NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

BAB 27

RUNTUHNYA SEBUAH IMPERIUM

​Malam itu, Jakarta tidak pernah terasa sedingin ini bagi Adrian Aratama. Di dalam kabin mobil tua milik Fikri yang beraroma pengharum jeruk murah, Adrian menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Ia melihat gedung Aratama Tower dari kejauhan—menara kaca 50 lantai yang selama ini ia anggap sebagai perpanjangan dari jiwanya—kini tampak seperti monumen yang asing. Lampu di lantai paling atas, ruang kerjanya, masih menyala. Namun, ia tahu di sana Haryo sedang menyesap wiski kemenangannya di atas kursi yang baru saja dirampasnya.

​Adrian menatap tangannya. Tangan yang biasanya memegang pulpen Montblanc untuk menandatangani kontrak triliunan rupiah itu kini kosong. Ia tidak lagi memiliki akses ke rekening perusahaan, tidak lagi memiliki supir pribadi, dan yang paling menyakitkan, ia tidak lagi memiliki identitas sebagai "Sang CEO".

​"Pak Adrian? Anda baik-baik saja?" Fikri memecah keheningan, suaranya penuh kekhawatiran.

​Adrian menarik napas panjang, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya. "Jangan panggil aku 'Pak', Fikri. Aku bukan siapa-siapa sekarang. Hanya seorang pengangguran dengan nama belakang yang memalukan."

​"Bapak... maksud saya, Kak Adrian... Kak Aisha bilang, terkadang sesuatu harus dihancurkan sampai ke fondasi agar kita bisa membangun kembali bangunan yang lebih kuat."

​Adrian menoleh ke arah pemuda di sampingnya. "Adikmu itu arsitek yang terlalu puitis, Fikri. Masalahnya, fondasiku saat ini sedang terkubur dalam lumpur pengkhianatan."

​Mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar cat hijau yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Ini adalah rumah yang dulu dihancurkan oleh ayahnya, dan sekarang menjadi tempat pengungsian terakhirnya.

​Aisha sudah menunggu di teras. Ia tidak lagi memakai cadarnya karena ini adalah area pribadinya, namun ia tetap mengenakan kerudung lebar yang menutup dada. Saat Adrian turun dari mobil dengan langkah gontai, mata mereka bertemu.

​Ada keheningan yang menyesakkan. Adrian berdiri di sana, di bawah lampu teras yang redup, tampak begitu rapuh. Jasnya kusut, rambutnya berantakan, dan matanya memancarkan kehancuran yang total.

​"Masuklah," ucap Aisha lembut. Ia tidak menunjukkan kemenangan, tidak juga menunjukkan kemarahan. Hanya ada empati yang dalam.

​Di ruang tamu yang sempit namun rapi, Adrian duduk di kursi rotan yang mengeluarkan bunyi kriet saat ia mendaratkan tubuhnya. Di dinding, terpajang foto Zulkifli saat masih muda, berdiri gagah di depan sebuah proyek konstruksi.

​Tak lama kemudian, sebuah suara roda berputar terdengar. Fikri mendorong kursi roda ayahnya masuk ke ruangan. Zulkifli, pria yang selama belasan tahun ini hanya menjadi bayangan kepedihan di hati Aisha, kini berhadapan langsung dengan putra dari musuh bebuyutannya.

​Wajah Zulkifli tampak keras, meski separuh wajahnya agak kaku akibat stroke. Matanya menatap Adrian dengan intensitas yang membuat Adrian ingin menghilang.

​"Jadi, ini putra Bramantyo," suara Zulkifli serak dan lambat. "Pria yang baru saja kehilangan segalanya karena mencoba mengembalikan hartaku?"

​Adrian berdiri dengan susah payah, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Zulkifli. "Saya datang bukan untuk meminta maaf atas nama ayah saya, karena saya tahu itu tidak akan pernah cukup. Saya datang untuk mengakui bahwa saya adalah bagian dari sistem yang menghancurkan Bapak. Dan hari ini, sistem itu juga menghancurkan saya."

​Adrian berlutut di depan kursi roda Zulkifli. Tidak ada lagi ego CEO. Tidak ada lagi kesombongan Aratama. Ia hanya seorang pria yang hancur, mencari penebusan.

​"Saya sudah kehilangan perusahaan saya, Pak Zulkifli. Saya sudah kehilangan nama besar saya. Saya tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan kepada Bapak selain kejujuran saya... bahwa saya mencintai putri Bapak lebih dari hidup saya sendiri."

​Ruangan itu menjadi sangat sunyi. Aisha yang berdiri di sudut ruangan menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir di pipinya. Ia melihat pria yang dulu begitu angkuh, kini bersujud di depan ayahnya.

