NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Gema Masa Lalu

Bau udara di koridor menuju ruang bawah tanah sangat berbeda dengan kemewahan di lantai atas. Di sini, udara terasa berat, lembap, dan berbau besi—bau darah yang bercampur dengan aroma pembersih kimia yang menyengat. Aruna mengabaikan larangan para penjaga. Dengan kalung berlian hitam yang melingkar di lehernya sebagai "kunci" otoritas, tak ada satu pun pria bersenjata itu yang berani menghalanginya, meski wajah mereka memancarkan keraguan besar.

​Saat Aruna sampai di depan sebuah pintu besi berat yang sedikit terbuka, sebuah suara teriakan yang memilukan merobek keheningan. Itu bukan suara teriakan manusia yang sedang memohon, melainkan suara seseorang yang sudah kehilangan harapan untuk hidup.

​"Siapa yang memerintahkanmu menghabisi Satria Kirana malam itu?"

​Suara itu milik Dante. Dingin, tenang, namun di balik ketenangannya terdapat janji kematian yang absolut.

​Aruna mendorong pintu itu. Pemandangan di dalamnya membuat dunianya seolah jungkir balik. Di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu gantung yang berayun pelan, seorang pria paruh baya terikat di sebuah kursi besi. Wajahnya hancur, nyaris tak bisa dikenali. Di depannya, Dante berdiri dengan membelakangi pintu. Ia tidak lagi mengenakan jubah sutra; ia mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah pisau bedah yang berkilau terkena cahaya.

​"Dante..." bisik Aruna.

​Dante membeku. Bahunya yang tegap menegang. Ia tidak segera berbalik. Ia justru menarik napas panjang, seolah mencoba menelan kembali iblis yang baru saja ia lepaskan. Saat ia akhirnya berbalik, Aruna melihat cipratan darah kecil di pipi tegas pria itu. Mata Dante yang biasanya dingin, kini tampak berkilat dengan kemarahan yang belum tuntas.

​"Aku sudah menyuruh Enzo untuk menahanmu di atas," ucap Dante, suaranya sangat rendah.

​"Ini tentang suamiku," Aruna melangkah maju, kakinya gemetar namun tatapannya tak beralih dari pria malang yang terikat di kursi itu. "Benarkah dia... orang yang menabrak Satria?"

​Pria di kursi itu mendongak lemah. Matanya yang membengkak menatap Aruna dengan ketakutan yang murni. "Maaf... maafkan saya... saya hanya menjalankan perintah..."

​Aruna merasa udara di sekitarnya menghilang. Ia mendekati pria itu, mengabaikan Dante yang mencoba menghalanginya dengan merentangkan tangan. Aruna menatap langsung ke arah pria itu, mencari jawaban yang selama dua tahun ini menghantuinya setiap malam.

​"Kenapa?" tanya Aruna, suaranya pecah. "Kenapa suamiku? Dia hanya seorang pria biasa. Dia tidak punya apa-apa!"

​Pria itu terbatuk darah. "Dia... dia menemukan disket di tempat sampah belakang kantor pelabuhan... disket yang berisi daftar pengiriman senjata Marco. Dia tidak tahu apa itu... tapi Marco tidak mau mengambil risiko."

​Air mata Aruna jatuh tanpa bisa dibendung. Satria meninggal bukan karena kecelakaan. Ia tidak meninggal karena takdir yang kejam. Ia meninggal karena ia berada di tempat yang salah dan menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Suaminya dibunuh hanya karena sebuah kemungkinan kecil.

​"Marco memberikan perintah melalui saya," pria itu melanjutkan dengan suara tersedak. "Saya yang mengemudikan mobil itu. Saya diperintahkan untuk memastikan dia tidak sampai ke rumah."

​Aruna mundur selangkah, tangannya menutup mulut. Kenangan tentang malam itu kembali menghantamnya—kue ulang tahun yang hancur di jalanan, polisi yang mengetuk pintunya, dan tangisan Bumi yang tidak mengerti mengapa ayahnya tidak pernah pulang. Selama ini, Aruna merasa ia adalah janda yang malang, tapi kenyataannya, ia adalah korban sampingan dari perang yang dipimpin oleh pria-pria seperti yang berdiri di sampingnya sekarang.

