NovelToon NovelToon
ISTRI KONTRAK MILIK CEO PSIKOPAT

ISTRI KONTRAK MILIK CEO PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / CEO / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jensoni Ardiansyah

Genre: Dark Romance • CEO • Nikah Paksa • Obsesi • Balas Dendam
Tag: possessive, toxic love, kontrak nikah, rahasia masa lalu, hamil kontrak
“Kamu bukan istriku,” katanya dingin.
“Kamu adalah milikku.”
Nayla terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Alveron — CEO muda yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Awalnya, Nayla mengira kontrak itu hanya demi kepentingan bisnis.
Tiga bulan menjadi istri palsu.
Tiga bulan hidup di rumah mewah.
Tiga bulan berpura-pura mencintai pria yang tidak ia kenal.
Namun semuanya berubah saat Arka mulai menunjukkan sisi yang membuat Nayla ketakutan.
Ia mengontrol.
Ia posesif.
Ia memperlakukan Nayla bukan sebagai istri —
melainkan sebagai miliknya.
Dan saat Nayla mulai jatuh cinta, ia baru menyadari satu hal:
Kontrak itu bukan untuk membebaskannya.
Kontrak itu dibuat agar Nayla tidak bisa kabur.
Karena Arka tidak sedang mencari istri.
Ia sedang mengurung obsesinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jensoni Ardiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan

Pagi datang dengan suara yang tidak biasa.

Bukan burung.

Bukan hujan.

Melainkan dering panjang dari telepon rumah.

Nayla terbangun dengan jantung berdebar. Ia duduk, menatap jam di nakas—05.17. Terlalu pagi untuk panggilan biasa. Ia bangkit, mengenakan cardigan tipis, lalu keluar kamar.

Arka sudah berdiri di lorong, ponsel di tangan. Wajahnya lebih tegang dari biasanya.

“Siapa?” tanya Nayla.

Arka tidak langsung menjawab. Ia mematikan panggilan, lalu menghela napas. “Orang lama.”

Nayla menatapnya. “Orang lama seperti…?”

“Yang tidak seharusnya menghubungiku lagi.”

Kalimat itu menggantung, dingin.

Mereka turun ke ruang keluarga. Arka duduk, mengusap wajahnya, lalu menatap Nayla dengan sorot mata yang berbeda—bukan hanya cemas, tapi waspada.

“Ada sesuatu yang perlu kamu tahu,” katanya pelan. “Tentang kontrak kita.”

Nayla menegakkan punggungnya. “Aku mendengarkan.”

Arka ragu sepersekian detik. “Kontrak itu bukan cuma soal citra. Ada pihak yang dulu membantuku—dan sekarang mereka menagih.”

“Menagih apa?”

“Kesetiaan.”

Nayla menelan ludah. “Maksudnya?”

“Nama. Kehadiran. Peran. Mereka ingin kamu tetap ada di sisiku… di depan publik.”

Nayla merasakan dingin menjalar di punggungnya. “Jadi… aku bukan cuma istri kontrak?”

“Kamu—” Arka berhenti, memilih kata, “—adalah bagian dari perjanjian yang lebih besar.”

Hening memadat.

“Kalau aku pergi?” tanya Nayla.

Arka menatap lantai. “Mereka tidak akan tinggal diam.”

“Seberapa jauh?”

“Cukup jauh untuk membuat hidup orang jadi berantakan.”

Nayla berdiri. Dadanya naik turun, tapi suaranya tegas. “Aku tidak mau jadi alat siapa pun.”

“Aku juga tidak mau,” jawab Arka cepat. “Itu sebabnya aku butuh waktu. Aku sedang mencari jalan keluar.”

“Dan selama itu… aku harus tetap di sini?”

Arka mengangguk kecil. “Untuk sementara.”

Nayla memejamkan mata, menahan emosi. Saat membukanya, ia berkata, “Kalau aku tetap di sini, aku mau tahu semuanya. Tidak ada lagi setengah-setengah.”

Arka mengangkat wajahnya. “Deal.”

Siang itu, Nayla keluar rumah sendirian.

Ia perlu udara, perlu ruang untuk berpikir. Ia berjalan ke minimarket di ujung jalan, membeli air, lalu duduk sebentar di bangku depan.

Seseorang berdiri beberapa meter darinya.

“Lama tak bertemu,” kata suara itu.

Nayla menoleh. Seorang pria berkacamata, rapi, tersenyum tipis—senyum yang terasa terlalu terukur.

“Siapa kamu?” tanya Nayla.

“Teman Arka,” jawabnya ringan. “Katakan saja… aku ingin memastikan kamu baik-baik saja.”

Tatapan pria itu menyapu sekeliling, lalu kembali padanya. “Tetaplah di sisinya. Itu yang terbaik.”

Pria itu melangkah pergi, meninggalkan Nayla dengan perasaan yang tidak enak.

