NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENYINGGUNG BALIK

“Apa maksud Mbak ngomong kayak gitu? Mbak nyindir aku?!" Sentak Dini dengan suara meninggi yang tak lagi bisa menahan diri.

Maira menoleh pelan, seolah heran. “Loh, kok kamu marah, Din? Mbak cuma jawab pertanyaan kamu tadi, kenapa kerja keras. Ya biar nanti kalau anak mbak lahir, dia nggak kekurangan… nggak harus ngemis-ngemis pekerjaan sana-sini.” Ucapnya dengan senyum tipis yang tajam, menusuk.

Dini mendelik, namun belum sempat membalas, suara Bu Susi langsung meledak.“Maira! Kamu ngomong apa sih?!” Bentaknya keras, membuat Maira sedikit terkejut.

Tapi hanya sesaat. Tatapan Maira berubah menjadi serius, setelah ia mengingat sesuatu. Perlahan Maira melangkah mendekati ibunya.

“Oh berhubung ibu ada disini, ada yang mau aku tanyain ke ibu..." Ucapnya datar. “Kemana semua stok persediaan bulanan yang aku beli?” Tanya Maira tiba-tiba.

Wajah Bu Susi langsung menegang. Ia pikir Maira sudah melupakan hal itu. Namun tak disangka, Maira masih mengingat dan kini menanyakan langsung padanya.

Sebelum Bu Susi sempat menyusun alasan untuk menjawab, Dini dengan lantang menyahut. “Semuanya Ibu bawa ke rumah aku!"

Bu Susi langsung refleks menyikut Dini, panik dan gelagapan. Ia tak ingin apa yang dilakukannya diketahui oleh Maira, pun ia masih belum siap menghadapi Maira yang mungkin saja akan marah padanya. Namun terlambat, semuanya terbongkar begitu saja karena Dini yang sudah terbakar emosi.

Tatapan Maira seketika berubah. Matanya tajam, menelanjangi dua orang di hadapannya: ibunya dan adik tirinya. Ia melirik mereka bergantian, bibirnya mengatup rapat.

Dini kembali menantangnya dengan suara lantang. “Kenapa? Mbak mau marah? Harusnya masalah sepele begini tuh nggak usah dibikin besar!” Seru Dini.

Suara Dini yang keras terdengar sampai ke jalan. Beberapa warga yang sedang berlalu-lalang di sore hari depan rumah Maira mulai memperlambat langkah. Ada yang berhenti, berpura-pura mengecek ponsel. Ada pula yang mulai berbisik-bisik sambil menatap ke arah teras rumah Maira.

Dini melirik sekeliling dan tersenyum tipis. Ia dengan cepat memiliki ide untuk membuat citra kakaknya hancur di depan orang-orang. Ia ingin Maira terlihat sebagai kakak yang pelit, egois, dan tak tahu diri.

“Danu itu karena Mbak usir jadi sekarang tinggal di rumah aku." Seru Dini lantang, wajahnya tegak menantang. “Ibu tahu kondisi ekonomi aku kayak gimana, jadi wajar dong kalau ibu bantuin kebutuhan rumah aku. Jangan pelit-pelit jadi orang, Mbak. Itu makanya mungkin… sampai sekarang Mbak belum dikasih anak!”

Maira menggigit bibirnya, berusaha menahan getaran emosi yang mulai menyeruak saat Dini kembali mempermasalahkan tentang ia yang belum memiliki anak.

Dini yang merasa menang, tersenyum puas. Ia pun melirik ke arah ibunya, memberi isyarat agar ikut memainkan peran. Bu Susi yang sejak tadi berdiri canggung, langsung mengerti maksud anaknya. Ia menghela napas panjang lalu menatap Maira dengan wajah yang dibuat-buat kecewa.

“Maira… kamu lihat ini, ya!" Ucap Bu Susi sambil mengangkat sebuah tas belanja yang berisi gamis. “Dini aja masih sempat beliin ibu gamis. Kamu? Kamu tuh nggak pernah ngelakuin ini buat ibu! Ibu cuma bawa sedikit barang dari rumah ini untuk bantu kebutuhan adik kamu aja, tapi udah kamu ributin kayak gini."

Namun yang keluar dari bibir Maira bukan bantahan, bukan teriakan tapi ia malah tersenyum. Senyum miring seolah ia mengejek setiap kalimat yang didengarnya.

