Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Di parkiran Akademi Edevane setelah kepergian Seyra dan Arthur, tampak Ozil dan ketiga sahabatnya memilih duduk di atas motor masing-masing. Keempat pemuda itu sesekali melempar candaan yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
"Tebak nih, kucing... kucing apa yang kakinya dua?" Raga memberikan tebakan. Pemuda itu menatap ketiga sahabatnya remeh. "Kalian semua pasti nggak bakal bisa jawab."
Raga tersenyum lebar, seolah-olah merasa sangat yakin dengan tebakan yang dia lontarkan. Ketiga sahabatnya, Ozil, Galen, dan Jazi, saling berpandangan, mereka terlihat kebingungan.
Jazi mengernyitkan dahi, "Kucing kakinya dua? itu aneh nggak sih! kucing biasanya punya empat kaki, apa mungkin kucingnya mutasi?"
"Ya, lo bener juga!" Galen menimpali, "Jadi, apa jawabannya? Gue males mikir."
Raga semakin senang melihat ekspresi bingung di wajah mereka. "Jawabannya adalah... kucing yang lagi duduk!"
Dia tertawa terbahak-bahak, seolah-olah itu adalah lelucon terbaik yang pernah ada. Bahkan pemuda itu sampai memegangi perutnya, akibat terlalu lama tertawa.
Galen memutar kedua bola matanya malas, "Suka-suka lo deh, Ga. Eneg banget sumpah, lawakan lo garing."
"Bilang aja lo bego karena nggak bisa jawab."
Jazi berusaha menahan senyumnya. "Oke, sekarang gantian gue yang ngasih kalian tebakan. Tebak nih, apa yang selalu datang tetapi nggak pernah tiba?"
Raga berpikir sejenak. "Hmm... gue tahu! jawabannya besok, kan?"
"Betul!" Jazi bersorak. "Kok bisa tahu?"
Raga mengangkat salah satu bahunya acuh tak acuh, "Sekarang giliran gue. Dengar nih, semangka di lubangi, di kocok-kocok terus di lempar, jadi apa?"
"Jadi jauh, lah!" teriak Jazi puas, "Jago, kan? Jazi gitu loh."
Ozil hanya terkekeh menanggapi beberapa candaan yang di lontarkan ara sahabatnya. Pemuda itu menyapukan pandangannya ke area sekolahnya, tatapan pemuda itu terkunci pada salah satu siswi yang baru saja keluar dari sekolah.
Ozil menajamkan pandangannya, begitu dia menyadari siapa siswi itu. Dia segera melangkah menghampiri siswi tersebut.
"Elsa!" teriak Ozil.
Elsa yang hendak masuk ke dalam mobil, langsung mengurungkan niatnya. Dia menoleh ke arah Ozil yang sedang berjalan ke arahnya. Elsa menatap malas ke arah pemuda yang kini sudah berada di depannya.
"Apa?" jawab Elsa tak menutupi kekesalannya.
"Minta maaf sama gue, cepat!" Ozil mendesis, pemuda itu menilai penampilan Elsa dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Gadis di depannya ini sangat populer, dia di kenal sebagai gadis terpintar di Akademi Edevane. Peringkat pertama selalu dia dapatkan, bahkan nilainya tidak pernah turun sama sekali.
Elsa menaikan satu alisnya tidak paham. Pemuda itu meminta dia minta maaf? atas dasar apa? Elsa tak merasa memiliki masalah dengan pemuda tersebut.
"Minta maaf? apa lo nggak salah orang? memangnya gue ngapain, sampai harus minta maaf segala?"
"Lo lupa? atau pura-pura lupa?" ujar Ozil tajam.
"Apaan sih? ngomong yang jelas dong, gue nggak paham!" jawab Elsa kesal.
Ozil menarik napas panjang, "Gara-gara lo, motor kesayangan gue lecet."
Elsa terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata Ozil. "Motor lo lecet? Tapi gue nggak pernah dekat-dekat sama motor lo!"
Suara Elsa mulai meninggi, mengungkapkan kebingungan dan kemarahannya pada pemuda itu.
Ozil melangkah lebih dekat, tatapannya tajam. "Tapi lo yang nyenggol motor gue! waktu lo lewat di depan parkiran, motor gue yang jadi korban. Sekarang lihat, ada goresan besar di sampingnya!"
Elsa merengut. Dia ingat kejadian itu, dia terburu-buru menuju kelas karena takut terlambat. Namun, dia tidak merasa bersalah karena dia yakin itu tidak sengaja.
"Gue nggak sengaja, Ozil. Kenapa lo nggak lebih hati-hati naro motornya? itu bukan salah gue sepenuhnya!"
"Oh, bukan salah lo? Lo jelas-jelas merugikan orang lain!" Ozil menjawab dengan nada marah.
