Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng Terakhir di Babak Penalti
Pertandingan final semakin memanas. Penyerang demi penyerang dari tim lawan terus menggempur pertahanan tim Vilov tanpa henti. Bola putih itu melesat cepat, berpindah dari satu stik ke stik lainnya, menciptakan bunyi benturan kayu yang nyaring di tengah lapangan. Vilov, yang berdiri di bawah gawang, bekerja ekstra keras. Berkali-kali ia harus jatuh bangun, menggerakkan seluruh tubuhnya yang terbungkus pelindung tebal untuk menghalangi bola agar tidak masuk ke gawangnya.
Keringat dingin bercampur satu kelelahan membasahi wajahnya di balik helm kiper yang pengap. Sorak-sorai dari penonton di pinggir lapangan makin heboh, meneriakkan yel-yel dukungan yang membuat suasana di area lapangan olahraga Cilegon itu semakin tegang dan mencekam. Jantung Vilov terasa seperti mau copot setiap kali striker lawan memasuki area D. Menit-menit terakhir terasa berjalan sangat lambat. Hingga akhirnya, wasit meniup peluit panjang dengan nada yang tegas.
Ppriittt!
Waktu pertandingan normal resmi berakhir. Namun, papan skor masih menunjukkan angka yang sama kuat, yaitu 0-0. Tidak ada gol yang tercipta selama dua babak penuh karena pertahanan kedua tim yang sama-sama solid. Sesuai regulasi, drama adu penalti harus dilakukan untuk menentukan siapa yang berhak membawa pulang piala kemenangan.
Semua pemain, termasuk Vilov yang berjalan dengan langkah berat, segera mendekati bangku cadangan untuk menghampiri Pelatih. Napas mereka memburu, sisa-sisa tenaga coba dikumpulkan kembali. Pelatih segera memberikan instruksi khusus, membisikkan taktik dan strategi mengenai arah tembakan serta cara membaca pergerakan lawan saat penalti nanti. Duel satu lawan satu antara pemain dan kiper akan segera dimulai.
Pikiran Vilov mulai tidak menentu. Napasnya makin tidak karuan, pendek-pendek dan terasa sesak. Perasaan tegang yang luar biasa menyelimutinya, membuat tangannya yang terbungkus glove besar mulai gemetar. Pelatih, yang menyadari kondisi mental Vilov sedang di ambang batas, segera mendekat dan memegang pundaknya untuk menenangkannya. Ia yakin bahwa kiper andalannya ini pasti bisa melewati ujian terakhir ini.
"Vilov, tenang. Tarik napas dalam-dalam. Fokus. Ini kamu minum dulu ya," ucap Pelatih sembari memberikan botol air mineral ke tangan Vilov.
Vilov menerima botol itu, namun matanya mulai berkaca-kaca. Tekanan sebagai benteng terakhir di babak final ternyata jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. "Kak... Vilov takut banget," ucap Vilov dengan suara bergetar, hampir terisak. Ia takut mengecewakan tim yang sudah berjuang habis-habisan.
"Vilov ayok bisa! Ayooo Vilov!" Tiba-tiba terdengar seruan dari arah pinggir lapangan. Bukan hanya dari teman sekolahnya, tapi beberapa pemain dari sekolah lain yang kemarin berkenalan dengannya pun ikut memberikan semangat.
Vilov melirik ke arah penonton yang secara langsung memberikan dukungan moral untuknya. Ia kemudian mengalihkan pandangan ke arah rekan setimnya; Tika, Tije, dan yang lainnya yang menatapnya dengan penuh harap. Rasa percaya diri yang sempat hilang mulai merasa naik kembali. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sanggup membawa pulang piala kemenangan itu.
Ppriittt! Wasit kembali meniup peluit, pertanda adu penalti akan segera dimulai. Para eksekutor pilihan, termasuk Tika dan Tije, mulai memasuki lapangan. Vilov berjalan perlahan menuju gawang, mencoba menata hatinya. Di depannya, nampak satu pemain lawan dengan tatapan tajam sudah bersiap-siap melakukan tembakan pertama.
Pprriitt! Pemain lawan itu langsung menggiring bola dan menembak dengan keras ke arah gawang. Vilov, yang sudah mempelajari gestur lawan, tahu bahwa bola akan diarahkan ke samping kanan. Dengan sigap, ia melakukan gerakan diving untuk menutupi ruang kosong dan... Duggg! Vilov berhasil menepis bola itu dengan leg guard-nya! Semua penonton dan tim Vilov bersorak gembira. Penyelamatan pertama yg bagus.