​Dante mendekati Aruna. Ia mencoba menyentuh bahu wanita itu, namun Aruna menepisnya dengan kasar.

​"Jangan sentuh aku," desis Aruna. Matanya menatap Dante dengan kebencian yang baru. "Kalian semua sama. Kau, Marco, pria ini... kalian memperlakukan nyawa manusia seperti sampah. Hanya karena sebuah disket? Hanya karena bisnis kotor kalian?"

​Dante terdiam. Ia tidak membela diri. Ia tahu Aruna benar. Di dunianya, nyawa manusia seringkali hanya menjadi catatan kaki dalam sebuah transaksi besar.

​"Aku mencari pria ini sejak aku sadar namamu adalah Aruna Kirana," ucap Dante tenang. "Aku ingin memberimu keadilan yang tidak bisa diberikan oleh polisi."

​"Keadilan?" Aruna tertawa histeris di tengah tangisnya. "Kau menyebut penyiksaan di ruang bawah tanah ini sebagai keadilan? Ini bukan keadilan, Dante! Ini hanyalah balas dendam yang haus darah! Ini tidak akan mengembalikan Satria!"

​Dante melangkah maju, kali ini ia tidak membiarkan Aruna menjauh. Ia mencengkeram kedua lengan Aruna, memaksanya menatap matanya yang kelam. "Dengarkan aku! Dunia ini tidak bekerja dengan hukum yang kau pelajari di sekolah. Jika pria ini tidak aku habiskan sekarang, Marco akan tahu bahwa dia telah bicara. Dan jika Marco tahu kau ada di sini karena masa lalu itu, dia tidak akan hanya mengirim tim pembunuh kecil seperti di Jalan Kenanga. Dia akan meratakan seluruh kota hanya untuk membungkammu!"

​"Lalu apa bedanya kau dengan dia?" tanya Aruna menantang.

​"Bedanya adalah," Dante mendekatkan wajahnya, napasnya terasa hangat di kulit Aruna yang dingin. "Aku tidak akan membiarkanmu atau Bumi terluka sedikit pun. Aku sudah berhutang nyawa padamu, dan sekarang aku berhutang nyawa suamimu karena duniaku yang membunuhnya. Aku akan membayar semuanya, Aruna. Bahkan jika aku harus membantai setiap orang yang terlibat malam itu."

​Aruna tertegun. Ia melihat penderitaan yang sama di mata Dante. Ia menyadari bahwa Dante tidak melakukan ini hanya karena ia kejam; ia melakukannya sebagai bentuk penebusan dosa yang bengkok.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat terdengar dari lorong. Enzo muncul di pintu dengan wajah pucat.

​"Tuan! Maaf menyela, tapi ini darurat," ucap Enzo dengan napas memburu.

​Dante melepaskan cengkeramannya pada Aruna tanpa melepaskan pandangannya. "Apa?"

​"Bumi, Tuan... Bumi menghilang dari taman."

​Waktu seolah berhenti bagi Aruna. Rasa sedih karena kematian suaminya seketika digantikan oleh ketakutan yang jauh lebih besar. "Apa maksudmu menghilang? Kau bilang dia dijaga ketat!"

​"Kami menemukan penjaga di sektor utara dalam keadaan tidak sadar. Seseorang menyusup melalui jalur buta CCTV di dekat hutan. Mereka... mereka membawa Bumi," suara Enzo bergetar. Dia tahu apa konsekuensi dari kegagalan ini.

​Dante berbalik dengan kecepatan kilat, wajahnya berubah menjadi monster yang paling mengerikan yang pernah dilihat Aruna. Ia meraih kerah baju Enzo. "Bagaimana bisa jalur buta itu ada? Aku membayar kalian untuk memastikan tidak ada satu celah pun!"