"Apa lo nggak bisa sedikit peduli? Lo selalu sibuk dengan akademis, lo lupa bahwa di dunia ini ada orang lain selain diri lo. Jangan belagu deh, selagi lo sekolah di sini lo harus tahu diri."
Elsa merasa hatinya bergetar, antara kesal dan sedikit bersalah. "Oke, gue minta maaf kalau lo merasa dirugikan."
Ozil terdiam, menatapnya dengan penuh emosi. "Gue nggak hanya butuh permintaan maaf, Elsa."
Akhirnya, Elsa menghela napas. Dia tidak suka berada dalam posisi ini, dihadapkan pada ketidakadilan yang dirasakannya.
"Baiklah, gue bakal bantu lo memperbaiki motor itu."
Ozi terlihat sedikit melunak. "Nggak perlu, mulai sekarang lo jadi babu gue."
"Apa?!" teriak Elsa terkejut.
Ozil menarik sudut bibirnya ke atas, "Jangan bikin gue mengulangi ucapan itu dua kali, Elsa!"
"Nggak bisa, kenapa gue harus jadi babu lo? Gue bakal ganti semua kerugian yang gue buat. Gue nggak mau jadi babu lo, Zil!"
"Gue nggak peduli, keputusan sudah mutlak! besok pagi lo harus berdiri di sini dan tunggu gue. Jangan masuk kelas sebelum gue datang, kalau lo melanggar lo akan tau akibatnya!" setelah mengatakan hal tersebut, Ozil kembali pada teman-temannya tanpa menoleh lagi ke arah Elsa.
Tanpa mereka sadari, Valeri sudah memperhatikan interaksi keduanya. Kelenjar rasa cemburu menjalar di dalam diri Valeri. Kedua tangannya mengepal erat seraya bergumam sendiri.
***
Seyra melemparkan diri ke atas ranjang, dia baru saja selesai mandi dan sekarang dia berniat untuk istirahat sambil menunggu jam makan malam tiba.
Namun, sesaat kemudian suara ketukan pintu terdengar. Seyra beranjak dari ranjang menuju pintu, dan membukanya. Terlihat sosok ayahnya tersenyum.
"Kenapa, Pa?" tanya Seyra heran.
"Sayang, ada yang ingin Papa bicarakan sama kamu."
Seyra mengernyit heran, dia mendadak ingat adegan ini. Adegan dimana ayahnya pulang dan mengakui sesuatu, dari ingatannya ucapan sang ayah membuat Seyra asli sampai pingsan di tempat.
"Boleh, ayo masuk aja, Pa."
Lewin mengikuti langkah putrinya menuju kamar, dia duduk di kasur sedangkan Seyra di kursi belajar.
"Papa mau ngomong apa?" tanya Seyra pura-pura tidak tahu.
"Papa... Papa sudah melakukan kesalahan, Papa minta maaf." Wajah Lewih terlihat begitu menyesal. Seyra terdiam, dia menunggu kelanjutan ucapan ayahnya.
"Papa sudah meniduri seorang wanita tanpa sadar, Papa minta maaf."
Seyra merasa jantungnya berdegup kencang. Kata-kata ayahnya terngiang-ngiang di telinganya, seolah-olah mengguncang seluruh dunia yang dia singgahi. Dia mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata itu.
"Tanpa sadar?" tanya Seyra tak habis pikir, suaranya bergetar. "Apa maksud Papa?"
Lewin menarik napas dalam-dalam, matanya tampak berkaca-kaca. "Papa tahu ini sulit untukmu. Tapi Papa benar-benar tidak ingat apa yang terjadi. Itu adalah kesalahan yang sangat besar, dan Papa sangat menyesal."
Seyra menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Kenangan manis tentang ayahnya, sosok yang selalu dia kagumi, kini mulai pudar. Baru juga dia merasa beruntung memiliki seorang ayah, tapi kini dia seperti di tampar oleh takdir untuk sadar akan posisinya.
"Siapa wanita itu, Pa?"
Lewin menggigit bibirnya, tidak tahu harus menjawab apa. "I-itu sekertaris Papa."
"Apa Mama tahu tentang ini? sejak kapan Papa tidur dengannya? Apa ini alasan mama menggugat cerai Papa?" Seyra bertanya, suaranya pelan namun penuh ketegasan.
Lewin menggeleng. "Ya, mama mu sudah tahu. Dan Papa juga tahu kalo mama kamu selingkuh di belakang Papa selama ini."
Sebuah keheningan yang berat mengisi ruangan. Seyra merasa seolah-olah dikhianati oleh orang yang paling dia percayai. Dia ingin berteriak, tetapi suaranya hanya terjebak di tenggorokan.
"Apa alasan ini juga yang membuat kalian bercerai?" tebak Seyra.