Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Sisa Kehangatan di Balik Kabut
Sinar matahari pagi yang dingin namun cerah memantul dari salju Alpen, masuk melalui celah-celah tirai Villa de Nebbia yang sedikit terbuka. Kayra mengerjap perlahan, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang masih tertinggal dalam mimpi indah semalam.
Namun, saat ia mencoba menggerakkan kakinya di balik selimut sutra, sebuah rasa nyeri yang tajam menyerang tubuh bagian bawahnya. Kayra mengernyit, menggigit bibir bawahnya untuk menahan rintihan.
Tubuhnya terasa pegal, sebuah pengingat nyata bahwa semua yang terjadi semalam, sentuhan Harry, bisikan cintanya, dan penyatuan jiwa mereka, bukanlah sekadar bunga tidur. Ia memalingkan wajah ke samping, berharap menemukan sosok pria itu di sana, namun sisi ranjang itu sudah kosong. Hanya tersisa bekas lekukan tubuh dan aroma kayu cendana yang masih melekat kuat di bantal.
Rasa kehilangan sesaat menyergap hatinya, sampai kemudian ia mendengar suara gemericik air yang teratur dari balik pintu kaca buram di sudut ruangan. Kayra menghela napas panjang, sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya. Harry sedang mandi.
Ia mencoba bangkit, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sambil memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Namun, tepat saat ia baru saja duduk tegak, suara air dari kamar mandi mendadak berhenti.
Keheningan yang tiba-tiba itu membuat jantung Kayra berdegup kencang. Dalam kepanikan kecil yang lucu, ia segera menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas bantal dan menarik selimut hingga ke dagu, berpura-pura masih terlelap dalam tidur yang dalam.
Pintu kamar mandi terbuka. Suara langkah kaki Harry yang ringan namun mantap terdengar mendekat di atas lantai kayu yang dipoles.
Kayra berusaha mengatur napasnya agar tampak teratur, matanya terpejam rapat, namun indranya tetap waspada. Ia bisa merasakan kehadiran Harry yang mendominasi ruangan.
Harry tahu. Pria dengan insting tajam seperti dia tidak mungkin bisa dibohongi dengan akting sederhana. Ia berdiri di tepi ranjang selama beberapa detik, hanya menatap Kayra dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh kelembutan yang dalam.
Harry hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggulnya, membiarkan dadanya yang bidang dan perutnya yang berotot masih basah oleh sisa air mandi. Luka jahitan di perutnya tampak bersih, sebuah bukti bahwa ketakutan Kayra semalam tentang jahitan yang terbuka tidak terjadi.
Harry duduk perlahan di tepi ranjang, membuat kasur itu sedikit miring karena beban tubuhnya. Ia mengulurkan tangan, memberikan usapan lembut di pipi Kayra dengan punggung jarinya.
"Tidurlah jika kau masih mengantuk, Sayang," bisik Harry, suaranya terdengar sangat rendah dan merdu di pagi yang sunyi ini. "Aku akan meminta pelayan untuk membawakan sarapanmu ke sini agar kau tidak perlu turun."
Mendengar kata 'pelayan' dan 'sarapan di kamar', mata Kayra seketika terbuka lebar. Jika pelayan atau anak buah Harry membawakan sarapan ke kamar utama, itu adalah pengumuman tak resmi kepada seluruh penghuni vila bahwa sang pemimpin dan dokternya telah melewati batas profesional mereka semalam.
"Jangan!" seru Kayra cepat, wajahnya memerah sempurna. "Maksudku ... tidak perlu. Aku bisa turun sendiri. Aku ... aku tidak ingin merepotkan."
Kayra berusaha untuk segera bangun dan turun dari ranjang, namun baru saja ia hendak mengayunkan kakinya, rasa nyeri yang hebat kembali menghujam bagian kewanitaannya. Ia tersentak, wajahnya meringis menahan sakit, dan tubuhnya kembali limbung.
"Kayra!"
Harry dengan sigap menangkap bahu wanita itu, mencegahnya jatuh. Wajah Harry yang tadi penuh godaan kini seketika berubah menjadi sangat khawatir. Mata obsidiannya memindai setiap ekspresi Kayra dengan cemas.
"Ada apa? Di mana yang sakit? Apakah kau terluka? Atau ... karena semalam?"
Tangan Harry yang hangat memeriksa suhu dahi Kayra, lalu beralih ke pinggangnya. "Maafkan aku, aku pasti terlalu kasar semalam. Aku seharusnya lebih berhati-hati mengingat ini pertama kalinya bagimu. Biarkan aku memeriksanya, Kayra."
