Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 14
Di puncak tertinggi wilayah Perguruan Awan Mengalir, atmosfer terasa mencekam dan jauh lebih dingin daripada biasanya. Di balik dinding-dinding batu yang kokoh, terdapat sebuah ruang aula utama yang megah namun kini dipenuhi oleh aura ketegangan yang menyesakkan dada.
Feng Xieyun, sang Pemimpin Utama Perguruan yang dikenal sebagai salah satu pendekar tingkat tinggi yang paling disegani, saat ini sedang berada jauh di dalam gua meditasi untuk melakukan latihan tertutup demi menembus batas kekuatannya.
Selama masa absennya Feng Xieyun, seluruh kendali dan martabat perguruan berada di pundak seorang pria bernama Lang Xang, sang Tetua Besar yang memiliki temperamen sekeras baja dan kekuatan seorang Pendekar Guru Agung puncak.
“Dasar tidak berguna! Kalian semua adalah aib bagi leluhur perguruan ini!”
BRAKK!!
Suara hantaman keras bergema di seluruh ruangan. Lang Xang memukul meja kayu cendana di hadapannya dengan satu tangan hingga benda padat itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil. Wajahnya memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol, dan matanya berkilat penuh amarah yang meluap-luap.
Di hadapannya, tujuh tetua yang baru saja kembali dari pengejaran bersimpuh dengan kepala tertunduk dalam. Rasa malu dan takut menyelimuti mereka saat menyadari bahwa dari sepuluh tetua yang dikirim, kini hanya tersisa tujuh saja. Dan yang lebih menyakitkan bagi harga diri Lang Xang, mereka semua dipaksa mundur oleh seorang gadis kecil yang baru berusia delapan belas tahun.
“Empat Pendekar Guru Suci! Enam Pendekar Guru biasa! Ditambah puluhan Pendekar Terlatih dan Ahli yang kalian bawa sebagai pendukung! Bagaimana mungkin dengan kekuatan sebesar itu, tidak ada satupun dari kalian yang mampu membawa kepalanya ke hadapanku? Apa kalian masih merasa layak disebut sebagai Tetua dan menyandang gelar pelindung perguruan, hah?!” ucap Lang Xang dengan suara menggelegar yang membuat debu-debu di langit-langit aula berjatuhan.
Salah satu tetua yang paling sepuh, yang wajahnya masih tampak pucat akibat tekanan dari sisa aura kematian milik Dewi Kematian, mencoba memberanikan diri untuk menjawab dengan suara yang gemetar. “Mohon ampun, Tetua Besar. Dewi Kematian ini benar-benar bukan manusia biasa. Kami sudah mengerahkan segala kemampuan dan formasi terbaik kami, namun dia memiliki jurus-jurus aneh yang sangat tinggi tingkatannya. Tekniknya tidak masuk akal, ia seolah-olah bisa mengendalikan maut itu sendiri.”
“Apakah itu bisa menjadi alasan bagi kekalahan memalukan ini?” potong Lang Xang dengan nada sinis yang menusuk. “Bahkan seorang Pendekar Guru Suci puncak sekalipun tidak akan mungkin bisa bertahan menghadapi sepuluh tetua kita sekaligus dalam sebuah kepungan yang matang. Jika berita ini sampai terdengar oleh perguruan lain, mau ditaruh di mana nama besar Awan Mengalir? Kita akan menjadi bahan tertawaan di seluruh penjuru negeri!”
“Tetua Besar, meskipun dia berhasil lolos dari kepungan kami, saya berani menjamin bahwa dia juga mengalami luka yang sangat fatal,” sahut tetua lainnya dengan cepat, mencoba mencari pembelaan agar kemarahan Lang Xang mereda. “Dengan kondisi luka-luka yang ia terima semalam, mustahil bagi seorang manusia untuk bisa bertahan hidup lebih lama lagi tanpa bantuan medis yang luar biasa.”
Lang Xang menyipitkan matanya, memancarkan tekanan aura yang membuat udara di sekitar meja yang hancur itu terasa semakin berat. “Seberapa parah luka yang kau maksud?”
“Sangat parah, Tetua Besar. Tubuhnya telah ditembus oleh pedang dan tombak kami berkali-kali. Belasan anak panah bertenaga dalam juga menancap di titik-titik vitalnya. Belum lagi dia terkena hantaman telak dari gabungan jurus-jurus kami yang menghancurkan organ dalamnya,” jawab tetua tersebut dengan penuh keyakinan.
