Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.
Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.
Namun, Afnan belum puas.
Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.
"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."
Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.
Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?
#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sang chandra kini mulai menenggelamkan awaknya di ujung sana, seolah-olah memanggil bagaskara agar bisa menggantikan posisinya untuk memberi cahaya pada penduduk bumi, angin pagi mulai mendarat menciptakan rasa dingin yang menerpa serta menusuk pori-pori tubuh.
"Dengan cara apa aku harus merecokinya hari ini?" Afnan berseru pada dirinya sendiri, menatap jenuh halaman belakang, setelah berinisiatif menyiram berbagai bunga di taman milik sang suami kini ia binggung.
Menoleh kebelakang, dapat Afnan liat jendela kamar sang suami masih belum terbuka, "Dia belum bangun di pagi hari ini?" Gumamnya penuh tanda tanya.
Mengusap peluh yang menetes di dahinya, Afnan segera berdiri merapikan dress rumahan yang ia kenakan, lalu berjalan masuk menuju mansion yang kini tengah dibersihkan oleh pelayan.
"Kak Dareen biasanya bangun jam berapa?" Afnan membuka pembicaraan pada salah satu pelayan yang sekiranya masih muda, mungkin seumuran dengannya?
Sang pelayan menundukan kepala hormat, lalu tersenyum manis, "Untuk itu saya tidak terlalu tau. Nyonya. Namun Tuan Dareen biasanya keluar dari kamar kurang lebih 9.00 AM."
Terlihat Afnan menganggukan kepalanya ringan, setelah mengucapkan dua kata terima kasih, ia segera melangkahkan kakinya menaiki tangga, menuju kamar sang suami tentunya, karena sekarang sudah pukul 8.30 AM.
Tok....
Tok....
Tok....
"Kak Dareen? Apa kakak sudah bangun?" Suara lembut Afnan mengulun merdu, menatap pintu cokelat di hadapannya dengan jantung yang berdegup begitu kencang.
Tak ada jawaban sama sekali, membuat kening Afnan terangkat binggung, kemana perginya Dareen? Apakah pria itu tak mendengar panggilannya atau sengaja menulikan telinga? Tak ingin berpikir macam-macam, ia memilih untuk menarik knop pintu.
Namun netra bulat Afnan mulai terangkat saat pintu dibuka perlahan dari dalam, menampilkan seorang pelayan yang berpakaian sedikit acak-acakan, tentu membuat ia heran bukan main.
Apa yang pelayan itu lakukan sampai penampilannya acak-acakan seperti ini di kamar sang majikan?
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tuding Afnan berusaha berpikir positif, namun sayangnya tetap tidak bisa sebab wanita itu malah semakin memperlihatkan tanda merah di tulang selangkanya.
Sang pelayan gelagapan, dia hanya bisa menundukan kepala, tanpa rasa bersalah pun tak ingin menjawab pertanyaan sang nyonya, memangnya apa yang dilakukan seorang wanita dan pria di dalam satu kamar yang sama?
Apakah bermain poker? Atau bermain ular tangga? Jelas tidak mungkin! Orang waras mana yang memikirkan hal itu.
"Na, aku sudah mentransfer nominal yang kau inginkan." Suara pria itu berasal dari dalam kamar, tak lama langkah kaki mulai terdengar mendekat.
"Ada apa?"
"Terima kasih, Tuan." Pelayan yang bernama Nata itu tersenyum dengan begitu lebar, lantas segera berjalan pergi begitu saja tanpa sopan santun meninggalkan Afnan yang terpaku atas tindakan kurang ajar sang pelayan.
Menatap nyalang Dareen, Afnan mengetatkan rahang tak senang, "Apa yang kalian lakukan!?" Tanyanya bersama intonasi tinggi.
Menyugar surainya ke belakang, Dareen terlihat begitu tampan dengan setelan kantor yang pria itu kenakan, jangan lupakan tinta yang menghiasi punggung tangannya, menambah kesan sexy.
