NovelToon NovelToon
Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Razif Tanjung

Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!

Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.

Namur, takdir berkata lain.

saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.

" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "

Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Ratu Hormon Yang Mengamuk

Gudang penyimpanan bahan makanan Restoran Golden Spoon menjadi mimpi buruk bagi koki, tapi surga bagi para tikus yang berlalu lalang di tempat ini.

Tikus-tikus di sini ukurannya sebesar anak kucing dengan bulunya yang klimis karena makan keju impor, dan mereka kebal racun tikus biasa. Mereka bahkan menatap manusia dengan tatapan meremehkan.

"Gile juge yeee," komentar Bara sambil berdiri di ambang pintu gudang. Di sebelahnya, Clara bergidik ngeri.

"Bagaimana ?, apakah bisa?" Tanya wanita itu dengan perasaan ragu.

Bara tersenyum miring. Dia mengeluarkan sebuah toples kaca berisi cairan kental berwarna kuning kehijauan. Baunya... Mengingatkan kenangan masalalu.

"Apa itu?" tanya Clara penasaran

"Ini adalah Esensi Kencing Raja Kucing Hutan yang sudah difermentasi dengan Kelenjar Musang," jawab Bara bangga.

"Di dunia para tikus, bisa diartikan sebagai musuh alami mereka'."

Bara tidak membunuh tikus-tikus ini di dalam karena akan menambah beban pekerjaan. Kalau mati di dalam, bangkainya susah dicari dan bau.

Dia ingin mengusir mereka akan lebih efisien.

Bara menuangkan cairan itu ke dalam sistem ventilasi gudang. Dan menyalakan kipas blower untuk media penghantar bau.

Wuuusss...

Aroma predator tingkat tinggi menyebar ke seluruh ruangan. Bagi hidung manusia, baunya cuma agak sedikit apek tidak terlalu menggangu, Tapi bagi tikus, ini teror psikologis.

Squeak! Squeak! Cit! Cit!

Belum sempat mata berkedip gelombang tikus berhamburan keluar dari lubang-lubang persembunyiaan. Mereka bergerak dengan irama gaduh yang tak terkendali merasa putus asa mencari jalan dari takdir yang menyiksa.

Bara membukakan pintu belakang gudang yang mengarah ke selokan besar.

"Silakan lewat sini, Tamu-tamu tak diundang!"

seru Bara layaknya petugas parkir.

Gerombolan pengerat itu meluap seperti air bah hitam, terjun bebas ke selokan kota, meninggalkan gudang Golden Spoon selamanya. Mereka lebih memilih hidup miskin di got daripada mencium aroma kematian dari "Predator Ghaib" yang membuat mereka gemetar.

"Selesai," Bara menepuk tangannya. "Gudang steril. Mana upahku?."

Clara membawa Bara naik lift pribadi menuju Penthouse Office, dia ingin memperkenalkan bara sebagai supplier utama mereka kepada sang bos, dan tentunya untuk mengambil komisi atas kerja pintar bara dalam menangani kasus para hewan pengerat yang digudang.

Sepanjang jalan, karyawan-karyawan restoran terlihat tegang. Beberapa pelayan keluar dari ruangan Bos dengan wajah habis menangis.

"Peringatan," bisik Clara sebelum membuka pintu mahoni besar. "Sepertinya Bos hari ini mood-nya sedang... hancur. Jangan bicara kalau tidak ditanya. Jangan natap matanya. Jangan napas terlalu keras, tapi tenang aja nanti biar saya yang menghadapinya"

"Ah, Bos tipe Tyrant," simpul Bara. "Makanan empuk."

Pintu terbuka.

Ruangan itu mewah, dingin, dan berbau aromaterapi lavender yang gagal menutupi aura kemarahan.

Di balik meja kaca raksasa, duduk seorang wanita yang kecantikannya intimidatif. Rambut bob tajam, blazer merah menyala, lipstik merah darah. Dia sedang melakukan atraksi mematahkan pensil menggunakan jari.

