NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14 Hati Yang Tak Bisa Dimainkan

Langkah kaki Tari bergema di koridor sekolah yang mulai sepi karena jam istirahat baru saja dimulai. Namun, bukannya menuju kantin untuk mengisi perut yang mulai keroncongan, Tari justru berjalan mantap menuju sayap kanan gedung—tempat ruangan Kepala Sekolah berada.

Sepanjang jalan, otaknya nggak berhenti berputar. "Siapa sih kira-kira yang jadi Guest Star untuk acara doa bersama nanti?" gumamnya dalam hati.

Daftar nama mulai bermunculan di kepalanya. Apakah seorang Ustadz kondang yang sering masuk TV? Atau mungkin grup selawat yang lagi viral di TikTok? Mengingat SMA Kusuma Bangsa adalah sekolah bergengsi, nggak menutup kemungkinan sekolah bakal mendatangkan sosok yang luar biasa besar.

"Kalau ustadz muda yang ganteng, bisa-bisa seisi sekolah histeris kayak konser k-pop. Tapi kalau ustadz senior yang kharismatik, pasti suasananya bakal syahdu banget," Tari membatin sambil merapikan jilbabnya yang sedikit miring.

Tari berhenti tepat di depan pintu kayu jati yang kokoh. Papan bertuliskan KEPALA SEKOLAH itu seolah menantangnya untuk segera mengetuk.

"Apapun itu, aku harus pastiin Guest Star ini bisa bikin acara kita nggak cuma rame, tapi juga berkesan sebelum... sebelum Ramdan pergi," bisiknya pelan, lalu mengetuk pintu dengan perlahan.

Tok... Tok... Tok...

Tari duduk dengan sopan di depan meja besar Pak Kepala Sekolah. Setelah berbasa-basi sejenak, ia langsung pada intinya.

"Pak, maaf mengganggu waktunya sebentar. Tadi Kak Arga bilang kalau ada Guest Star untuk acara Doa Bersama nanti, tapi dia suruh saya tanya langsung ke Bapak. Emang siapa sih, Pak?" tanya Tari dengan mata berbinar penasaran.

Pak Kepala Sekolah menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu tersenyum penuh arti yang membuat Tari makin bingung.

"Sepertinya bakal ada nama yang sama ya dengan orang yang lagi dekat sama kamu, Tari. Hehehe," goda Pak Kepala Sekolah yang sukses membuat pipi Tari mendadak panas.

"Maksud Bapak?"

"Kita mengundang YouTuber shalawat yang lagi viral itu, yang dari luar pulau. Namanya... Ramdan."

Tari hampir saja melompat dari kursinya. "Bapak serius?! Bapak beneran ngundang Kak Ramdan YouTuber itu? Pak, Bapak tahu nggak kalau dia itu idola saya banget! Saya pengen banget ketemu dia dari dulu, eh sekarang malah Bapak undang ke sini!"

Melihat Tari yang begitu antusias, Pak Kepala Sekolah tertawa kecil. "Sssttt! Ini rahasia ya. Cuma kamu dan Anisa yang tahu. Bapak nggak mau tim lain tahu dulu, biar jadi kejutan."

Tari mengangguk mantap dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. "Oke, Pak! Rahasia aman di tangan saya! Makasih banyak ya, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu ke ruang OSIS, soalnya ada rapat

Tari keluar dari ruangan Kepsek dengan langkah yang terasa ringan, seolah ada bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang koridor. Dia langsung membuka HP dan mengirim pesan rahasia ke Kak Anisa.

"Kak! Aku udah tau! Ternyata Kak Ramdan YouTuber! Aaaaa, aku seneng banget!"

Setelah itu, Tari merapikan ekspresi wajahnya menjadi datar kembali saat mendekati ruang OSIS. Dia harus terlihat profesional di depan Ramdan—si Ketua OSIS yang namanya sama tapi sifatnya beda jauh dengan sang idola.

Di dalam ruang OSIS yang ber-AC, suasana terasa sedikit gerah karena tensi rapat yang belum dimulai. Seluruh tim inti sudah duduk melingkari meja besar, tapi ada satu kursi yang masih kosong tepat di sebelah Ramdan.