"Pelayan rendahan?" Beo Dareen terkekeh geli, lantas netranya menyorot pada wanita di hadapannya dengan sinis, "Tak lebih baik dari pada dirimu."
Mengepalkan tangan erat, Afnan berusaha mengatur deru nafasnya sendiri, tidak, tidak! Ia harus menahan rasa gatal pada tanganya untuk tidak memukul kepala Dareen.
"Jangan becanda Kak Dareen! Aku bertanya, apa yang kalian lakukan di dalam sana hingga pelayan itu berpenampilan buruk dengan bercak-bercak merah di lehernya!?"
"Having sex." Dareen menjawab santai, mengabaikan tatapan Afnan yang kini mulai bergetar, bukan menahan tangisan, namun wanita itu tengah menahan amarah yang terasa memenuhi akal sehatnya.
"Wahh, melakukan having sex dengan pelayan? Benar-benar hebat." Afnan tertawa mengejek, mundur beberapa langkah. Tatapan sengit sudah ia layangkan.
Mengendikan bahunya tak acuh, Dareen memilih melangkahkan kakinya pergi, "Jangan merusak pagiku dengan mengajak berdebat." Serunya sembari membenarkan dasi.
"Dan pagiku sudah hancur karena di dalam mansion ini ada lacur." Afnan menjawab tenang, menekuk kedua tanganya diatas perut lantas memandang Dareen sinis.
Menutup mata sejenak, Dareen memutar pandangannya, "Ada atau tidaknya lacur itu bukan urusanmu." Balasnya kasar.
Berdecak tak senang, Afnan mendorong bahu Dareen kasar hingga pria itu terpepet pada dinding kamar, lantas ia tatap wajah sang pria garang, "Oh tidak bisa, aku harus membasmi lacur-lacur itu."
"Jika kau ingin membasmi lacur, maka basmi dirimu sendiri Afnan." Dareen menjawab tenang, pria itu mendorong kepala Afnan, agar tak mengukungnya di dalam tubuh kecil wanita itu.
Menghentakan kakinya, Afnan mengacungkan jari tengah, "Enak saja! Aku hanya akan menjadi lacurmu, mana mungkin bisa disamakan dengan lacur yang sudah mencoba beberapa batang."
"Tidak ada perbedaan signifikan." Dareen memutar bola matanya jengah, ia segera berjalan, tak ingin terlalu lama berdekatan dengan wanita gila di samping tubuhnya.
Namun sayang sekali, Afnan malah menarik ujung jasnya dengan kasar, lantas menutup pintu dan menghempaskan tubuh Dareen di atas ranjang, "Ck! Kakak pasti menggunakan kemeja yang dipilih lacur itu bukan? Jelek!"
"Minggir!" Tegur Dareen tak senang, menghempaskan jemari Afnan yang bertengger pada dada bidangnya.
Dengan gesit, Afnan berdiri lantas berlari menuju pintu dan mengambil kunci itu, takut apabila Dareen tiba-tiba keluar, "Nah kunci ini akan kumasukan ke dalam."
Dan yap, kunci itu masuk kedalam bajunya, tepat diantara belahan dada, lantas Afnan mengerlingkan kedua matanya menggoda, meninggalkan Dareen yang terpaku dengan mata melotot terkejut mendapati sifat agresif Afnan.
"Oh ya ampun, ranjangnya terlihat rapi seperti tidak ada pertempuran hebat? Apa Kak Dareen membohongiku? Bisa saja lacur itu hanya memijati kepala Kak Dareen, sebab kepala Kak Dareen pasti pusing karena menikahiku." Afnan tertawa geli.
Sembari memilih jas serta kemeja formal milik Dareen, Afnan bersenandung ceria menyanyikan sebuah lagu tanpa memikirkan permasalahan yang baru saja terjadi, hingga bibir itu tersenyum kecil setelah menemukan warna kemeja yang sesuai dengan jas Dareen.
