Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Kembali Ke Kampung
Bismillah
❤️❤️❤️
“Mas … kita sudah sampai.”
Kata-kata itu melayang di udara beberapa detik sebelum akhirnya mendarat. Tidak langsung di telinga Krisna—lebih dulu di kaca mobil yang berembun, di suara hujan yang mengetuk atap, di detak jantungnya sendiri yang terasa terlalu pelan untuk seseorang yang seharusnya hidup.
Pria berwajah rupawan itu tidak menjawab.
Ia duduk diam di kursi belakang. Satu tangannya bertumpu di paha, tangan lain menggenggam ponsel dengan layar gelap. Jempolnya sempat bergerak, refleks, seolah masih ingin membuka chat terakhir. Tapi layar itu sudah lama mati. Tidak ada pesan baru. Tidak akan ada.
Di layar itu, percakapan mereka berhenti begitu saja. Tidak ditutup. Tidak dibereskan. Seperti luka yang dibiarkan terbuka—tidak berdarah, tapi perihnya menetap.
Di sampingnya, seorang bayi berusia enam bulan tertidur di car seat. Mulutnya sedikit terbuka, napasnya teratur. Sesekali alisnya berkerut kecil, lalu kembali tenang. Dunia belum sempat mengajarinya kecewa.
Krisna menoleh.
Matanya berhenti terlalu lama di wajah kecil itu.
Enam bulan.
Enam bulan bangun malam, enam bulan memanaskan susu sendirian, enam bulan menyandarkan dahi ke dinding kamar mandi supaya tidak ada yang melihat matanya merah. Enam bulan mencoba meyakinkan diri bahwa ia masih utuh.
Padahal ia sudah runtuh, hanya rapi dari luar.
Ia menarik napas panjang. Dada terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam.
“Enam bulan,” gumamnya, nyaris tanpa suara.
Ia membuka pintu mobil.
Udara desa langsung menyerbu—dingin, basah, membawa aroma tanah hujan, rumput, dan kandang sapi. Bau yang dulu selalu ia keluhkan setiap pulang kampung. Bau yang sekarang membuat bahunya sedikit mengendur, seperti seseorang yang akhirnya boleh berhenti berpura-pura.
Langit Yogyakarta, lebih tepatnya di salah satu desa Kabupaten Kulon Progo menggantung rendah. Awan kelabu menutup rapat, dan hujan jatuh pelan tapi terus-menerus, seakan langit sendiri sedang lelah menahan sesuatu.
Di ujung halaman, Pak Wijaya sudah berdiri.
Kemejanya disetrika rapi. Kain sarungnya lurus. Rambutnya disisir ke belakang seperti biasa. Tapi matanya—mata itu tidak berubah. Tetap mata seorang ayah yang terbiasa membaca diam anaknya.
Tatapannya turun ke mobil. Naik ke Krisna. Lalu berhenti di bayi.
“Ndak memberi kabar dulu kamu,” katanya.
Nada suaranya datar, tapi di sela-selanya ada sesuatu yang tertahan. Seperti pintu yang tidak dibuka penuh.
Krisna meraih car seat. Tangannya sedikit gemetar saat mengangkatnya, cepat ia sembunyikan dengan mengencangkan rahang.
“Aku nggak mau jadi ramai di sini, Yah.”
Pak Wijaya mendengus kecil. “Orang desa mana bisa ndak ramai. Wong kamu itu anak Kades. Dokter pula. Tampan. Duda kota—”
Ia berhenti.
Kata itu terlanjur melayang, lalu jatuh di antara mereka.
Krisna menegang. Otot di lehernya menonjol. “Jangan bahas, Yah.”
Suara itu tidak tinggi. Justru terlalu terkendali.
Pak Wijaya menatapnya lama. Lama sekali. Seolah ingin mengatakan banyak hal tanpa mengucapkannya. Lalu ia mengangguk pelan. “Ya sudah. Masuk. Ibukmu di dalam.”
Begitu melangkah ke dalam rumah, aroma sayur lodeh langsung menyambut. Hangat. Familiar. Seperti pelukan yang datang terlambat tapi tetap dibutuhkan.
Namun bersamaan dengan itu, ada rasa lain yang menyelinap—rasa bersalah yang menggigit pelan. Krisna pulang membawa bayi, bukan kebahagiaan. Pulang membawa sisa, bukan kemenangan.
Ibunya muncul dari dapur, tangan masih basah. Begitu melihat bayi, napasnya tertahan.
“Ya Allah ....”
Ia melangkah cepat. Tangannya gemetar saat menyentuh car seat. “Cucuku ....” Matanya berkaca. Bibirnya bergetar, tapi senyumnya dipaksakan tetap ada.
“Assalammualaikum, Bu,” ucap Krisna.
Ibunya tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah anaknya. Lama. Terlalu lama untuk sekadar ibu yang menyambut pulang.
“Waalaikumsalam,” katanya akhirnya. “Kamu kok kurusan. Matamu … kok celong begitu? Kayak orang kurang tidur."
Krisna mengalihkan pandang. Menatap lantai. “Aku baik, Bu.”
Ibunya menghela napas pelan. “Orang yang baik itu ndak perlu ngomong ‘aku baik’.”
Kata-kata itu tidak keras. Tapi cukup untuk membuat dada Krisna terasa sesak. Ia menelan ludah. Tidak membalas.
***
Di luar rumah besar itu, gosip sudah berlari lebih cepat daripada rintik hujan.
Di warung kopi, di teras rumah, di ladang—nama Krisna Wijaya disebut dengan nada beragam. Ada yang kagum, ada yang iri, ada yang berharap.
“Anaknya Pak Kades pulang, lho. Dokter!” bisik Bu Tumini sambil menutup mulut, padahal suaranya cukup keras untuk didengar satu kampung.