"Ini Tari mana ya? Jam segini belum muncul juga. Tadi katanya cuma sebentar ke ruangan Kepsek," celetuk Arga sambil mengetuk-ngetuk pulpennya ke meja, nggak sabar.

Anisa yang sedang sibuk mengecek dokumen di sampingnya menyahut tanpa menoleh, "Lagi menuju ke sini, Ga. Santai aja, nggak bakal kabur juga sekretaris kesayangan kita itu."

Mendengar nama Tari disebut, Ramdan hanya diam. Ia menatap lurus ke arah tumpukan proposal di depannya, tangannya sibuk memutar-mutar tutup botol minum. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya, tapi matanya sesekali melirik ke arah pintu setiap kali terdengar suara langkah kaki di koridor.

Ceklek!

Pintu ruang OSIS terbuka. Tari muncul dengan wajah yang terlihat sangat segar bahkan ada sisa-sisa senyum yang belum sempat ia sembunyikan sepenuhnya.

"Maaf telat semuanya," ucap Tari ringan sambil meluncur duduk di sebelah Ramdan.

Ramdan melirik Tari sekilas, alisnya bertautan. "Dari ruangan Kepsek kok mukanya kayak habis dapet doorprize?" batin Ramdan heran. Dia baru mau nanya, tapi Tari malah langsung buka buku notulensi dengan gaya super sibuk.

"Oke, Kak Arga, Kak Anisa, Pak Waketos ... rapatnya bisa dimulai sekarang?" tanya Tari sambil menatap Ramdan dengan tatapan jahil yang belum pernah Ramdan lihat sebelumnya.

Ramdan berdeham, mencoba menguasai keadaan. "Ya. Kita mulai."

Arga mengetuk meja rapat, mencoba menarik perhatian semua orang. "Oke, gimana untuk MC, Anisa dan Tari, apakah kalian siap? dari kalian ada ide biar pembukaan nggak garing?"

Suasana mendadak senyap. Anggota panitia lain tampak berpikir keras, sementara Ramdan masih dalam mode kalemnya, menyimak dengan saksama. Tiba-tiba, Tari mengangkat tangan kecilnya.

"Gimana kalau sebelum acara dimulai, sambil mengkondisikan anak-anak biar nggak berisik, aku, Kak Anisa, sama Kak Zahra mau nyanyi dulu?" usul Tari mantap.

Ramdan sedikit menggeser duduknya, menatap Tari dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kita mau bawain tiga lagu," lanjut Tari dengan semangat. "Muhasabah Cinta, Ya Habibal Qolbi, sama Kun Anta. Gimana Pak Ketua Arga dan Wakil Ketua Ramdan, apakah kalian setuju?"

Arga langsung melotot kaget, lalu tertawa lebar sambil tepuk tangan. "WADUH! WADUH! WADUH! Ini mah bukan cuma setuju lagi, Ri! Gue dukung 100%! Bayangin, trio vokal OSIS tampil, itu anak-anak cowok pasti langsung sujud syukur di lapangan!"

Arga kemudian menyikut lengan Ramdan. "Gimana menurut lo, Ndan? Wakil Ketua kan paling ketat soal konsep religius nih. Aman nggak?"

Ramdan terdiam sejenak. Ia menatap Tari yang sedang menanti jawabannya dengan wajah penuh harap. Ada rasa bangga sekaligus... sedikit cemburu membayangkan semua mata nanti akan tertuju pada Tari.

"Lagu-lagunya sudah sesuai tema," ucap Ramdan akhirnya dengan suara bariton yang tenang. Ia memberikan anggukan kecil yang sangat berwibawa. "Selama tujuannya untuk mengkondisikan massa dan membawa suasana jadi lebih syahdu, saya setuju. Itu ide yang sangat bagus, Tari."

