Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih di apartement
"Lo..!"
"Lo..!"
Ucap Kanaya dan Hera berbarengan, wanita yang kini berada di hadapan Kanaya adalah Hera, orang yang telah membuat Kanaya berakhir seperti, walaupun tanpa sepengetahuan Kanaya.
"Ngapain Lo di sini..?"teriak Hera murka, lalu mendorong Kanaya dan beranjak masuk kedalam apartemen Gavin. Sementara Kanaya masih terlihat shock dengan kedatangan wanita itu di hadapannya.
"Hei bitch, ngapain lo di apartemen cowok gue sialan?"teriak Hera semakin murka, apalagi ketika melihat bercak merah di leher Kanaya yang belum sempat di tutupi oleh Kanaya. Kanaya masih mematung seolah tak mempedulikan amarah wanita di hadapan nya.
"Jawab pertanyaan gue bitch, ngapain lo disini?"teriak Hera lagi lalu mendorong Kanaya keras, harusnya Kanaya jatuh akibat perbuatannya, tapi tiba-tiba si empunya apartemen muncul dan menangkap tubuh Kanaya, dan memeluknya agar tidak terjatuh.
Gavin memposisikan kembali tubuh Kanaya yang masih terlihat shock untuk berdiri kembali, lalu Gavin memeluknya dari samping.
"Kamu gak apa-apa sayang?"tanya Gavin lembut, kemudian mengecup pipi Kanaya singkat, membuat Kanaya menegang dan menatap Gavin tajam, namun tak ada pemberontakan darinya.
"Loh...Gav."Hera semakin murka melihat pemandangan di hadapannya. Dadanya panas melihat Gavin yang kini tengah memeluk Kanaya erat, Gavin melihat ke arah Hera, lalu mengerutkan keningnya.
"Kenapa Ra, ada masalah kan?"tanya Gavin berpura-pura tak mengerti, dengan kemarahan Hera.
"Gav, kamu gila hah? Kamu malah nanya kenapa, apa maksudnya dengan jalang ini ada di sini?"teriak Hera.
"Ah... atau, ohhh ... Kamu jadiin cewek itu jalang kamu malam ini, iya?"tanya Hera.
"Kenapa sih Gav, kenapa kamu harus bawa cewek jelek ini, kenapa gak hubungin aku aja kalo kamu lagi mau, aku pasti langsung dateng Gav?"Lirih Hera, matanya kini berkaca kaca.
"Ga salah... seharusnya gue yang tanya, kenapa sepagi ini Lo ada di apartemen gue Ra?"tanya Gavin santai.
"Dan apa maksud Lo dengan ngehina cewek gue kayak gitu?"lanjut Gavin, yang membuat Kanaya semakin menegang dan menatap Gavin tajam, namun tak di perdulikan oleh Gavin.
"Cewek kamu...?"tanya Hera, tiba-tiba dirinya seolah tak bertenaga begitu mendengar ucapan Gavin, membuat Hera mundur beberapa langkah, dan melihat Gavin penuh kekecewaan.
Gavin mengangguk, lalu semakin mengeratkan pelukan nya pada tubuh ramping Kanaya, dan menatap remeh pada Hera.
"Iya dia cewek gue, ada masalah sama Lo?"tanya Gavin makin santai, yang membuat amarah Hera kembali keluar.
"Gav, kamu gila... Pacar kamu itu aku, bukan dia! Apa maksud kamu hah, kenapa kamu kaya gini?"tanya Hera dengan suara meninggi.
"Kapan gue pernah nembak Lo, dan sejak kapan Lo jadi cewek gue Ra?"jawab Gavin yang membuat Hera tersentak.
Selama ini Gavin memang tak pernah menyatakan perasaan apapun pada Hera, selama ini mereka sering melakukan hubungan terlarang itu pun, karna Hera yang memintanya, dan Gavin yang tak pernah menolak nya. Hera pikir dengan semua yang sering mereka lakukan, itu sudah menjadikan Gavin miliknya, namun ternyata harapan Hera tak seindah kenyataan di hadapannya.
"Lo sama seperti semua cewek yang selama ini tidur Sama gue Ra, hubungan kita itu simbiosis mutualisme, sama-sama menguntungkan bukan?"tanya Gavin.
"Lagian coba lo pikir Ra, kalo gue nganggap lo cewek gue, gue gak bakal mau berbagi sama temen gue sendiri, dan apa lo pikir lo seistimewa itu, sampai lo memiliki dua pacar sekaligus, gue dan Alex?"
"Kami senang menikmati tubuh Lo, cuma itu Hera Atmadja."lanjut Gavin sambil tersenyum miring, membuat Hera pucat pasi.