Namanya Viona. CEO Golden Spoon Group. Usia 28 tahun. Status: Lajang, Kaya Raya, dan Galak Minta Ampun.

"CLARA!" bentak Viona tanpa mendongak.

"Kenapa laporan keuangan bulan ini margin-nya turun 0,01%?! Lu mau gw pecat hah.?!"

"Cih... pecat lah peduli apa gw," ucap Clara seakan tak peduli, dari nada bicaranya, hubungan mereka tampak sangat dekat.

"Itu karena fluktuasi harga cabai. Makanya jangan doyan marah-marah aja lu, baca kek tuh laporan yang lain.. Oh ya, ni Bara. Orang yang membereskan tikus di gudang."

Viona mendongak. Matanya yang tajam seakan menusuk.

Dia melihat Bara dari atas ke bawah. Celana kargo kotor, kaos ketat, bau apek bekas gudang.

"Ini?" Viona mendengus jijik. "Kepala gw lagi pusing ya, jangan bawa gembel masuk ke ruangan, Bayar dia, lalu usir. Baunya bikin migrain gw makin parah!"

Viona memijat pelipisnya, wajahnya meringis menahan sakit. Ada jerawat besar yang meradang di dagunya, tertutup bedak tebal tapi tetap kelihatan oleh mata elang Bara.

"Heh, dia itu supplier utama restoran kita, enak aja lu bilang begitu " bentak Clara yang tak kalah galaknya sampai membuat bara tidak percaya kalau hubungan mereka itu atasan dan bawahan.

Bara melangkah maju, mendekati meja Viona, Clara pun sedikit kebingungan, ulah apa yang akan dilakukan orang ini nanti pikirnya.

"Berani kamu mendekat?!" Viona berdiri, menggebrak meja. "Scurity!!"

"Diam lah kalau kamu mau sembuh." perintah Bara tenang, tapi suaranya mengandung aura yang menekan.

Viona sedikit tertegun jiwanya seakan terguncang seperti menghadapi seorang konglomerat yang memiliki kekuasaan tertinggi.

Bara menatap wajah Viona lekat-lekat. Diagnosis berjalan di kepalanya seperti teks berjalan di layar komputer.

Wajah pucat kekuningan (Defisiensi darah).

Jerawat batu di area dagu (Gangguan Hormonal).

Napas pendek dan emosi meledak

Tangan memegang perut bagian bawah secara tidak sadar (Kram menstruasi).

"Telat 2 minggu, kan?" tanya Bara tiba-tiba.

Hening.

Clara melongo. Jantungnya berhenti berdetak. Mampus. Bara cari mati.

Wajah Viona memerah padam. Malu bercampur murka. "APA KAMU BILANG DASAR MESUM?!"

"Darah mens kamu tidak lancar," lanjut Bara santai, seolah sedang membicarakan cuaca.

"Ada sumbatan di rahimmu yang membuat tubuhmu menolak ritmenya sendiri. Jika tidak dilepaskan, sesak di dadamu itu akan terus mencekikmu, dan sakit kepala mu akan terus menjadi penghambat."

Viona terdiam. Mulutnya terbuka sedikit. Analisisnya... akurat 100%. Dia memang sedang kesakitan luar biasa, tapi dia tahan demi gengsi.

. "Penyebab utamanya bukan cuma fisik, tapi ketidakseimbangan hormon yang kronis. Tubuhmu itu memproduksi prostaglandin berlebih karena kamu terlalu tegang—selalu merasa harus menanggung semuanya sendirian, banyak pikiran dan lain-lain"

"Ia menjeda, senyum tipis yang meremehkan muncul di bibirnya. "Kamu butuh asupan oksitosin dan endorfin dosis tinggi—hormon pereda nyeri alami yang sayangnya hanya diproduksi otak kalau manusia merasa disayangi atau... punya pasangan."

