NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Hari-hari di pondok kayu Alpen kini berubah menjadi markas riset bagi Rangga Dirgantara. Jika dulu meja kerjanya dipenuhi dengan laporan saham dan strategi akuisisi perusahaan, kini pemandangan itu berganti total. Tumpukan buku kedokteran tentang obstetri, jurnal gizi janin, hingga buku-buku psikologi ibu hamil memenuhi setiap sudut ruang kerjanya.

​Rangga tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah hati. Baginya, kehamilan Alya adalah proyek paling krusial dalam hidupnya—sebuah misi di mana kegagalan bukanlah pilihan.

​Setiap pagi, setelah memastikan Alya meminum vitaminnya (yang suhunya telah diatur tepat 25°C), Rangga akan duduk dengan kacamata bacanya di depan laptop. Ia tidak sedang memantau bursa efek, melainkan sedang menelusuri forum medis internasional dan mengunduh ribuan halaman artikel tentang "Stimulasi Janin Sejak Dini".

​"Alya, kemarilah," panggil Rangga suatu sore dengan nada bicara yang sangat formal, seolah sedang memanggil sekretaris direksi.

​Alya yang sedang asyik merajut syal kecil untuk calon bayi mereka, mendekat dengan perut yang kini mulai sedikit menonjol. "Ada apa lagi, Mas? Jangan bilang aku dilarang merajut karena jarumnya tajam."

​Rangga tidak tersenyum. Ia memutar layar laptopnya ke arah Alya. "Aku baru saja membaca penelitian dari universitas di Skandinavia. Musik klasik dengan frekuensi tertentu dapat meningkatkan perkembangan sinapsis otak janin sebesar 15%. Mulai hari ini, setiap jam dua siang, kau harus duduk di taman belakang dan mendengarkan Mozart selama 45 menit. Aku sudah memesan headphone khusus perut yang anti-radiasi."

​Alya memijat pelipisnya. "Mas, aku lebih suka mendengarkan suara burung di sini. Itu juga alami, kan?"

​"Burung tidak konsisten," jawab Rangga datar. "Mozart memiliki struktur matematis yang sempurna untuk otak anak kita. Dan satu lagi, aku sudah mencetak jadwal diet mingguanmu. Tidak ada lagi cokelat. Aku membaca bahwa gula berlebih bisa memicu hiperaktivitas yang tidak perlu pada trimester pertama."

​Keposesifan Rangga kini memiliki dasar "teori". Ia tidak hanya melarang, tapi ia melarang sambil memberikan kutipan dari buku-buku yang ia baca.

​Suatu hari, Alya mencoba membantu mengangkat satu keranjang kecil berisi pakaian bersih. Belum sempat jari Alya menyentuh keranjang itu, Rangga sudah muncul entah dari mana, seolah ia memiliki sensor gerak di seluruh penjuru rumah.

​"Jangan disentuh!" seru Rangga.

​Alya tersentak. "Mas, ini cuma baju-baju kecil! Ringan sekali."

​"Buku The Pregnancy Bible halaman 112 dengan jelas menyatakan bahwa peregangan otot perut yang berlebihan, sekecil apa pun bebannya, dapat memicu kontraksi dini pada rahim yang sensitif," ucap Rangga sambil mengambil keranjang itu dengan satu tangan seolah itu adalah beban yang sangat berbahaya. "Duduklah di sofa. Aku akan melipat semuanya."

​Alya hanya bisa duduk diam, melihat suaminya—seorang mantan CEO yang ditakuti dunia bisnis sekaligus psikopat kelas kakap—kini dengan serius melipat baju-baju bayi dan pakaian dalamnya dengan presisi milimeter. Rangga bahkan membagi pakaian itu berdasarkan warna karena menurut artikel internet yang ia baca, lingkungan yang terorganisir secara visual akan menurunkan hormon kortisol (stres) pada ibu hamil.

​Tidak hanya soal fisik, Rangga juga mendalami cara membuat janin "bahagia". Setiap malam, sebelum tidur, Rangga memiliki ritual yang ia beri nama Bonding Hour.

