NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Pernikahan

Ruang tamu rumah Rayyan berbeda dari sebelumnya. Sofa disingkirkan diganti meja berlapis kain putih. Beberapa kursi ditata rapi di kedua sisi, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Tidak ada dekorasi berlebihan, hanya ada rangkaian bunga pastel yang ditata secukupnya, sekedar untuk memenuhi kewajiban.

Akan duduk di kursinya. Punggungnya tegak, tapi kepalanya menunduk. Gaun putih membungkus dirinya. Rambutnya disanggul rendah tanpa hiasan berlebihan.

Rayyan duduk di sebelahnya, memakai kemeja putih yang senada dengan Alana. Rahangnya mengeras. Napasnya berat. Kedua tangannya mengepal di pangkuan.

Tidak ada Dharma di ruangan itu.

Pria yang duduk di depan Rayyan dan menggenggam tangannya adalah seorang ustadz sepuh yang dihormati disana.

Hal itu membuat dada Alana semakin sesak.

Ijab kabul diucapkan dengan sekali tarikan napas. Lancar tanpa jeda. 

Tidak ada sorak, tidak ada pelukan, dan tidak ada air mata bahagia.

Rayyan menoleh ke arah Alana. Perempuan itu hanya mengangguk singkat, seolah baru saja menyelesaikan satu urusan penting biasa.

Beberapa menit kemudian, orang-orang mulai beranjak pergi. Rumah kembali sunyi. Lebih sunyi dari sebelumnya.

Beranjak sore, Rayyan keluar dari rumah. Dia berdiri di teras berhadapan dengan Thomas. Cahaya jingga dari matahari memancar ke tubuh keduanya.

“Thanks ya, lo udah banyak bantuin gue,” sedikit serak, namun tulus. 

Kemeja putih yang dikenakannya dibuka dua kancing teratas. Rayyan menarik kerahnya sedikit, memberi ruang bagi udara sore yang mulai dingin menyentuh kulit lehernya. Napasnya masih terasa berat. Keringat tipis menempel di pelipisnya, bukan karena panas, melainkan karena beban yang baru dia pikul.

Thomas tersenyum kecil. “Aman aja.”

Thomas menatap Rayyan lama. Tatapannya berubah iba dan prihatin. Dia menghela napas pelan. “Gue sama sekali nggak nyangka sama apa yang terjadi sama lo sekarang.”

Rayyan sudah menceritakan semuanya pada Thomas.

Rayyan menarik napas dalam. “Ya mau gimana lagi. Jalani aja sekarang.”

Thomas mengangguk, mengerti. Dia melirik ke arah jalan yang mulai sepi, suara kendaraan makin jarang. “Btw, lo nggak mau kasih tau anak-anak yang lain? Jerry, Irfan, Dinar, dan… Manda?” 

“Gue akan kasih tahu mereka. Tapi nanti. Tunggu waktu yang tepat.”

Thomas mengangguk, menghargai keputusan Rayyan. “Oke, kalau gitu gue balik dulu.”

Rayyan tersenyum lemah. “Thanks udah dateng ke nikahan gue.”

Thomas membalas senyum itu, kemudian menepuk bahu Rayyan sebentar. “Gue nggak tahu harus ngomong ini apa enggak. Tapi… selamat buat hidup baru lo.”

Rayyan tertawa kecil. Suara tawanya terdengar renyah. “Sana balik!” 

Thomas membalik badan, berjalan ke motornya yang terparkir di halaman rumah. Dia menyalakan mesin dan membunyikan klakson pendek sebagai salam perpisahan.

Rayyan menghela napas panjang.

Setelah Thomas pergi, Rayyan kembali masuk ke dalam rumah, melewati ruang tamu yang disulap menjadi tempat pernikahan.

Rayyan menuju ke kamarnya, lalu berhenti di ambang pintu.

Di dalam kamar, Alana berbaring miring menghadap dinding, tubuhnya tampak lelah dan tak bersemangat. 

Di tepi kasur, Lisa duduk dengan penuh perhatian, membujuk dengan lembut sambil mengusap rambut Alana yang sedikit berantakan. Di pangkuannya terletak nampan berisi piring kecil dan gelas air putih.

“Nak, ayo makan dulu,Kamu belum makan dari kemarin, loh,” ucap Lisa lembut.

Rayyan mendekat. Kedatangannya membuat Lisa menoleh.

“Biar Ray aja, Bun,” ucap Rayyan.

Lisa mengangguk. Dia menatap punggung Alana lagi dengan tatapan khawatir, lalu bangkit.