"Tapi melihat auramu yang gersang dan 'galak' begini, sepertinya kamu sudah jomblo sejak zaman prasejarah, ya? Pantas saja rahimmu protes, pemiliknya terlalu kaku untuk merasa bahagia."

DUAARRR!

Petir menyambar di siang bolong (dalam hati Viona).

Clara menutup mulutnya agar tidak menjerit. Bara baru saja menjatuhkan bom nuklir.

Tangan Viona gemetar, bukan lagi karena sakit, tapi karena amarah yang memuncak ke ubun-ubun. Rasanya ia ingin menyiramkan kopi panas ke wajah pria di depannya itu.

"Kurang ajar..." Viona gemetar, tangannya meraih vas bunga keramik mahal di meja. "KELUAR! ATAU SAYA BUNUH KAMU!"

"Jangan marah-marah, Nona," potong Bara cepat, menahan tangan Viona. "Marah cuma bikin kerutan makin banyak dan mens makin mampet. Lagipula, kita ini satu nasib." Alasan bara cepat agar suasana kembali terkendali.

Viona berhenti. "Hah?"

Bara menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

"Saya juga Jomblo Akut dari lahir. 25 tahun hidup, tangan wanita yang pernah saya pegang cuman tangan kamu deh kayaknya."

Suasana hening yang canggung terjadi.

"Kita ini sama-sama menyedihkan dalam asmara, Nona Viona," lanjut Bara dengan wajah polos tanpa dosa. "Bedanya, saya jomblo miskin yang santai. Kamu jomblo kaya yang stress karena rahimnya protes minta perhatian."

"Aku punya cara untuk menyembuhkan penyakitmu itu dalam waktu sebulan—tanpa obat kimia yang berlebihan, tanpa perlu kau mencari pasangan. Tapi tentu saja, hal seperti ini tidak gratis. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?"

Viona sedikit melunak dia menarik vas itu kembali kepada tempatnya.

"Apa kesepakatannya?" Tanya viona yang telah kembali duduk di singgasana.

Bara meletakkan kedua tangannya di meja, menatap Viona serius.

"Saya butuh Ruko (Rumah Toko) tiga lantai di lokasi strategis. Sertifikat Hak Milik," rinci Bara. "Dan saya butuh peralatan kimia yang layak, tabung distilasi kaca, tungku pemanas presisi, dan neraca analitik."

"Kamu gila!" Viona tertawa sinis. "Minta Ruko seharga miliaran cuma buat nyembuhin kram perut?"

"Bukan cuma kram perut," koreksi Bara. "Tapi juga menyelamatkan Golden Spoon Group dari kebangkrutan karena CEO-nya salah ambil keputusan akibat Mood Swing."

Bara menunjuk tumpukan berkas yang dicoret-coret Viona.

"Lihat itu? Kamu hampir memecat koki terbaikmu cuma karena supnya kurang asin. Itu hormon yang bicara, bukan logika."

Viona terdiam lagi. Skakmat.

"Satu bulan," tawar Bara. "Beri saya waktu satu bulan. Saya akan berikan terapi rutin. Kalau bulan depan mens kamu lancar, penyakit kamu hilang, dan mood kamu stabil... kamu kasih saya Ruko itu. Kalau gagal kamu juga tidak rugi apa-apa kan."

Viona menatap Bara. Ada pikiran bisnis yang melintas di benaknya saat ini, dari yang dia dengar dan pahami bara mempunyai kualitas barang supplier yang di luar akal sehat, dia tidak tau kejutan apa yang akan pemuda ini berikan nantinya.

"Ok..Tapi saya mau bertransaksi dengan kamu, apapun usahamu dimasa depan, saya pemegang saham 20 persennya, tentu saja saya akan membantumu dalam hal apapun, dimulai dari uang" kata Viona dingin. " Oh ya satu lagi, kamu harus hilangkan rasa sakit ini sekarang juga. Saya ada rapat penting 10 menit lagi, bagaimana?."

