Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Baikan
Rapat dengan klien dari perusahaan Golden Group di hotel Luxury berjalan lancar. Pertemuan tersebut memakan waktu kurang lebih enam jam, termasuk jeda makan siang. Dave memutuskan untuk segera pulang karena tak sabar ingin memberikan bunga yang tadi ia beli sebelum layu. Ia pun menyuruh Bimbim untuk menjemput serta mengantar Nick dan Lea pulang.
Sebelum sampai di rumah, Dave menyempatkan diri mampir ke sebuah toko cokelat. Saat makan siang tadi, ia sempat bertanya pada Lea tentang hal-hal yang biasanya disukai wanita. Dave sama sekali tidak menyadari bahwa perempuan yang kini menjabat sebagai sekretarisnya itu adalah sahabat dari istrinya sendiri.
Lea pun memilih untuk tidak mengungkapkan fakta tersebut. Ia ingin tetap bersikap profesional dan menjaga batas antara urusan pribadi dan pekerjaan.
"Oke, semoga saran dari Lea berhasil". Ucapnya. Dave menarik napas panjang lalu segera keluar dari dalam mobil. Saat hendak akan masuk ponsel nya berdering ia melihat nama Bianca pada layar ponselnya.
"Hallo"
[Sayang, kau kemana saja sih?] omelnya. Sejak pagi hingga sore tadi Dave belum sempat membalas pesan nya
"Maaf, aku sedang sibuk rapat dengan klien tadi.
[Oh ku pikir kau melupakanku] ucapnya dengan sedikit manja
"Tidak mungkin aku lupa pada mu,sayang. Oh iya aku sedang menyetir dalam perjalanan pulang. Nanti jika sempat aku kabari lagi ya".
Panggilan itu terputus secara sepihak, membuat Bianca menggerutu sendirian di dalam apartemennya.
“Sialan! Dave sudah mulai berani mengabaikan ku,” gerutunya kesal.
Sementara itu, Dave berdiri di depan rak cokelat dengan berbagai varian dan rasa. Pandangannya menyapu satu per satu kemasan yang berjejer rapi. Ia mengernyit bingung, karena di matanya semua cokelat itu tampak sama, hanya berbeda bungkus.
Daripada terus bingung dan menghabiskan waktu berlama-lama di dalam toko, Dave akhirnya memasukkan semua jenis rasa dan varian cokelat ke dalam keranjang yang ia ambil sejak masuk. Aksinya itu langsung membuat beberapa pembeli lain yang tengah mengantre di kasir tercengang.
“Wah, cokelatnya banyak sekali. Apa untuk dijual lagi?” tanya seorang wanita di sebelah Dave dengan nada heran.
Dave tersenyum tipis. “Tidak. Aku membelinya untuk istriku,” terangnya singkat.
“Wah, dia pasti wanita yang sangat beruntung,” ujar wanita itu sambil melangkah maju untuk membayar belanjaannya.
Dave hanya terdiam. Meski tak berkata apa-apa, ia bisa merasakan beberapa pasang mata masih tertuju pada keranjang belanjaannya yang penuh.
Selesai membayar semua cokelatnya, Dave segera keluar dari toko dan melangkah cepat menuju mobilnya. Ia tak sabar membayangkan reaksi Elia saat melihatnya pulang membawa begitu banyak cokelat dan bunga.
Elia sendiri sedang berada di kamarnya, sibuk mengerjakan campaign seperti biasa. Ia mendengar jelas suara mobil Dave yang memasuki halaman rumah. Namun, Elia berusaha bersikap biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa.
“Elia,” panggil Dave dari balik pintu kamar.
Sebenarnya, Elia masih marah dan malas meladeni Dave. Namun, tinggal di bawah satu atap tanpa saling menyapa terasa tidak pantas.
Ia bangkit dari duduknya, melangkah ke arah pintu, lalu membukanya sedikit. Dengan tatapan datar dan malas, Elia mendapati Dave berdiri di hadapannya sambil memegang sepuluh bunga mawar dan sebuah tas berisi cokelat.
“Ini untukmu,” ucap Dave seraya menyerahkan bunga dan cokelat itu bersamaan.
“Untukku?” Elia mengernyit, jelas tak percaya Dave membelikannya sesuatu.
“Iya, untukmu,” jawab Dave singkat.
Elia melangkah mendekat dan mengambil bunga mawar itu lebih dulu.
“Cokelatnya?” tanya Dave heran
.
“Tanganku tidak cukup. Tunggu sebentar, aku simpan bunganya dulu,” sahut Elia.
Ia berjalan ke arah vas bunga di sudut kamar, menyingkirkan bunga plastik, lalu menggantinya dengan bunga mawar asli.
