Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keysa si Sekretaris
Keysa udah jadi sekretaris Nathan selama tujuh tahun, dia kenal Nathan dari masih freshgraduate sampe sekarang jadi CEO sukses, dia tau semua tentang Nathan, termasuk kehancurannya waktu Mahira pergi lima tahun lalu.
Keysa inget banget gimana Nathan berubah total jadi robot tanpa perasaan, gimana dia kerja dua puluh jam sehari cuma buat ga mikirin Mahira, gimana matanya yang dulu hidup jadi kosong kayak mayat.
Dan lima tahun itu Keysa ngeliat Nathan pelan pelan sembuh, ga sembuh total sih tapi setidaknya dia mulai bisa napas lega, mulai bisa senyum tipis sekali sekali, mulai bisa tidur tanpa mimpi buruk.
Tapi semua kemajuan itu hancur begitu Mahira muncul lagi.
Dua minggu terakhir Keysa ngeliat wanita cantik berambut panjang sering nongol dikantor, ga masuk ke dalam sih, cuma nunggu di lobby atau diparkiran, dan setiap kali Nathan keluar, wanita itu langsung deket.
Awalnya Keysa pikir itu klien atau relasi bisnis biasa, tapi insting wanita Keysa bilang ada yang ga beres. Hari ini pas lagi sortir dokumen diruang Nathan, Keysa ga sengaja denger pembicaraan Nathan di telepon.
"Iya, aku selesai jam enam nanti kita makan malam dimana? terserah kamu aja oke, aku tunggu."
Nada bicara Nathan lembut, sesuatu yang ga pernah Keysa denger selama tujuh tahun kerja. Pas Nathan keluar ruangan, Keysa ngintip dari celah pintu, ngeliat Nathan jalan keluar dengan senyum tipis dibibir, senyum yang ga pernah dia kasih ke siapapun termasuk Nyonya Naura.
Keysa tau Nathan nikah kontrak sama Naura, semua staff kantor tau meski ga ada yang berani ngomongin terbuka, tapi Keysa pernah liat Naura sekali pas dateng ke kantor buat nganterin dokumen yang Nathan lupa, dan kesan Keysa tentang Naura itu gadis baik, terlalu baik buat dunia yang kejam ini.
Sore itu pas Nathan udah pulang, Keysa masih ditinggalin lembur sendiri buat beresin laporan, dia duduk diruang kerjanya sambil mikir keras. Ada yang ga beres sama wanita yang sering nemuin Nathan itu.
Keysa buka laptop, mulai stalking media sosial wanita itu, untungnya dia pernah denger Nathan manggil nama wanita itu: Mahira.
Mahira Anggraeni.
Keysa ngetik nama itu di semua platform, Instagram, Facebook, Twitter, bahkan LinkedIn.
Akun Instagram Mahira private tapi foto profilenya jelas, wanita yang sama yang sering nongol dikantor.
Keysa klik akun LinkedIn, disitu tertulis Mahira kerja sebagai. "konsultan bisnis independen." tapi ga ada detail perusahaan atau proyek yang pernah dia kerjain.
Mencurigakan.
Keisya mulai nggali lebih dalam, dia punya temen yang kerja dibiro kredit, dia telepon temennya itu. "Hei Sarah, bisa tolong cariin data kredit seseorang ga? iya penting banget, namanya Mahira Anggraeni."
Dua jam kemudian Sarah kirim file PDF ke email Keysa. Keysa buka file itu dan matanya melebar.
Mahira punya hutang kartu kredit hampir lima ratus juta rupiah di tiga bank berbeda, semua nunggak pembayaran minimal selama enam bulan terakhir
Ada catatan kasus kecil di kepolisian tahun lalu, dilaporin temennya sendiri karena minjem uang dua ratus juta dengan alasan investasi tapi ga balik-balik, kasus ditutup karena "damai" alias dibayar tapi Keysa yakin itu cuma biar ga masuk penjara.
