NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Matahari mulai naik, memantulkan kilau perak di atas permukaan sungai yang airnya sudah mulai jernih kembali. Mika sedang berjongkok, tangannya sibuk memunguti ranting-ranting pohon yang tersangkut di dekat pipa filter. Keringat membasahi pelipisnya, tapi pikirannya jauh lebih semrawut daripada tumpukan ranting di depannya.

Ia tidak sadar bahwa beberapa meter di belakangnya, Arga sedang berdiri sambil menyeka tangan dengan handuk kecil. Arga melirik Mika, lalu beralih ke Asia yang sedang mencatat data debit air. Seringai tipis—sesuatu yang sangat jarang muncul di wajah kaku Arga—terukir di bibirnya.

"Eh, Sayang," panggil Arga pada Asia dengan nada yang sengaja dikeraskan. "Masa tadi pas aku mau ke posko, aku liat Mika sama Pak—"

Jantung Mika seolah berhenti berdetak. Ia reflek berdiri dengan sentakan keras sampai air sungai menciprat ke celananya.

"ARGA! Sini bantuin gue!" teriak Mika, memutus kalimat Arga dengan paksa. Suaranya melengking tinggi, penuh dengan nada perintah yang tidak bisa dibantah.

Asia menoleh bingung, pulpennya tertahan di atas kertas. "Sama siapa, Ga? Mika sama siapa?" tanya Asia penasaran.

Arga tidak menghiraukan teriakan Mika, ia justru menatap Asia dengan tatapan penuh rahasia. "Itu lho, Pak—"

"ARGA! Lo tuli ya?! Cepet sini, ini batunya gede banget nggak kuat gue angkat sendiri!" Mika berlari kecil ke arah Arga, matanya melotot tajam seolah ingin menelan pria kaku itu bulat-bulat.

Arga akhirnya terdiam, ia menatap Mika datar, namun ada kilat jenaka di matanya. Ia tahu ia baru saja memegang "nyawa" sang koordinator. Arga kemudian melangkah perlahan menuju arah Mika, meninggalkan Asia yang masih mengerutkan kening bingung.

Setelah dua jam bergelut dengan lumpur dan batu, punggung Mika rasanya mau patah. Ia memutuskan untuk beristirahat di sebuah gubuk tua milik petani yang letaknya agak tinggi dari bibir sungai. Gubuk itu terbuka, hanya beralaskan bambu yang disusun rapi, namun cukup sejuk karena angin bertiup kencang dari arah perbukitan.

Mika menyandarkan punggungnya di tiang gubuk, memejamkan mata sambil menikmati semilir angin. Ia baru saja hendak meluruskan kakinya yang pegal saat ia merasakan guncangan ringan di gubuk itu—pertanda seseorang baru saja naik.

Begitu ia membuka mata, ia hampir saja berteriak. Di sampingnya, sudah duduk seorang pria dengan postur tubuh tegap yang sangat familiar. Alvaro.

"Jangan protes aku duduk di sini," ucap Alvaro tenang, tanpa menoleh ke arah Mika. Ia menatap lurus ke arah aliran sungai, seolah-olah ia sedang melakukan inspeksi rutin.

Mika segera duduk tegak, ia melirik ke arah sungai, memastikan Siti, Asia, dan Arga masih sibuk di bawah sana dan tidak melihat ke atas. "Siapa yang protes sih? Selama kamu nggak deket-deket aja," bisik Mika ketus, meski hatinya berdegup kencang.

Alvaro menoleh, matanya yang tajam kini melunak saat menatap wajah Mika yang sedikit kotor terkena noda tanah. "Kamu capek?"

"Ya menurut kamu? Aku bukan robot kayak kamu yang kuat berdiri seharian di balai desa, Al," jawab Mika sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.

Alvaro terdiam sejenak, lalu ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebotol air mineral dingin yang ia simpan di dalam tas kecilnya tadi. Ia membukakan tutupnya dan memberikannya pada Mika.

"Minum dulu. Kamu bisa dehidrasi kalau marah-marah terus," ucap Alvaro.

Mika menerima botol itu, meminumnya hingga separuh. Rasa dingin itu membuatnya sedikit lebih tenang. "Makasih."

"Tadi aku liat Arga bicara sama kamu di bawah. Dia kelihatan... berbeda," Alvaro memulai pembicaraan dengan nada yang lebih serius.

Mika langsung tersedak airnya. "Itu dia! Gara-gara kamu tadi pagi ke posko, Arga liat motor kamu! Tadi dia hampir aja bilang ke Asia kalau kita barengan. Sumpah, Al, aku deg-degan banget kalau sampai Arga buka mulut."

Alvaro menyandarkan lengannya di lutut, ia menatap Mika dengan pandangan yang dalam. "Kalau mereka tahu, apa masalahnya? Aku bisa jelaskan ke mereka. Aku bisa jelaskan ke dosen kamu kalau perlu."

"Bukan gitu, Al..." Mika menunduk, memainkan jemarinya yang masih kotor. "Aku cuma mau masa KKN ini selesai dengan tenang. Aku nggak mau orang-orang mikir aku dapet nilai bagus karena deket sama Kepala Desa. Dan aku nggak mau kamu jadi omongan warga karena pacaran sama anak kota yang bakal pergi sebentar lagi."

Kalimat terakhir Mika membuat suasana di gubuk itu mendadak hening. Kata "pergi sebentar lagi" seolah menjadi pengingat yang menyakitkan bagi mereka berdua.

Alvaro bergerak sedikit, memperkecil jarak di antara mereka. Ia meraih tangan Mika, mengabaikan noda tanah yang menempel di kulit gadis itu. Ia menggenggamnya erat, seolah tidak ingin melepaskannya.

"Mika, dengerin aku," suara Alvaro rendah dan mantap. "Dua puluh lima hari lagi kamu memang harus balik ke Jakarta. Tapi itu bukan berarti aku bakal biarin kamu pergi gitu aja. Aku punya rencana buat kita."

Mika menatap mata Alvaro, mencari kepastian di sana. "Rencana apa?"

"Rahasia. Kamu fokus aja selesaikan tugas kamu di sini dengan baik. Biar sisanya aku yang urus," Alvaro mencondongkan tubuhnya, mencium puncak kepala Mika dengan sangat lembut. Aroma rambut Mika yang bercampur matahari dan keringat justru terasa sangat menenangkan baginya.

Tepat saat itu, suara teriakan Siti terdengar dari bawah. "MIKAYLAAA! DIMANA LO?! INI ADA ULAR LAGI DI DEKET PIPA!"

Mika langsung tersentak dan melepaskan tangan Alvaro. "Aku harus ke bawah!"

"Hati-hati," pesan Alvaro singkat.

Mika berlari turun dari gubuk dengan wajah yang kembali memerah. Saat ia sampai di bawah, ia mendapati Arga sedang berdiri sambil memegang ranting pohon, menatapnya dengan tatapan penuh arti.

"Lama banget di atas, Mik? Nyari sinyal lagi?" sindir Arga saat Mika lewat di depannya.

Mika hanya bisa memberikan lirikan maut pada Arga tanpa berani membalas sepatah kata pun. Ia menyadari bahwa di desa ini, tembok pun punya telinga, dan pohon pun punya mata. Dan Arga? Pria kaku itu kini adalah ancaman terbesar sekaligus saksi rahasia atas hubungan terlarang antara sang mahasiswi dan sang Kepala Desa.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!