NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Wanita / Ibu Tiri / Ruang Ajaib / Romansa pedesaan
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: ICHA Lauren

Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.

Jenara menolak akhir itu.

Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.

Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.

Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.

Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.

Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda Lahir

Selesai makan mi, Jenara mengumpulkan mangkuk dan sumpit satu per satu. Ia membawa semuanya ke belakang rumah, menuju pancuran sederhana yang dibuat Seran. Air jernih mengalir dari bambu panjang yang dibelah halus, ditopang kayu penyangga.

Jenara berjongkok sambil menggulung lengan bajunya. Ia menggosok perlahan dengan sabut kelapa, memastikan tidak ada sisa minyak dan bau yang tertinggal.

Di ruang tengah, Gita dan Gatra duduk bersebelahan. Kaki mereka terayun pelan di atas lantai papan. Mereka menunggu tanpa ribut, hanya sesekali berbisik kecil.

Jenara melirik sekilas sambil tersenyum, sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.

Setelah semua bersih, Jenara mengeringkan tangan lalu melangkah menuju kamar. Berniat mencari sesuatu untuk menulis. Ia membutuhkan kertas dan pena untuk mencatat menu, lalu menyalinnya ke papan nama.

Ia membuka peti kayu kecil di sudut kamar. Di dalamnya, ada lembaran kertas kasar dari daun lontar tipis. Sementara di sampingnya terselip pena bulu sederhana yang ujungnya diruncingkan. Ada juga sebotol kecil tinta hitam pekat dari jelaga.

Namun, saat tangan Jenara hendak mengambil alat tulis, jarinya menyentuh benda lain. Sebuah cermin kecil. Bingkainya dari perunggu kusam, sederhana, dengan ukiran halus di tepinya.

Jenara terdiam.

Ah… iya. Sejak berpindah tubuh, ia belum pernah benar-benar melihat wajahnya sendiri.

Selama ini, ia hanya menerima potongan penilaian dari orang lain. Tatapan datar Seran, hinaan dari Ranisya, dan ejekan Kusala tempo hari. Ini saatnya dia tahu seperti apa rupa tubuh yang ia tempati.

Dengan sedikit rasa was-was, Jenara mengangkat cermin itu perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika pantulan wajah muncul di hadapannya.

Wajah ini lumayan cantik. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis simetris, memberi kesan anggun. Matanya berbentuk mata kucing. Sudutnya sedikit terangkat, membuat sorotnya tampak tajam sekaligus misterius.

Namun, pandangannya berhenti di satu titik.

Di pipi kanan, tepat di bawah tulang pipi, ada tanda lahir berwarna merah kecokelatan. Bentuknya tidak bulat sempurna, lebih menyerupai kelopak daun yang tidak beraturan dengan tepi samar. Ukurannya kira-kira sebesar dua ruas jari.

Warna itu kontras dengan kulit putihnya, seolah sengaja diletakkan di sana untuk merusak keseimbangan wajah.

Jenara mengusap pipinya pelan, seakan bisa menghapusnya begitu saja. Ia menghela napas panjang.

“Pantas saja Kusala berani mengejekku," gumam Jenara lirih.

Namun, alih-alih merasa hancur, sebuah tekad justru mengeras di dada Jenara. Ia menurunkan cermin dan menatap pantulannya sekali lagi, kali ini lebih lama.

“Aku akan menghilangkannya,” tukas Jenara.

Bukan untuk menarik perhatian pria mana pun. Bukan untuk membuat Seran menyesal atau membungkam ejekan Kusala, melainkan untuk dirinya sendiri.

Jenara mulai menyusun rencana. Ia akan menanam lidah buaya dan temu putih di Ruang Wiji. Kedua tanaman itu berkhasiat untuk menenangkan kulit, memudarkan noda, serta mencerahkan kulit. Jika digabung dengan madu atau air beras, hasilnya pasti jauh lebih efektif.

Jenara menyimpan kembali cermin itu ke dalam peti. Kali ini, ia punya misi baru selain berjualan makanan, yaitu menghapus tanda lahir di wajah Jenara yang asli. Ia akan mengubah nasib wanita ini secara keseluruhan.

Tanpa ragu, Jenara kembali ke ruang tengah untuk menemui Gita dan Gatra.

“Nanti, Ibu akan mengajari kalian menulis dengan ini," ujar Jenara sambil mengangkat alat tulis.

“Tapi sekarang, kita ke kebun dulu, ya. Ibu mau mencari jerami dan janur.”

Gita langsung berdiri. Gatra ikut bangkit, meski gerakannya sedikit kaku.

Jenara menatap mereka berdua, lalu berpikir cepat. Ia harus membagi tugas dengan bijak, yang lebih berbahaya akan ia lakukan sendiri, sedangkan anak-anak mengerjakan yang aman.