Elia menoleh kembali ke arah Dave. “Kau membeli cokelat sebanyak ini. Apa kau sedang mencoba bisnis baru?” tanya nya.
“Tidak. Aku membelikannya untukmu,” ujar Dave mantap.
“Elia, maafkan aku.”
Elia menaruh cokelat-cokelat itu di atas meja makan terlebih dahulu. Dave membuntutinya dari belakang, memperhatikan setiap geraknya.
“Bagaimana? Kau suka, kan?” tanya Dave, sedikit ragu.
Elia tersenyum sambil mengangguk. “Aku suka. Terima kasih, ya. Aku juga minta maaf. Mungkin karena aku sedang datang bulan, jadi perasaanku sedikit lebih sensitif,” ucapnya jujur.
Mendengar itu, hati Dave terasa jauh lebih ringan. Tanpa berpikir panjang, ia meraih Elia dan memeluknya dengan erat.
Tidak perlu ditanya bagaimana keadaan jantung Elia saat ini. Detaknya sudah pasti berpacu kencang, kedua matanya membulat karena terkejut sekaligus gugup.
“Meh! Sudah berbaikan rupanya,” goda Lisa yang tiba-tiba muncul dari belakang. Spontan Elia melepaskan pelukan itu.
“Lisa!” seru Elia, wajahnya merona sekaligus tampak gugup.
“Kau ini! Aku menelepon mu tidak diangkat-angkat!” omel Dave sambil berkacak pinggang, menatap Lisa dengan tajam.
“Hihi, maaf, Tuan. Aku hanya mengikuti perintah Nyonya saja,” jawab Lisa sambil menyengir tanpa rasa bersalah.
“Ya sudah, pasang kembali kabelnya. Berbahaya kalau CCTV mati,” ujar Dave akhirnya.
“Sudah sejak tadi sore dinyalakan, Tuan,” sahut Lisa santai kemudian berlalu dari hadapan keduanya.
Elia dan Dave kini saling berhadapan, seolah baru pertama kali saling mengenal. Ada rasa canggung sekaligus malu yang mengendap di antara mereka.
“Terima kasih sudah memaafkan ku, Elia,” ucap Dave, menyelipkan senyum tipis yang tulus.
Elia membalasnya dengan senyum kecil. “Terima kasih juga untuk cokelat dan bunganya". Karena suasana sudah kembali membaik, Elia pun bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Cokelat yang tadi dibelikan Dave ia simpan terlebih dahulu ke dalam lemari pendingin agar tidak meleleh.
Karena merasa diabaikan oleh Dave, Bianca memutuskan untuk menenangkan pikiran nya. Ia pergi sendiri mengunjungi Bar yang tak jauh dari tempat nya.
"Aku mau satu gelas Long Island" pinta nya pada seorang bartender.
"Baik, Nona".
Sambil menunggu pesanannya dibuat, Bianca memainkan ponselnya tanpa memedulikan sekitar. Ia sama sekali tak menyadari bahwa sejak tadi ada seorang pria di seberang kursi yang terus memperhatikannya. Penampilan Bianca yang sedikit terbuka seakan menjadi undangan tak terucap, mendorong pria itu untuk mendekat.
“Selamat malam, Nona,” sapa pria itu, berusaha terdengar ramah.
Bianca hanya meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada ponselnya. Ia sedang mengabari Clara agar menemaninya malam ini.
“Boleh ku temani?” Pria itu belum juga menyerah.
Bianca memasukkan ponselnya ke dalam tas lebih dulu. “Boleh, tapi dengan satu syarat.”
“Katakan, Nona.”
Bianca mengamati pria di depannya. Ia harus mengakui, pria itu tampan hampir sebanding dengan Dave. Pakaian yang dikenakannya, dari ujung kaki hingga kepala, tampak bermerek. Meski begitu, Bianca tak benar-benar tahu apakah barang-barang itu asli atau hanya imitasi.
“Kau harus membayar minuman yang ku pesan,” ucap Bianca sambil menatap pria itu dengan lekat.
Pria tersebut tertawa kecil. “Itu urusan gampang, Sayang. Bahkan aku bisa membeli bar ini jika kau mau,” katanya santai seraya mengeluarkan sebuah black card. Jenis yang sama seperti yang pernah diberikan Dave padanya.
Bianca hendak mengambil kartu tersebut namun pria itu menarik nya kembali. "Kau bisa mendapatkan kartu hitam ini, jika kau mau menemaniku malam ini" bisiknya sambil tertawa penuh arti.