“Benar sekali, Tetua Besar,” tetua lain ikut bersuara dengan nada yang meyakinkan. “Luka-lukanya melampaui batas toleransi tubuh pendekar biasa. Walaupun dia merupakan Pendekar Guru atau bahkan Guru Suci sekalipun, selama dia tidak menemukan obat dan perawatan intensif tepat waktu, dia pasti akan mati di tengah jalan akibat kehabisan darah atau kerusakan energi internal.”
Mendengar argumen tersebut, Lang Xang justru tertawa kering, sebuah tawa yang tidak mengandung kegembiraan sedikit pun. “Dasar bodoh! Kalian benar-benar telah dibutakan oleh kesombongan kalian sendiri! Kalian pikir Dewi Kematian itu adalah pendekar miskin? Dia telah membantai banyak orang dan menjarah banyak sumber daya. Dia pasti memiliki obat pemulihan tingkat tinggi atau harta karun pelindung nyawa. Mana mungkin seorang pendekar dengan nama yang tersohor dan ditakuti seperti dia tidak memiliki persiapan sumber daya untuk kondisi darurat? Apa otak kalian sudah tidak bisa berpikir sejauh itu karena terlalu takut?”
Mendengar hardikan tersebut, semua tetua yang ada di sana hanya bisa semakin menundukkan kepala dan terdiam seribu bahasa. Di bawah tekanan aura Lang Xang yang merupakan seorang Pendekar Guru Agung puncak, tidak ada satupun dari mereka yang memiliki keberanian atau cukup nyawa untuk membantah ucapannya. Setiap hembusan nafas Lang Xang terasa seperti pedang yang siap menebas leher mereka jika mereka salah bicara lagi.
“Hah, sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur,” desah Lang Xang dengan nada berat yang penuh kekecewaan. Ia membalikkan tubuhnya, menatap lukisan lambang perguruan yang tergantung di dinding aula.
“Kejadian ini adalah noda terbesar dalam sejarah kita. Mulai saat ini, aku perintahkan kalian untuk menutup rapat-rapat masalah ini. Jangan sampai ada satu patah kata pun mengenai kekalahan memalukan kalian tersebar luas ke luar tembok perguruan. Jika ada yang berani membocorkannya, aku sendiri yang akan mencabut lidahnya.”
Lang Xang menarik napas dalam, mencoba menenangkan gejolak energi di dalam tubuhnya sebelum melanjutkan perintahnya. “Mulai hari ini juga, Perguruan Awan Mengalir akan menutup gerbang utama. Kita akan mengasingkan diri dari dunia luar untuk sementara waktu. Tidak ada murid yang boleh keluar, dan tidak ada tamu yang boleh masuk.”
“Baik, Tetua Besar!” jawab seluruh tetua secara bersamaan dengan suara yang menggema patuh.
Keputusan ekstrem ini diambil Lang Xang bukan tanpa alasan. Dengan hilangnya tiga tetua kuat dan luka-lukanya pendekar elite lainnya, pilar kekuatan Perguruan Awan Mengalir telah melemah secara drastis. Ia tahu betul bahwa jika musuh-musuh mereka atau perguruan saingan mengetahui kondisi ini, mereka akan menyerang tanpa ragu. Maka, di bawah perintah sang Tetua Besar, pintu gerbang perguruan harus tertutup rapat, mengunci segala aib dan kelemahan mereka di dalam kegelapan, sementara mereka menunggu sang Pemimpin Utama, Feng Xieyun, menyelesaikan latihan
***
Cao Yi perlahan membuka kelopak matanya setelah menghabiskan lebih dari setengah hari dalam kondisi meditasi yang sangat dalam. Di sekelilingnya, hutan yang sebelumnya bising dengan suara serangga malam kini terasa sunyi, seolah alam sendiri menahan napas di hadapan kehadirannya. Langit di atas sana telah sepenuhnya berubah menjadi kanvas hitam pekat yang dihiasi taburan bintang, menandakan bahwa sang waktu telah bergeser jauh sejak pertempuran berdarah itu berakhir.
