Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditanya 14
"Terimakasih Bestari,"ucap Rohan yang saat ini tengah mengantarkan Bestari hingga ke teras. Mereka sudah selesai sarapan dan anak-anak juga tengah bermain.
Karena sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan, Bestari pun berpamitan untuk pulang. Untuk menjaga sopan santun, dia mengantar gadis itu hingga ke depan rumah.
"Eiii saya kali Om yang musti ngomong makasih. Kan Om yang udah ngasih saya sarapan. Ya udah kalau gitu saya pulang dulu. Oh iya, kalau ada saya jangan segan buat ngehubungin saya. Om Dud udah punya nomor saya kan, nah call me ok?" sahut Bestari. Senyumnya mengembang sempurna.
"Cantik," gumam Rohan sangat lirih. "Astaga, kamu mikirin apa Rohan?" gumamnya lagi.
Pria itu lalu memejamkan matanya sejenak dan mengusir apa yang baru saja merasuk dalam pikirannya itu.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Bestari adalah gadis yang cantik, sangat cantik malah. Bukan tanpa alasan dia mendapat julukan kembang desa. Tapi Rohan merasa tidak pantas memuji gadis itu.
Dia datang ke desa ini untuk mencari ketenangan. Dan tidak sepantasnya dekat dengan wanita. Itu lah yang ada dipikiran Rohan. Dia seolah tengah membentengi hati dan pikirannya untuk tidak kembali berhubungan dengan wanita lagi.
Fokus Rohan adalah kedua anaknya dan menyembuhkan luka yang dimiliki. Dimana itu bukan berarti harus bersama wanita untuk menambal lubang akibat sakitnya dari sebuah pengkhianatan.
"Ayo fokus sama tujuan awalmu Rohan. Gadis itu emang cantik dan baik. Tapi cukup di situ, jangan memiliki perasaan lebih. Kebaikan dan cara bicaranya emang blak-blakan dan seolah menyiratkan rasa suka ke kamu. Tapi inget, itu cuman persepsimu sendiri. Lagian mana ada kembang desa yang mau sama duda anak dua begini. Jadi sadar diri Rohan, bangun dari tidur mu."
Plak!
Rohan menepuk kedua pipinya sendiri, seolah tengah menyadarkan bahwa apa yang ia pikirkan tadi tentang Bestari itu tidak benar. Apa yang dilakukan Bestari itu hanya bagian dari sikap baik. Jadi jangan membuat persepsi lain.
Tapi semua yang dipikirkan Rohan itu sepenuhnya salah. Bestari bukan hanya sekedar baik dengan dirinya dan kedua anaknya karena gadis itu memang memiliki ketertarikan padanya.
"Kamu ini beneran suka sama Rohan ya, Best?" tanya Dewa tiba-tiba.
Bestari baru saja melangkahkan kakinya ke dalam rumah tapi langsung mendapat todongan pertanyaan dari sang ayah.
"Perasaan Bapak tadi ke kebun deh, kok udah di rumah aja?" jawab Bestari. Gadis itu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan kembali.
"Ya emang bapak dari kebun. Tapi kan tadi pagi. Lihat ini udah jam berapa, ya udah waktunya buat bapak pulang lah. Ya kali suruh di kebun terus,"sahut Dewa.
Seketika kening Bestari mengkerut, ia lalu mengarahkan pandangannya ke jam dinding yang menggantung di ruang tamu rumahnya.
Ooooh
Mulut Bestari membuat lingkaran saat dia melihat pukul berapa sekarang. Jarum panjang jam itu sudah diangka dua belas, dan jarum pendeknya ada diangka sepuluh. Hari juga sudah panas, jadi pas saja ayahnya itu sudah kembali dari kebun.
"Jangan a o a o, jawab pertanyaan bapak. Apa kamu beneran tertarik sama duda itu? bapak rasain kamu sering banget dateng ke rumahnya. Terus perhatian juga sama anak-anaknya," Dewa menelisik raut wajah putrinya. 24 tahun dia merawat sang anak. Sudah tentu dia tahu setiap gesture tubuh dan ekspresi wajah putri tunggalnya itu.