“Gatra, kamu ke kandang ayam Ayah di belakang. Ambil jerami kering yang bersih. Jangan masuk ke kandang, cukup yang di sisi luarnya saja. Mengerti?”

Gatra mengangguk patuh.

“Gita,” Jenara menoleh pada gadis kecil itu, “ikut Ibu ke depan rumah. Kita cari janur dari pohon kelapa muda di tepi kebun, yang dekat jalan setapak.:

Gita meraih ujung lengan Jenara tanpa sadar, kebiasaan kecil yang membuat dada Jenara menghangat. Mereka pun berpencar.

Kebun depan rumah Seran kini tampak terawat setelah pemiliknya datang. Di sisi kiri halaman tumbuh dua pohon kelapa, salah satunya masih muda. Daunnya hijau terang, janurnya lentur dan berkilau terkena cahaya siang.

Jenara menengadah sejenak untuk mengukur ketinggian daun. Kemudian, ia mengeluarkan pisau kecil dari balik pinggang—alat kepunyaan Seran yang biasa dipakai memotong tali atau ranting.

“Gita, berdiri agak jauh, ya,” ucapnya pelan.

Dengan satu gerakan hati-hati, Jenara memotong beberapa helai janur muda, memilih yang panjang dan segar. Daun-daun itu jatuh perlahan, menimbulkan suara gesek halus.

Jenara mengikatnya ringan dengan tali serat, lalu menyampirkannya di lengan.

“Buat apa janurnya, Bu?” tanya Gita penasaran.

“Untuk hiasan, supaya nanti makanan yang ibu jual kelihatan rapi dan cantik," balas Jenara sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, dari arah belakang rumah, Gatra muncul. Bocah lelaki itu memanggul ikatan jerami kering yang berwarna keemasan

“Aku dapat banyak,” katanya singkat.

“Kamu hebat. Ayo, kita pulang," puji Jenara tulus. Ia menerima jerami itu dan mengikatnya lebih rapi.

Mereka bertiga berjalan bersama menuju rumah. Jenara merasa lebih bersemangat, karena rencananya akan segera terlaksana satu demi satu.

Namun, perasaan itu retak seketika. Tatkala mereka hampir mencapai halaman rumah, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram lengan Jenara.

Jenara tersentak kaget. Janur di lengannya hampir terjatuh ke tanah. Dengan jantung yang berdegup keras, ia berbalik cepat.

Di hadapannya berdiri seorang pria asing. Pria itu tinggi dan tegap, bahunya lebar, tubuhnya dibalut pakaian serba hitam. Wajah pria itu keras, rahangnya tegas, dilengkapi sepasang mata tajam yang waspada.

Namun, yang membuat darah Jenara berdesir adalah pedang yang terselip di pinggang pria itu. Sarungnya gelap, gagangnya sederhana dan jelas terawat. Senjata orang yang terbiasa membawanya, bukan sekadar hiasan. Penampilannya mirip pembunuh bayaran profesional, atau prajurit yang terlatih di medan perang.

“Bu, apa Tuan Seran ada di rumah?"

Suara pria itu rendah dan datar, tetapi mengandung tekanan yang membuat udara di sekitar terasa berat.

1
Amriati Plg
Biasanya ruang dimensi ini ada nama baru ruang wiji😄
Hary Nengsih
lanjut
Lala Kusumah
semangat Jenara 👍👍💪💪
Azura75
mana lanjutannya. kok nggak bs scroll ke atas lagi? ☺
@Mita🥰
lanjut 😍😍
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
semoga mereka langgeng dan bahagia, tidak berpisah ya 🙏🙏🙏
Wulan Sari: iya betul say biyar bahagia walau ada kerikil2 tajam tetap bersama 👍❤️
total 1 replies
Hary Nengsih
lanjut
SENJA
laaaah lu kenapa yah jadi provokator banget 😶
SENJA
wah wah wah 😶
SENJA
buseh tukang nyiksa anak, tukang judi waduh 🤣
@Mita🥰
semangat jenara
Lala Kusumah
good job Jenara 👍👍👍
Lala Kusumah
kemana ya anak-anak Jenara 🤔🤔🤔
@Mita🥰
seperti nya di bawa si cewek yang suka sama seran
Wulan Sari
lhaaa pada ke mana tu anak2 3G, membuat panik sj semoga cepat ketemu yaaaa ayo Thor lanjut critanya terimakasih semangat 💪 salam ❤️
Hary Nengsih
wah kemana ya
@Mita🥰
emang gak bisa ya sekali jentik kan jari langsung hilang semuanya 🤭🤭
Hary Nengsih
lanjut
Lala Kusumah
wow kereeeeeennn 👍👍👍
mau punya ruang Wiji juga lah 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!