​"Maafkan saya, Tuan. Sepertinya ada pengkhianat di dalam tim keamanan yang memberikan denah lokasi pada pihak luar," Enzo menundukkan kepala, siap menerima hukuman mati saat itu juga.

​Aruna jatuh terduduk di lantai yang dingin. Dunianya runtuh untuk kedua kalinya. "Bumi... anakku... ya Tuhan, jangan Bumi..."

​Dante melepaskan Enzo. Ia berdiri tegak, auranya memancarkan kegelapan yang begitu pekat hingga ruangan itu terasa semakin menyempit. Ia melihat ke arah pria yang terikat di kursi, lalu ke arah Aruna yang sedang hancur.

​"Enzo, hubungkan aku dengan Marco. Sekarang juga," perintah Dante.

​Beberapa menit kemudian, di layar monitor besar di sudut ruangan, wajah Marco muncul. Pria itu tampak sedang duduk di sebuah kantor mewah sambil menyesap cerutu. Di latar belakang, terlihat Bumi sedang duduk di sebuah kursi besar, tampak bingung namun belum menangis.

​"Halo, Dante. Aku melihat kau menemukan mainan barumu," ucap Marco dengan tawa rendah yang memuakkan. "Anak ini sangat mirip dengan ayahnya, bukan? Satria adalah orang yang merepotkan, dan sepertinya putranya juga akan menjadi alat negosiasi yang menarik."

​"Lepaskan dia, Marco," suara Dante terdengar sangat tenang, namun siapa pun yang mengenalnya tahu bahwa itu adalah ketenangan sebelum badai yang menghancurkan. "Kau punya urusan denganku, bukan dengan seorang bocah."

​"Oh, tentu saja. Tapi kau sudah membunuh banyak anak buahku di Jalan Kenanga. Aku butuh jaminan agar kau menyerahkan pelabuhan sektor utara padaku. Datanglah sendiri ke gudang lama di dermaga tujuh malam ini. Bawa surat kepemilikan pelabuhan itu, dan kau bisa membawa pulang bocah ini."

​Layar menjadi hitam. Sambungan terputus.

​Aruna merangkak menuju Dante, menarik ujung kemejanya. "Tolong... tolong bawa Bumi kembali. Aku akan melakukan apa saja. Ambillah nyawaku, tapi kembalikan anakku!"

​Dante menunduk, menatap Aruna. Ia mengulurkan tangannya, kali ini dengan kelembutan yang menyakitkan, dan mengusap air mata di pipi Aruna. "Aku tidak akan mengambil nyawamu, Aruna. Aku akan memberikan nyawaku untuknya."

​Dante berdiri dan menoleh ke arah Enzo yang masih berdiri kaku. "Siapkan seluruh pasukan. Kita tidak akan melakukan negosiasi. Kita akan melakukan pembersihan total. Dan Enzo... siapkan rompi antipeluru terkecil yang kita punya. Aku tidak akan membiarkan anak itu berada di tangan Marco sedetik pun lebih lama."

​"Tapi Tuan, luka Anda belum sembuh benar. Pergi ke dermaga adalah bunuh diri," cegah Enzo.

​Dante tidak menghiraukannya. Ia mengambil pistolnya kembali dari meja, memeriksa magasinnya dengan bunyi klik yang tegas. "Aku sudah mati sejak lama, Enzo. Malam ini, aku hanya akan menjemput kepulangan seorang anak."

​Aruna menatap punggung Dante yang melangkah keluar dari ruang bawah tanah. Ia menyadari bahwa pria ini, monster yang ia selamatkan, adalah satu-satunya harapan yang ia miliki. Dan di dalam hatinya, sebuah doa yang tak terucapkan muncul: bukan hanya untuk keselamatan Bumi, tapi juga agar Dante kembali hidup-hidup dari neraka yang akan ia datangi.

​Malam itu, langit di atas kota tampak semerah darah. Sang Vulture sedang bersiap untuk terbang menuju pertempuran terakhirnya, bukan demi kekuasaan, melainkan demi sebuah janji pada seorang janda dan selembar plester robot biru yang masih tersimpan di saku kemejanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!