Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 6
Ayana baru saja tiba di tempat kost miliknya lewat tengah malam. Setelah membersihkan diri dia mengecek ponsel untuk melihat jadwal besok, subuh harus sudah membangunkan Gavin ke gedung resepsi.
"Ck! Dasar kunyuk bandel. Katanya sakit dan besok mau menikah tapi malah ada di club malam! Emang kadang-kadang bikin emosi jiwa aja kelakuan Atasan seperti dia!" Kesal Aruna.
Di ponsel miliknya terdapat notif yang memperlihatkan posisi Gavin saat ini. Aruna emang sengaja menyadap ponsel Gavin agar lebih mudah mengawasi atasannya itu dari jauh. Ternyata saat ini dia berada di salah satu klub malam.
"Apa anda tahu kalau atasan anda sedang berada di club malam Pak Cakra? Apa anda mau kita mendapatkan masalah dari kedua orang tuanya?" Aruna menghubungi Cakra terus menerus sampai di angkat. Dia juga menghubungi nomor Gavin tapi tak ada jawaban.
[ Mana aku tahu Ayana. Aku kan baru saja tiba dari gedung tempat resepsi, mempersiapkan segalanya! Seharusnya kamu yang jaga bayi besar itu. Astaga! Aku bahkan baru saja mau tidur tapi harus terganggu lagi dengan ulah anak itu!] Umpat Cakra.
"Aku tunggu di club xxxx sekarang juga. Karena aku tidak bisa sendirian membawa bayi kingkong itu! Jangan sampai teman-temannya itu berbuat iseng. Aku yakin mereka tak mengajak tanpa punya rencana iseng dan jahat untuk temannya yang akan menikah," jawab Ayana kemudian mematikan ponsel.
"Pria itu menyusahkan sekali! Katanya sakit kepala tapi malah keluyuran ke club. Mau ngapain coba dia kesana? Bikin ribet aja malam-malam begini! Mana besok dia menikah! Cari perkara, punya atasan satu ini! Mentang-mentang anak orang kaya!" omel Ayana
Ayana menyalakan mesin kendaraannya dan melakukannya dengan sangat kencang ke tempat Gavin berada. Jalanan sangat lengang sehingga membuat Ayana leluasa memacu kendaraannya dengan sangat cepat seperti di lintasan balap. Ayana kalau sedang marah memang menakutkan. Entahlah, menurut Cakra aura Ayana berbeda dengan wanita kebanyakan. Ada seram-seramnya, jadi dia tak berani berbicara saat Ayana mengomeli Gavin. Tapi Ayana tahu batasan pekerjaannya, dia bekerja secara profesional sesuai perintah dari Bu Tanisa. Sehingga Gavin juga tak bisa memecat Ayana begitu saja
"Ayolah! Masa baru dua gelas saja kamu sudah menyerah? Kemana Gavin yang dulu bisa kuat sampai satu dua botol sendirian!", salah satu teman Gavin bernama Bernad memaksanya untuk kembali minum.
"Bernad, Aku sudah katakan kalau sedang kurang enak badan. Aku rasa dua gelas cukup, untuk menghargai acara yang kalian buat ini. Dua gelas itu juga sudah membuat kepala aku mulai pusing lagi. Sepertinya aku harus pulang, aku tak boleh mabuk karena besok pesta pernikahan aku! Terima kasih atas waktu kalian!" Gavin bangkit dari duduknya.
Ponselnya juga sedari tadi terus berbunyi. Nama Ayana terlihat di layar bergantian dengan Cakra. Saat akan menerima panggilan tangannya di cekal oleh Yudhi, temannya yang lain.
"Tunggu dulu, acara kita baru saja di mulai. Lihatlah, banyak sekali wanita yang datang. Dan salah satunya adalah Belinda, wanita yang juga sangat mengidolakan kamu. Biarkan dia dekat denganmu untuk pertama dan terakhir kalinya sebelum kamu menikah. Itu permintaan Belinda, dia tak masalah katanya. Yang terpenting bisa menghabiskan malam dengan kamu!" ujar Yudhi.
"Aku tak suka dia! Apalagi aku akan menikah dengan Vania. Cukup, aku tak mau lagi!" jawab Gavin menepis tangan Yudhi tapi di tarik lagi oleh Bernard sehingga dia harus duduk.
"Kalian keterlaluan! Aku bilang tak mau jika ada perempuan dalam acara kita. Tapi nyatanya kalian malah ingkar janji!" kesal Gavin.
"Jangan marah kepada mereka Kak Gavin. Ini semua karena aku yang memaksa mereka untuk ikut dalam acara ini. Kamu pasti tahu kalau selama ini aku suka sekali sama kamu Kak! Dan malam ini, adalah malam terakhir kamu sebelum menikah dan menjadi seorang suami. Izinkan untuk sebentar saja aku berada di samping kamu. Merasakan menjadi wanita yang dicintai oleh kamu, Kak Gavin!" ucap Belinda membaut Gavin menatap tajam ke arahnya.
"Maaf ini sudah terlalu malam, aku tak bisa berlama-lama di sini!" jawab Gavin tak peduli dengan ucapan Belinda.
"Baiklah, bagaimana kalau kita minum satu gelas lagi saja. Setelah itu kamu beloleh pergi!" jawab Belinda.
Dengan berani lebih mendekat kepada Gavin di iringi tawa dari semua teman-temannya. Bukan hanya itu, Belinda bahkan duduk di pang-ku-an Gavin dan memaksa pria itu meminum minuman yang ada di tangannya. Terlihat dengan jelas jika Belinda bukanlah wanita baik-baik. Saat tangan Gavin berusaha untuk menepis minuman itu, teman-temannya yang lain malah menahannya. Dari sana Gavin sudah curiga kalau dalam minuman itu ada benda yang sengaja di simpan. Tidak, dia tidak boleh meminumnya karena akan membuatnya menyesal seumur hidup.
