NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: PERMAINAN BERBAHAYA

#

Safehouse yang Hendrawan siapin ternyata gudang kosong di pinggir kota. Bukan tempat yang nyaman tapi setidaknya aman untuk sementara. Tembok beton tebal, satu pintu masuk, jendela tinggi yang susah dijangkau dari luar.

Mereka sampe jam tiga pagi. Semua kecapekan, basah, dan gemetar karena adrenalin yang mulai turun. Hendrawan parkir van di dalam gudang, tutup pintu besar dengan gembok yang terlihat kayak udah berkarat tapi sebenarnya baru diganti kemarin.

"Kita aman di sini untuk malam ini," katanya sambil matiin mesin. "Besok kita pikirin langkah selanjutnya."

Arjuna turun, bantu Sari yang kakinya masih gak stabil. Gadis itu hampir jatuh tapi dia tangkep. Ringan sekali di pelukannya, terlalu ringan. Berapa berat yang dia turunin selama tiga bulan di rumah Adrian?

"Aku bisa jalan sendiri," kata Sari sambil lepas dari pelukannya. Tapi dia gak bisa, kaki dia langsung goyah lagi. Arjuna tangkep lagi.

"Jangan keras kepala," bisiknya. "Biarkan aku bantu."

Sari natap dia sebentar, Lalu akhirnya ngangguk, biarkan diri dia dituntun ke dalam gudang yang gelap.

Hendrawan nyalain lampu. Lampu bohlam redup yang cuma menerangi sebagian ruangan. Di pojok ada tumpukan kardus, sleeping bag, dan beberapa jeriken air. Persiapan untuk situasi darurat kayak ini.

"Kalian istirahat," kata Hendrawan sambil buka salah satu kardus, keluarin handuk dan baju ganti. "Aku akan jaga pintu. Pixel, kau cek data yang berhasil kita dapat. Pastiin semua lengkap."

"Oke," suara Pixel dari laptop yang dia bawa. Dia duduk di lantai, buka laptop, jari mulai menari di keyboard.

Sari ambil handuk dari Hendrawan, jalan ke sudut yang lebih gelap untuk ganti baju. Arjuna pura pura gak ngeliat, meski hatinya pengen ngejar, pengen peluk gadis itu dan bilang semuanya bakal baik baik aja meski dia tau itu bohong.

"Arjuna," panggil Hendrawan pelan. "Kemari sebentar."

Arjuna mendekat. Ayahnya berdiri deket pintu, wajahnya serius.

"Kau lihat gak cara Adrian natap kau tadi?" tanyanya.

"Dia tau aku siapa."

"Lebih dari itu," Hendrawan menggeleng. "Dia gak cuma tau kau siapa, Dia udah tau dari awal kau bakal datang. Dia udah siapin semua ini."

"Maksud ayah?"

"Adrian gak pernah main reaktif. Dia selalu proaktif. Dia udah predict setiap langkah kita sebelum kita bikin." Hendrawan natap Arjuna dengan mata yang penuh kekhawatiran. "Yang artinya dia tau kita ada di sini. Tau kita punya data dia. Dan dia udah punya rencana untuk ambil balik."

"Lalu kita harus gimana?"

"Kita harus bergerak lebih cepat dari yang dia expect," jawab Hendrawan. "Besok. Besok kita upload semua data itu ke internet. Ke media. Ke semua tempat yang bisa bikin dunia tau siapa Adrian sebenarnya."

"Tapi The Protocol..." Arjuna ingat cerita ayahnya tentang sistem AI yang bisa lumpuhkan seluruh negara.

"Itu resiko yang harus kita ambil," kata Hendrawan keras. "Kalau kita gak bertindak sekarang, Adrian bakal temuin kita. Bakal bunuh kita satu per satu. Dan semua perjuangan ini jadi sia sia."

Arjuna diam. Dia tau ayahnya benar tapi tetep aja rasanya kayak mereka pilih antara bencana dan bencana yang lebih besar.

"Aku nemu sesuatu," suara Pixel memecah keheningan. Dia natap mereka dengan mata yang aneh. Campuran antara excited dan takut. "Aku nemu file yang... yang kalian harus lihat."

Mereka berkumpul di sekitar laptop. Sari juga ikut, udah ganti baju, rambut masih basah tapi setidaknya dia gak gemetar lagi.

"Ini daftar transaksi Adrian," Pixel nunjukin spreadsheet panjang yang penuh angka dan nama. "Tapi bukan transaksi biasa. Ini... ini transaksi dengan orang orang paling berkuasa di negara ini."

"Kita udah tau dia nyuap pejabat," kata Arjuna. "Itu kan udah ada di data ayah dulu."