​Ia akan meminta Alya berbaring, lalu ia akan mengoleskan minyak zaitun organik (yang ia pesan khusus dari perkebunan di Italia) ke perut Alya. Rangga kemudian akan mendekatkan wajahnya ke perut istrinya dan mulai berbicara.

​"Halo, Kecil. Ini Ayah," suara Rangga berubah menjadi lembut, namun tetap memiliki nada protektif. "Hari ini ibumu makan brokoli dan salmon karena itu mengandung Omega-3 untuk matamu. Jangan menendang terlalu keras, kau bisa membuat ibumu lelah. Jika kau butuh sesuatu, katakan lewat mimpi ibumu, Ayah akan menyediakannya dalam sekejap."

​Alya yang melihat kelakuan itu hanya bisa tersenyum haru sambil mengusap rambut Rangga. "Mas, dia masih sangat kecil, belum bisa mendengar."

​Rangga mendongak, menatap Alya dengan serius. "Internet bilang janin bisa merasakan getaran suara ayahnya sejak dini. Aku ingin dia tahu bahwa di luar sini, ada pelindung yang tidak akan membiarkan satu helai rambutnya pun terluka."

​Meski keposesifan Rangga terkadang membuat Alya merasa seperti tawanan di laboratorium medis, Alya tidak bisa membohongi hatinya bahwa ia merasa sangat dicintai.

​Pernah suatu ketika, Alya merasa sedikit pusing karena perubahan hormon. Hanya satu kali ia memegang kepalanya dan mengeluh pelan, "Aduh, pusing sedikit..."

​Dalam lima menit, Rangga sudah menyiapkan kompres dingin, segelas teh jahe hangat (dengan kadar jahe yang sudah ia timbang agar tidak memicu panas dalam), dan ia sudah memegang ponsel untuk menghubungi dokter spesialis di Zurich.

​"Mas, tidak perlu sampai menelpon dokter! Ini cuma pusing biasa," cegah Alya.

​"Tidak ada yang 'biasa' jika itu menyangkut kesehatanmu, Alya," tegas Rangga. Ia kemudian duduk di samping Alya dan mulai membacakan kutipan dari buku tentang meditasi untuk ibu hamil. Ia membimbing Alya melakukan pernapasan ritmis selama satu jam penuh sampai Alya benar-benar tertidur.

​Alya merasa pening dengan segala aturan, jadwal, dan riset Rangga yang tidak ada habisnya. Namun, setiap kali ia melihat Rangga tertidur di meja kerjanya dengan kepala bersandar pada buku Nutrisi Kehamilan, Alya tahu bahwa pria ini sedang berjuang dengan caranya sendiri.

​Rangga sedang mencoba menghapus masa lalunya yang gelap dengan menjadi ayah yang paling sempurna di dunia. Ia menggunakan kecerdasan dan sifat obsesifnya untuk sesuatu yang membangun, bukan lagi untuk menghancurkan.

​Di tengah malam yang sunyi, Alya terbangun dan melihat Rangga masih terjaga, sedang menulis sesuatu di buku harian kehamilan yang ia buat sendiri.

​"Belum tidur, Mas?" bisik Alya.

​Rangga menoleh, tatapannya melembut. "Aku sedang mencatat gerakanmu hari ini. Kau tampak lebih ceria sore tadi saat kita jalan-jalan di taman. Aku akan menambah durasi jalan-jalan kita menjadi 15 menit besok. Riset mengatakan udara pegunungan meningkatkan kadar endorfin."

​Alya menarik tangan Rangga, membawanya kembali ke tempat tidur. "Mas, istirahatlah. Aku dan bayi kita sudah sangat bahagia hanya dengan memiliki kamu di sini. Jangan terlalu terobsesi dengan apa yang dikatakan internet atau buku. Percayalah pada instingmu."

​Rangga terdiam sejenak, lalu ia memeluk Alya dengan sangat hati-hati, seolah istrinya adalah harta yang paling rapuh di semesta. "Instingku selalu mengatakan untuk menjagamu seumur hidupku, Alya. Dan sekarang, insting itu menjadi dua kali lebih kuat."

Bersambung....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!