Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 SWMU
Dunia di luar Mansion Mahendra terasa asing bagi Nadia. Di dalam bak truk katering yang gelap, ia hanya bisa merasakan guncangan roda yang melibas aspal jalanan pegunungan yang berliku. Setiap kali truk itu berbelok tajam, tubuh Nadia terhempas ke tumpukan kain serbet, namun rasa sakit fisiknya kalah jauh oleh debaran jantungnya yang menggila.
"Satu kilometer lagi... sebentar lagi," bisik Nadia pada dirinya sendiri. Ia mencengkeram erat foto ibunya yang terselip di balik pakaiannya.
Truk mulai melambat. Nadia bisa merasakan getaran mesin yang berbeda saat kendaraan itu memasuki area parkir yang rata. Suara desis rem angin terdengar, lalu keheningan sesaat. Dengan tangan gemetar, Nadia mengintip dari celah pintu belakang truk yang sedikit terbuka. Cahaya lampu neon pom bensin yang berkedip-kedip menyambut matanya.
Ia melompat turun dengan terburu-buru. Kakinya yang hanya beralaskan sandal rumah terasa dingin menyentuh lantai semen yang basah karena embun. Di sudut area parkir, sebuah mobil sedan perak tua sudah menunggu dengan lampu mesin menyala redup.
"Nadia!" Sebuah suara parau memanggil.
Pak Hendra keluar dari mobil, wajahnya tampak sangat tegang. Tanpa membuang waktu, ia menarik Nadia masuk ke dalam mobil. "Cepat! Kita harus pergi sekarang!"
Mobil itu menderu, meninggalkan pom bensin dengan kecepatan tinggi. Nadia menyandarkan kepalanya pada jok mobil, napasnya tersengal-sengal. "Terima kasih, Pak Hendra. Terima kasih banyak."
"Jangan berterima kasih dulu, Nadia. Kita belum aman," sahut Pak Hendra sambil terus melirik kaca spion tengah. "Bramantya Mahendra bukan tipe orang yang membiarkan sesuatu yang ia anggap 'miliknya' hilang begitu saja. Aku sudah menyiapkan rumah aman di pinggiran kota, kita akan—"
Kalimat Pak Hendra terhenti. Matanya membelalak menatap spion. Di belakang mereka, sekitar lima ratus meter jauhnya, dua pasang lampu depan yang sangat terang muncul dari kegelapan hutan. Cahayanya stabil dan melaju sangat cepat, memotong jarak dengan presisi yang menakutkan.
"Sial," umpat Pak Hendra. Ia menginjak gas lebih dalam. "Mereka sudah di belakang kita."
Nadia menoleh ke belakang. Dua mobil SUV hitam besar tampak seperti pemangsa yang sedang mengejar mangsanya. "Bagaimana mereka tahu? Aku sudah sangat berhati-hati!"
"Dia punya mata di mana-mana, Nadia! Mungkin dia sudah tahu sejak kau menginjakkan kaki di luar pintu kamar!"
Aksi pengejaran di tengah malam itu pun dimulai. Jalanan pegunungan yang sepi dan minim penerangan menjadi sirkuit maut. Pak Hendra mencoba meliuk-liuk di antara tikungan tajam, namun SUV-SUV itu tetap menempel seperti bayangan. Mereka tidak mencoba menabrak, mereka hanya menguntit, seolah sedang memainkan permainan psikologis untuk menguras nyali korbannya.
Tiba-tiba, salah satu SUV itu memacu kecepatannya dan berada sejajar dengan mobil mereka. Kaca jendela SUV yang gelap itu turun perlahan, namun tidak ada senjata yang keluar. Hanya ada sebuah sorot lampu kecil yang diarahkan tepat ke arah Nadia.
Titt... Titt... Titt...
Tiba-tiba, sebuah suara elektronik kecil terdengar dari arah leher Nadia.
Nadia tersentak. Ia meraba lehernya, tepat pada liontin gembok pemberian Bramantya. Suara itu berasal dari sana. Ada lampu merah kecil yang berkedip di balik ukiran emasnya.
"Gembok ini..." bisik Nadia dengan wajah pucat pasi. "Ini bukan sekadar perhiasan. Ini pelacak."
"Lepaskan, Nadia! Buang sekarang juga!" teriak Pak Hendra sambil berusaha mempertahankan kendali mobil di tikungan tajam.
Nadia mencoba menarik rantai kalung itu dengan paksa. Namun, rantai itu terbuat dari baja putih yang sangat kuat. Ia mencoba membuka kuncinya, namun seperti yang dikatakan Bramantya: hanya pemegang kuncinya yang bisa membukanya. Kalung itu melingkar erat, hampir mencekik napasnya saat ia mencoba menariknya dengan panik.
"Tidak bisa, Pak! Ini terkunci!"
Tiba-tiba, SUV di samping mereka membanting setir ke arah kanan, menyenggol badan mobil sedan Pak Hendra. BRAK! Suara logam yang beradu memekakkan telinga. Mobil mereka oleng. Pak Hendra berusaha keras menyeimbangkan kemudi, namun SUV kedua kini menekan dari arah belakang.
"Nadia, dengarkan aku!" Pak Hendra berteriak di tengah deru angin dan mesin. "Di depan ada persimpangan menuju hutan jati. Aku akan mencoba menghambat mereka di sana. Begitu aku mengerem mendadak, kau melompat keluar dan lari ke dalam hutan. Jangan menoleh! Cari kantor polisi di ujung jalan raya!"