“Katanya udah cerai. Bawa bayi pula,” tambah yang lain, matanya berbinar seperti menonton sinetron gratis.
“Lha, kalau cerai, berarti … sendiri dong?” ada yang tertawa kecil, mengusap jilbabnya, membayangkan kesempatan.
Namun di antara semua yang sibuk mengunyah berita, ada satu nama yang tidak ikut disebut-sebut karena pemiliknya sedang sibuk memikirkan hal lain: cara agar besok dapur tetap ngebul.
Raisa.
Usianya 19 tahun, baru dua bulan lulus sekolah. Ia tidak punya waktu untuk kagum pada “dokter tampan anak Kades”. Dunia Raisa lebih sederhana dan lebih keras: uang belanja yang makin menipis, ayah yang penghasilannya tidak menentu, dan ibunya—Bu Rika—yang tiap pagi pergi bekerja sebagai ART di rumah Pak Kades.
Raisa tidak pernah benar-benar masuk ke rumah majikan ibunya. Ia tahu pagar besar itu, tahu halaman luas itu, tahu kabar burung tentang kaya raya. Tapi ia tidak mengenal siapa pun di dalamnya selain ibunya yang pulang dengan lelah dan cerita singkat.
Dan dr. Krisna? Raisa tidak punya alasan untuk mengenalnya. Dokter itu lama tinggal di Jakarta, sejak masa kuliahnya. Nama itu hanya selintas di telinganya, seperti angin lewat.
***
Satu jam sebelumnya ....
Siang itu, hujan rintik-rintik menorehkan titik-titik basah di kepala Raisa. Ia mengayuh sepeda tuanya, ban berderit pelan melewati jalan yang mulai licin.
Kemejanya sederhana, celana kainnya sudah agak pudar. Di keranjang depan, ada map berisi fotokopi ijazah dan surat lamaran yang dibungkus plastik agar tidak basah.
Ia menahan napas setiap kali roda sepedanya melewati genangan, takut terpeleset.
“Bismillah … semoga keterima kerja,” gumamnya, menatap papan toko kecil di ujung jalan desa—toko sembako yang kabarnya butuh pelayan.
Raisa mempercepat kayuhan.
Dan saat itulah sebuah mobil hitam melaju dari arah berlawanan. Mobil itu tidak pelan. Tidak berhenti. Tidak peduli.
Ban mobil menghantam genangan air yang lebar, dan dalam satu detik, air cokelat bercampur lumpur terlempar seperti ombak kecil.
PRAAAK!
Lumpur menyapu tubuh Raisa. Menampar wajahnya, membasahi rambut, merembes ke baju, menodai surat lamaran dalam plastik yang kini tampak buram.
Raisa terdiam sepersekian detik—otaknya seperti perlu waktu untuk memahami penghinaan itu.
Lalu suara dari mulutnya meledak.
“Hai!!”
Sepedanya oleng. Ia mengerem mendadak sampai ban berdecit. Matanya merah, bukan karena hujan, tapi karena amarah yang naik dari perut seperti api.
Mobil itu terus melaju.
Raisa menatap punggung mobil mewah itu seperti menatap musuh hidup-mati.
“Kurang ajar!” Ia melempar sepeda ke pinggir jalan begitu saja.
Tangannya menyapu tanah, mencari apa saja. Jari-jarinya menemukan batu—besar, berat, kasar.
Darah di pelipisnya serasa mendidih.
“Kalau kaya nggak berarti boleh semena-mena!” ia menggeram, lalu mengangkat batu itu dengan kedua tangan.
Raisa berlari beberapa langkah dan ....
DUAARR!
Batu menghantam kaca belakang mobil. Suara retakan terdengar jelas bahkan di tengah rintik hujan.
Mobil itu langsung mengerem keras dan berhenti beberapa meter di depan. Lampu rem menyala merah seperti mata marah.
Raisa terengah, dada naik turun. Tangannya gemetar bukan karena takut—tapi karena adrenaline.
Pintu mobil terbuka.
Bukan dari sisi sopir. Dari sisi penumpang.
Seorang pria keluar.
Tinggi. Tegap. Jaket hitam yang mahal. Rambutnya rapi tapi tampak seperti baru diacak stres. Wajahnya tampan dengan garis tegas yang membuat orang mudah terpikat—tapi tatapannya dingin, tajam, seperti pisau bedah.
Dr. Krisna Wijaya.
Bersambung .... 💕
Assalammualaikum, siapa nih yang kaget sama Mommy Ghina di sini? 😁 Ah, pasti nggak kangen ya 😭.
Mommy Ghina kembali lagi nih dengan cerita barunya. Seperti biasanya nih, minta kerja samanya agar retensi aman ya. No skip bab, ikuti terus ceritanya, jangan nabung bab, jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. Pokoknya minta dukungannya agar bisa stay di sini ya. Khusus buat yang suka tabung bab sebaiknya baca saat karya sudah tamat saja ya, Say.
Sebelumnya terima kasih banyak 🤗
menanti gebrakan apa yang akan dilakukan Lena untuk mencelakai/ mengusir Raisa.. Lena sudah diliputi amarah dan cemburu,, bahaya menanti mu Raisa hati hati lah.
Ego dan gengsi Krisna kesentil dengan kehadiran Raisa yang ternyata menenangkan buat Ezio.
Ketahuan tuh watak aslinya Lena, awas ya kalau kamu ada niat jahat ke Raisa
2 juta....terima Raisa, kan urusan kamu sama bu Lita, nah kalo Lina sama Krisna.
Sudah gak sabar pingin ngendong dan nenangin Ezio ya Raisa
😄😄😄😄