Bukan karena ancaman yang terang-terangan.

Melainkan karena kalimatnya terdengar seperti perintah yang sudah lama disiapkan.

Sore harinya, Nayla kembali ke rumah.

Ia tidak langsung naik. Ia berdiri di ruang tamu, memandang pintu depan—seolah baru menyadari bahwa rumah ini punya batas yang tidak kasatmata.

Arka muncul dari lorong. “Kamu ke mana?”

“Keluar sebentar,” jawab Nayla. “Dan aku bertemu seseorang.”

Wajah Arka mengeras. “Seperti apa orangnya?”

Nayla menyebutkan cirinya.

Arka menghela napas panjang. “Mereka sudah mulai.”

Nayla mengangkat dagunya. “Kalau ini permainan mereka, aku mau tahu aturannya.”

Arka menatapnya lama, lalu mengangguk. “Baik. Kita mulai dari awal—tanpa ditutup-tutupi.”

Dan di antara mereka, sebuah fase baru dimulai:

bukan lagi sekadar kontrak—melainkan pertaruhan.

Arka tidak menunggu lama.

Malam itu juga, ia memanggil seseorang ke rumah.

Bukan staf.

Bukan pengacara biasa.

Seorang pria berambut abu-abu datang dengan jas gelap, membawa tas dokumen hitam. Tatapannya tajam, langkahnya tenang—orang yang terbiasa berada di ruangan tertutup dengan keputusan besar.

Nayla berdiri di belakang Arka ketika pria itu duduk.

“Ini Pak Surya,” kata Arka. “Orang yang dulu mengurus perjanjianku.”

Surya membuka tasnya, mengeluarkan satu map tebal. “Dan juga orang yang tahu batas perjanjian itu.”

Nayla menatap Arka. “Jadi ini sumbernya.”

Surya membuka map. Di dalamnya ada beberapa dokumen lama, tanda tangan Arka masih jelas di sudut bawah.

“Kontrak pernikahan kalian,” ujar Surya, “terkait langsung dengan pendanaan awal perusahaan Arka.”

Nayla menahan napas.

“Artinya,” lanjut Surya, “status istri Anda bukan sekadar formalitas. Itu jaminan stabilitas citra yang disyaratkan investor lama.”

“Kalau aku pergi?” tanya Nayla dingin.

Surya menatapnya. “Mereka menarik dukungan. Dan ada pasal penalti.”

“Berapa?”

“Cukup untuk membuat satu perusahaan besar runtuh.”

Arka mengepalkan tangannya. “Itu sebabnya aku tidak mau kamu terseret.”

Nayla menatap kedua pria itu bergantian. “Tapi aku sudah terseret.”

Surya mengangguk kecil. “Benar.”

Nayla menarik napas panjang. “Apa jalan keluarnya?”

Surya menutup map. “Ada. Tapi berisiko.”

“Apa?”

“Putuskan ketergantungan investor lama—dan cari pendanaan baru.”

Arka mengangguk. “Aku sudah mulai.”

Surya bangkit. “Kalau begitu kalian punya waktu. Tapi tidak banyak.”

Pria itu pergi meninggalkan rumah dengan hening yang terasa lebih berat.

Beberapa jam kemudian, Nayla duduk di kamar Arka.

Ia belum pernah masuk sejauh ini sebelumnya. Ruangan itu rapi, tapi dingin—lebih seperti kantor daripada kamar tidur.

“Kamu sadar,” ucap Nayla, “hidupku sekarang jadi jaminan perusahaanmu.”

Arka berdiri di dekat jendela. “Aku tidak mau kamu jadi itu.”

“Tapi kamu membiarkannya terjadi.”

Arka menunduk. “Karena aku takut kehilangan segalanya.”

Nayla bangkit, berdiri tepat di depannya. “Sekarang kamu akan kehilangan aku juga—kalau kamu tidak jujur sepenuhnya.”

Arka menatapnya. “Apa yang kamu mau?”

“Kebenaran. Semua.”

Arka menghela napas panjang. “Perusahaan ini dibangun dari uang orang-orang yang tidak suka gagal. Mereka tidak suka kehilangan kendali. Dan mereka tidak suka ketika sesuatu yang mereka ‘miliki’ berjalan sendiri.”

Nayla menelan ludah. “Dan aku termasuk yang mereka anggap milik.”

“Ya.”

Hening itu menekan, tapi bukan lagi hening kosong—ini hening sebelum badai.

Nayla menatap Arka lurus. “Kalau aku tetap di sini, itu bukan karena kontrak. Itu karena aku memilih bertarung.”

Arka mengangguk perlahan. “Kalau begitu… kita bertarung.”

Dan untuk pertama kalinya, mereka berdiri di sisi yang sama—bukan karena perjanjian, tapi karena ancaman yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!