"Tidak, Pak! Aku tidak bisa meninggalkanmu!"
"Ini satu-satunya cara! Dia menginginkanmu, bukan aku!"
Persimpangan itu muncul di depan mata. Pak Hendra menarik rem tangan dengan tiba-tiba, membuat mobil mereka berputar 180 derajat di tengah jalan, menciptakan kepulan asap ban yang tebal sebagai tirai penghalang.
"SEKARANG!"
Nadia membuka pintu dan berguling keluar ke semak-semak tepat saat mobil sedan itu kembali melaju untuk memancing SUV tersebut menjauh. Nadia tidak menunggu lama. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia berlari masuk ke kedalaman hutan jati yang gelap. Ranting-ranting pohon menggores lengannya, dan kakinya yang tanpa alas kaki mulai berdarah terkena batu tajam, namun ia tidak berhenti.
Ia terus berlari hingga paru-parunya terasa seperti terbakar. Suara mobil di kejauhan mulai memudar, digantikan oleh suara napasnya sendiri dan derik jangkrik. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Drttt... Drttt...
Ponsel Bi Inah yang ia bawa di saku gaunnya bergetar. Nadia berhenti di balik sebuah pohon besar, mencoba mengatur napasnya. Ada sebuah panggilan masuk. Nomor pribadi.
Dengan tangan gemetar, Nadia menjawabnya.
"Halo...?"
"Lari yang sangat mengesankan, Nadia."
Suara itu. Suara Bramantya. Begitu tenang, begitu dingin, seolah ia sedang duduk di perpustakaannya sambil menyesap kopi, bukan sedang memburu manusia di tengah hutan.
"Berhenti mengejarku, Bram! Aku tidak akan pernah kembali!" teriak Nadia, tangisnya pecah di tengah kegelapan hutan.
"Kau tahu, Nadia... kau terlihat sangat cantik di monitor GPS-ku. Titik merahmu berkedip begitu cepat, menunjukkan betapa takutnya jantungmu saat ini," bisik Bramantya. "Tapi tahukah kau? Pak Hendra tidak akan membawamu ke mana-mana. Orang-orangku sudah menghentikannya dua menit yang lalu."
Nadia membeku. "Apa yang kau lakukan padanya?!"
"Dia hanya akan 'beristirahat' sebentar. Tapi kau... kau membuatku harus turun tangan sendiri, kecilku. Aku paling tidak suka jika permainanku diatur oleh orang luar."
Tiba-tiba, dari arah belakangnya, cahaya lampu senter yang sangat kuat menembus pepohonan. Langkah kaki yang mantap terdengar menginjak dedaunan kering. Krek... Krek... Krek...
Nadia menjatuhkan ponselnya dan kembali berlari. Namun kali ini, ia merasa arah larinya buntu. Ia sampai di tepi sebuah tebing kecil yang di bawahnya terdapat aliran sungai yang deras. Ia menoleh ke belakang, dan di sana, berdiri sosok tinggi tegap yang sangat ia kenal.
Bramantya Mahendra berdiri sendirian. Tidak ada anak buah, tidak ada senjata. Ia hanya berdiri dengan tangan di saku celananya, menatap Nadia dengan tatapan yang penuh kemenangan sekaligus obsesi yang mengerikan.
"Cukup, Nadia. Permainan selesai," ucap Bramantya. "Kembalilah padaku sekarang, dan aku akan memaafkan semua kekacauan malam ini."
"Lebih baik aku mati daripada kembali ke penjara itu!" Nadia melangkah mundur ke tepi tebing.
Bramantya tidak panik. Ia justru tersenyum tipis. "Kau tidak akan melompat. Karena kau tahu, jika kau mati, aku akan memastikan tidak ada satu pun jejak tentang orang tuamu yang tersisa di dunia ini. Makam mereka akan kuratakan, foto-foto ibumu akan kubakar. Kau ingin mereka diingat, bukan?"
Nadia tertegun. Kekejaman Bramantya tidak mengenal batas. Pria ini tahu persis di mana titik terlemahnya.
Bramantya berjalan mendekat secara perlahan. "Kemarilah, Nadia. Berikan tanganmu. Pakailah kembali aromaku di kulitmu, dan lupakan semua kegilaan di luar sini. Dunia ini jahat, Nadia. Hanya aku yang benar-benar mencintaimu."
Nadia menatap aliran sungai di bawahnya, lalu menatap tangan Bramantya yang terjulur. Ia merasa terjepit di antara kematian dan perbudakan seumur hidup. Di tengah kegelapan hutan jati itu, Nadia menyadari bahwa gerbang mansion bukanlah satu-satunya penjara. Seluruh dunia ini bisa menjadi penjara jika Bramantya Mahendra adalah sipirnya.
Dengan air mata yang mengalir deras, Nadia perlahan-lahan mengulurkan tangannya. Saat jemari Bramantya menyentuh kulitnya, ia merasakan sebuah tarikan yang kuat dan posesif. Bramantya menariknya ke dalam pelukan yang menyesakkan, membenamkan wajahnya di leher Nadia, menghirup aroma ketakutan gadis itu seolah-olah itu adalah parfum yang paling memabukkan.
"Selamat datang kembali di rumah, Nadia," bisik Bramantya tepat di telinganya. "Jangan pernah mencoba pergi lagi... atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa berjalan lagi keluar dari kamarmu."
Nadia memejamkan mata, membiarkan dirinya dibawa kembali menuju mobil yang sudah menunggu.