"Emang ada yang salah ya, Pak?" sahut Bestari, dia tidak jadi membawa barang bawaannya ke dapur dan memilih untuk meletakkan di meja ruang tamu. Wajahnya menatap ke arah sang ayah dengan lekat ketika bertanya demikian.
"Nggak ada yang salah. Sah-sah aja kamu mau tertarik sama siapapun itu. But why musti Rohan yang notabene adalah duda? yang masih perjaka aja banyak, Best. Dan yang mau sama kamu tuh ibarat kata pada ngantri. Dan yang penting adalah satu lagi, dia duda karena cerai sama istrinya. Dan kita nggak ada yang tahu penyebab mereka pisah itu apa," jawab Dewa panjang lebar.
Bestari paham betul mengapa ayahnya bicara demikian. Semua itu semata-mata karena khawatir kepadanya dan ingin dirinya mendapatkan pendamping yang baik.
Kejadian Nanta merupakan pengalaman berharga yang dimiliki oleh gadis itu. Dari pria tersebut, ia menjadi tahu bagaimana rasanya sakit hati karena sebuah perselingkuhan. Dia tahu bagaimana pengkhianatan itu sangat membekas dalam hati.
"Tertarik, aku emang tertarik sama Om Dud. Semua itu karena Rishi dan Riesha. Aku hanya teringat saat masih kecil dulu. Dimana aku dan mereka memiliki sebuah kesamaan yakni sama-sama tidak merasakan kasih sayang seorang ibu. Awalnya aku kagum sama Om Dud karena melihatnya seolah ngelihat bapak di masa lalu. Tapi lama-lama bener-bener ngerasa suka. Masih hanya sekedar suka juga, Pak. Bukannya itu nanti juga bisa ilang? Bapak nggak perlu khawatir, tenang aja. Anakmu ini bukan cewek lemah yang menye-menye dalam menghadapai perihal perasaan. Ya udah aku masuk dulu ya. Ini mau beresin bekas wadah,"ucap Bestari sambil melenggang ke dapur. Ia juga tersenyum kepada sang ayah.
Huuuft
Dewa menghembuskan nafasnya kasar. Apa yang baru saja dikatakan oleh Bestari itu tentu dia tahu. Ya Dewa sangat tahu betapa kuat dan tegar nya sang putri. Dia juga tahu kalau Bestari adalah pribadi yang mandiri dan mampu menyelesaikan segala masalahnya sendiri.
Tapi meskipun demikian, sebagai ayah Dewa juga tidak ingin putrinya memilih pasangan yang salah. Dia juga tahu bahwa putrinya menangis diam-diam setelah kembali dari kota. Jika tidak salah mungkin karena pria yang bernama Nanta itu.
Mau sekuat apapun hati anak itu, Bestari tak lebih dari seorang wanita yang memiliki perasan lembut. Dan Dewa tidak ingin anaknya kembali merasakan sakit hati untuk kedua kalinya.
Sakitnya karena sebuah kekecewaan itu sangatlah luar biasa membekas. Dia pernah merasakannya makanya dia tidak ingin Bestari salah melangkah.
Jika masih sekedar pacaran, itu masih bisa diatasi dan diobati dengan mudah. Tapi jika sudah berada di dalam hubungan pernikahan, rasa sakitnya akan berkali-kali lipat.
"Bapak harap kamu sungguh mendapatkan pasangan yang tepat Bestari. Pasangan yang memiliki rasa cinta dan sayang setara. Pasangan yang memiliki cinta sepanjang masa. Bukan cuman untuk hari ini dan besok sudah berubah hati. Dalam hidup bapak, hanya satu permintaan yakni hidupmu bahagia."
Perkataan yang baru saja terucap dari mulut Dewa adalah doa tulus untuk putrinya. Doa yang selalu dia panjatkan karena dia benar-benar hanya menginginkan itu dalam hidupnya yang hanya berdua.
"Haaah mau kayak gimana nanti anak itu ke si Rohan. Kita lihatin aja dulu," ucapnya pada akhirnya. Dewa tak akan menghalangi apapun yang Bestari lakukan, asal itu membuatnya bahagia dan masih dalam batas-batas norma.
TBC