahan membuka bungkus beludru tersebut. Begitu tutup kotak terbuka, matanya langsung tertuju pada sebuah pita perak putih yang berkilau indah tertimpa cahaya lampu ruang kerja.
Warna perak itu seolah mengingatkan dirinya pada sorot mata Valerius yang dingin namun tulus. Di bawah pita tersebut, terselip selembar kertas kecil yang terlipat rapi. Rubellite mengambilnya dan membaca tulisan tangan yang tegas namun sedikit terburu-buru itu:
"Maafkan aku Ruby, untuk beberapa tahun ke depan aku tidak akan bisa menemuimu secara langsung. Jujur saja, jauh di dalam lubuk hatiku, aku benar-benar tidak ingin pergi dan meninggalkanmu sendirian di sana."
Hati Rubellite mencelos. "Ruby..." gumamnya pelan. Hanya Valerius yang memanggilnya dengan nama itu.
Kalimat jujur dari Valerius yang biasanya kaku itu benar-benar menghancurkan pertahanan yang baru saja ia bangun. Air mata yang tadi sudah ia usap, kini kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia meremas pinggiran surat itu, merasakan penyesalan sekaligus kehangatan dari janji yang tersirat di dalamnya.
Kaisar yang sedari tadi memperhatikan dari balik meja kerjanya hanya bisa menghela napas panjang melihat bahu putrinya yang mulai bergetar kembali.
"Pakailah jika kau mau," ucap sang Kaisar dengan nada datar namun tidak sedingin biasanya. "Bocah itu memilih warna yang tidak buruk untukmu."
Rubellite mengangguk pelan, jemarinya mengelus permukaan pita perak itu dengan penuh perasaan. Meski jarak akan memisahkan mereka selama bertahun-tahun, setidaknya ia tahu bahwa di perbatasan sana, Valerius pun merasakan kegundahan yang sama.
Di ruang kerja yang dingin itu, untuk pertama kalinya, Rubellite tidak lagi merasa takut pada kewibawaan ayahnya. Ia hanya merasa rindu—rindu yang bahkan sudah dimulai sebelum kereta kuda itu benar-benar menghilang dari batas kota.