Bianca terdiam sejenak "Jika bisa dua kenapa harus satu" gumam nya dalam hati.
"Baiklah, aku akan menemanimu malam ini".
Pria itu mengulurkan tangan nya "Nama ku Alex"
“Bianca,” ucapnya sambil mengulurkan tangan. Alex meraih dan mencium punggung tangan mulus dengan jari-jari lentik itu.
Segelas Long Island pun telah siap. Alex dan Bianca berpindah ke sofa demi kenyamanan.
Di meja makan lain, hanya terdengar dentingan garpu dan sendok. Dave makan dengan lahap, seolah tak memberi jeda untuk bernapas.
Elia hanya diam memperhatikan suaminya. Meski hatinya masih dipenuhi tanda tanya tentang brosur dan aroma parfum itu, ia memilih menyingkirkannya. Elia tak ingin merusak momen indah yang tengah mereka jalani.
“Dave,” ucap Elia, membuka percakapan yang sempat terdiam.
“Ya?”
“Kak Angel mengajak kita pergi ke Maldives lusa. Apa kau mau ikut?” tanya Elia dengan hati-hati.
Dave meneguk air minumnya hingga tersisa setengah. “Keputusannya ada di tanganmu.”
Elia mengerutkan kening. “Maksudmu?”
“Jika kau setuju, aku pun setuju.”
Rasanya seperti mimpi. Elia sampai menepuk-nepuk pipinya sendiri, membuat Dave heran “Kau kenapa, Elia?”
“Ini bukan mimpi, kan?”
Dave berdecak pelan, disertai senyum tipis. “Tentu saja tidak. Jika kau mau ikut, aku akan memesan tiketnya malam ini juga.”
Elia mengangguk cepat. “Ya, tentu saja aku mau.”
“Baiklah. Kalau begitu, aku pesan tiket untuk keberangkatan besok.”
“Eh, sebentar. Tapi sebaiknya kita beri kabar dulu pada Kak Angel,” saran Elia.
“Kau benar.”
Dave mencari nama kontak Angel. Begitu menemukannya, ia langsung menelepon. Panggilan tersambung, namun belum segera dijawab.
Di sisi lain, suara telepon terdengar samar karena Angel sedang mengeringkan rambutnya. Suara alat pengering menyamarkan nada dering, tetapi Angel sempat melirik ponselnya dan menghentikan aktivitasnya sejenak.
“Halo?”
[Halo, lama sekali kau mengangkat telepon dariku.]
“Aku sedang mengeringkan rambut, mana terdengar.”
[Besok kau jadi pergi ke Maldives?]
“Tentu. Kenapa? Jangan bilang kalau kau tidak mau ikut.”
[Aku ikut. Elia sudah setuju.]
Angel tertawa penuh kemenangan. “Yes! Akhirnya kalian mau juga ikut dengan kami. Oke, kalau begitu pesan tiket malam ini untuk penerbangan besok malam.”
[Baik.]
Angel juga mengirimkan gambar tiket pesawatnya melalui pesan singkat. Dave hanya membalas dengan ikon jempol. Ia lalu mencari tiket untuk penerbangan besok malam, memilih maskapai yang sama dengan Angel.
“Sepertinya memang rezeki kita. Tiketnya masih tersedia, dan kursinya tepat di belakang Angel,” ucap Dave. Ia pun memilih kelas first class, sama seperti kakaknya.
Meski penerbangan mereka baru dilakukan besok malam, tak ada salahnya beristirahat lebih awal. Setelah makan malam, keduanya masuk ke kamar masing-masing. Ya, meski mereka telah berbaikan dan sempat berbagi momen romantis, bukan berarti mereka melupakan janji pernikahan yang pernah dibuat.
Di kamarnya, Elia tersenyum sendiri sambil menatap bunga yang ia simpan rapi di dalam vas berisi air. Ia mendekat, memastikan kelopaknya tetap segar.
“Harus tetap cantik, ya,” gumamnya pelan. “Seperti perasaanku pada Dave.”
Elia terkekeh kecil, merasa sedikit malu pada dirinya sendiri. Namun senyum itu tak juga pudar, justru terasa hangat, menemani malam yang tenang.
Jika Elia merasa bahagia dengan 10 tangkai mawar, lain halnya dengan Dave. Ia mencoba menghubungi kekasihnya, namun tak kunjung mendapat jawaban.
“Sial! Ke mana kau, Bianca?” gumamnya kesal, sendirian di dalam kamar.
Saat membelikan ponsel baru itu, Dave sama sekali tak terpikir untuk memasang pelacak. Kini, keputusan cerobohnya justru membuatnya kesulitan sendiri.
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
semoga berbeda ini cerita