Dengan gerakan yang sangat halus, ia memeriksa kondisi tubuhnya. Keajaiban dari teknik regenerasi warisan Dewi Zia Yuxi benar-benar nyata; seluruh luka-luka mengerikan yang sebelumnya menghiasi tubuhnya telah sirna. Tidak ada lagi lubang bekas anak panah di bahunya, tidak ada lagi sayatan pedang yang menganga di perutnya, bahkan memar biru akibat hantaman tenaga dalam para tetua telah larut ke dalam aliran darahnya. Kulitnya kembali mulus dan pucat, seolah-olah besi tajam tak pernah sekalipun menyentuhnya.
“Huff!”
Cao Yi menghembuskan nafas panjang dan pelan melalui bibirnya yang tipis. Namun, yang keluar bukanlah udara biasa, melainkan kabut hitam tipis yang berputar-putar sejenak sebelum menguap di udara malam. Kabut hitam itu adalah residu dari sisa-sisa luka dalam dan darah kotor yang menggumpal, yang berhasil dikeluarkan melalui metode pembersihan sumsum rahasia yang hanya ia sendiri yang menguasainya di dunia ini.
Setiap hembusan nafas itu membawa keluar rasa sakit yang tersisa, menyisakan kesegaran yang dingin di dalam dadanya.
Meskipun tubuhnya telah pulih sepenuhnya, Cao Yi sedikit mengerutkan kening saat merasakan pusaran energi di dalam jiwanya. Ia mengepalkan tangan, merasakan aliran Qi yang mengalir di pembuluh darahnya.
“Energi Qi-ku tidak banyak bertambah gara-gara digunakan untuk menyembuhkan luka-luka ini. Setidaknya ada sedikit tambahan daripada tidak sama sekali,” gumam Cao Yi dengan nada yang sedikit kecewa namun tetap tenang.
Secara perhitungan, energi kehidupan yang ia serap paksa dari satu Pendekar Guru Suci dan dua Pendekar Guru biasa seharusnya sudah cukup untuk memberinya lonjakan energi Qi yang signifikan, mungkin cukup untuk membuatnya mencapai terobosan kecil. Namun, karena intensitas kerusakan fisik yang ia terima dalam kepungan maut tersebut, sebagian besar esensi kehidupan yang baru saja ia jarah terpaksa dialihkan sebagai bahan bakar untuk mempercepat regenerasi sel dan memperbaiki organ dalamnya yang sempat terguncang. Ia harus membayar kesembuhan instannya dengan potensi kekuatan yang seharusnya bisa ia simpan.
Gadis itu berdiri tegak, membersihkan sisa-sisa debu dan dedaunan kering yang menempel pada jubah hitamnya yang kini sudah robek di beberapa bagian, meski luka di baliknya sudah tak ada. Ia menatap ke arah kejauhan, ke arah dimana rumahnya berada, sebuah tempat yang menyimpan kenangan dan satu-satunya ikatan emosional yang masih ia miliki di dunia yang kejam ini.
“Sebaiknya aku pulang dulu. Ayah pasti sudah sangat mengkhawatirkan aku sejak kabar tentang Lembah Teratai pecah,” ucapnya lirih.
Pikiran tentang ayahnya, Cao Xiang, membawa sedikit kehangatan di tengah dinginnya aura kematian yang ia miliki. Saat ini, sang ayah sedang berada di rumah karena masa istirahat dari tugas militer. Di satu sisi, kehadiran sang ayah adalah perlindungan dan kebahagiaan baginya, namun di sisi lain, hal itu menjadi batasan tersendiri. Andai saja ayahnya sedang bertugas memimpin pasukan di perbatasan kerajaan yang jauh, Cao Yi akan memiliki kebebasan lebih luas untuk berkelana tanpa pengawasan, mencari dan memburu para pendekar berhati jahat atau para penjahat kelas kakap untuk dijadikan tumbal sumber energinya.
Bagi Cao Yi, dunia persilatan yang dipenuhi orang-orang munafik adalah ladang perburuan yang sempurna. Namun demi menjaga ketenangan hati sang ayah, ia harus tetap berperan sebagai putri yang patuh, setidaknya selama ayahnya berada di rumah.
Dengan satu hentakan kaki yang ringan namun bertenaga, tubuh Cao Yi melesat bak bayangan hitam di antara pepohonan. Ia bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata telanjang, menuju rumahnya sebelum fajar menyingsing, meninggalkan medan pertempuran yang kini hanya menyisakan aroma tanah basah dan sisa-sisa kematian yang mulai memudar.