"Lihat suamiku, jas ini baru cocok jika digunakan untuk bertemu dengan investor." Celetuk Afnan bersemangat, sembari menenteng kemeja berwarna hitam tanpa motif.
"Pilihan lacur itu jelek sekali oh god, bagaimana bisa memberikan kemeja dengan motif ramai seperti ini?" Afnan kembali mencecar, menatap julid kemeja Dareen.
Jujur saja, ia benar-benar kesal bukan main tatkala melihat bagaimana kemeja jelek itu menyelimuti tubuh gagah milik Dareen, apalagi pasti dipilihkan oleh pelayan bernama Nata itu.
Helaan nafas Dareen layangkan, pria itu menatap Afnan bengis lalu beralih pada kemeja yang wanita itu pilihkan, "Ini sudah bagus," Beonya cepat, menolak mengenakan kemeja tersebut, "Buka pintunya atau aku benar-benar akan terlambat!"
Afnan memutar bola matanya julid, gemas sendiri dengan penolakan Dareen yang menolak pilihan kemejanya, lantas ia memilih untuk berjalan menuju ranjang dan tertidur dengan manis mengabaikan tatapan Dareen yang sudah menajam sengit.
"Oh sudah bagus? Baiklah jika begitu jangan keluar dari kamar ini sayang~~" Afnan berujar menantang.
Terlihat kerutan kening mengulas tajam, "AFNAN!" Tegur Dareen kasar, pria itu dengan lemas mengacak-acak surainya frustasi sebab kelakuan sang wanita yang sangatlah kurang ajar dan berani memberontak.
Netra itu menyorot wajah Dareen yang kini sudah memerah bagai kepiting rebus, "Ya sayang?" Afnan berkata dengan senyuman manis, membenarkan posisi tidurnya.
"Keluar!"
"Ganti dulu kemejanya sayang, di sini aku ingin melihatmu berganti kemeja di hadapanku langsung." Semakin Dareen memberontak maka semakin kurang ajar pula keinginan Afnan.
Mengepalkan jemarinya kuat, Dareen mencoba menahan rasa amarah yang tiba-tiba memenuhi akal sehatnya, begitu ingin Dareen memukul otak sang wanita agar kembali berpikir dengan normal.
"Jangan mengulur waktu Afnan! Aku memiliki jadwal padat pagi ini!" Dareen berkata dengan datar, lantas ia menuju Afnan, menatap wanita yang kini masih terbaring santai di atas ranjangnya.
Mendudukan tubuhnya, Afnan menarik dasi cokelat milik Dareen, mengelus rahang pria itu sesuai, "Bukan aku yang mengulur waktu, tapi Kakak." Ucapnya lembut tepat di telinga kanan Dareen.
Meneguk ludah kasar, reflek Dareen mendorong tubuh Afnan menjauh, bagaimana bisa ia tergoda dengan wanita ini? Tidak! Tidak bisa, Dareen harus menguatkan imannya.
Tertawa kecil, Afnan kembali menaruh jemari lentiknya di atas dada sang suami, "Kenapa? Baru sadar jika Kakak yang mengulur waktu?" Beonya tersenyum.
"Diam!" Dareen berkata sengit, pria itu lantas memungut kemeja Afnan, "Aku akan berganti dengan kemeja pilihanmu ini." Lanjutnya mengalah, sebab jika tidak ia akan terlambat menghadiri rapat.
Afnan mengangguk penuh kemenangan, memperhatikan bagaimana Dareen berganti kemeja di hadapannya langsung, senyuman mesum langsung terbit di antara bibirnya.
"Kak Dareen, kau tampan." Puji Afnan secara tiba-tiba, lantas ia menarik kunci yang tadinya bertengger di antara belahan dada, "Semangat suamiku, nanti aku akan mengirimkan makan siang."
Tampan jawaban apapun, Dareen langsung menerima kunci tersebut dan bergegas pergi begitu saja, meninggalkan Afnan yang kini terlihat bagai orang sinting sebab selalu senyum sendiri.