​Zulkifli terdiam cukup lama. Napasnya terdengar berat. "Kau pikir dengan berlutut di sini, kesehatan yang hilang ini bisa kembali? Kau pikir tahun-tahun di mana putriku harus bekerja keras sambil dihina orang karena cadarnya bisa terhapus?"

​"Tidak, Pak," bisik Adrian. "Saya hanya ingin Bapak tahu, bahwa tidak semua Aratama adalah serigala. Dan saya bersedia menghabiskan sisa hidup saya untuk membuktikannya, meskipun saya harus memulainya dengan bekerja sebagai buruh kasar di lokasi proyek saya sendiri."

​Zulkifli menatap ke arah Aisha, lalu kembali ke arah Adrian. "Bangunlah. Seorang pria tidak boleh hancur hanya karena kehilangan harta. Aku kehilangan segalanya dua puluh tahun lalu, tapi aku tidak kehilangan kehormatanku. Kau kehilangan perusahaanmu, tapi kau baru saja menemukan keberanianmu."

​Zulkifli menggerakkan tangannya yang gemetar, menyentuh bahu Adrian. "Haryo adalah orang yang licik. Dia juga yang dulu membisikkan ide sabotase itu pada ayahmu. Aku mengenalnya. Dia tidak akan berhenti sampai namamu benar-benar mati."

​Adrian mendongak, terkejut. "Haryo terlibat sejak dulu?"

​"Ya," jawab Zulkifli pahit. "Ayahmu adalah eksekutornya, tapi Haryo adalah otaknya. Dan sekarang dia memakanmu, sama seperti dia memakanku dulu."

​Setelah Zulkifli dibawa kembali ke kamar oleh Fikri, tinggal Adrian dan Aisha di ruang tamu. Kelelahan emosional yang luar biasa membuat Adrian menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi rotan, matanya terpejam.

​Aisha mendekat, membawakan segelas teh hangat. "Minumlah. Anda butuh tenaga untuk berpikir jernih."

​Adrian membuka matanya, menatap segelas teh itu seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. "Aisha... kenapa kau menolongku? Aku adalah anak dari orang yang menghancurkanmu."

​Aisha duduk di kursi sebelah, jarak mereka kini sangat dekat, namun tidak ada lagi dinding kebencian. "Karena saya melihat apa yang tidak dilihat oleh dewan direksi Anda. Saya melihat seorang pria yang bersedia kehilangan dunianya demi sebuah prinsip. Itu adalah fondasi yang jauh lebih kuat daripada beton mana pun di Green Oasis."

​Aisha menyentuh pinggiran meja, jemarinya hampir bersentuhan dengan tangan Adrian. "Anda tidak hancur, Adrian. Anda hanya sedang dipreteli dari semua hal yang tidak penting, agar Anda bisa melihat siapa Anda sebenarnya."

​"Lalu siapa aku sekarang, Aisha? Tanpa Aratama Group, aku bukan siapa-siapa," suara Adrian bergetar, setetes air mata jatuh ke pipinya—sebuah tanda kerentanan yang hanya ia tunjukkan pada wanita ini.

​Aisha menatap mata Adrian dengan binar yang dulu sempat hilang. "Anda adalah pria yang saya doakan setiap malam. Pria yang akhirnya belajar bahwa cinta itu butuh pengorbanan, dan iman itu butuh ujian."

​Malam itu, Adrian tidak pulang ke apartemennya yang dingin. Ia menginap di sofa ruang tamu rumah Aisha yang sempit. Di sana, di tengah suara jangkrik dan aroma kayu tua, ia tidur dengan sangat nyenyak untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.

​Ia memang telah kehilangan kekuasaannya. Ia telah kehilangan singgasananya. Ia merasa hancur secara finansial dan sosial. Namun, di dalam kehancuran itu, ia merasakan sebuah kebebasan yang aneh. Ia tidak lagi harus menjadi "Singa Aratama". Ia hanya perlu menjadi Adrian—seorang pria yang sedang jatuh cinta, yang sedang belajar untuk sujud, dan yang siap untuk melawan balik demi mendapatkan kembali apa yang benar miliknya.

​Haryo mungkin memiliki gedung itu sekarang. Tapi Adrian menyadari, ia memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat: ia memiliki kebenaran, ia memiliki keluarga Aisha, dan ia memiliki alasan untuk bangkit kembali.

​"Besok," gumam Adrian sebelum terlelap, "aku akan membangun kembali menara itu. Bukan dari kaca yang mudah pecah, tapi dari kejujuran yang abadi."

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!