"Harry, tidak! Aku baik-baik saja, sungguh!" Kayra menepis tangan Harry dengan malu, mencoba menutupi tubuhnya lebih rapat lagi dengan selimut. "Ini hanya ... efek normal secara fisiologis. Aku seorang dokter, Harry, aku tahu ini akan terjadi. Hanya butuh waktu sedikit lagi untuk menyesuaikan diri."
Harry tidak tampak puas dengan jawaban itu. Ia tetap duduk di sana, menatap Kayra dengan sorot mata yang penuh rasa bersalah namun juga protektif.
"Fisiologis atau bukan, aku tidak suka melihatmu kesakitan karena perbuatanku. Kau terlihat sangat pucat."
Harry menarik napas panjang, lalu ia meraih tangan Kayra dan mengecup telapak tangannya dengan sangat lembut. "Kau tetap di sini. Aku tidak akan membiarkanmu turun dengan kondisi seperti ini. Tentang pelayan ... aku akan meminta Enzo yang mengantarnya. Dia tahu cara menjaga rahasia, dan dia tidak akan berani menatapmu dengan cara yang salah."
"Harry, tetap saja—"
"Ssshhh," Harry meletakkan telunjuknya di bibir Kayra, menghentikan protes wanita itu. "Mulai sekarang, jangan pernah menutupi rasa sakitmu dariku, bahkan jika itu rasa sakit yang disebabkan olehku. Aku ingin menjadi tempatmu mengadu, bukan alasanmu untuk berpura-pura kuat."
Kayra tertegun. Ia menatap wajah Harry yang kini tampak begitu tulus. Pria ini, yang biasanya memerintah ribuan orang dengan tangan besi, kini tampak begitu tunduk di hadapan satu wanita yang baru saja ia miliki seutuhnya. Rasa nyeri di tubuhnya seolah memudar, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di hatinya.
"Baiklah," gumam Kayra akhirnya. "Tapi kau harus berjanji, jangan menatapku seperti aku sedang menderita penyakit kronis. Ini hanya pegal-pegal biasa."
Harry tertawa kecil, suara tawanya yang renyah memenuhi kamar itu. Ia menarik Kayra ke dalam pelukannya, membiarkan kepala wanita itu bersandar di dadanya yang masih sedikit lembap.
"Aku berjanji, Dokter. Tapi sebagai gantinya, kau harus menghabiskan seluruh sarapanmu nanti. Kau butuh energi untuk perjalanan kita ke laboratorium Ardeane besok."
Kayra mengangguk di dalam pelukan Harry, merasakan detak jantung pria itu yang tenang dan kuat. Di balik kabut Alpen yang menyelimuti vila mereka, sebuah ikatan baru telah terbentuk, bukan lagi sekadar aliansi rahasia, melainkan sebuah komitmen yang telah disegel oleh malam yang panjang.
Namun, di tengah ketenangan itu, suara ketukan di pintu terdengar. Suara Enzo menyahut dari luar, suaranya terdengar mendesak.
"Tuan Harry, maaf mengganggu. Ada laporan dari perimeter luar. Sinyal yang dikirim semalam ... sepertinya Luca sudah mengirimkan unit pelacak pertama mereka. Mereka berada di lereng bawah, sekitar dua kilometer dari sini."
Seketika, suasana romantis itu menguap. Harry melepaskan pelukannya, matanya kembali menajam secepat kilat. Ia menatap Kayra, memberikan satu kecupan di keningnya sebelum beranjak bangun untuk memakai pakaiannya.
"Gunakan waktumu untuk makan, Kayra," ujar Harry sambil menarik celana taktisnya. "Badai yang sebenarnya sudah sampai di gerbang kita. Tapi ingat janjiku di helikopter semalam, tidak ada satu pun dari mereka yang akan menyentuhmu."
Kayra menatap Harry yang kini kembali ke mode 'predator'. Ia tahu, waktu mereka untuk bersembunyi telah habis. Tapi kali ini, ia tidak merasa takut. Dengan serum Genesis di tangannya dan Harry Marcello di sisinya, ia siap menghadapi apa pun yang dikirim oleh Luca.
"Harry?" panggil Kayra saat pria itu hendak keluar pintu.
Harry menoleh.
"Hati-hati. Dan ... jangan sampai jahitanku terbuka," ujar Kayra dengan senyum kecil yang penuh makna.
Harry menyeringai tipis, sebuah seringai yang penuh dengan kepercayaan diri yang mematikan. "Aku akan menjaganya untukmu, Dokter."