Kini giliran tim Vilov. Tije melangkah maju sebagai eksekutor. Ia sudah diberikan instruksi oleh Pelatih untuk mencari celah di antara kaki kiper lawan. Tije menarik napas, memukul bola dengan teknik slap yang akurat, dan... Duggg! Bola melesat masuk ke gawang lawan! Skor berubah menjadi 1-0 untuk keunggulan tim Vilov. Semua kembali bersorak heboh.
Babak kedua penalti dilakukan. Vilov kembali masuk ke gawang untuk kedua kalinya. Rasa percaya diri kini benar-benar hadir di dalam dirinya. Sebelum bersiap, ia sempat menepuk-nepuk tiang gawang kiri dan kanan untuk meyakinkan diri bahwa bola ini tidak akan masuk lagi. Pemain lawan bersiap, peluit berbunyi, dan bola melesat ke arah tengah Vilov. Vilov secara refleks menendang bola itu dengan tendangan keras.
Pelatih berteriak girang dari pinggir lapangan, "BAGUS VILOV! LANJUTKAN!"
Vilov bangkit dengan penuh semangat. Kini giliran Tika yang masuk ke area penalti. Ia bersiap menembak, namun sayang sekali, bola hasil pukulannya sedikit melesat ke samping gawang dan gagal berbuah gol. Suasana kembali mencekam karena kedudukan masih sangat tipis.
Penalti terakhir pun tiba. Vilov berjalan kembali menuju arah gawang. Langkah demi langkahnya terasa berbeda; ada rasa gerogi namun dicampur dengan keberanian yang besar. Sebelum sampai di area gawang, Vilov sempat melirik ke arah timnya, lalu matanya tidak sengaja tertuju ke arah Putra yang sedari tadi tidak beranjak dari pinggir lapangan itu. Putra memberikan senyuman hangat dan isyarat tangan yang menyiratkan "kamu bisa". Vilov mengangguk mantap ke arah Putra, seolah membuat janji bahwa ia tidak akan membiarkan bola terakhir ini lewat.
Saat peluit kembali ditiupkan untuk terakhir kalinya, Vilov memfokuskan seluruh indranya ke arah bola. Ia melihat gestur tubuh pemain lawan, menebak arah pukulan dari posisi kaki dan bahunya. Saat bola itu dipukul melambung ke atas gawang, Vilov dengan cekatan meloncat tinggi, mengulangkan tangannya, dan menepis bola itu keluar dari area gawangnya.
Ppriitttt! Peluit panjang berbunyi tiga kali. Tim Vilov resmi menang dan menjadi juara!
Vilov, yang terjatuh di lapangan karena aksi loncatan terakhirnya tadi, tidak segera bangkit. Perasaan haru, lega, dan lelah bercampur menjadi satu. Air matanya pecah. Ia menangis tersedu-sedu di atas lapangan. Semua pemain dan pelatih segera berhamburan memasuki area lapangan, mereka saling berpelukan dan bersorak gembira. Namun, Vilov masih tetap di posisinya dekat gawang, terisak karena tidak menyangka ia benar-benar berhasil menjadi pahlawan bagi timnya.
Putra berjalan menghampiri Vilov. Tanpa banyak bicara, ia berlutut di samping Vilov dan mulai membantu membuka pengaman kiper yang sulit dilepas sendirian. "Sini, gue bantu lepas ya," ucap Putra dengan nada yang sangat lembut sambil membuka pengait body protector dan helm Vilov.
Saat helm itu terlepas, Putra melihat wajah Vilov yang sudah basah oleh air mata. "Lu nangis? Hahaha," ucap Putra spontan saat menyadari bahwa kiper tangguh di depannya ini ternyata sedang menangis sesenggukan. Putra tertawa kecil, merasa gemas karena seorang Vilov yang biasanya ceria, banyak bicara, dan tidak bisa diam, ternyata bisa menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
Vilov tidak membalas ejekan Putra. Ia masih menangis terharu, menutupi wajahnya dengan tangan. Pelatih dan pemain lainnya pun ikut menghampiri gawang.
"Vilov, kamu kenapa?" tanya Pelatih sambil mengusap kepala Vilov dengan bangga.
"Hey, kita menang loh! Vilov?" goda Tije sambil merangkul sahabatnya itu.
"Lagi nangis dia, hahahah," ucap Putra kembali tertawa sambil terus membantu membereskan peralatan Vilov.
Sontak saja, semua pemain dan Pelatih yang melihat wajah "sembab" Vilov saat menangis pun ikut tertawa bersama Putra. Suasana di lapangan pagi itu penuh dengan tawa dan kebahagiaan. Vilov akhirnya ikut tersenyum di balik sisa air matanya, menyadari bahwa kemenangan ini terasa sangat manis karena ada orang-orang yang ia sayangi di sekelilingnya.