Tari tersenyum lebar. "Makasih, Pak Wakil Ketua yang dingin"

Seketika, suasana rapat yang tadinya kaku langsung pecah. Pajar yang duduk di pojokan langsung gebrak meja pelan sambil teriak, "WADUH! WADUH! WADUH! 'Pak Wakil Ketua' banget nih manggilnya? Kok kedengerannya kayak ada manis-manisnya gitu ya?"

"Eaaaaaa!" sorak anak-anak OSIS lainnya serempak.

"Gila sih, emang cuma Tari yang bisa bikin Pak Wakil kita ini langsung luluh nggak pake tapi," timpal Raihan sambil naik-turunin alisnya ke arah Ramdan. "Biasanya kan kalau usulan belum ada proposal tertulis ditolak mentah-mentah, eh ini langsung 'Saya Setuju'. Mantap, Ndan! Pelet jalur prestasinya kenceng!"

Zahra si kakak kelas nggak mau kalah, dia nyikut lengan Tari. "Ri, ntar pas nyanyi Ya Habibal Qolbi, liriknya jangan diganti jadi 'Ya Habibi Ramdan' ya? Nanti satu sekolah pingsan!"

Wajah Tari mendadak berubah jadi merah padam kayak kepiting rebus. Dia langsung pura-pura sibuk nyatet di buku notulensi, padahal tangannya udah gemeteran nahan malu.

Sementara itu, Ramdan? Dia cuma bisa berdeham keras, mencoba mengalihkan perhatian ke tumpukan proposal. Meskipun wajahnya tetep diusahakan datar, tapi telinganya nggak bisa bohong—warna merahnya udah sampai ke ujung daun telinga!

"Sudah, sudah. Kembali ke agenda rapat," ucap Ramdan dengan suara baritonnya yang sedikit lebih berat, mencoba terlihat berwibawa meski hatinya lagi karambol.

"Cieee... Pak Wakil salting! Cieeee!" Arga malah ikut memanaskan suasana sambil ketawa ngakak.

Tari mengangkat pulpennya, memberikan kode kalau dia punya satu ide tambahan lagi. "Satu lagi," potong Tari sebelum godaan anak-anak makin melantur. "Nah, pas Ramdan sama Raihan beres bacain ayat suci Al-Qur'an, boleh nggak kita minta Raihan bacain puisi islami?"

Seketika mata semua orang tertuju pada Raihan. Yang ditunjuk malah melongo, hampir saja menjatuhkan pulpen yang sedang ia mainkan.

"Hah? Gue?" Raihan menunjuk dirinya sendiri dengan wajah polos. "Ri, lo mau bikin penonton nangis atau mau bikin gue kena serangan panggung?gue kalau baca puisi romantis oke, tapi kalau puisi islami gue takut salah ekspresi!"

Tari tertawa kecil. "Enggak, Rai. Gue tau lo punya bakat terpendam di bidang teater. Suara lo itu kalau baca puisi islami pasti dapet banget feel-nya. Jadi setelah denger tilawah dari Ramdan yang adem, terus disambung saritilawahnya dari kamu, kemudian kamu baca puisi yang menyentuh... Fix, itu bakal jadi kombinasi maut!"

Arga langsung gebrak meja sambil nunjuk Raihan. "SETUJU! Gue baru inget, Raihan kan dulu pernah menang lomba baca puisi pas SMP. Gaskeun lah! Masa kalah sama Tari dkk yang mau nyanyi?"

Ramdan yang tadinya cuma nyimak, kini menatap Raihan dengan serius. "Saya setuju sama Tari. Raihan punya karakter suara yang kuat. Kalau dia mau, saya bisa bantu pilihin ayat yang nyambung sama tema puisinya nanti."

Raihan menghela napas pasrah, tapi ada senyum bangga di bibirnya. "Duh, kalau 'Pak Wakil Ketua' sama 'Ibu Sekretaris' udah duet nyuruh gini, mana bisa gue nolak? Oke deh, gue siap! Tapi jangan ketawain kalau nanti pada baper ya!"

"Ciee... Raihan mau jadi pujangga!" goda Pajar yang langsung disambut tawa seruang rapat.