“Ibu..." Katanya tegas, menatap langsung ke mata Bu Susi. “Selama ini ibu tinggal di rumah ini makan tiga kali sehari, nggak pernah aku minta bayar. Listrik, air, kenyamanan—semuanya ada, bahkan uang perbulan pun aku kasih. Tapi kayaknya itu nggak ada harganya ya dimata ibu?"

Suasana hening sesaat sebelum Maira kembali mengeluarkan suara. “Oke. Ibu mau gamis, kan?” Ujar Maira kembali.

Hanya itu yang ia ucapkan sebelum berbalik. Tanpa sepatah kata tambahan, Maira melangkah masuk ke dalam rumah. Ia masuk dengan langkah tegap dan senyum tipis yang terlihat dari bibirnya.

Dini menoleh ke arah ibunya, senyumnya melebar. Kemenangan terpancar jelas di wajahnya. “Udah pergi dia, Bu." Gumamnya puas. “Kayaknya kita harus sering-sering main drama gini deh. Biar dia gampang ditekan.”

Bu Susi ikut terkekeh, matanya melirik ke arah pintu yang masih terbuka lebar. “Bener, Din. Ternyata kalau ibu pura-pura nelangsa gitu, dia langsung mundur. Nanti ke depan kalau ibu mau minta sesuatu, kayaknya emang harus main drama dulu biar dia nurut.”

"Kan aku udah bilang Bu, mainin drama ibu kayak waktu minta tinggal di rumah ini." Tawa keduanya pecah seketika.

Sementara itu, beberapa warga yang sejak tadi menguping mulai membubarkan diri. Tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi ketegangan yang membuat mereka penasaran.

Bahkan beberapa dari mereka saling berbisik pelan, menggunjing Maira yang kabarnya telah mengusir adik tirinya dari rumah—tanpa benar-benar tahu apa penyebabnya.

Namun tak sedikit pula yang justru membela Maira. Mereka tahu betul bagaimana latar belakang keluarga wanita itu. Mereka ingat bahwa ayah Maira telah tinggal lama di rumah tersebut, jauh sebelum kedua orangtua Maira berpisah.

Dan mereka juga tahu, bagaimana ibunya yang dulu meninggalkan Maira dan kembali datang memohon untuk tinggal bersama dengan membawa suaminya yang sekarang, setelah ayah kandung meninggal dunia.

Ciiitt!

Suara rem mendadak menggesek aspal basah, menggema di tengah hujan yang mengguyur deras. Farid terperanjat di balik kemudi, tubuhnya tersentak ke depan meski sabuk pengaman menahannya.

“Astaghfirullah!” Serunya panik sambil mengelus dadanya yang berdebar hebat.

Pandangan kaca mobil yang buram oleh air hujan membuat segalanya tampak kabur.

Ditambah kilatan petir dan suara guntur yang meledak di langit, suasana menjadi kacau dan mencekam. Ia tak yakin apa yang baru saja nyaris ia tabrak—bayangan itu muncul tiba-tiba, tepat di tengah jalan.

Dengan cepat Farid membuka pintu mobil dan turun, membiarkan jas dan celananya langsung disapu hujan. Langkahnya tergesa, sepatunya mencipratkan air dari genangan yang menggenangi aspal.

Dan di sana, beberapa meter dari lampu depan mobilnya, ia melihat seorang perempuan duduk diam di tengah jalan. Tubuhnya kuyup, wajahnya pucat seperti kehilangan arah, seolah jiwanya hilang.

“Mbak! Mbak nggak apa-apa, kan?” Tanya Farid panik sambil mendekat.

Wanita itu tak menjawab, hanya duduk diam.

Namun Farid mendekat lebih cepat, berjongkok di hadapannya. Saat wajah wanita itu sudah terlihat oleh Farid, ia pun langsung mengenalinya.

“Vina?!” Suaranya naik satu oktaf, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Segera Farid pun membantu wanita itu berdiri. Sementara itu, Vina berdebar saat benar-benar baru menyadari siapa pria yang sedang berada di dekatnya.

Farid.

Pria itu memegang lengannya dengan hati-hati. Hujan deras di sekeliling mereka nyaris tak terdengar lagi di telinganya—semuanya mengabur, kecuali suara napasnya sendiri yang semakin tak teratur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!