Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batam — Perburuan yang Berubah Arah
Armand tidak langsung meninggalkan area pelabuhan.
Ia tahu satu kesalahan paling fatal adalah bergerak terlalu cepat setelah lolos dari pengepungan. Orang-orang itu pasti masih menyisir radius terdekat, berharap ia panik dan muncul di tempat yang mudah ditebak.
Armand memilih sebaliknya.
Ia berjalan tenang, menurunkan bahu, menyatu dengan ritme para pekerja pagi. Jaketnya ia balik, topinya ia ganti. Dalam hitungan menit, wajahnya bukan lagi target—melainkan satu dari ratusan orang yang tidak menarik perhatian.
Di sudut pelabuhan, ia masuk ke sebuah warung kecil yang baru buka. Asap kopi hitam bercampur bau solar dari laut.
Ia duduk membelakangi pintu.
Kebiasaan lama.
Tangannya merogoh saku dalam, mengeluarkan ponsel kedua jalur yang hanya ia gunakan jika keadaan benar-benar genting. Layarnya kosong. Tidak ada sinyal masuk.
Bagus.
Ia menutup mata sesaat. Potongan ingatan muncul cepat:
ruang gelap,
meja panjang,
suara-suara yang dulu memanggilnya Ketua.
Perisai Malam.
Organisasi yang ia bangun untuk menyeimbangkan kekacauan—bukan menciptakannya. Tapi seperti semua kekuasaan, niat baik perlahan dilahap oleh orang-orang yang lebih lapar.
Dan kini, sisa-sisa mereka memburunya.
“Pak, kopinya,” ucap pemilik warung.
Armand mengangguk singkat.
“Terima kasih.”
Ia menyesap pelan, menenangkan napasnya. Lalu, tanpa menoleh, ia berkata lirih,
“Kamu terlalu keras melangkah.”
Seseorang berhenti di belakangnya.
Diam.
Beberapa detik berlalu sebelum suara itu menjawab,
“Kamu masih setajam dulu.”
Armand tersenyum tipis.
“Dan kamu masih ceroboh.”
Ia berdiri perlahan, baru menoleh.
Pria itu—usia akhir empat puluhan, jaket lusuh, wajah yang ia kenal betul. Bukan musuh langsung. Bukan juga kawan. Lebih tepatnya… sisa masa lalu.
“Kalian membocorkan lokasiku,” kata Armand datar.
“Kenapa?”
Pria itu menghela napas.
“Bukan aku. Tapi namamu muncul lagi. Dan ketika namamu muncul, semua orang panik.”
“Karena mereka takut,” balas Armand.
“Takut pada apa yang mereka lakukan sendiri.”
Pria itu menunduk.
“Mereka mau kamu ditangkap. Atau dihilangkan. Katanya… kamu ancaman.”
Armand terkekeh pelan.
“Lucu. Mereka yang menciptakan kekacauan, lalu menyebutku ancaman.”
Ia melangkah mendekat, suaranya merendah.
“Dengar baik-baik. Aku tidak akan tinggal diam. Dan siapa pun yang menyentuh keluargaku—”
Ia berhenti sejenak.
“tidak akan punya tempat bersembunyi.”
Pria itu menelan ludah.
“Termasuk… istrimu?”
Untuk sepersekian detik, udara berubah berat.
Tatapan Armand mengeras.
“Kau sudah melampaui batas.”
Pria itu buru-buru menggeleng.
“Aku hanya menyampaikan peringatan. Ada pihak lain yang mulai bergerak. Bukan cuma dari Batam.”
Jakarta.
Bandung.
Medan.
Nama-nama kota itu langsung terhubung di kepala Armand.
Elisabet.
Anak-anaknya.
Ia berbalik, meninggalkan uang di meja.
“Terima kasih atas kopinya.”
Saat melangkah pergi, ia berkata tanpa menoleh,
“Sampaikan pada mereka: aku masih hidup. Dan aku ingat semuanya.”
Di luar, angin laut berhembus lebih kencang.
Armand berjalan menjauh, menyatu kembali dengan keramaian. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.
Ia tidak bisa menghubungi Elisabet. Belum.
Satu panggilan saja bisa membuka lokasi.
Satu kesalahan saja bisa menyeret mereka semua.
Namun di dalam dadanya, satu tekad sudah terbentuk jelas:
Jika Perisai Malam benar-benar dibangunkan kembali
maka kali ini, ia akan memastikan organisasi itu tidak lagi jatuh ke tangan yang salah.
Di kota lain, api telah menyala.