"Ayolah Kak Gavin! Minum ini dan kita habiskan malam bersama-sama sebelum kamu menikah! Apa salahnya kan? Jangan sok suci! Padahal calon istrimu, si Vania itu sudah profesional. Apalagi dia bekerja di club malam seperti aku!" ucap Belinda.
"Tidak! Mana mungkin Vania bekerja menjadi wanita rendahan seperti kamu Belinda!" Gavin tak percaya membaut semua teman-temannya tertawa terbahak.
"Astaga! Sepertinya CEO kita ini terlalu polos menilai calon istrinya yang penuh dengan topeng! Kau lihat ini Gavin! Atau aku kirim saja semuanya ke ponsel kamu!" ujar Bernard memperlihatkan beberapa foto dan video Vania kemudian mengirimkannya.
Gavin tak percaya dengan yang dia lihat barusan. Tak mungkin jika itu adalah Vania, karena calon istrinya adalah wanita baik-baik, lembut dan terhormat.
"Sudah lihat kan? Menghabiskan malam dengannku atau dengan wanita itu sama saja! Sama-sama bukan virgin! Tapi aku yakin kalau aku bisa membuatmu tak akan melupakan malam kita bersama!" kekeh Belinda dan mencoba kembali memaksa Gavin meminum minuman yang ada di tangannya.
Sreeeeettttt
Aaaaaaa
Ayana menarik rambut panjang Belinda hingga membuat wanita itu tersungkur. Sedangkan gelas yang dipegangnya terlempar hingga pecah berserakan di lantai.
"Siapa kau? Kenapa berani sekali melakukan hal ini padaku! Ini sakit sekali sial-an!" teriak Belinda memegangi kepalanya.
"Oh belum cukup ya?" tanya Ayana.
Plaaaakkk
Plaaaakkk
Dua tamparan keras mendarat di kedua pipi Belinda dengan mulus. Bahkan setelahnya terlihat cairan kental dari sudut bibir Belinda. Belinda berteriak histeris kesakitan apalagi melihat cairan merah di tangannya. Ayana tak peduli dan kembali berbalik ke arah para pria yang memegangi Gavin.
"Siapa kau kenapa mengganggu kesenangan kami?" kesal Yudhi mengeluarkan pi-/sau kecil di sakunya.
"Apa yang kau lakukan Yudhi? Hati-hati Ayana! Ish, kenapa datang sendirian!" Teriak Gavin yang malah di pegangi oleh yang lainnya sehingga tidak bisa bergerak bebas dan membantu Ayana.
Sreeeeettttt
Sreeeeettttt
Traaaang
Bugh
Bugh
Dengan mudah Ayana menangkis setiap serangan dari Yudhi. Bahkan senjata yang dipegangnya juga terlempar dan ditendang jauh oleh Ayana. Setelahnya Dia memberikan banyak pu-ku-lan di wajah dan perut Yudhi. Beralih ke Bernard dan teman-temannya yang lain. Tak butuh waktu lama, Ayana berhasil melumpuhkan mereka semua. Gavin juga melawan satu orang.
Bugh
Braaak
Ayana kembali membantu Gavin melumpuhkan lawannya. Gavin dibuat kaget dengan kemampuan anak bela diri Ayana. Dia tak mengira asistennya itu pandai bela diri. Ternyata bukan hanya pandai mendebat dirinya.
"Maaf aku datang telat, soalnya tadi hampir menabrak!" ujar Cakra yang baru saja datang.
"Cak, urus dan laporkan mereka semua ke kantor polisi. Karena mereka sudah berusaha untuk menjebakku dengan memberikan minuman sial-an," minta Gavin kepada Cakra.
"Lah ada si Belinda? Mau ngapain dia?" tanya Cakra.
"Dia dan dua orang Badut itu otaknya!" tunjuk Gavin.
"Aku hanya ingin memberikan kamu kesenangan. Tidak usah munafik Gavin, karena kau juga sering melakukannya dengan Vania kan?" kesal Belinda di tolak mentah-mentah oleh Gavin.
"Aku bukan laki-laki mu-ra-han seperti itu! Jangan samakan aku dengan para tamu dan juga teman-temanmu itu!" kesal Gavin dan pergi dari sana.
Tapi dia kembali berbalik karena Ayana masih di sana. Gavin menarik ujung jaket Ayana agar pergi dengannya.
"Eeeeh, lepaskan Pak Gavin! Nanti aku jatuh, biarkan aku berjalan dengan benar!" teriak Ayana.
"Apaan coba main tarik-tarik begitu! Di fikir aku apaan coba? Astaga, sepertinya kamu kebanyakan minum! Aku harus lapor ke Bu Tanisa!" ancam Ayana.
"Nggak. Aku nggak mabuk cuma minum dua gelas tapi cukup membuat aku pusing. Ayo kita pulang! Aku tak kuat sakit kepala!" jawab Gavin saat mereka ada di parkiran.
"Mana kunci mobilnya?" tanya Ayana.
"Aku di jemput Bernard jadi nggak bawa mobil!" Jawab Gavin membuat Ayana mendengus.
"Ya sudah naik mobil Pak Cakra saja. Aku masuk minjem kunci mobilnya!" ucap Ayana tapi di tahan oleh Gavin.
"Naik motor saja biar cepat. Kepalaku sangat pusing!" pinta Gavin.
"Aku bonceng anda gitu? Apa nggak salah?" heran Ayana.
"Dari pada aku yang bawa kita jatuh dan celaka berdua!" jawab Gavin membuat Ayana tak punya pilihan lain.
"Naik!" ajak Ayana.