Keysa scroll lebih jauh, nemu catatan Mahira pernah kerja disebuah perusahaan kosmetik sebagai marketing manager, dipecat karena ketahuan korupsi dana promosi.
"Astaga!" Keysa nutup laptopnya, jantungnya berdebar.
Wanita ini penipu.
Wanita ini ga bersih.
Wanita ini berbahaya.
Dan Nathan lagi deket sama dia.
***
Besoknya, saat pagi Keysa langsung ke ruangan Layvin yang ada dilantai yang sama. Layvin lagi baca laporan keuangan sambil ngopi, dia ngangkat muka pas Keisya masuk tanpa ketuk pintu dulu.
"Keysa? ada apa pagi-pagi begini?"
"Kita harus ngomong, ini penting banget." Keysa nutup pintu dan duduk tanpa diundang.
Layvin ngeliat ekspresi serius Keysa, dia letakan laporannya. "Ngomong apa?"
Keysa ngeluarin printout file yang Sarah kirim semalam, memindahkan ke Layvin. "Baca ini."
Layvin ngambil kertas itu, matanya scanning cepat, makin lama dahinya makin berkerut. "Ini tentang Mahira?"
"Iya, mantan pacar Tuan Nathan yang sekarang lagi balik, dan sering banget ketemu dia."
Layvin baca sampe selesai, mukanya berubah gelap. "Dari mana kamu dapet ini?"
"Temen aku yang kerja di biro kredit, aku minta tolong cariin." Keysa bersandar dikursi. "Layvin, wanita ini ga bersih, dia penipu, dia punya hutang dimana mana, pernah kena kasus penipuan, tapi entah gimana dia masih bisa hidup mewah."
Layvin diem, otaknya kerja keras menyambungkan puzzle. "Berarti..."
"Berarti dia lagi nyari target baru," Keysa menyelesakan kalimat Layvin. "Dan target dia sekarang adalah Tuan Nathan, yang notabene tajir melintir dan lagi vulnerable karena masih cinta sama dia."
"Sialan." Layvin ngomong kasar, jarang banget dia ngomong kasar "Tuan Nathan gabisa tau tentang ini?"
"Kalo kita bilang sekarang, dia ga akan percaya Layvin, dia masih cinta buta sama Mahira, dia bakal bilang kita ngada ngada atau cemburu atau apapun." Keisya menggeleng. "Kita butuh bukti lebih kuat, bukti yang gabisa dibantah."
"Terus kita harus gimana?"
"Kita awasi Mahira lebih deket, ikutin kemana dia pergi, sama siapa dia ketemu, kita rekam semua gerak geriknya sampe kita dapet bukti kuat kalo dia emang lagi menipu Tuan Nathan."
Layvin mengangguk pelan, tangannya menggenggam kertas printout itu sampe remes. "Tapi kenapa kita repot repot? maksudku, Tuan Nathan udah dewasa, dia bisa urus hidupnya sendiri."
Keysa menatap Layvin tajam. "Karena Nyonya Naura ga pantas diperlakukan kayak gini."
Nama Naura bikin Layvin menegang.
"Nyonya Naura itu wanita baik Layvin, aku pernah liat dia sekali dan dari cara dia ngeliat Tuan Nathan, aku tau dia cinta, cinta beneran, bukan cinta karena uang atau status tapi cinta yang tulus." Keisya suaranya bergetar. "Dan sekarang dia disiksa setiap hari ngeliat suaminya deket sama wanita lain, wanita yang ternyata penipu pula, kita gabisa diem aja."
Layvin mengusap wajahnya kasar, "Kamu bener."
"Aku tau kamu juga peduli sama Nyonya Naura kan?" Keisya nyengir tipis. "Jangan bohong deh, aku liat cara kamu ngeliat dia waktu dia dateng ke kantor itu."
Layvin ga jawab tapi pipinya sedikit memerah.
Keisya berdiri, "Jadi kita sepakat? kita lindungi Nyonya Naura dengan cara ungkapkan kedok Mahira?"
Layvin berdiri juga, mengulurkan tangan, "Sepakat."