Bara berfikir sejenak, menimbang-nimbang untung rugi dari transaksi ini, tapi apa boleh buat, demi rencananya berjalan dengan cepat dia rela melepas usahanya nanti sebesar 20 persen untuk viona.

"Ok Deal" kata Bara.

Bara merogoh saku celananya yang kumel. Dia mengeluarkan bungkusan daun pisang kecil. Isinya pasta berwarna hijau gelap berbau menyengat.

"Apa itu? Tahi sapi?" tanya Viona curiga.

"Ini Salep Bobok Daun Dewa. Campuran Artemisia, Jahe Merah, dan Minyak Sereh."

"Oleskan di titik dua jari di bawah pusar. Rasanya akan panas, lalu dingin."

Viona mengambil bungkusan itu, dan lari ke toilet pribadi di ruangannya.

Lima menit

Pintu toilet terbuka.

Viona melenggangkan kaki dengan wajahnya yang berubah total.

Pucatnya hilang. Kerutan di dahinya lenyap. Dia berdiri tegak, napasnya lega. Rasa sakit yang melilit perutnya hilang tak berbekas, digantikan sensasi hangat yang nyaman.

"Enak..." gumam Viona tanpa sadar. "Rasanya... enteng."

"Jadi, bagaimana Ruko saya?"

"Tunggu sampai bulan depan sesuai perjanjian," Viona kembali ke mode Bos Galak, tapi kali ini nadanya lebih lunak. "Sekarang pergi dari sini. Dan Clara... bayar dia lebih untuk urusan tikus."

Bara tersenyum puas.

"Senang berbisnis dengan Anda, sesama Jomblo."

Bara berbalik pergi, melambai santai.

Viona menatap punggung Bara, lalu tanpa sadar tersenyum kecil—senyum pertamanya bulan ini.

"Sialan. Orang aneh," gumam Viona.

1
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Razif Tanjung: terimakasih udah mampir kak🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Gege
pikir ada adegan kultivasi ganda kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu lima some...kan tenaganya berlimpah ruah birahinya naik..mirip epek afrodiak..🤣🤭
Razif Tanjung: jangan tar ke banned🤣🤣🤣
total 1 replies
Gege
naaaah kaaan ada adegan nanti remas remas...pastikan scene remas meremas 2k kata sendiri thoorr...🤣🤣
Razif Tanjung: eittt pelanggaran 🤣🤣
total 1 replies
Gege
kereeen updatenya...apik dan epic... kalo bisa lima kenapa tiga Thor...banyakin hareemnyaah...
Gege
apakah akan ada scene kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu dalam 10k kata thorr?🤣
Razif Tanjung: oh jelas tidak🤭
total 1 replies
Gege
mantaabbb...gassss 10k kata per update thorrr...
Gege
wasyeeek... moga ada alur yang nemuin wanita kena kanker payudara sembuhnya harus dipijat dengan olesan ramua ajaibnya Bara...yoook bikin thorr alurnya
Razif Tanjung: wah kebetulan sekali🤣🤣🤣, tinggal nunggu update ya kak
total 1 replies
Gege
karya yang warbyasaah
Gege
gilaa karya yang warbyasaah...para reader NT wajib sih ini mampir...rugi kalo engga...gasss thorrr
Gege
udah sampe bab 6 ceritanya amajing bangeed...warbyasaah...gass sekali up 10k kata...🤣
Razif Tanjung: wah terima kasih udah mampir saya terharu loh
total 1 replies
Slow ego
gua ikut mampir like👍.
Slow ego
namanya unik🤔
Razif Tanjung: terimakasih banyak kak, apakah ada yang harus saya perbaiki kedepannya, dari sudut pandang kakak yang baca deh
total 3 replies
anggita
mampir like👍, iklan👆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!