Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24 Sumpah di Keheningan ICU
Setelah meronta hebat dalam pelukan Gus Azkar, tenaga Rina yang memang belum pulih benar akhirnya terkuras habis. Isak tangisnya yang tadinya menggelegar perlahan berubah menjadi sedu-sedan yang halus. Tubuhnya yang mungil perlahan meluruh, menjadi berat dalam dekapan Azkar.
Rina tidak lagi melawan. Ia hanya bisa menyandarkan kepalanya di bahu Azkar, dengan sisa air mata yang masih membasahi pipinya yang memerah akibat tamparannya sendiri.
"Rin... sudah, Dek. Mas di sini..." bisik Azkar dengan suara yang amat sangat rendah, tangannya tak henti mengusap punggung Rina dengan penuh kasih sayang.
Perlahan, napas Rina mulai teratur meskipun masih terdengar berat. Mata yang tadinya penuh amarah itu perlahan meredup, lalu tertutup karena kelelahan yang luar biasa. Rina jatuh tertidur dalam kondisi benar-benar lemas, tangannya masih mencengkeram erat kerah baju Gus Azkar, seolah-olah dalam tidurnya pun ia takut pria itu akan benar-benar pergi meninggalkannya.
Penyesalan yang Menjadi Janji
Gus Azkar tidak melepaskan dekapannya sedikit pun. Ia membiarkan perawat merapikan kembali selang infus Rina yang sempat berdarah, sementara ia tetap menjadi sandaran bagi istrinya.
Ia menunduk, mencium puncak kepala Rina dengan durasi yang lama. Di sana, di antara bau obat dan keringat dingin Rina, Azkar mengucapkan sumpah dalam hatinya yang paling dalam.
"Demi Allah, Rin... Mas tidak akan pernah mengucapkan kata cerai atau perpisahan lagi. Mas akan menjadi alasanmu untuk bersyukur karena telah memilih bangun. Mas akan menjadi rumah yang tidak akan pernah lagi membuatmu ingin pergi ke cahaya itu."
Penjagaan Tak Terputus
Azkar mengabaikan rasa pegal di kakinya yang masih bersimpuh di lantai samping ranjang. Ia hanya ingin Rina merasakan kehadirannya saat terbangun nanti. Dokter memberikan isyarat bahwa kondisi Rina mulai stabil berkat obat penenang ringan dan rasa aman dalam dekapan suaminya.
Di luar ruangan, Ibu dan Bapak Rina menangis haru melihat pemandangan itu melalui kaca. Mereka tahu, meski jalannya masih sangat terjal, setidaknya Rina tidak lagi berjuang sendirian. Rina sudah "pulang", dan kali ini, suaminya tidak akan membiarkan pintu rumahnya tertutup lagi.
____________________________________________________
Rina tertidur dalam penjagaan penuh Gus Azkar, sebuah awal dari proses penyembuhan yang sesungguhnya.
____________________________________________________
Suasana ICU pada pukul dua dini hari itu sangat sunyi, hanya menyisakan bunyi detak jantung yang stabil dari monitor. Lampu ruangan yang diredupkan menambah kesan hangat di tengah dinginnya udara rumah sakit.
Rina membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan yang mendekap tubuhnya. Ia menyadari Gus Azkar masih di sana, tidak bergeming dari posisinya semula—mendekap Rina seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Rina akan menghilang lagi.
Rina merasa sedikit bingung, kepalanya masih berdenyut nyeri dan dadanya terasa kaku. Namun, semua rasa sakit itu seolah teralihkan saat ia menatap wajah suaminya dari jarak yang sangat dekat.
Gus Azkar tertidur dalam posisi duduk yang tidak nyaman di samping ranjang, kepalanya bersandar di sisi bantal Rina. Rina tertegun melihat wajah suaminya. Garis-garis kelelahan terlihat jelas di bawah matanya yang menghitam karena kurang tidur berhari-hari demi menjaganya.
Ganteng banget... batin Rina lirih.
Ia memperhatikan setiap detail wajah Azkar: alis tebal yang biasanya bertaut tegas, hidung mancung yang sempurna, dan kumis tipis yang sangat rapi. Di bawah cahaya lampu yang temaram, Gus Azkar terlihat begitu menenangkan, jauh dari kesan monster yang selama ini ia takutkan. Rina tersenyum sangat tipis. Ternyata benar, ia tidak bisa membohongi hatinya sendiri. Ia memilih kembali karena pria ini.