Mereka berjabat tangan, sebuah pakta diam diam untuk melindungi wanita yang ga tau apa apa tentang rencana jahat yang sedang dijalankan.
"Aku yang bakal ikutin Mahira setelah jam kantor, kamu yang pantau gerak geriknya dikantor dan sekitarnya." Keisya ngatur strategi. "Kita share info setiap hari."
"Oke, aku juga bakal coba cari info tentang dari mana dia dapet uang buat hidup mewah, pasti ada sugar daddy atau apa gitu." Layvin menambahkan
Mereka keluar dari ruangan dengan tekad yang sama.
***
Sore itu Keysa mulai aksinya, dia ikutin mobil Mahira dari parkiran kantor pake mobilnya sendiri, jaga jarak biar ga ketahuan. Mahira berhenti disebuah kafe mewah daerah Senopati, masuk sendirian, duduk dimeja pojok.
Keysa parkir di seberang jalan, ngawasin dari mobil pake kacamata item biar ga keliatan mencurigakan. Sepuluh menit kemudian Nathan dateng, masuk ke kafe, langsung ke meja Mahira.
Mereka ngobrol sambil senyum senyum, Mahira sering menyandarkan tangannya di meja deket tangan Nathan, sesekali tertawa sambil nunduk malu malu.
Keysa motret dari jauh pake kamera hp yang di zoom maksimal. Satu jam kemudian mereka keluar bareng, Nathan bukain pintu mobil buat Mahira, something yang Keysa yakin dia ga pernah lakuin buat Nyonya Naura
Keysa ikutin terus, mereka makan malam direstoran Italia yang mewah banget, candle light dinner yang romantic abis.
Keysa duduk dimobil sambil nahan emosi, pengen banget masuk kesitu dan teriakan Nathan betapa bodohnya dia, tapi dia tahan.
Jam sepuluh malem mereka keluar, Nathan antar Mahira ke apartemennya, apartemen di kawasan elite Jakarta Selatan yang sewanya pasti puluhan juta sebulan.
Nathan turun dari mobil, jalan Mahira sampe depan lobby, Mahira pegang lengan Nathan, ngomong sesuatu sambil ngeliat Nathan dengan mata berbinar.
Dari jauh Keysa gak bisa denger apa yang mereka omongin tapi body language mereka jelas banget: mereka intim. Mahira berdiri jinjit, kayak mau cium Nathan tapi Nathan mundur sedikit, menggeleng pelan.
Mahira kelihatan kecewa tapi langsung tutupin sama senyum manis, dia lambaikan tangan dan masuk ke lobby. Nathan berdiri disitu agak lama sebelum akhirnya balik ke mobil dan pergi.
Keysa ikutin Nathan sampe pastikan dia pulang ke mansion, baru dia balik ke apartemennya sendiri.
Jam sebelas malem Keysa telepon Layvin, "Aku dapet foto dan video mereka makan malam bareng, candle light dinner segala, Nathan bahkan antar dia sampe apartemen."
"Kirim ke aku semua," suara Layvin terdengar tegang.
"Udah aku kirim, besok kita ketemuan lagi bahas next step."
"Oke, hati hati ya."
Telepon ditutup.
Keysa berbaring dikasur sambil ngeliatin foto foto Nathan dan Mahira di hpnya.
"Nyonya Naura," dia berbisik. "Kami bakal bantuin kamu, kami gak akan biarkan wanita jahat itu hancurin hidup kamu lebih parah lagi."
Dan dilain tempat, Layvin duduk diruang kerjanya yang gelap, menatap foto foto yang Keisya kirim dengan rahang mengeras.
"Mahira," dia ngomong dingin. "Kamu salah pilih target, aku gak akan diem aja ngeliat kamu manfaatin Tuan Nathan dan nyakitin Naura."
Perang baru saja dimulai.
Perang antara kebenaran dan kebohongan. Antara cinta yang tulus dan cinta yang palsu. Dan Mahira ga tau badai apa yang bakal datang menghancurkan semua rencananya.