Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Matanya berkilat dengan kebencian yang sudah membusuk selama puluhan tahun.
"Hanya aku yang boleh bersinar. Hanya aku yang boleh menjadi yang terbaik."
"Penjahat..." Anindita berbisik, air matanya bercampur dengan darah di wajahnya. "Kau... kau menghancurkan keluarga kami... karena iri hati?"
Darwan tertawa—tawa yang terdengar seperti pecahan kaca.
"Iri hati? Mungkin. Atau mungkin aku hanya menikmati melihat kalian menderita." Dia berdiri, menatap mereka dari atas dengan tatapan yang penuh superioritas. "Dan sekarang... aku akan membuat kedua keluarga kehilangan pewaris tunggal mereka. Syailendra dan Paramitha akan hancur tanpa pemimpin. Dan semuanya akan terlihat seperti ulah kakek kalian masing-masing—dendam lama yang akhirnya meledak."
Dia menoleh ke bodyguard-nya. "Siksa mereka. Perlahan. Aku ingin mereka merasakan setiap detik kesakitan sebelum bertemu ajal."
"TIDAK!" Hardana tiba-tiba berteriak dari belakang kerumunan. Wajahnya pucat, tangannya gemetar. "Kakek, ini sudah kelewatan! Cukup! Biarkan mereka pergi!"
"Diam, bodoh!" Lastri—istri Bramantara—menampar Hardana. "Kau terlalu lemah! Itulah kenapa kami harus mengontrol hidupmu!"
Bodyguard mulai memukul Vyan dan Anindita dengan balok kayu. Berkali-kali. Tanpa henti.
Tapi Vyan tidak melepaskan pelukannya. Dia memeluk Anindita semakin erat, tubuhnya menjadi tameng, menerima semua pukulan yang seharusnya mengenai sahabatnya.
"Vyan... kumohon... lepaskan aku..." Anindita menangis, merasakan tulang rusuk Vyan yang patah menusuk tubuhnya. "Jangan... jangan biarkan dirimu merasa sakit ini untuk ku..."
"Jika kita akan berakhir di sini..." Vyan berbisik, darah mengalir dari mulutnya. "Jika kita bisa mengulang waktu... aku ingin melindungimu... Aku hanya ingin bersamamu, Dita... Hanya kamu..."
Anindita menangis semakin keras, tangannya mengusap wajah Vyan dengan lembut. "Jika kita bisa mengulang waktu... aku tidak akan membiarkan mu pergi, Vyan... Aku akan mempertahankan persahabatan kita... Aku akan memastikan mendamaikan keluarga kita... Aku akan selalu menjagamu... seperti kau menjagaku sekarang..."
Vyan mengambil boneka putih milik Anindita yang sudah dilumuri darah dilantai, yang jaraknya tidak jauh dari dirinya. "Dita, aku merasa mengantuk... selama aku tidur, sisi akan menjagamu... Kamu jangan sedih..."
Vyan tersenyum—senyum terakhir—kemudian matanya menutup.
"VYAN! VYAN! BANGUN! KUMOHON BANGUN!" Anindita mengguncang tubuh sahabatnya, tapi tidak ada respons.
Di tengah tangisan Anindita, sebuah suara dingin berbisik di telinganya:
"Ini semua salahmu, Kak."
Savitha berdiri di samping Anindita, pistol kecil di tangannya—pistol yang dia ambil dari salah satu bodyguard yang terjatuh.
"Kau mengambil segalanya dariku," kata Savitha dengan suara yang bergetar—bukan karena takut, tapi karena kebencian. "Rumahku. Mamaku. Masa depanku. Dan sekarang... aku akan mengambil segalanya darimu."
Dia mengarahkan pistol ke dada Anindita.
BANG!
Satu tembakan bergema di ballroom.
Tapi peluru tidak pernah sampai ke Anindita.
Karena seseorang melompat di depannya—seseorang dengan jas hitam yang sudah robek, rambut berantakan, wajah penuh keringat dan kepanikan.
Zaverio Kusuma.
Peluru mengenai bahunya. Darah menyembur. Tapi dia tidak jatuh. Dia berdiri tegak, melindungi Anindita dengan tubuhnya.
"Dita..." Suaranya serak, matanya penuh air mata. "Maafkan aku... Maafkan aku karena datang terlambat..."
Anindita menatapnya dengan mata yang sudah kosong. Terlalu banyak kesakitan. Terlalu banyak pengkhianatan. Terlalu banyak kehilangan.
"Zaverio..." bisiknya lemah, darah terus mengalir dari antara kakinya—bayinya, dia tahu, sudah tidak terselamatkan lagi. "Kenapa... kenapa kau datang sekarang? Sudah terlambat... Semuanya sudah terlambat..."
Zaverio berlutut di sampingnya, tangannya gemetar mengusap wajah Anindita yang penuh darah dan air mata.