Ayolah, seburuk-buruknya Gavin, dia tidak Sudi berbagi bila untuk wanita yang dicintainya, kalau pun selama ini dia sering berbagai wanita dengan Alex, itu karna dia memang tak memiliki perasaan apapun kepada wanita yang jadi penghangat ranjangnya.
Hera menggelengkan kepalanya, tak pernah menyangka Gavin akan mengucapkan semua kata-kata menyakitkan itu padanya, Hera tau Gavin itu badboy begitu pun Alex, namun selama ini ia pikir Gavin masih memiliki perasaan, dan wanita yang di biarkan dengannya adalah wanita yang di sukainya.
Harusnya ia sadar lebih awal dan hanya menganggap Gavin ajang senang senangnya, sama seperti dirinya yang di anggap Gavin seperti itu.
Tapi apalah daya, selama ini Hera memang menyukai Gavin bahkan ketika ia pertama kali melihatnya.
Namun imagenya yang buruk membuat Hera tak ingin terlihat terlalu dekat dengannya, karna dia memiliki image yang cukup baik di kampus, dia tak ingin merusak image baiknya.
Namun pada masa-masa tahun-tahun terakhir kuliah nya, Hera tak bisa menunggu lagi, untuk bisa mendekati Gavin, karna takut tak bisa memiliki kesempatan lagi, bila nanti mereka sama-sama sudah tak lagi belajar di universitas yang sama.
Hera pun memberanikan diri menyerahkan tubuhnya begitu saja untuk di nikmati oleh Gavin dengan harapan Gavin akan menginginkannya dan perlahan mencintainya, walaupun Hera tak menyangka ternyata Alex pun sama menginginkannya, tadinya Hera begitu senang, dan berniat membuat dua pemuda tampan itu untuk jatuh pada pesonanya.
Namun ternyata, skenario yang di rancangnya sama sekali tak pernah berjalan, selain tubuhnya yang dinikmati kedua pemuda itu, ternyata mereka tak pernah memiliki perasaan apapun padanya, Hera benar-benar kecewa sekarang.
Plak...!
"Lo jahat Gav, Lo jahat!"ucap Hera setelah sebuah tamparan kencang di layangkannya pada wajah tampan Gavin.
"Gue benci sama lo, gue benci...!"teriak Hera di sertai isakannya.
"Dan Lo,..!"tunjuk Hera pada Kanaya.
"Gue gak akan biarin lo hidup tenang mulai sekarang, gue akan pastiin hidup lo hancur sialan."ucap Hera dan berniat maju untuk mendorong lagi tubuh Kanaya, namun Gavin sudah lebih dulu pasang badan dengan berdiri di depan Kanaya, membuat Hera tak lagi bisa melihatnya.
Hera semakin murka melihat Gavin yang pasang badan untuk Kanaya. Napasnya memburu, sungguh Hera ingin menjambak rambut Kanaya dan memukul wajahnya sekarang.
"Aghh...gue benci kalian!"teriak Hera menatap nyalang pada Gavin, lalu beranjak dengan langkah cepat meninggalkan apartemen Gavin. Ia sudah tak mungkin lagi melakukan apapun selain pergi sekarang, biarkan nanti ia akan membuat lagi sebuah rencana untuk menyakiti perempuan yang kini semakin di bencinya.
Setelah kepergian Hera, Gavin mengusap kasar wajah nya, sebenarnya Gavin memang sudah mengetahui tentang Hera yang akan datang ke apartemennya, karna Hera sempat mengiriminya pesan terlebih dahulu.
Entah kenapa Gavin semakin menjadi muak dengan sikap Hera, dari Hera yang menggangu Kanaya di toilet kampus, sampai rencana jahat yang di buat Hera semalam pada Kanaya dan Karina, Gavin dan Alex memang mengetahuinya.
Karna itulah saat Gavin tau Hera akan ke apartemennya, Gavin sengaja ingin menunjukan keberadaan Kanaya disana. Bahkan mengakui Kanaya sebagai pacarnya. Gavin pikir, dengan mengakui Kanaya sebagai pacarnya, akan membuat Hera tak lagi mengganggunya maupun Kanaya.
Namun kini ia menjadi ragu, melihat sikap Hera tadi, rencananya yang ingin membuat Hera berhenti mengganggunya dan Kanaya , sepertinya justru akan semakin membuat Hera lebih gila dari semalam. Oh sepertinya, Gavin telah salah berhubungan dengan wanita gila seperti Hera.
Saat Gavin masih termenung dengan banyak pikiran di otaknya, tiba-tiba tubuhnya di dorong keras oleh Kanaya, membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang.
"LO APA APAAN SIH GAV...?"teriak Kanaya kencang.
-Bersambung