Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Kedatangan tamu tak terduga.
Darrel terpaku beberapa saat, melihat pengendara mobil yang sangat dikenalinya itu. Keningnya berkerut tajam, dia mengingat bahwa ini bukan lah jalan menuju kantor ataupun hotel Al Gha Corp. "Apa dia sengaja lewat sini? Atau memang selama ini mereka selalu mengawasiku?"
Darrel memejamkan mata sambil memijat keningnya yang mendadak terasa berat lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Papa... Papa kenapa? Papa kenal sama Om baik hati itu?" tanya Zayn dengan tatapannya yang polos.
Darrel kembali menggelengkan kepala dan mencoba tersenyum menanggapi pertanyaan putranya. "Papa tidak mengenalnya, Sayang. Mungkin orang itu lagi banyak uang dan ingin berbuat baik," jawab Darrel.
"Oh, iya," sahut Zayn, entah anak itu mengerti atau tidak.
"Sudahlah, jangan dipikirkan," gumam Darrel dalam hati. "Mungkin ini hanya kebetulan saja."
Dia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan melayani pelanggan yang datang silih berganti. Zoey dan Zayn juga dengan setia membantu Darrel berjualan. Tawa dan celoteh mereka sedikit meredakan kecemasannya.
Menjelang siang, dagangannya mulai menipis. Darrel memutuskan untuk pulang.
"Hari ini kita dapat uang banyak ya, Papa!" seru Zoey dengan riang.
"Iya, kita bisa beli es krim!" timpal Zayn dengan antusias.
Darrel tersenyum. Dia merasa senang melihat kedua anaknya begitu gembira. "Iya, nanti kita beli es krim," janjinya.
Darrel membawa motor roda tiganya meninggalkan taman. Di sepanjang perjalanan pulang ke rumah siang itu, pikirannya berkecamuk meskipun sudah berusaha untuk mengenyahkannya. Dia sangat tahu, bahkan sangat mengenali mobil mewah yang dipakai oleh si pengendara tersebut.
Darrel menghentikan motornya di depan sebuah minimarket untuk membelikan es krim Zayn dan Zoey juga beberapa cemilan. Setelah membayar dia kembali ke motornya dan memberikan jajanan tersebut pada kedua anaknya.
"Yeeea....es krim." Zayn dan Zoey menerimanya dengan gembira.
"Terima kasih, Papa," seru mereka serentak.
"Kembali kasih. Hadiahnya buat papa mana?" kata Darrel sambil menyodorkan pipinya.
Keduanya pun berebut memberikan ciuman untuk ayahnya.
"Makasih ya, Sayang." Darrel mengusap kepala kedua anaknya, lalu kembali duduk di jok motornya dan melajukannya menuju rumah.
Ketika sampai di depan rumahnya, Darrel dikejutkan oleh kedatangan tamu tak terduga. Mami Mia dan Papi Baim tengah duduk santai di teras rumahnya tampak tersenyum melihat kedatangannya.
Darrel tertegun. Jantungnya berdegup kencang. "Mami... Papi?" ucap Darrel dengan nada terkejut.
Dia tidak menyangka, kedua orang tuanya akan datang menemuinya. Dia mulai berpikir 'apa Danish ada hubungannya dengan kedatangan mereka?'
Zayn dan Zoey yang melihatnya langsung bertanya, "Mereka itu siapa, Pa?"
Namun, belum sempat Darrel menjawab pertanyaan anaknya, Mami Mia datang dan menghambur memeluknya.
"Abang..." ucap Mami Mia. Airmatanya jatuh berderai membasahi pipinya.
Wanita paruh baya itu benar-benar terpukul mendapati kenyataan, bahwa putra yang ia banggakan memilih jalan yang tidak pernah ia bayangkan. Selanjutnya Mami Mia menciumi Darrel bertubi-tubi melampiaskan kerinduannya.
"Mami kangen sama Abang," suara Mami Mia begitu lembut, sangat merdu terdengar di telinga Darrel.
Namun, pria dua anak itu masih terdiam. Dia bingung bagaimana harus bersikap. Dia merasa canggung.
Sementara itu, Papi Baim mendekati Zayn dan Zoey. "Halo, assalamu'alaikum cucu-cucu opa," sapanya ramah, sambil tersenyum hangat dan mengulurkan tangannya untuk salaman.
Zayn dan Zoey saling beradu pandang. Mungkin mereka bingung dengan ucapan Papi Baim yang memanggilnya cucu.
"Wa'alaikumsalam, Kakek siapa? Kenapa memanggil kami, cucu?" tanya Zayn seraya menyembunyikan Zoey di belakangnya.
Papi Baim tersenyum dan sangat terkesan dengan sikap Zayn yang sangat melindungi adik kembarnya.
"Jangan takut, opa memang kakek kalian. Papinya papa kalian. Ayo, kita kenalan!" Papi Baim mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar.
Zayn tampak ragu, tetapi bocah lelaki itu akhirnya menerima uluran tangan Papi Baim dan menciumnya takzim.
"Nama aku Zayn, dan dia Zoey," katanya sambil menggeser tubuh sang adik agar sejajar dengannya.
Dengan malu-malu Zoey meraih tangan Papi Baim dan menciumnya pula. Dengan penuh rasa haru Papi Baim memeluk kedua cucunya. Selama ini dia hanya bisa mengawasi dari kejauhan tanpa bisa menyentuh mereka.
Papi Baim mengangkat keduanya dari gerobak lalu membawanya ke rumah. "Sebaiknya kita bicara di dalam," kata Papi Baim. "Tidak elok dilihat tetangga."
Mami Mia meraih tangan Darrel dan menariknya ke rumah. Darrel segera membuka pintu dan mempersilakan orangtuanya masuk. Mereka duduk di bawah di atas karpet tempat biasa Zayn dan Zoey bermain.
"Kami datang untuk menjemput, Abang," kata Papi Baim memecah kecanggungan. "Kami ingin Abang kembali ke rumah."
"Kembali? Tapi..." Darrel menggantungkan kalimatnya. Dia bingung dan bimbang.
"Dengan Abang kembali ke rumah, mami bisa merawat cucu-cucu mami dan Abang bisa bekerja dengan tenang," sambung Mami Mia.
"Papi ingin Abang kembali memimpin perusahaan yang telah Abang tinggalkan," Papi Baim menambahkan.
Darrel semakin terkejut. Dia tidak menyangka, Papi Baim memintanya untuk kembali ke perusahaan. Dia terdiam dan menatap kedua orang tuanya dengan pikiran berkecamuk.
Selanjutnya Darrel menghela napas, merasa dilema. Di lubuk hatinya yang terdalam dia merindukan keluarganya. Namun, di sisi lain ingin membuktikan bahwa dia mampu bangkit menjadi dirinya sendiri tanpa nama besar keluarganya.
"Maaf, abang tidak bisa!" Darrel berkata dengan tegas dan penuh tekad.
"Abang ingin membangun dunia abang sendiri bersama anak-anak," sambungnya beralasan.
Mami Mia tampak terkejut. Ia menatap sang putra dengan pandangan kecewa. Begitupun dengan Papi Baim.
"Tapi, Bang....?"