"Bukan suap," koreksi Pixel sambil scroll ke bawah. "Ini lebih dari suap. Ini investasi. Adrian invest miliaran rupiah untuk kampanye presiden. Untuk pemilihan gubernur, Untuk meloloskan undang undang tertentu. Dia gak cuma beli orang, dia beli sistem."

Sari condong lebih dekat ke layar. "Zoom ke transaksi yang ini."

Pixel zoom. Muncul detail transaksi dengan jumlah tiga triliun rupiah. Penerima: Proyek Infrastruktur Nasional.

"Tiga triliun untuk jalan tol yang gak pernah dibangun," kata Sari pelan. "Uangnya masuk ke rekening offshore. Dan kalau aku lacak..." dia ambil alih laptop, ketik cepat. "Rekening itu milik perusahaan shell di Cayman Islands yang pemiliknya... ya Tuhan."

"Siapa?" tanya Hendrawan.

"Wakil Presiden," bisik Sari. "Pemilik benerannya adalah Wakil Presiden negara kita."

Hening. Hening yang panjang dan berat.

"Ini gak cuma korupsi," kata Hendrawan akhirnya. "Ini konspirasi di level tertinggi pemerintahan. Adrian gak cuma punya pejabat di kantongnya. Dia punya seluruh sistem."

"Dan kalau kita ekspos ini..." Arjuna mulai paham. "Kalau kita ekspos ini, bukan cuma Adrian yang jatuh. Seluruh pemerintahan bisa runtuh."

"Chaos total," tambah Pixel. "Demonstrasi. Kerusuhan. Mungkin kudeta militer. Negara ini bisa jadi seperti negara negara lain yang pernah mengalami revolusi berdarah."

"Tapi kita gak bisa diam juga," kata Sari. Suaranya bergetar tapi tegas. "Kita gak bisa biarkan mereka terus menghisap darah rakyat. Terus memperkaya diri sementara orang orang miskin makin miskin. Itu bukan kehidupan. Itu perbudakan modern."

"Sari benar," Arjuna pegang tangannya, genggam kuat. "Kita udah sampai sejauh ini. Kita gak bisa mundur sekarang."

Hendrawan menatap mereka berdua. Lalu dia menghela napas panjang. "Baiklah. Besok kita mulai. Tapi sebelum itu, kalian harus tidur. Terutama kau, Sari. Kau kelihatan hampir pingsan."

"Aku baik," bohong Sari. Tapi mata dia udah setengah tertutup, tubuhnya limbung.

"Tidur," perintah Arjuna sambil bawa dia ke sleeping bag. "Gak ada argumen."

Sari mau protes tapi kecapekan mengalahkan keras kepalanya. Dia berbaring di sleeping bag yang tipis, mata langsung tertutup begitu kepala menyentuh bantal improvisasi dari jaket.

Arjuna duduk di sebelahnya, natap wajah gadis itu yang terlihat damai untuk pertama kalinya sejak mereka ketemu lagi. Ada lingkar hitam di bawah matanya. Ada bekas luka kecil di pelipis yang dia gak punya dulu. Adrian gak fisik menyiksa dia, tapi siksaan mental kadang lebih kejam dari fisik.

"Maaf," bisiknya pelan, tau Sari gak bisa denger karena udah tidur. "Maaf aku gak bisa lindungi kau. Maaf aku lemah. Maaf aku baru datang sekarang."

"Kau gak lemah," suara Sari tiba tiba, mata masih tertutup tapi dia masih sadar ternyata. "Kau orang paling berani yang aku kenal. Menyusup ke gala itu, berhadapan sama Adrian... orang gila yang bakal lakuin itu."

"Atau orang yang desperate," koreksi Arjuna sambil senyum tipis.

"Atau orang yang cinta," bisik Sari. Mata dia buka sekarang, natap Arjuna dengan intensitas yang bikin jantung dia berhenti. "Arjuna, aku..."

"Jangan," potong Arjuna cepat. Terlalu cepat, Dia tau apa yang Sari mau bilang dan dia takut. Takut kalau dia denger kata kata itu, dia gak akan sanggup fokus besok. Gak akan sanggup ambil resiko yang harus diambil. "Jangan bilang sekarang. Bilang nanti. Saat semua ini selesai. Saat kita aman. Saat kita punya masa depan yang pasti."

Sari menatapnya lama. Lalu dia tersenyum sedih. "Kau tau kita mungkin gak punya nanti kan?"

"Maka kita harus bikin nanti itu terjadi," jawab Arjuna. "Harus bertahan. Untuk bisa bilang semua yang mau dikatakan di waktu yang tepat."

"Oke," bisik Sari. "Aku tunggu nanti itu. Jangan bikin aku tunggu terlalu lama."

Dia tutup mata lagi. Kali ini beneran tidur. Napasnya jadi teratur, pelan.

