Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Akhirnya Bertemu
Setelah mengetahui tentang Clarisa, Rangga pergi mendatangi Universitas Golden. Ia sengaja memakai pakaian biasa agar keberadaannya sebagai polisi tidak diketahui.
Rangga mendatangi langsung bagian administrasi mahasiswa dan menanyakan perihal Clarisa. Barulah di sana dia mengaku sebagai polisi dan dirinya perlu bertemu Clarisa untuk mendapatkan kesaksian terkait meninggalnya Pak Alun.
Pihak administasi percaya pada Rangga dan memberikan identitas lengkap tentang Clarisa. Kala itu Clarisa diketahui sedang ada jadwal kuliah di kampus, jadi Rangga bisa menemuinya.
Rangga mendatangi kelas dimana Clarisa berada. Dia melihat pelajaran masih berlangsung. Rangga pun memutuskan menunggu duduk di depan. Tepatnya di bangku taman yang tak jauh dari kelas Clarisa.
Selagi menunggu, Rangga bermain ponsel. Dia main game seperti kebanyakan lelaki pada umumnya. Namun saat asyik bermain, sebuah bola tiba-tiba menggelinding ke arahnya. Bola itu berhenti tepat di depan kaki Rangga.
Dahi Rangga berkerut. Ia menatap bola itu. Tak lama, seorang anak perempuan datang karena ingin mengambil bolanya. Di belakang anak itu, ada seorang perempuan yang mengikuti.
"Maaf ya, Mas... Aku..." perempuan itu berhenti bicara saat Rangga mendongak menatapnya. Dia tampak kaget.
Sama seperti perempuan itu, Rangga juga kaget. Bagaimana tidak? Perempuan di hadapannya sekarang adalah orang yang selama ini dirinya cari. Dita!
"Kak Dita?" ujar Rangga.
"Rangga..." wajah Dita memucat. Dia terlihat bingung. Rangga tak bisa membaca ekspresinya.
"Kakak kemana saja?! Aku cari kamu kemana-mana! Kenapa Kak Dita pergi? Kenapa ninggalin aku begitu saja tanpa kabar?" cecar Rangga. Dia memberi pertanyaan beruntun. Selain merasa senang, dia juga tak sabar mengetahui jawaban Dita. Terutama mengetahui alasan perempuan itu pergi.
"Mama, capa tia? Mama tenal cama a'a tanteng ini?" suara anak perempuan yang mengambil bola menghentikan interaksi Rangga dan Dita. Cara bicaranya masih cadel, alias pengucapannya belum sempurna.
"Ma-mama?" Rangga membulatkan mata tak percaya. Semakin banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalanya. Jadi Dita pergi untuk menikah dengan lelaki lain sampai punya anak? Atau jangan-jangan Dita hamil dan memilih pergi karena tak mau merepotkan Rangga?
"Bukan, Fea. Dia keluarga jauh Mama di kampung. Panggil saja Kakak Rangga ya," ujar Dita sembari berjongkok dan tersenyum lembut. "Kenalkan dia Safea, Dek!" lanjutnya memperkenalkan.
"Oh namana A'a Langga? Tanteng banet. Aya atis," cerocos Safea. Dia melepas tangan Dita dan memeluk Rangga. Mendongak menatap wajah lelaki itu. "Halum uga!" tambahnya yang bisa mencium bau parfum maskulin Rangga.
Rangga tersenyum kecut. Mengingat dia tidak pernah dipeluk anak kecil seperti itu. "Dia anakmu, Kak?" tanyanya.
Dita mengangguk. "Safea suka cowok ganteng. Jadi mohon dimaklumi ya kalau dia begitu," tuturnya.
"Dia anak Kak Dita sejak kapan? Siapa ayahnya? Jangan-jangan..." Rangga menduga bisa saja ayahnya dia sendiri. Mengingat dulu dirinya dan Dita pernah menjalin hubungan beberapa kali.
"Bukan kamu, Dek." Dita hanya memberi keterangan seperti itu.
Jleb!
Pengakuan itu seperti pedang yang menghunus hati Rangga. Sakit, tapi tak berdarah. Pupus sudah cintanya pada Dita. Sepertinya Dita sudah menemukan kebahagiaannya sendiri.
"Ayo tita main, Aa tanteng!" ajak Safea.
"Oh iya. Kita main lempar bola saja ya," tanggap Rangga yang lagi-lagi tersenyum kecut. Dia saling melempar bola ke arah Safea dan perlahan duduk kembali.
Dita duduk ke sebelah Rangga. "Aku pergi karena tak mau mengganggumu, Ga. Kau hidup dengan baik kan sebagai polisi?"
"I-iya. Tapi rasanya nggak sebaik itu kalau nggak ada Kak Dita," sahut Rangga. "Ngomong-ngomong kenapa Kak Dita ada di sini? Kuliah atau kerja?"
"Aku menunggu ayahnya Safea selesai mengajar," jawab Dita. "Itu dia mengajar di ruangan sini," sambungnya. Dia menunjuk ke arah kelas yang sama dengan tempat Clarisa sedang belajar. Kebetulan dosen yang mengajar adalah lelaki. Sehingga Rangga bisa menyimpulkan kalau dosen itu adalah suami Dita.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