Di Batam, bayangan bergerak.
Dan tanpa mereka sadari,
dua garis takdir—Elisabet dan Armand—sedang melaju di jalur berbeda,
menuju satu titik pertemuan yang sama.
Satu kebenaran.
Satu perang.
Batam — Garis yang Semakin Menyempit
Malam turun sepenuhnya ketika Armand mencapai kawasan lama di pinggir kota. Bangunan-bangunan di sana berdiri setengah hidup—gudang tua, kantor kosong, dan rumah-rumah yang lampunya jarang menyala. Tempat seperti ini selalu menjadi simpul pertemuan yang aman… atau jebakan yang sempurna.
Armand memilih sebuah bangunan dua lantai yang tampak tak terurus. Ia masuk lewat pintu samping, menaiki tangga berderit, lalu berhenti di lantai atas. Dari jendela kecil, ia bisa melihat jalan di bawah—dua mobil melintas pelan, terlalu pelan untuk orang yang sekadar lewat.
“Mereka mulai mengurung,” gumamnya.
Ia membuka ransel kecil, mengeluarkan peta kertas—cara lama, tapi tak bisa dilacak. Beberapa titik sudah ia tandai. Jalur keluar. Jalur air. Tempat berlindung sementara. Semua dihitung.
Ponsel keduanya bergetar singkat.
Satu pesan masuk.
Tanpa nama.
“STATUS BERUBAH. DORMANT TIDAK LAGI AMAN.”
Armand menutup mata. Jadi benar. Elisabet sudah membuka apa yang seharusnya tetap terkunci—bukan karena ceroboh, tapi karena terpaksa.
“Maafkan aku, Elisabet,” bisiknya pelan.
“Seharusnya kita tidak pernah kembali ke situasi ini.”
Di bawah, suara mesin berhenti. Pintu mobil dibuka. Langkah kaki terdengar—lebih dari satu.
Armand memasukkan ponsel ke saku, mengencangkan jaketnya. Ia tidak menunggu mereka naik. Ia memilih bergerak lebih dulu.
Tangga darurat di belakang bangunan menjadi jalannya. Ia melompat turun ke gang sempit, berlari rendah, menyatu dengan gelap. Satu tembakan meletus—peluru menghantam tembok di dekat kepalanya.
Baku tembak kembali pecah.
Armand berlindung di balik kontainer, membalas satu kali—cukup untuk memberi jarak. Ia tidak berniat menang malam ini. Bertahan sudah cukup.
Saat jeda singkat itu, pikirannya melayang ke rumah.
Safira.
Clarissa.
Adrian.
Dan Elisabet—dengan api yang kini menyala terang.
“Jaga anak-anak kita,” gumamnya, seolah berbicara pada angin.
“Apa pun yang terjadi padaku.”
Ia berlari lagi, menyusuri jalur air yang sudah ia siapkan sejak awal. Dalam hitungan menit, jejaknya menghilang—ditelan gelap dan suara ombak.
Bandung — Api yang Tidak Lagi Diam (Elisabet)
Malam sudah terlalu larut ketika Elisabet berdiri di depan jendela kamar lantai dua rumah megah itu.
Bandung terhampar di bawah—dingin, berkabut, dan tenang secara palsu. Lampu kota berkelip seperti tidak tahu bahwa di dalam rumah ini, sebuah kebenaran besar baru saja bangkit dari kubur.
Ia memegang ponsel erat di tangannya.
Pesan terakhir masih terpampang di layar.
Leo.
Orang yang menjaganya sejak kecil.
Bayangan yang selalu ada satu langkah di belakangnya.
“Aku sudah tahu semuanya.
Jaga anak-anakku.”
Tidak ada kata tolong.
Tidak ada permintaan.
Itu perintah terakhir—seperti pesan orang yang tahu ia akan melangkah ke tepi jurang.
Elisabet menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut
tetapi karena marah yang terlalu lama dipendam.
Ia menoleh ke meja kerja.
Laptop ayahnya masih terbuka.
Folder PERISAI_MALAM masih menyala di layar—seolah menantangnya untuk melangkah lebih jauh.
“Seharusnya kita tidak pernah kembali ke situasi ini…” gumamnya lirih, suaranya pecah.
Bukan pada siapa pun
tapi pada dirinya sendiri.
Pada Armand.
Pada hidup yang terus memaksa mereka mengulang luka yang sama.
Ia menutup laptop itu dengan tegas.
Keputusan sudah diambil.
Mulai malam ini, Elisabet tidak lagi hanya bertahan.
Ia bergerak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...