Arjuna duduk di sana, jaga dia, sampai mata dia sendiri mulai berat. Dia berbaring di lantai dingin deket sleeping bag Sari, gak masalah kalau dingin atau keras. Yang penting dia deket gadis yang dia sayang. Deket cukup untuk lindungi kalau ada bahaya.

Tapi dia gak tau.

Gak tau kalau di gedung pencakar langit di pusat kota, Adrian duduk di ruang kontrolnya yang penuh layar monitor. Di salah satu layar ada peta kota dengan titik merah yang berkedip.

"Kalian pikir kalian pintar," gumamnya sambil senyum. "Pikir kalian bisa kabur. Tapi aku udah pasang tracker di gaunmu, Sari. Tracker sekecil butir beras yang kau gak akan pernah tau ada."

Dia zoom peta. Titik merah itu ada di pinggir kota. Di area industri yang sepi.

"Besok," katanya ke anak buahnya yang berdiri di belakang. "Besok pagi kita serbu. Jangan bunuh mereka. Bawa hidup hidup. Terutama Sari dan Arjuna. Yang lain... terserah."

"Bagaimana dengan Hendrawan kalau dia ada di sana?" tanya anak buahnya.

Adrian diam sebentar. Lalu senyumnya melebar. "Kalau dia ada, lebih bagus. Aku bisa selesaikan dua masalah sekaligus. Aku bisa lihat ekspresi dia saat aku bunuh anaknya di depan matanya. Itu akan jadi hadiah terbaik setelah sepuluh tahun nunggu."

Dia berdiri, jalan ke jendela besar, natap kota yang tidur.

"Permainan sudah hampir berakhir," bisiknya. "Dan aku yang menang. Seperti biasa."

Tapi dia gak tau.

Gak tau kalau di gudang itu, Pixel masih bangun. Masih duduk di depan laptop, masih ngecek sesuatu. Dan dia nemuin sesuatu yang bikin darah dia beku.

"Ada sinyal," bisiknya. "Ada sinyal yang dikirim dari gudang ini ke server external. Tapi bukan dari laptopku. Bukan dari ponsel siapapun. Jadi dari mana?"

Dia mulai scan. Scan semua device di sekitarnya. Dan dia nemuin.

Sinyal lemah. Datang dari sleeping bag Sari. Dari gaunnya yang dia lepas tapi masih di dalem sleeping bag.

Tracker.

"Sial," bisiknya. Dia langsung bangunin Hendrawan yang lagi jaga di pintu. "Pak, kita punya masalah. Masalah besar."

Lima jam kemudian, saat matahari baru terbit, tiga van hitam sampe di gudang. Lima belas orang bersenjata turun, bergerak dengan formasi militer yang terlatih.

Mereka dobrak pintu.

Tapi di dalam cuma ada sleeping bag kosong, laptop yang masih nyala dengan pesan di layar: "Kalian pikir kami bodoh?"

Dan tracker yang masih ngirim sinyal, ditempel di sleeping bag dengan lakban.

"MEREKA KABUR!" salah satu anak buah berteriak. "Mereka kabur sebelum kita datang!"

Di lokasi lain, di apartemen yang udah Hendrawan sewa tiga bulan lalu sebagai backup, Arjuna duduk sambil dengerin laporan Pixel.

"Tracker ditemukan jam empat pagi," kata Pixel. "Kita langsung pindah ke sini. Untung Pak Hendrawan selalu siap rencana B."

"Berarti Adrian tau dimana kita," kata Sari. Wajahnya pucat. "Dia tau sejak awal. Dia biarkan aku kabur cuma untuk lacak kemana aku pergi."

"Dia main cat and mouse," Hendrawan mengangguk. "Dia suka mainan dengan mangsanya sebelum bunuh. Tapi sekarang dia tau kita gak gampang ditangkap. Dia akan jadi lebih serius. Lebih brutal."

"Maka kita harus bergerak sekarang," kata Arjuna. "Sekarang saat dia pikir kita lagi panik. Pixel, upload semua data. Semuanya. Ke setiap media yang kau bisa akses."

"Tapi The Protocol..."

"Lakukan," potong Arjuna. "Kita gak punya waktu lagi."

Pixel menatap mereka semua. Lalu dia mengangguk. "Baik. Tapi kalian siap dengan konsekuensinya? Siap dengan apa yang bakal terjadi setelah ini?"

"Tidak," jawab Arjuna jujur. "Tapi kita gak punya pilihan."

Pixel mulai mengetik. Upload file ke puluhan website. Ke media berita. Ke forum online. Ke akun media sosial influencer. Kemana mana.

Dan saat tombol enter terakhir ditekan, saat data terakhir terupload, dunia mulai berubah.

Untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!