NovelToon NovelToon
Vallheart

Vallheart

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempat yang Tenang

Setiap kali ia berjalan melewati aula utama Academy, suara-suara itu muncul seperti angin tipis: tidak bisa dipegang, tidak bisa diusir.

“Dia lagi…”

“Pasti sengaja dekat dengan Pangeran Reyd.”

“Penyihir biasa, tapi dia terlalu percaya diri”

Lein menurunkan pandangannya, melangkah tanpa mempercepat atau memperlambat langkah.

Raksha menyadari satu hal penting:

Melawan hanya akan membuatnya lebih nyata.

Di kelas sihir teoretis, Lein duduk dua baris di depan Reyd. Beberapa murid perempuan menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam. Biasanya, hal seperti itu akan membuatnya gelisah.

Hari ini tidak.

Ia membuka bukunya, membaca baris demi baris, dan membiarkan dunia di luar pikirannya memudar.

“Lein.”

Ia menoleh. Reyd menyodorkan catatannya. “Bagian ini. Penjelasanmu kemarin membantuku.”

Lein ragu sejenak, lalu menerimanya. “Terima kasih.”

Beberapa bisikan menguat.

Namun Lein tetap duduk.

Saat istirahat, ia berjalan sendiri ke taman belakang. Di sana, ia duduk di bangku yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

“Jadi beginilah rasanya hidup sebagai manusia biasa,” gumamnya pelan.

Dulu ditakuti karena kekuatan.

Sekarang diperhatikan karena pesona.

Dua-duanya melelahkan.

Seorang murid perempuan melewati taman, melirik Lein sebentar sebelum pergi. Tidak ada ejekan. Tidak ada kata-kata. Hanya keheningan.

Sebagian dari mereka bukan membencinya.

Mereka hanya tidak mengerti.

Dan ia tidak berkewajiban menjelaskan.

Sore itu, Grack duduk di sampingnya sambil membawa dua gelas minuman hangat.

“Kamu terlihat lebih tenang, Lein.” katanya.

“Aku lelah mengeluh,” jawab Lein jujur.

Grack terkekeh. “Academy memang seperti itu. Jika kamu menonjol sedikit saja, semua orang merasa berhak berkomentar.”

Lein menatap langit yang mulai berubah warna. “Aku akan terbiasa dengan ini semua”

“Itu tidak mudah.”

“Aku tahu.”

Namun kali ini, Lein mengatakannya tanpa ragu.

Ia berjalan kembali ke asrama saat senja, melewati kelompok murid yang kembali berbisik. Beberapa tatapan masih tajam, beberapa masih dingin.

Dan di dalam dirinya, Raksha Lozarthat, penyihir kuno yang pernah menghancurkan dunia demi kehendaknya sendiri; menyadari sesuatu yang jauh lebih sulit daripada sihir terlarang mana pun:

Menjalani hidup biasa,

dan tetap memilih untuk tidak menyakiti siapa pun.

Itu adalah latihan terberat yang pernah ia jalani.

Seorang murid perempuan bernama Lysa Freylan mendekati Lein yang duduk sendirian.

Itu hal pertama yang Lein sadari: tidak ada tatapan menilai, tidak ada keraguan di langkahnya. Gadis itu membawa beberapa buku ramuan, rambutnya dikepang sederhana, dan senyumnya ramah namun tulus.

“Lein,” katanya pelan. “Bolehkah aku ikut duduk?”

Lein menoleh, sedikit terkejut, lalu mengangguk. “Tentu.”

"Apa yang membuatmu kesini?"

Mereka duduk berdampingan di bangku taman kecil. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Hanya suara angin dan halaman buku yang dibalik.

“Aku tidak pandai sihir ofensif,” kata Lysa akhirnya. “Aku lebih ke sihir pendukung. Penguat stamina, penenang mana, hal-hal kecil.”

Lein tersenyum tipis. “Itu tidak kecil.”

Lysa menoleh, terkejut. “Benarkah?”

“Ya. Banyak yang bertahan hidup karenanya”

Lysa tertawa kecil, tampak lega. “Aku senang mendengarnya. Aku pikir mungkin kita sedikit mirip.”

Lein memahami maksudnya.

Tidak menonjol karena kekuatan.

Tidak diingat karena ledakan sihir.

Namun tetap dianggap ada.

Sejak hari itu, Lysa sering menemani Lein di kelas, di ruang baca, bahkan saat makan. Beberapa murid memperhatikan, beberapa masih berbisik, namun kehadiran Lysa menjadi perisai kecil yang hangat.

Sore hari, Reyd menghampiri Lein di aula barat.

“Lein,” katanya. “Jika kamu tidak sibuk, maukah kamu ikut denganku sebentar?”

Lein ragu. “Reyd itu kau... ? Pergi ke mana?”

“Tempat yang jarang didatangi murid lain.”

Ia mengangguk.

Mereka berjalan keluar gerbang samping Academy, menyusuri jalur berbatu yang mengarah ke bukit kecil. Di sana, terbentang padang rumput dengan bunga liar berwarna pucat, menghadap langsung ke danau yang memantulkan cahaya senja.

Angin berhembus lembut.

“Indah,” kata Lein tanpa sadar.

Reyd tersenyum. “Aku sering ke sini saat ingin berpikir.”

Mereka duduk di rerumputan. Tidak terlalu dekat, juga tidak terlalu jauh.

“Aku ingin minta maaf,” kata Reyd tiba-tiba. “Aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak nyaman di Academy”

Lein menatap danau. “Kau tidak melakukan kesalahan, Reyd.”

“Namun kehadiranku memperumit hidupmu.”

Lein terdiam, lalu berkata jujur, “Mungkin. Tapi aku belajar menghadapinya.”

Reyd tersenyum kecil. “Kamu lebih kuat dari yang aku kira.”

Raksha mendengus pelan di dalam hatinya.

Kekuatan tidak selalu berarti mampu menghancurkan.

Matahari tenggelam perlahan, mewarnai langit dengan jingga lembut. Lein menutup matanya, merasakan ketenangan yang jarang ia rasakan.

Saat mereka kembali, Lein melihat Lysa menunggunya di gerbang asrama, melambaikan tangan kecil.

Lein membalas lambaian itu.

Tidak berisik.

Tidak dramatis.

Namun cukup untuk membuat Academy terasa… sedikit lebih ramah.

1
Namida Leda
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!