Tari mengetuk-ngetuk dagunya dengan pulpen, matanya berbinar licik. "Oh iya, ada satu lagi ide gila. Karena katanya Guest Star kita nanti itu jago banget main gitar, aku dapet inspirasi nih. Aku pengen pas Raihan baca puisi, dia diiringi sama petikan gitarnya Ramdan."

Hening sejenak.

Satu ruangan langsung melongo. Pajar sampai keselek air minum, sementara Arga matanya hampir keluar dari kelopak.

Raihan pun kaget. "Waduh, Ndan! Kalau gue baca puisi diiringi gitar lo, ini mah bukan lagi doa bersama, tapi konser tunggal kita berdua! Lo serius , Ndan?"

Semua mata sekarang tertuju pada Ramdan. Sang Wakil Ketua OSIS itu tampak sedikit salah tingkah. Dia berdeham, lalu mengusap tengkuknya kebiasaan kalau dia lagi terpojok.

"Ri, kenapa aku sih, kan Arga juga bisa.Aku takutnya ga fokus lagi" kata Ramdan

"Nggak ada alasan!" potong Tari cepat sambil tersenyum penuh kemenangan. "Aku tau kamu itu kan semua alat musik di kuasai Jadi apalagi yang membuat kamu ragu. Yang nggak bisa kamu mainin itu cuma satu..." sambung Tari pelan namun tegas. "Hatinya seseorang."" kata Tari

JLEBBBB!!

"WADUH! WADUH! WADUH! TARIIII! APA-APAAN INI?!" Arga langsung berdiri dari kursinya sambil pegang dada, akting seolah-olah dia yang kena tembak.

Pajar dan Raihan langsung heboh parah. Pajar sampai guling-guling di kursi sambil teriak, "AMPUUUN! Kena mental nggak tuh si Pak Wakil! Hahaha! Ndan, denger nggak? Kode nuklir dari Sekretaris lo! Lo disuruh gerak, jangan main gitar doang, mainin perasaan juga dong! Hahaha!"

Raihan nggak mau kalah, dia langsung tepuk tangan ala penonton konser. "Kualitas! Memang Srikandi Literasi kalau ngomong nggak pernah meleset! Ndan, lo mau diem aja atau mau langsung kasih lagu 'Akad'?"

Melihat wajah Ramdan yang makin memerah dan sorakan teman-temannya yang makin liar, Tari buru-buru menetralkan suasana. Tapi bukannya makin tenang, kalimat lanjutannya justru bikin suasana makin "kebakaran".

"Maksud aku..." Tari berdeham, menatap Ramdan sebentar lalu membuang muka karena malu sendiri. "Maksudnya, Ramdan itu tipe orang yang nggak pernah main-main sama hatinya. Kalau dia udah punya satu tujuan, dia bakal serius. Dia nggak bakal mainin perasaan orang cuma buat seru-seruan."

Hening seketika.

Arga yang tadinya mau teriak "Cie" lagi, tiba-tiba cuma bisa mangap. Pajar dan Raihan yang tadinya heboh, sekarang malah jadi ikutan baper denger pengakuan jujur dari Tari.

Ramdan yang tadinya nunduk, perlahan mengangkat kepalanya. Dia menatap Tari dengan tatapan yang sangat dalam tatapan yang isinya cuma ada rasa syukur dan kagum. Kalimat Tari barusan itu kayak pengakuan kalau Tari udah sangat mengenal kepribadian Ramdan yang sebenernya.

Ramdan menatap Tari dengan penuh kelembutan di mata Tari ada permintaan yang tak mungkin untuk dia tolak "Oke Ri, aku siap ' kata Ramdan suaranya terdengar sangat mengikat janji.

Seluruh ruangan kembali riuh, tapi bagi Ramdan dan Tari, suara sorakan teman-temannya seolah menjauh. Hanya ada dua pasang mata yang saling mengunci, menyadari bahwa mulai detik ini, bukan hanya proker doa bersama yang mereka perjuangkan, tapi juga sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tugas organisasi."

Gimana guy kalian pada tim mana nih ? Komentar di bawah ya

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!