"Kita harus ke rumah sakit. Sekarang. Aku akan—"
"Tidak." Anindita menggeleng lemah, tangannya menggapai tangan Vyan yang sudah dingin. "Aku tidak akan pergi... Aku ingin bersama sahabatku... Aku... aku sudah lelah, Kak..."
"Jangan bicara seperti itu!" Zaverio menangis—untuk kedua kalinya dalam hidupnya setelah dua belas tahun lalu. "Kumohon, Dita... Bertahanlah... Untuk aku... Untuk kita..."
"Sebelum aku mati..." Anindita menatapnya, matanya yang dulunya penuh cahaya sekarang redup. "Aku ingin tahu alasanmu meninggalkanku dua belas tahun lalu. Aku... aku ingin mati dengan mengetahui kebenaran..."
Dan di sana, di tengah ballroom yang dipenuhi darah dan kematian, Zaverio menceritakan segalanya.
Tentang perjanjian yang dia buat dengan seseorang—dengan Darwan Kusuma sendiri—untuk mendapatkan uang menyelamatkan Paramitha Corp. Tentang syarat yang kejam: Zaverio harus meninggalkan Anindita selamanya, atau perusahaan akan dihancurkan total.
Tentang bagaimana dia mengorbankan cintanya demi melindungi warisan ayah Anindita.
Tentang bagaimana setiap hari selama dua belas tahun terasa seperti mati perlahan.
Tentang bagaimana dia tidak pernah berhenti mencintainya, bahkan ketika melihat Anindita menikah dengan adiknya sendiri.
"Aku pengecut," bisik Zaverio, air matanya jatuh ke wajah Anindita. "Aku seharusnya memberitahumu. Aku seharusnya melawan. Tapi aku... aku terlalu takut kehilanganmu dengan cara yang lebih menyakitkan..."
Anindita tersenyum—senyum tipis yang menyedihkan.
"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih karena sudah mencintaiku... walau dengan cara yang salah..."
Tangannya yang bebas meraih wajah Zaverio, mengusapnya dengan lembut untuk terakhir kalinya.
"Mulai sekarang... hiduplah dengan baik... Tolong katakan pada Kakek... aku menyayanginya... Maafkan aku karena belum bisa membanggakannya..." Nafasnya semakin lemah. "Dan lanjutkan hidupmu dengan bahagia, Kak Zav... Jangan... jangan menangisi aku terlalu lama..."
"Dita... kumohon... jangan bicara seperti itu... Kita masih punya waktu... Kita bisa—"
"Aku mencintaimu, Zaverio Kusuma." Kata-kata terakhir Anindita keluar seperti bisikan angin. "Selalu... dari dulu hingga sekarang... Cintaku yang pertama dan terakhir..."
Matanya perlahan menutup. Nafasnya berhenti. Tangannya yang menggenggam tangan Vyan dan Zaverio melemas.
Anindita Paramitha Kusuma—CEO Paramitha Corp, wanita terkuat yang pernah hidup—meninggal di usia 33 tahun, di lantai ballroom yang dingin, dipeluk oleh pria yang mencintainya dan sahabat yang melindunginya sampai akhir.
"DITA!" Zaverio berteriak, mengguncang tubuhnya. "DITA! BANGUN! KUMOHON BANGUN! JANGAN TINGGALKAN AKU!"
Tapi tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang mencekik.
"TIDAAAAK!" Tangisan Zaverio menggema di seluruh resort—tangisan yang penuh penyesalan, kehilangan, dan cinta yang tidak pernah sempat terucap dengan benar.
Dia memeluk tubuh Anindita erat, menangis dengan seluruh jiwa raganya—menangis untuk cinta yang hilang, untuk waktu yang terbuang, untuk kebahagiaan yang tidak pernah mereka dapatkan.
Di sampingnya, Vyan Syailendra tergeletak dengan mata yang terbuka kosong, tangannya masih menggenggam tangan Anindita—bahkan dalam kematian, dia masih menjaganya.
Dua sahabat yang dipisahkan oleh dendam keluarga.
Dua jiwa yang seharusnya bahagia bersama.
Mati bergandengan tangan, melindungi satu sama lain sampai napas terakhir.
Zaverio Kusuma berdiri di tengah ballroom yang kini terlihat seperti medan perang. Tubuhnya masih gemetar—bukan karena takut, tapi karena kemarahan yang begitu dalam hingga hampir membuatnya gila.
Di tangannya, Anindita terbaring tidak bernyawa. Wajahnya pucat, bibir yang dulu selalu tersenyum sekarang biru, mata yang dulu penuh cahaya kini tertutup selamanya.
Zaverio menatap keluarganya—ayahnya Bramantara yang berdiri kaku, ibu tirinya Lastri yang mulai menangis palsu, kakek Darwan yang masih tersenyum penuh kemenangan dan semua anggota keluarga Kusuma lainnya yang berdiri dengan wajah pucat, menyadari bahwa mereka baru saja membangunkan monster.
"Zaverio, anak ku, dengarkan Papa—" Bramantara melangkah maju dengan tangan terangkat.
"DIAM."