Lisa memberikan nampan itu pada Rayyan.

“Kamu bujuk dia sampai mau makan ya. Kasihan, dari pagi dia muntah-muntah terus, padahal belum makan dari kemarin. Bayinya perlu nutrisi, Alana juga butuh tenaga,” nasihat Lisa.

Rayyan mengangguk. “Iya, Bun.”

Lisa menoleh pada Alana lagi, menatap Rayyan, lalu menepuk lengan Rayyan pelan sebelum keluar dari kamar itu.

Rayyan mendekat ke arah ranjang. Dia meletakkan nampan itu di meja belajar yang berada tepat di samping ranjang. 

Rayyan kemudian duduk di tepi ranjang, menatap Alana dari belakang punggungnya. Wajah Alana yang tenang dengan mata terpejam membuat napasnya terlihat stabil, tapi Rayyan tahu bahwa Alana tidak tidur. Matanya yang tertutup sesekali bergerak, seperti berjuang melawan pikiran yang mengusik.

“Na,” suara Rayyan lembut, tangannya menyentuh lengan Alana perlahan.

“Ayo bangun, makan dulu. Gue tahu lo nggak tidur.”

Alana bergeming. Tidak menanggapinya sama sekali.

“Emangnya lo nggak laper, Na? Gue aja udah makan empat kali hari ini,” ucap Rayyan sambil tersenyum kecil. Nada suaranya lebih ringan. 

Tapi, Alana sama sekali tidak bergerak.

“Lo harus cobain sup ayam buatan Bunda. Enak banget tau, Na. Lo pasti akan ketagihan,” bujuk Rayyan lagi.

Alana masih bergeming.

“Atau lo mau yang lain? Bilang aja, gue beliin.”

Tetap tidak ada jawaban.

Rayyan menghela napas panjang, matanya menatap Alana khawatir. “Ayolah, Na. Jangan kayak gini.”

Namun, usahanya terasa sia-sia. Alana tetap diam, membeku dalam kesunyian yang sempurna tanpa sedikit pun mengubah posisinya.

Rayyan menyerah. 

Dia menyentuh lengan Alana lagi. “Ya udah kalau nggak mau nggak papa. Lo istirahat aja. Kalau butuh apa-apa, gue di depan." 

Alana tetap tidak bereaksi. Tubuhnya diam bagaimana patung.

Rayyan menghela napas pelan, lalu berjalan keluar dari kamar.

Langkah kaki Rayyan menjauh, suaranya perlahan menghilang. Kamar itu kembali tenggelam dalam sunyi yang menyesakkan.

Setelah mendengar pintu kamar tertutup, Alana membuka mata. Tatapan matanya sendu. Setiap tarikan napasnya terasa begitu berat. Napasnya pendek-pendek.

Tubuhnya masih berbaring menghadap dinding. Perutnya kembali terasa tidak enak. Mual yang sejak pagi ditahannya kembali naik, membuat tenggorokannya terasa pahit.

Alana menelan ludah.

Tidak ada tenaga untuk bangun. Tidak ada keinginan untuk bergerak.

Ada rasa kosong yang aneh di dadanya. Ada gejolak aneh di dadanya. Semua perasaannya bercampur menjadi satu, sampai Akan tidak dapat lagi mendeskripsikan apa yang sedang dia rasakan. Yang ada hanya… berat.

Alana mengangkat satu tangannya. Sebuah cincin melingkar erat di jari manisnya. Cincin yang beberapa saat yang lalu dipakaikan Rayyan padanya. Cincin itu adalah bukti bahwa setelah ini hidupnya tidak akan sama lagi.

Sekarang, dia resmi menjadi seorang istri.

Mengingat itu, Alana menggigit bibir, menahan gejolak yang berkecamuk di dalam hatinya. Dadanya terasa sesak. Pikirannya berkeliaran tanpa arah.

Alana mulai mempertanyakan keputusannya. Apakah dia benar? Apakah harga yang dia bayar ini pantas? Bagaimana hidupnya setelah ini? Bagaimana dengan mimpi-mimpinya? Bagaimana dengan hidup yang Alana rencanakan sejak kecil? 

Semua pertanyaan tanpa jawaban itu membuat dadanya terasa semakin sesak, seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya. Rahangnya mengeras sebentar lalu rileks. Napasnya semakin tidak beraturan.

Perlahan, tangannya menyentuh perut. Perut datar yang menyimpan kehidupan kecil di dalamnya.

Alana memejamkan mata erat. “Mama… ini terlalu berat,” gumamnya lirih dengan suara nyaris putus asa.

...----------------...

1
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!